metode-metode dalam pembelajaran IPS SD

2.1 Metode dalam Pembelajaran IPS di Sekolah Dasar

Kata metode berasal dari bahasa latin yaitu “methodo” yang berarti “jalan”. Winarno Surachmad (1976:76) menyatakan bahwa metode adalah cara yang di dalam fungsinya merupakan alat untuk mencapai suatu tujuan. Sedangkan mengajar diartikan sebagai penciptaan suatu sistem lingkungan yang memungkinkan terjadinya proses belajar. Lebih jelas lagi ia menyatakan bahwa metode mengajar adalah cara – cara pelaksanaan proses belajar mengajar, atau bagaimana teknisnya sesuatu bahan pelajaran diberikan kepada murid- murid di sekolah.

Metode adalah cara yang dianggap efisien yang digunakan oleh guru dalam menyampaikan suatu mata pelajaran tertentu kepada siswa, agar tujuan yang telah dirumuskan sebelumnya dalam proses kegiatan pembelajaran dapat tercapai dengan efektif.

Sehubungan dengan hal tersebut seorang guru dituntut untuk menguasai macam macam metode mengajar sehingga dapat menentukan metode apa yang paling tepat digunakan dalam proses pembelajarannya, sehingga kecakapan dan pengetahuan yang diberikan oleh guru betul-betul menjadi milik siswa.

Menurut Ida Badariyah Almatsir ada beberapa faktor yang ikut berperan dalam menentukan efektif tidaknya suatu metode mengajar. Faktor tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Tujuan pengajaran
  2. Bahan pengajaran
  3. Siswa yang belajar
  4. Kemampuan guru yang mengajar
  5. Besarnya jumlah siswa
  6. Alokasi waktu yang tersedia
  7. Fasilitas yang tersedia
  8. Media dan sumber
  9. Situasi pada suatu saat
  10. Sistem evaluasi

Menurut Husein Akhmad dkk(1981;58) seorang guru IPS dalam memilih metode hendaknya memperhatikan faktor –faktor yang mempengaruhinya. Faktor tersebut adalah :

  1. Pengajar (guru)
  2. Siswa
  3. Tujuan yang akan dicapai
  4. Materi/bahan
  5. Waktu
  6. Fasilitas yang tersedia

2.1.1        Macam-Macam Metode Pendekatan Pembelajaran IPS

  1. 1.      Contectual teaching and learning (CTL)

Pendekatan CTL merupakan konsep belajar yang mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa. Karakteristik pendekatan pembelajarn CTL adalah :

  1. Kerja sama
  2. Menyenangkan.
  3. Pembelajaran terintegrasi
  4. Menggunakan berbagai sumber
  5. Siswa (aktif,kreatif,dan kritis) ,guru (harus kreatif).
  6. Dinding kelas dan lorong –lorong penuh dengan hasil karya siswa,misalnya peta,gambar.
  7. Laporan kepada orang tua tidak hanya berupa rapor,tetapi dapat berupa hasil karya siswa, misalnya laporan / tugas,karangan.

Menurut Widyaiswara LPMP (2005) ,menyatakan bahwa guru dikatakan telah menerapkan pendekatan pembelajaran CTL apabila menempuh tujuh komponen,sebagai berikut :

  1. Mengembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri,menemukan sendiri, dan mengkontrak sendiri pengetahuannya.
  2. Melaksanakan sejauh mungkin kegiatan inkuiri untuk semua topik / pokok bahasan.
  3. Mengembangkan sifat ingin tahu siswa dengan mengajukan pertanyaan.
  4. Menciptakan masyarakat belajar,misalnya belajar dalam kelompok – kelompok.
  5. Menghadirkan model sebagai contoh pembelajaran.
  6. Melakukan penilaian yang sebenarnya dengan berbagai cara dan subyektif mungkin.

Unsur yang terkandung dalam CTL antar lain :

  1. Konstruktivisme ( constructivism )
  2. Menemukan ( inquiry )
  3. Bertanya ( Questioning )
  4. Masyarakat belajar ( learning community )
  5. Pemodelan ( modeling )
  6. Refleksi (reflection )
  7. Penilaian yang sebenarnya ( authentic assessment )
  1. 2.      Cooperative learning

Cooperative learning atau sering disebut dengan kooperasi adalah suatu pendekatan pembelajaran yang berisi serangkaian aktivitas yang diorganisasikan. Pembelajaran tersebut difokuskanpada pertukaran informasi terstrukturantar sisswa dalam kelompok yang bersifat social dan pembelajar bertanggung jawab atas tugasnya masing – masing.

Teknik teknik pembelajarn cooperative learning:

  1. Teknik mencari pasangan

Teknik ini digunakan untuk memahami suatu konsep atau infor masi tertentu yang harus ditemukan siswa. Keunggulannya siswa dapat mencari pasangna sambil belajar menggali satu konsep atau tema dalam suasana yang menyenangkan. Tenik ini dapat digunakan dalam semua mata pelajaran da untuk semua tingkat usia anak.

  1. Bertukar pasangan

Tenik dapat member kesempatan kepada siswa untuk bekerjasama dengan siswa lain. Teknik ini jga dapat diterapkan kepada semua mata pelajaran dan semua tingkat usia anak didik.

  1. Berpikir berpasangan berempat

Teknik ini memberi kesempatan kepada siswa untuk bekerja sendiri atau bekerjasama dengan siswa lain. Keunggulannya adalah optimalisasi partisipasi siswa. Teknik ini juga dapat diterapkan pada semua mata pelajaran dan semua tingkatan usia anak didik

  1. Keliling kelompok

Teknik ini dapat diterapkan pada semua mata pelajaran dan semua tingkatan usia anak didik. Dalam kegiatan keliling kelompok,masing – masing anggota kelompok mendapatkan kesempatan untuk memberikan kontribusinya dan mendengarkan pandangan dan pemikiran anggota lainnya.

