keterkaitan antara fakta, konsep, dan generalisasi dalam pembelajaran IPS SD

  1. FAKTA

Secara harfiah kata fakta berarti sesuatu yang telah diketahui atau telah benar-benar terjadi. Bisa juga diartikan bahwa ini adalah sesuatu yang dipercaya atau apa yang benar merupakan kenyataan, realitas yang real, benar, dan juga merupakan kenyataan yang nyata.

Didalam sains, fakta memiliki makna tersendiri. Fakta merupakan hasil observasi yang dibuktikan secara empiris karena itu sifat fakta bukan hasil perolehan secara acak, memiliki relevansi dan berkaitan dengan teori. Fakta dapat menyebabkan lahirnya teori baru. Fakta juga dapat merupakan alas an untuk menolak teori yang ada dan bahkan fakta dapat mendorong untuk memperpanjang rumusan teori yang telah ada.

Menurut Banks fakta merupakan pernyataan positif dan rumusannya sederhana. Fakta juga adalah data factual, contohnya berikut ini.

  1. Jakarta adalah ibu kota Negara Republik Indonesia.
  2. Jarak antara kota A ke kota B adalah 150 Km.
  3. Bumi berputar mengelilingi matahari.

Adakalanya guru perlu mencari upaya untuk lebih menjelaskan pengertian fakta ini secara sederhana, misalnya dengan memberikan pertanyaan kepada siswa:

  1. Coba kamu hitung berapa jumlah murid kelas yang hadir hari ini!
  2. Siapakah nama kepala sekolah kita!
  3. Ada berapa ruangan belajar yang dimiliki sekolah ini.
  4. Dan seterusnya.

Jawaban-jawaban siswa itu merupakan fakta. Misalnya berikut ini:

  1. Siswa yang hadir sekarang ini ada 31 orang.
  2. Kepala sekolah kita namanya Ibu Nani.
  3. Sekolah kita memiliki 6 ruangan belajar.

Anak-anak menyadari bahwa fakta itu amat banyak, tak terhitung jumlahnya. Ada fakta berupa data-data, misalnya keadaan penduduk disebuah desa, ada fakta yang tampak sebagaimana keadaannya, misalnya kondisi jalan, kondisi bangunan, dan sebagainya. Ada juga fakta sebagai hasil pengamatan secara lebih khusus, misalnya tentang pendapatan rata-rata penduduk sebuah kampong, mata pencaharian pertama penduduk desa A, dan seterusnya.

Namun demikian, perlu disadari bahwa fakta bukan tujuan akhir dari pengajaran IPS. Pengetahuan yang hanya bertumpu kepada fakta akan sangat terbatas sebab:

  1. Kemampuan kita untuk mengingat sangat terbatas.
  2. Fakta itu bisa berubah pada suatu waktu, misalnya tentang perubahan iklim suatu kota, perubahan bentuk pemerintahan, dan sebagainya.
  3. Fakta hanya berkenaan dengan situasi khusus.

Fakta itulah yang akan memberikan raw material kepada konsep sebagai pilar-pilar kegiatan intelektual. Didalam kegiatan belajar-mengajar fakta harus dipetakkan dalam hubungan fungsional dengan konsep dan generalisasi dengan cara yang sistematis. Dengan pandangan yang seperti itu maka siswa akan mampu melihat hubungan diantara fenomena intelektual dan menggunakannya kedalam upaya meraih pengetahuan yang bermakna. Sehingga dapat dikatakan bahwa fakta merupakan pondasi bagi perkembangan ilmu pengetahuan.

Tugas guru, antara lain adalah membantu siswa membangun dan mengembangkan konsep dan generalisasi, oleh sebab itu kegiatan belajar-mengajar, guru dan siswa harus menggunakan serangkaian fakta ini sebagai dasar pembentukan konsep dan generalisasi. Oleh karena aktivitas pengajaran itu berlangsung  dalam rambu-rambu kurikulum maka pijakan utama dalam proses kegiatan belajar-mengajar yaitu kurikulum, dalam hal ini kurikulum SD 2006.

2. KONSEP

Konsep adalah suatu istilah, pengungkapan abstrak yang digunakan untuk tujuan mengklasifikasikan atau mengkategorikan suatu kelompok dari suatu benda, gagasan atau peristiwa. Misalnya, kita mengatakan binatang klasifikasi dari jenis-jenis makhluk yang disebutkan diatas. Jika kita menyebutkan kata “keluarga” maka kedalam konsep keluarga itu termasukbapak, ibu, anak-anak, saudara, dan sebagainya.

Untuk lebih menjelaskan pengertian tentang konsep, berikut ini dikemukakan beberapa sifatnya.

  1. Konsep itu bersifat abstrak. Ia merupakan gambaran mental tentang benda, peristiwa, atau kegiatan. Misalnya, kita mendengat kata “kelompok”, kita bisa membayangkan apa kelompok itu.
  2. Konsep itu merupakan “kumpulan” dari benda-benda yang memiliki karakteristik atau kualitas secara umum.
  3. Konsep itu bersifat personal, pemahaman orang tentang konsep “kelompok” misalnya mungkin berbeda dengan pemahaman orang lain.
  4. Konsep dipelajari melalui pengalaman dengan belajar.
  5. Konsep bukan persoalan arti kata, seperti didalam kamus. Kamus memiliki makna lain yang lebih luas.

Dalam konsep terdapat makna denotatif dan makna konotatif. Makna denotative berkenaan dengan arti kata, seperti pada kamus, misalnya arti kata Revolusi adalah perubahan cepat dalam hal prosedur, kebiasaan, lembaga, dan seterusnya. Revolusi juga mempunyai makna konotatif antara lain sebagai berikut:

  1. Makna revolusi merangkum makna denotative.
  2.  Revolusi tidak sama dengan pemberontakan, melainkan kejadian yang penting yang telah direncanakan dan diatur secara sungguh-sungguh.
  3. Konsep revolusi ini mencakup kepemimpinan, baik oleh kelompok maupun perseorangan.
  4. Revolusi juga berarti menentang segala sesuatu, apakah itu orang atau lembaga, lebih jauh bukan hanya menentang tetapi juga melawan dengan kekuatan.

Inilah arti revolusi dalam pengertian konsep. Siswa harus memahami makna konsep ini. Dalam perkembangan lebih lanjut para siswa akan memiliki pemahaman yang benar tentang arti konsep dalam Revolusi Kemerdekaan Indonesia, Negara berkembang, pertumbuhan ekonomi republik, kabinet, dan seterusnya.

Jika mereka tidak memperoleh arti yang benar tentang makna yang terkandung didalam konsep-konsep tersebut, mereka akan memberi arti secara menggelikan. Contoh lain, misalnya konsep Perang Dingin, apakah itu perang didaerah kutub utara? (Womarck : 32).

Pengajaran konsep disekolah sesungguhnya dalam rangka memahami makna konotatif, karena itu pengajaran konsep harus:

  1. Diberikan dalam sesuatu konteks bukan diterangkan tanpa ada kaitan dengan sesuatu, seperti kita menjelaskan arti dari suatu istilah atau kata.
  2. Siswa harus diberi kesempatan untuk sampai kepada pengertiannya sendiri tentang sesuatu konsep, tentunya dengan bimbingan guru misalnya, guru menyuru mereka mendeskripsikan sendiri.
  3. Siswa harus membacanya sendiri, mendengarkan penjelasan, dan segera menuliskan makna konsep segera setelah diperkenalkan.

Membentuk konsep merupakan intelektual, dan itu tidak mudah. Namun demikian, perlu disadari bahwa sesungguhnya anak telah belajar konsep sejak belum masuk sekolah dengan tingkat perkembangan dan kemampuan berfikirnya.  Di sekolah mereka belajar konsep yang semakin abstrak sifatnya atau simbolis.