  1. Jigsaw

Teknik dapat digunakan untuk kegiatan pembelajaran membaca , menulis , berbicara , dan mendengarkan. Teknik ini dapat diterapkan untuk semua kelas dan cocok untuk mata pelajaran bahasa Indonesias, IPA, IPS, dan Agama.

  1. 3.    Metode karyawisata

Metode karyawisata dapat dilaksanakan dengan mengadakan perjalanan dan kunjungan yang hanya beberapa jam saja ke tempat atau daerah yang tidak begitu jauh dari sekolah , asalkan maksudnya memenuhi tujuan instruksional IPS. Seorang guru dapat menerapkan metode karya wisata yang terarah dan sesuai dengan tujuan instruksionalnya apabila guru memperhatikan hal – hal sebagai berikut :

  1. Mengetahui hakikat metode karyawisata
  2. Mengetahui kelebihan dan kelemahan metode karyawisata
  3. Mengetahui langkah – langkah yang ahrus dilakukan sebelum pelaksanaannya
  4. Mempunyai keterampialn memilih pokok – pokok bahasan yang cocok dikembangkan dengan metode karyawisata.

Fungsi metode karyawisata

  1. Mendekatkan dunia sekolah dengan kenyataan
  2. Mempelajari suatu konsep atau teori dengan kenyataan dan sebaliknya
  3. Membekali pengalaman riil pada siswa.

Langkah – langkah metode karyawisata

  1. Tahap persiapan

Meliputi persiapan materi atau topik karyawisata ,persiapan teoritis ,persiapan perlengkapan, dan aspek-aspek lain yang menunjang pelaksanaan karyawisata.

  1. Tahap pelaksanaan karyawisata di lapangan

Jika tahap persiapan telah matang dan terperinci, maka tahap pelaksanaan akan lancar.

  1. Tindak lanjutnya pelaksanaan karyawisata (setelah kembali ke tempat)

Kegiatannya meliputi penyusunan dan membuat laporan hasil karyawisata.

Kelebihan metode karyawisata

  1. Siswa dapat mengamati obyek secara nyata dan bervariasi.
  2. Siswa dapat menjawab dan memecahkan masalah – masalah dengan cara melihat mencoba dan membuktikan secara langsung suatu obyek yang dipelajari.
  3. Siswa dapat pula mendapatka informasi langsung dari narasumber.

Kelemahan metode karyawisata

  1. Jika terlalu sering dilaksanakan akan mengganggu rencana pelajaran.
  2. Perlu pengawasan dan bimbingan guru.
  3. Jika obyek yang dikunjungi terlalu jauh letaknya,menyulitkan transportasi dan pembiayaan.
  4. Jika pelaksanaan karyawisata terlalu kaku sifatnya, dapat menurunkan minat siswa terhadap karyawisata , sehingga tujuannya tidak tercapai.
  1. 5.         Metode role playing (bermain peran )

Metode role playing tidak bisa lepas dari metode sosiodrama , sebab keduanya sama – sama dapat diterapkan dalam pengajaran IPS yang sukar dipisahkan satu sama lainnya. Role playing adalah salah satu bentuk permainan pendidikan yang dipakai untuk menjelaskan peranan, sikap, tingkah laku, nilai dengan tujuan menghayati perasaan, sudut pandang, dan cara berpikir orang lain.

Dengan demikian role playing merupakan sutau teknik atau cara agar para guru dan siswa memperoleh penghayatan nilai-nilai dan perasaan. Sedangkan sosiodrama berarti mendramatisasikan cara tingkah laku di dalam hubungan sosial.

Tujuan dan manfaat role playing (menurut shaftel)

  1. Agar menghayati sesuatu kejadian atau hal yang sebenarnya dalam realita hidup.
  2. Agar memahami apa yang menjadi sebab dari sesuatu serta bagaimana akibatnya.
  3. Untuk mempertajam indera dan rasa siswa terhadap sesuatu.
  4. Sebagai penyaluran / pelepasan ketegangan dan perasaan – perasaan.
  5. Sebagai alat diagnosa keadaan kemampuan siswa.
  6. Pembentukn konsep secra mandiri.
  7. Menggali peranan-peranan daripada seseorang dalam suatu kehidupan kejadian/ keadaan.
  8. Membina siswa dalam kemampuan memecahkan masalah, berfikir kritis, analisis, berkomunikasi, hidup dalam kelompok dan lain – lain.
  9. Melatih anak ke arah mengendalikan dan membaharui perasaannya, cara berfikirnya, dan perbuatannya.

Masalah-masalah sosial yang dapat dijajaki dengan metode role playing adalah sebagai berikut :

  1. Masalah pertentangan antar pribadi – pribadi
  2. Masalah hubungan antar kelompok. Mengungkapkan masalah hubungan antar suku, bangsa, kepercayaan.
  3. Masalah kemelut pribadi kemelut antara tekanan orang tua dan kemauannya, juga antara kelompoknya dengan kemauannya.
  4. Masalah masa lampau dan sekarang.

2.1.2  Merancang dan Menerapkan Penggunaan Metode Pembelajaran IPS di SD dengan Pendekatan Sosial

  1. A.                                                                                                Pengertian Pendekatan Sosial

Pendekatan sosial mengutamakan hubungan individu dengan masyarakat dan memusatkan perhatiannya kepada proses sosial yang merupakan negosiasi sosial.

Pendekatan sosial berangkat dari dua asumsi. Pertama, masalah-masalah sosial diidentifikasi atas dasar kesepakatan yang diperoleh dalam proses sisial dan menggunakan prinsip sosial pula. Kedua, proses-proses sosial yang demokratis perlu dikembangkan untuk memperbaiki masyarakat dalam arti seluas-luasnya dan terus  menerus.

Model pendekatan sosial mempunyai tiga ciri utama sebagai berikut :

  1. Adanya aspek-aspek sosial dalam kelas yang dapat menumbuhkan terciptanya diskusi kelas.
  2. Adanya penetapan hipotesisyang dapat digunakan sebagai arahan dalam memecahkan masalah.
  3. Dalam menguji hipotesis dipergunakan masalah yang harus dipecahkan.

Dalam menggunakan pendekatan sosial fungsi guru tidak sebagai pemberi perintah atau instruksi, tetapi sebagai pembimbing. Jadi, tugas guru adalah sebagai berikut :

  1. Memberikan bantuan kepada siswa dalam menjeklaskan kedudukannya sebagai siswa/pelajar yang sedang belajar.
  2. Memberikan bantuan kepada siswa tentang cara-cara belajar.
  3. Memberikan bantuan kepada siswa dalam menyususn rencana kegiatan.
  4. Membantu merumuskan dan menjelaskan setiap latihan yang ada dalam hipotesis maupun dalam masalah yang akan dipecahkan.

Pendekatan sosial perlu dikembangkan mengingat proses-proses sosial akan dialami oleh anak didik sehingga kegiatan belajar-mengajar harus membantu anak didik untuk mengembangkan kemampuan hubungan dengan masyarakat dan mampu mengadakan hubungan antarpribadi.

Maksud dari pendekatan sosial adalah berikut ini.

  1. Model Investigasi kelompok.
  2. Model inkuiri sosial.
  3. Model Laboratori.
  4. Model Yurisprudensial.
  5. Model Bermain Peran.
  6. Model Simulasi Sosial.
  1. Model Investigasi Kelompok

Tujuan mengajar dengan model investigasi kelompok adalah untuk mengembangkan keterampilan berpartisipasi, dalam proses sosial (kelompok) melalui keterampilan interpersonal (kelompok) dan inkuiri ilmiah.

Landasan filosofis model ini adalah bahwa peran pendidikan dalam mengembangkan kemampuan individual adalah dengan cara merefleksi melalui berbagai cara dengan menhandel informasi dalam konsep, keyakinan, dan nilai-nilai yang ada pada individu itu. Langkah-langkah pada model pembelajaran investigasi kelompok ini adalah sebagai berikut:

  1. Siswa dihadapkan pada situasi yang problematis
  2. Siswa mereaksi/mencari pemecahan pada situasi yang problematis itu
  3. Siswa merumuskan masalah dan tujuan studi investigasi dalam kelompok
  4. Siswa melakukan investigasi secara independent
  5. Siswa menganalisis proses dan kemajuan investigasi
  6. Melakukan aktivitas secara berulang.

 

  1. 1.        Model Inkuiri Sosial

Tujuan mengajar dengan model inkuiri sosial adalah agar siswa mampu memecahkan masalah-masalah sosial, terutama melalui inkuiri (penemuan) ilmiah akademik dan berpikir logis.

Model inkuiri untuk ilmu sosial ini sebagaimana dikemukakan dalam (Bruce Joice, 1986) secara sederhana orientasinya pada kepekaan guru dan siswa pada domain masalah-masalah sosial. Langkah-langkah pembelajaran model ini adalah:

  1. Orientasi: kepekaan terhadap masalah dilematis dan pengembangan gagasan umum tentang masalah yang diangkat sebagai pijakan inkuiri
  2. Hipotesis: pengembangan hipotesis yang dapat memadu inkuiri dan pengujian
  3. Pendefinisian: penjelasan dan pendefinisian istilah-istilah dalam hipotesis
  4. Eksplorasi: pengujian hipotesis dalam bentuk validitas logis dan konsistensi internal berdasarkan pada pengujian
  5. Pembuktian: pengumpulan dan rekonsiliasi fakta-fakta dengan tema-tema pada hipotesis untuk diuji
  6. Generalisasi : ekspresi pemecahan atau pernyataan tentang masalah

 

  1. 2.        Model Laboratori

Model mengajar ini bertujuan agar siswa memiliki ketrampilan hubungan interpersonal dan keterampilan bekerja kelompok sehingga memiliki kesadaran pribadi dan fleksibilitas.

Laboratorium dapat bersifat dalam ruangan (indoor) dapat pula di luar ruangan (out door). Pembelajaran sangat memerlukan laboratorium di luar ruangan.

  1. 3.        Model Yurisprudensial

Model mengajar yurisprudensial adalah model mengajar yang menekankan pada penyusunan pola untuk mengajar kerangka acuan yurisprudensial sebagai jalan berpikir untuk menghadapi isu-isu sosial yang perlu diselesaikan atau dipecahkan.

Model pembelajaran inkuiri yurisprudensial (jurispudential inquiry): pembelajaran untuk berpikir tentang kebijakan sosial.

Masalah-masalah yang dapat dikaji melalui pembelajaran inkuiri yurisprudensial diantaranya adalah konflik etnik dan rasial, konflik ideologis agama, keamanan individual, konflik diantara kelompok-kelompok ekonomi, masalah-masalah kesehatan, pendidikan, dan kesejahteraan masyarakat dan keamanan Negara. Langkah-langkah pembelajarannya yaitu:

  1. Guru mengenalkan materi dan mereview fakta-fakta
  2. Identifikasi isu
  3. Mengambil posisi (siswa mengartikulasikan posisi)
  4. Menggali bentuk-bentuk pendirian pada argumentasi
  5. Menghaluskan dan pengkualifikasian pendirian
  6. Menguji asumsi faktual dibalik pendirian yang diambilnya

 

  1. 4.        Model Bermain Peran

Model mengajar ini bertujuan mendesain pandangan siswa ke dalam nilai-nilai pribadi dan nilai-nilai sosial, dengan tingkah laku mereka sndidri dan nilai-nilai tersebut menjadi sumber bagi penemuan mereka.