Telah dijelaskan diatas bahwa membentuk konsep pada diri anak tidaklah mudah hal itu disebabkan bahwa untuk mencapai tujuan tersebut dibutuhkan kemampuan memilih kelompok yang diobservasi berdasarkan satu atau lebih karakteristik umum, agar dapat mengabstraksikan, dan membuat generalisasi. Dengan singkat dapat disimpulkan bahwa konseptualisasi adalah proses mengkategorikan, mengklasifikasikan dan memberi nama pada sekelompok objek.

3. GENERALISASI

Schuneke (1988:16) mengemukakan bahwa generalisasi merupakan abstraksi dan sangat terikat konsep. Cara paling mudah untuk memahami generalisasi dalam hubungannya dengan konsep adalah dengan cara menelusuri proses terbentuknya generalisasi.  Untuk itu dibutuhkan sedikitnya 2 konsep, bisa dari satu disiplin ilmu social atau dari disiplin ilmu yang berbeda.  Misalnya dari bidang keilmuan sosiologi saja atau paduan dari sosiologi dan sejarah, atau disiplin ilmu social lainnya. Misalnya, anggot ABRI mempunyai cara tersendiri dalam membangun hubungan interpersonalnya, khususnya dalam hubungan hierarkis menurut jenjang kepangkatan. Kelompok lain misalnya, pegawai negeri, karyawan, kehidupan disekolah, dan lain-lain, juga memiliki cata tersendiri yang mengatur hubungan interpersonalnya tersebut.

Generalisasinya, yaitu setiap grup memiliki sistem norma yang membimbing perilaku anggotanya. Contoh diatas menunjukkan terbentuknya generalisasi dari dua konsep dalam sosiologi, yaitu konsep grup (kelompok) dan konsep norma. Secara sederhana dapat disimpulkan bahwa generalisasi menunjukkan adanya hubungan diantara konsep dan berisi pernyataan yang bersifat umum, tidak terikat pada situasi khusus. Generalisasi dibentuk untuk membantu kita agar dapat memahami/mengerti tentang “dunia dimana kita hidup”. Secara singkat telah kita kemukakan pengertian fakta, konsep, dan generalisasi.

Perbandingan generalisasi dengan konsep, menurut Rochiati (2006:6)

Generalisasi Konsep
Generalisasi adalah prinsip-prinsip atau rules (aturan) yang dinyatakan dalam kalimat sempurna. Konsep bukan merupakan prinsip dan dinyatakan tidak di dalam kalimat yang sempurna.
Generalisasi memiliki dalil. Konsep tidak memiliki dalil.
Generalisasi adalah objektif dan impersonal. Konsep subjektif dan personal.
Generalisasi memiliki aplikasi universal. Konsep terbatas pada orang tertentu.

Pengertian generalisasi dalam sejarah berbeda dengan generalisasi dalam disiplin ilmu sosial lainnya. Generalisasi dalam sejarah merupakan contradiction in terminis  karena sifatnya yang unik yang menunjukkan bahwa peristiwa sejarah itu tidak terulang lagi. Namun di dalam sejarah ada juga kemungkinan perulangan, dalam arti bahwa yang berulang itu adalah hal-hal yang berkaitan dengan pola perilaku manusia yang berorientasi nilai, sistem sosial, kebutuhan ekonomi, kecenderungan psikologis, dan selanjutnya, menurut Rochiati dalam Jarotimec (1986:29)

Rochiati dalam  Jarotimec (1986:29)mengungkapkan adanya empat jenis generalisasi yang diperlukan dalam kajian sejarah dalam IPS, yaitu:

  1. Generalisasi deskriptif.

Contoh: Pada umumnya pusat-pusat kerajaan terletak di tepi sungai.

  1. Generalisasi sebab akibat.

Contoh: Di dalam revolusi, apabila golongan ekstrem berhasil merebut kekuasaan maka akan berlangsung pementahan teror.

  1. Generalisasi acuan nilai.

Contoh: Raja adil raja disembah, raja lalim raja disanggah.

  1. Generalisasi prinsip universal.

Contoh: Kapasitas sebuah bangsa untuk memodelisasikan diri tergantung pada potensi sumber daya alamnya, kualitas manusianya dan orientasi nilai para pelaku sejarahnya.