Pada model bermain peran, (Joice dan Weill, 1996) siswa mengeksplorasi problem-problem relasi manusia dalam situasi masalah yang sedang berlangsung kemudian mendiskuikannya. Secara bersama-sama siswa dapat menggali perasaan, sikap, nilai-nilai, dan strategi pemecahan masalah. Langkah-langkah dalam pembelajaran bermain peran (Bruce Joice, 2006) adalah sebagai berikut:

  1. Tahap 1 : persiapan kelompok (identifikasi dan memperkenlkan masalah, mengeksplisit masalah, menggali issue utama, penjelasan bermain peran)
  2. Tahap 2 : pemilihan partisipan (analisis peran, memilih pemain peran)
  3. Tahap 3 : setting tahapan bermain (setting aturan main, penegasan peran, menmukan masalah-masalah dari dalam yang mungkin terjadi pada situasi masalah)
  4. Tahap 4 : menyiapkan pengamat (menentukan apa yang harus dicari pengamat, menandai lembar/tugas observasi)
  5. Tahap 5 : memerankan (memulai bermain peran, mengendalikan bermain peran, menghentikan bermain peran)
  6. Tahap 6 : diskusi dan evaluasi (membahas permainan peran-peristiwa, posisi, dan realisasinya)
  7. Tahap 7 : memainkan peran kembali
  8. Tahap 8 : diskusi dan evaluasi (seperti pada tahap 6)

 

  1. 5.        Model Simulasi Sosial

Model simulasi sosial bertujuan menolong siswa mendapatkan pengalaman dari proses yang bervariasi serta menilai reaksi siswa sendiri dan mendesak keputusan mereka.

Istilah simulasi berasal dari kata simulate yang berarti pura – pura dan simulation yang berarti tiruan atau perbuatan yang hanya pura – pura. Sebagai metode mengajar, simulasi diartikan sebagai suatu usaha untuk memperoleh pemahaman akan hakikat dari suatu konsep, prinsip atau sesuatu keterampilan tertentu melalui proses kegiatan atau latihan dalam situasi tiruan.

  • Tujuan simulasi:

1. Untuk melatih keterampilan tertentu, baik yang bersifat professional maupun bagi kehidupan sehari – hari.

2. Untuk memperoleh pemahaman tentang suatu konsep atau prinsip.

3. Untuk latihan memecahkan masalah.

  • Manfaat metode simulasi:

1. Belajar tentang persaingan

2. Belajar kerjasama

3. Belajar emphaty

4. Belajar tentang system social

5. Belajar konsep

6. Belajar menerima hukuman

7. Belajar berpikir kritis

  • Prinsip-prinsip simulasi:

1. Simulasi itu dilakukan oleh sekelompok siswa. Tiap kelompok dapat melaksanakan simulasi yang sama ataupun berbeda.

2. Semua siswa harus terlibat langsung menurut peran masing-masing.

3. Penentuan topik dapat dibicarakan bersama antara guru dengan siswa disesuaikan dengan tingkat kemampuan kelas, tingkat sekolah, dan situasi setempat.

4. Petunjuk simulasi dapat disiapkan lebih dulusecara terperinci atau secara garis besarnya saja tergantung dari bentuk dan tujuan simulasi.

5. Hendaknya dapat dicapai tujuan yang menyangkut aspek kognitif, afektif dan psikomotorik.

6. Harus diingat bahwa simulasi itu dimaksudkan untuk latihan keterampialn agar dapat menghadapi kenyataan yang baik.

7. Harus digambarka situasi yang lengkap dan proses yang berturut-turut yang diperkirakan terjadi dalam situasi yang sesungguhnya.

8. Hendaknya diusahakan terintegrasinya beberapa ilmu, serta terjadinya beberapa proses seperti akibat-akibat, problem solving dsb.

  • Langkah – langkah simulasi:

1. Tahap I : orientasi

• Mengemukakan pokok bahasan dan konsep yang akan disimulasikan.

• Menjelaskan model dan permainannya.

2. Tahap II : latihan peserta

• Menetapkan skenario

• Tugas – tugas peran

• Latihan singkat

3. Tahap III : pelaksanaan simulasi

• Kegiatan permainan dan pengaturannya

• Baliakn dan penilaian

• Penjernihan kesalahan konsep

• Kelanjutan simulasi

4. Tahap IV : debriefing dengan peserta

• Ringkasan peristiwa dan persepsi.

• Kesulitan dan pemahaman.

• Analisis proses.

• Perbandingan antara kegiatan simulasi dan dunia nyata.

• Kaitan kegiatan simulasi dan materi pelajaran.

• Rancangan ulang simulasi.

  • Kelebihan dan kelemahan metode simulasi

1. Kelebihan

• Aktivitas simulasi menyenagkan siswa sehingga siswa terdorong untuk ikut berpartisipasi

• Memungkinkan eksperimen berlangsung tanpa memerlukan lingkungan yang sebenarnya

• Mengurangi hal – hal yang terlalu abstrak , sebab walaupun mengenai abstraksi tetapi dikerjakan dalam bentuk aktivitas.

• Strategi ini menimbulkan respon yang positif dari siswa yang lamban kurang cakap dan kurang motivasinya.

• Simulasi menimbulkan berfikir kritis siswa, sebab mereka terlibat dalam analisis atau proses kemajuan simulasi.