Generalisasi sejarah dalam konteks IPS bukan untuk dihafalkan melainkan untuk dipahami dan diaplikasikan kepada situasi baru yang dihadapi. Untuk meningkatkan kemampuan uitu diperkenalkan gagasan-gagasan dan pemikiran-pemikiran yang sesuai dengan kemampuan berpikir siswa sehingga mereka dapat menghadapi permasalahan yang berkaitan dengan sejarah.

Tugas guru mengembangkan pengertian konsep dan generalisasi ini dan bersamaan dengan itu juga mengembangkan kemampuannya untuk mengenal konsep-konsep esensial dan konsep-konsep lainnya dan juga untuk mengembangkan kemampuan merumuskan generalisasi sesuai dengan kemampuan berpikir siswa. Tugas guru di kelas untuk mengembangkannya dalam kegiatan belajar mengajar disesuaikan dengan situasi dan kondisi lingkungan serta kemampuannya. Guru-guru dituntut kreativitasnya dalam mencari dan mengolah sumber belajar agar kegiatan belajar mengajar yang dikelolanya berjalan lancar.

  1. HUBUNGAN ANTARA FAKTA, KONSEP, DAN GENERALISASI

Dari gambaran diatas jelas bahwa suatu peristiwa merupakan dasar darimana kegiatan belajar mengajar IPS dimulai. Guru dan siswa harus aktif menjemput peristiwa ini dan mengolahnya  menjadi content, isi bahan pengajaran.  Dalam proses pengolahan  menjadi bahan pengajaran  itulah berfungsinya fakta, konsep, dan generalisasi itulah guru dapat mengorganisasikan bahan pengajaran IPS. Jadi skenario dari alur pengembangan peristiwa, fakta, konsep, dan generalisasi, sesungguhnya sudah ditangan guru, dan dijadikan sebagai bahan dalam perencanaan kegiatan belajar mengajar dikelas. Contohnya sebagai berikut:

  1. Topik: Benua Afrika, Eropa, dan Amerika.

Peristiwa yang dikemukakan misalnya tentang pertandingan sepak bola liga Champions atau Piala UFFA. Dengan peristiwa itu kita bisa menanyakan kepada siswa dimana pertandingan itu dilaksanakan dan untuk kejuaran apa.

Fakta-fakta yang dikemukakan, antara lain sebagai berikut:

  1. Peta Benua Afrika, Eropa, dan Amerika.
  2. Letak beberapa negara di masing-masing benua.
  3. Pembagian regional tiap benua, yaitu Afrika Utara, Afrika Tengah, Afrika Selatan, Eropa Barat, Eropa Timur, Amerika Utara, Amerika Tengah,  dan Amerika Selatan.
  4. Gambar-gambar tentang kondisi negara, penduduk, mata pencaharian, dan lain-lain.
  5. Penampakan alam yang penting, yaitu gunung, sungai, gurun, danau, dan lain-lain.

Konsep-konsep yang dikemukakan seperti ini:

  1. Benua, interaksi spasial, persepsi lingkungan regional, kondisi geografis, lautan, daratan, sungai, danau, dan lain-lain.

Generalisasinya diantaranya sebagai berikut:

  1. Berbagai hubungan antara negara terjadi karena adanya hubungan dagang, pelayanan, dan gagasan-gagasan.
  2. Kondisi alamiah tertentu cenderung membuat kelompok tertentu cenderung membuat kelompok tertentu terisolasi sampai adanya pengembangan tekhnologi yang dapat memecahkan barrier itu.
About these ads

7 thoughts on “keterkaitan antara fakta, konsep, dan generalisasi dalam pembelajaran IPS SD

  1. anda sangat membantu saya dalam menambah wawasan, terimakasih…,sedikit saran kalau sebelum dimuat kata-kata dalam penulisan tolong untuk diedit ulang sehingga hurufnya tidak ada yang kelliru. sory nich ngasih masukan..,tapi aku suka tulisan anda…,cerdas dan teoritis…,

  2. Pingback: Fakta, Data dan Informasi | Ressa Octavianti

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s