2. Kelemahan

• Simulasi menghendaki banyak imajinasi dari guru dan siswa

• Menghendaki pengelompokkan siswa yang fleksibel begitu juga ruang kelas atau gedung yang memadai

• Sering mendapatkan kritikan dari orang tua siswa karena aktivitasnya melibatkan permainan.

B. Merancang dan Menerapkan Penggunaan Metode Pembelajaran IPS di SD dengan Pendekatan Sosial

Dalam pembahasan ini yang akan dipilih untuk mengajarkan materi IPS di SD adalah model Inkuiri Sosial.

Dalam menggunakan model Inkuiri Sosial, ada tahap-tahap yang harus dilalui, yaitu berikut ini:

  1. 1.        Tahap Orientasi

Dalam tahp ini, siswa diminta memilih masalah sosial (tentu saja yang relevan dengan GBPP) yang akan dijadikan pokok bahsan. Masalah dapat bersumber dari peristiwa-peristiwa sosial dikelas atau disekolah atau masyarakat sekitar sekolah.

  1. 2.        Tahap Hipotesis

Tahap hipotesis diakukan setelah perumusan dan pembahasan masalah. Fungsi perumusan hipotesis adalah sebagai acuan dalam usaha menemukan pemecahan masalah.

Untuk membuat hipotesis yang baik, diperlukan beberapa kriteria sbb :

  1. Valid atau mempunyai kejelasan untuk melakukan pengujian (menguji apa yang seharusnya diuji).
  2. Kompatibilitas, yaitu kesesuaian antara hipotesis dengan pengalaman siswa atau guru yang pernah diperoleh.
  3. Mempunyai hubungan dengan peristiwa-peristiwa yang telah terjadi sebelumnya.
  1. 3.        Tahap definisi

Pada tahap ini siswa mengadakan pembahasan tentang pengertian latihan-latihan yang terdapat dalam hipotesis. Hal ini penting agar terdapat pengertian yang sama pada setiap siswa.

  1. 4.        Tahap Eksplorasi

Tahap eksplorasi adalah tahap pengujian hipotesis dengan logika deduksi dan mengembangkan hipotesis dengan implikasi serta asumsi-asumsi. Apabila telah teruji antara hipotesis dengan dasar logika maka tahap berikutnya adalah pembuktian dengan fakta-fakta.

  1. 5.        Tahap Pembuktian

Dalam tahap ini, para siswa mengumpulkan data dengan metode yang sesuai. Misalnya, melaui wawancara, angket dan observasi. Jika data telah terkumpul, kemudian diadakan analisis data untuk disimpulkan, apakah hipotesis diterima atau ditolak.

  1. 6.        Tahap Generalisasi

Tahap ini merupakan tahap akhir dari model inkuiri sosial. Pada tahap ini telah dapat disusun pernyataan terbaik dalam pemecahan masalah. Generalisasi yang dihasilkan hendaknya disusun secara sederhana sehingga mudah dipahami oleh siswa.

2.1.2 Merancang dan Menerapkan Metode Pembelajaran IPS di  SD dengan Pendekatan Personal

  1. A.      Pengertian Pendekatan Personal

Pendekatan personal adalah suatu pendekatan dalam mengajar yang berorientasi kepada perkembangan diri individu dan pembentukan pribadi.

Pengajaran dengan menggunakan pendekatan personal bersifat menolong siswa dalam mengembangkan hubungan yang produktif dengan lingkungan. Teori-teori yang menghasilakn model-model yang serumpun dengan pendekatan personal adalah berikut ini.

  1. Model pengajarn non direktif, oleh Varl Rogers.
  2. Model latihan kesadaran, oleh Frits Pers dan William Schultz.
  3. Model synaptic oleh William Gordon.
  4. Model Sistem Konsepsional oleh David Hunt.
  5. Model pertemuan Kelas oleh William Glasser.

Dalam kelima model tersebut yang akan dibahas lebih lanjut adalah Model Pertemuan Kelas dari Glasser.

Menurut Glasser ada 2 asumsi yang mendasari model pertemuan kelas, Yitu berikut ini.

  1. Manusia itu mempunyai kebutuhan dasar, yaitu cinta dan harga diri.
  2. Kebutuhan itu berakar di dalam hubungan antarmanusia.

Masalah yang muncul pada setiap individu sebenarnya disebabkan individu tersebut mengalami kegagalan di dalam memenuhi dua kebutuhan tersebut. Tanggung jawab siswa di dalam Kelas merupakan perwujudan dari perasaan cinta, berfungsi untuk membantu dan memelihara perkembangan kejiwaan siswa. Glasser berpendapat bahwa kegagalan sekolah bukanlah dalam arti bidang akademik, tetapi di dalam menciptakan hubungan yang hangat dan konstruktif untuk keberhasilan belajar. Kegagalan biasanya akan menyebabkan siswa merasa terasing atau tersingkir yang biasanya diikuti oleh reaksi marah, frustasi atau menarikdari kehidupan lingkungannya.

  1. 1.        Tipe pertemuan Pemecahan Masalah Sosial

Tipe pertemuan inifokusnya terarah kepada masalah-masalah perilaku dan sosial. Dalam pertemuan kelas ini siswa berupaya mengembangkan tanggung jawab untuk belajar dan berprilaku dengan jalan memecahkan masalah mereka di kelas.

  1. 2.        Tipe Pertemuan Terbuka

Pada pertemuan terbuka siswa diberi kebebasan untuk berpikir dan bertanya tentang masalah-masalah yang berkaitan dengan kehidupan mereka. Dalam pertemuan terbuka, sering kali siswa mempunyai inisiatif untuk membicarakan topik yang berkaitan dengan pengalaman merekaa sendiri.

  1. 3.        Tipe Pertemuan terarah Terbuka

Pada pertemuan terarah terbuka, pada dasarnya sama dengan pertemuan terbuka. Bedanya, pada pertemuan terarah permasalahan yang akan dibicarakan sudah diarahkan kepada materi atau bahan yang sedang dipelajari oleh siswa didalam kelas.

 

B. Cara Merancang Dan Menerapkan Penggunaan Metode Pembelajaran Ips di Sd yang Berlandaskan Pendekatan Personal

Salah satu penedekatan personal yang dipilih adalah model pertemuan kelas oleh William Glasser yang terarah terbuka.

Dalam pertemuan kelas, tahap-tahap yang harus dilalui sebagai berikut :

  1. 1.        Menciptakan iklim yang Mengundang Keterlibatan

Dalam hal ini diperlukan iklim yang hangat, bersifat pribadi, menciptakan hubungan yang baik antara guru-siswa dan siswa dengan siswa, dalam hal ini guru harus menolong setiap siswa untuk berperan dan menyeleksi pendapat tanpa celaan dan penilaian.\

  1. 2.        Menyajikan Masalah untuk Diskusi
  2. Mengajukan permasalahan
  3. Siswa memberikan contoh-contoh
  4. Siswa mendeskripsikan masalah
  5. Siswa mengidentifikasi konsekuensi (mencari pemecahan) dan
  6. Siswa mengidentifikasi norma-sosial.
  1. 3.        Mengembangkan Pertimbangan Nilai Pribadi

Dalam hal ini siswa dapat membuat pertimbangan pribadi terhadap perilaku siswa, untuk itu siswa harus:

  1. Mengidentifikasikan nilai yang terkandung di belakang masalah perilaku dan norma.
  2. Siswa membuat pertimbangan pribadi terhadap norma dan menyatakan nilainya.
  1. 4.        Mengidentifikasikan Alternatif Tindakan

Dalam hal ini siswa harus:

  1. Mendiskusikan alternatif khusus
  2. Sepakat menaatinya.
  1. 5.      Merumuskan Kesepakatan

Dalam hal ini siswa merumuskan kesepakatan bersama.

  1. 6.      Perilaku Tindak Lanjut

Dalam hal ini, guru meminta kepada siswa untuk menilai efektifitas perilaku baru dan mencari tindakan berikutnya (tindak lanjut).

 

2.1.3 Merancang dan Menerapkan Metode Pembelajaran IPS di SD yang Berlandaskan Pendekatan Modifikasi Perilaku

A. Pengertian Pendekatan Modifikasi

Salah satu ciri pendekatan adalah adanya kecenderungan memecah ugas belajar menjadi sejumlah perilaku yang kecil (langkah-langkah kecil) dan berurutan. Belajar dipandang bukan sebagai sesuatu yang menyeluruh, tetapi diuraikan ke dalam langkah-langkah yang konkret dan dapat diamati. Jadi mengajar pada dasarnya adalah mengusahakan terjadinya perubahan daalam perilaku siswa dan perubahan perilaku tersebut haruslah  dapat diamati secara jelas.

  1. 1.        Rumpun Pendekatan Perilaku

Pendekatan perilaku dapat dibedakan menjadi enam, sebagai berikut :

  1. Pendekatan pengelolaan kontingensi menurut Skinner. Lebih menekankan kepada penguasaan fakta, konsep dan skill yang dijadikan dasar perubahan tingkah laku.
  2. Pendekatan mawas diri menurut Skinner. Menekankan pada bentuk tingkah laku sosial dan keterampilan mawas diri.
  3. Pendekatan relaksasi menurut David C. Rimm dan John C. Masters. Menekankan pada pembentukan pribadi yang dapat menanggulangi stress dan kecemasan.pendekatan reduksi stress menurut David C. Rimm dan John C. Masters. Lebih menekankan pada cara menghadapi kecemaan dalam situasi sosial.
  4. Pendekatan assertive training menurut J.Welpe, Arnold A. Lazarus dan A. Salter. Pendekatan ini mempunyai tujuan yang bersifat langsung, spontanitas ekspresif dalam merasakan perubahan sosial.\pendekatan Direct Training menurut Robert Gagne, Karl. U. Smith dan Margaret Foltz Smith. Pendekatan ini lebih menekankan kepada pembentukan pola-pola tingkah laku dan keterampilan.

B. Cara Merancang dan Menerapkan Penggunaan Metode Pembelajaran IPS di SD Yang Berlandaskan Pendekatan Modifikasi Perilaku

Salah satu pendekatan modifikasi perilaku adalah pendekatan mawas diri atau model mengajar pengendalian diri. Pembelajaran dengan pendekatan mwas diri melalui lima tahap, yakni sebagai berikut :

  1. 1.        Tahap Pengendalian Prinsip Tingkah Laku

Pada tahap ini guru memperkenalkan program dan prinsip pengendalian diri. Tahap ini bertujuan agar siswa memahami kesulitan yang dihadapi dalam pengendalian diri, terutama yang terletak pada fungsi lingkungan yang tidak permanen.

Pada tahap ini guru membentuk siswa agar dapat menunjukkan keinginan yang murni untuk berprestasi. Keinginan dan motivasi harus dinilai dan ditonjolkan pada tahap ini. Untuk mencapai kondisi itu, guru harus memberi petunjuk tingkah laku, seperti apa yang bermasalah.

  1. 2.        Tahap Menetapkan Data Dasar

data dasr dimaksudkan untuk mengetahui dengan pasti perangsang yang terkendali, perilaku yang terbentuk dan respons yang sesuai atau tidak sesuai.

  1. 3.        Tahap Menyiapkan Program Realistis

Dalam tahapini guru harus membantu siswa dalam menyusun program secara realistis dan seimbang. Program yang disusun harus mempunyai tujuan jangka pendek dan jangka panjang secara jelas. Guru harus mendorong siswa untuk melaksanakan program yang telah disusunnya.

  1. 4.        Tahap Pelaksanaan Program

       Pada tahap ini siswa melaksanakan program yang telah direncanakan. Selama dalam jangka waktu pelaksanaan program, siswa mengadakan pertemuan secara berkala dengan guru untuk menelaah kemajuan dan mengubah program apabila diperlukan.

  1. 5.        Tahap Evaluasi dan Tindak Lanjut

Pada tahap ini guru mengadakan penilaian terhadap tingkah laku siswa, apa sudah sesuai yang diprogramkan dan menentukan tingkah laku sebagai tindak lanjut.

 

2.1.4 Merancang dan Menerapkan Metode Pembelajaran IPS di SD Kelas 3 dan 4 Yang Berlandaskan Pendekatan Ekspositori

  1. A.      Pengertian Pendekatan Ekspositori

Pendekatan ekspositori adalah pendekatan yang menekankan pada pengolahan materi pelajaran yang telh jadi atau siap disampaikan kepada siswa. Dalam hal ini, guru memberi pesan materi yang telah siap sehingga siswa tidak perlu mencari, menemukan dan memecahkan sendiri.

Pendekatan ekspositori lebih menekankan pada kegiatan guru (teacher centered). Guru berperan sebagai penyampai matei pelajaran, membimbing, dan mengarahkan kegiatan kepada siswa serta mendukung dan memperkuat informasi agar dipelajari siswa. Dalam kegiatan belajar mengajar dengan pendekatan ekspositori yang penting adalah menemukan informasi apa yang akan diberikan kepada siswa. Selain itu, harapan-harapan apa yang harus diingat dan diserap oelah siswa dari informasi yang diberikan oleh guru.

 

  1. B.       Cara Merancang dan Menerapkan Metode Pembelajaran Ips Di Sd Yang Berlandaskan Pendekatan Ekspositori

Dalam merancang penggunaan metode ceramah (sebagai contoh pendekatan ekspositori) perlu terlebih dahulu diketahui sifat-sifatnya yang kurang baik , sebagai berikut ini :

  1. Kurang memberikan kesempatan untuk bertanya atau berdiskusi memecahkan masalah sehingga daya serap siswa kurang tajam.
  2. Kadang-kadang pernyataan atau penjelasan lisan sukar ditangkap. Apalagi jika menggunakan kata-kata asing.
  3. Kurang memberi kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan kecakapannya untuk mengeluarkan pendapat.
  4. Kurang cocok untuk anak yang tingkat abstraksinya masih kurang
  5. Dapat menimbulkan kebosanan siswa dan verbalisme

Metode ceramah dapat digunakan apabila terdapat hal-hal berikut ini.

1. Bahan ceramah yang akan diberikan jumlahnya sangat banyak.

2. Banyak atau materi yang akan diberikan merupakan bahan baru.

3. Para siswa dapat memahami informasi melalui kata-kata.

Langkah-langkah dalam melaksanakan metode ceramah adalah sebagai berikut ini :

  1. Melakukan kegiatan pendahuluan.
  2. Menjelaskan kegiatan pembelajaran.
  3. Mengemukakan pokok-pokok materi yang akan disajikan.
  4. Memancing pengalaman siswa yang relevan dengan materi pelajaran yang akan disampaikan.

Menyajikan bahan pelajaran dengan memperhatikan faktor-faktor berikut ini. :

  1. Perhatian siswa
  2. Menjelaskan materi pelajaran
  3. Kegiatan pembelajaran sedapat mungkin bervariasi
  4. Umpan balik dari siswa untuk guru
  5. Motivasi perlu selalu ditimbulkan

 

2.1.5 Merancang Penggunaan Metode Pembelajaran Ips Sd Yang Berlandaskan Pendekatan Kognitif

Salah satu metode pembelajaran yang berlandaskan pendekatan kognitif adalah latihan inquiri (Inquiry training). Metode ini berangkat dari suatu kenyataan bahwa perkembangan individu itu bersifat indipenden (bebas).  Oleh karena itu, dalam penerapannya lebih menitikberatkan pada penyelidikan yang bersifat bebas, tetapi terarah dan sisteatis.

Metode latihan inkuiri didasarkan atas terjadinya konfrontasi intelektual. Guru memulainya dengan mengajukan suatu situasi teka-teki kepada siswa untuk dipecahkan/diselidiki. Guru dalam kegiatan ini harus mampu menyajikan peristiwa-peristiwa yang membangkitkan siswa untuk terjadinya konfrontasi intelektual.

Tahap-tahap penerapan metode latihan inkuiri adalah berikut ini:

  1. Menyajikan masalah

Guru menunjukkan situasi yang mengandung masalah dan menentukan prosedur inkuiri yang akan ditempuh oleh siswa.

  1. Pengumpulkan data dan verivikasi data

Siswa mengumpulkan informasi tentang masalah yang diajukan. Tahap ini dimaksudkan  untuk membuktikan hakikat objek dan kondisi serta menyelidiki peristiwa situasi masalah.

  1. Mengumpulkan unsur baru

Siswa bersama guru mengadakan eksperimen dan pengumpulan data (unsur baru). Maksud kegiatan eksperimen ini adalah memisahkan variabel yang mendukung, mengajukan hipotesis dan mengetes sebab akibat.

  1. Merumuskan penjelasan

Siswa bersama guru merumuskan penjelasan atau uraian secara mendetail, rapi, dan sistematis.

  1. Menganalisis pola-pola penemuan.

Tahapan ini sangat penting untuk mengetahui  sejauh mana proses inkuiri telah dilaksanakan dan apabila menemui beberapa kekurangan dicoba untuk diperbaikki secara sistematis.

Hal-hal yang perlu diperhatikan guru dalam menerapkan metode latihan inkuiri adalah berikut ini:

a. Rencanakan waktu yang akan digunakan.

b. Siswa dapat melakukan secara kelompok.

c. Lanjutkan latihan inkuiri dengan jalan diskusi

d. Gunakan sumber-sumber yang sesuai maslah sebanyak-banyaknya.

2.2 Media dalam Pembelajaran IPS di Sekolah Dasar

Media adalah sarana untuk mendekatkan siswa dengan sumber belajar melalui penggunaan metode yang relevan.

Media pembelajaran dapat diartikan sebagai alat bantu dalam proses penyampaian pesan dalam dalam komunikasi pendidikan dan pembelajaran dalam rangka pencapaian tujuan pembelajaran. Alat bantu ini dapat berupa alat bantu yang sudah tersedia di lingkungan belajar, dapat juga alat bantu yang diciptakan oleh pendidik (instruktur, guru, dll). Media pembelajaran IPS berbasis riset yang dimaksud ini dibatasi pada media yang diciptakan (dikembangkan) pendidik/guru yang berwujud produk/peralatan.

Terdapat beberapa jenis media yang dapat digunakan dalam membelajarkan IPS yaitu :

  1. Media gambar, berupa foto obyek, sketsa gambar, peta dan denah yang berhubungan dengan materi pembelajaran IPS.
  2. Media multimedia yang menampilkan suara dan gambar bergerak yang berhubungan dengan pembelajaran IPS.
  3. Media konkrit yaitu suasana lingkungan sosial yang nyata yang berhubungan dengan pembelajaran IPS. Misalnya mengadakan karyawisata yang edukatif.

Langkah-langkah untuk mengadakan karyawisata yang efektif:

  1. Perumusan tujuan-tujuan yang tegas yang hendak dicapai dengan menggunakan metode karyawisata. Alasan mengapa menggunakan metode karyawisata.
  2. Jika karyawisata itu ke pabrik, ke kantor atau ke museum seharusnya diadakan hubungan terlebih dahulu dengan pimpinan obyek karyawisata itu dalam menentukan waktu berkunjung dan persiapan-persiapan lainnya.
  3. Harus ada rencana konkrit di dalam hal kendaraan, biaya, lamanya mengadakan karyawisata dan fasilitas-fasilitas lainnya.
  4. Mengirim utusan terlebih dahulu ke obyek karyawisata untuk menyiapkan beberapa hal yang diperlukan.
  5. Disusun suatu tata tertib untuk menjaga keamanan.
  6. Dibentuk panitia agar yang bertanggung jawab dalam bidangnya masing-masing.
  7. Tentukanlah terlebih dahulu tugas-tugas yang harus dilakukan sewaktu dan sesudah karyawisata oleh perseorangan atau kelompok dalam bidang studi.
  8. Setelah selesai karyawisata perlu diadakan suatu diskusi (analisa) mengenai pengalaman-pengalaman hasil karyawisata.
  9. Langkah selanjutnya sebagai pengalaman hasil karyawisata perlu kegiatan-kegiatan lain sebagai usaha “follow-up”misalnya membuat laporan, karangan atau menggambar diagram.

Ada 2 macam peragaan, yaitu:

  1. Peragaaan langsung: memperlihatkan bendanya sendiri, mengadakan percobaan-percobaan yang dapat dimati murid. Misalnya guru membawa alat-alat atau benda-benda ke dalam kelas dan ditunjukkan kepada murid-murid atau membawa murid-murid ke laboratorium, pabrik-pabrik, kebun binatang, dan sebagainya.
  2. Peragaan tak langsung: dengan menunjukkan benda-benda tiruan, misalnya gambar-gambar, photo-photo, film dan sebagainya.
  • Pemilihan dan Fungsi Media Pembelajaran

Banyak sekali sumber dan media di lingkungan sekitar kita yang dapat dimanfaatkan dalam proses pembelajaran, untuk itu perlu kita pilih. Pemilihan sumber dan media pembelajaran ini penting karena digunakan sebagai alat bantu penyampai pesan yang benar-benar menjadi alat bantu yang efektif dalam pencapaian tujuan pembelajaran.

Prinsip-prinsip dalam pemilihan media pembelajaran, adaptasi dari Setyosari (2008), yang memungkinkan terjadinya proses pembelajaran yang konstruktivistik:

  1. Kesesuaian media dengan tujuan pembelajaran.
  2. Kesesuaian media dengan karakteristik pebelajar.
  3. Kesesuaian media dengan lingkungan belajar.
  4. Kemudahan dan keterlaksanaan pemanfaatan media.
  5. Dapat menjadi sumber belajar.
  6. Efisiensi media dalam kaitannya dengan waktu, tenaga, dan biaya.
  7. Keamanan bagi pebelajar.
  8. Kemampuan media dalam mengaktifkan siswa.
  9. Kemampuan media dalam mengembangkan suasana belajar yang menyenangkan.
  10. Kualitas media
  • Pengembangan Media Pembelajaran Berbasis Riset

Media pembelajaran dapat diartikan sebagai alat bantu dalam proses penyampaian pesan dalam dalam komunikasi pendidikan dan pembelajaran dalam rangka pencapaian tujuan pembelajaran. Alat bantu ini dapat berupa alat bantu yang sudah tersedia di lingkungan belajar, dapat juga alat bantu yang diciptakan oleh pendidik (instruktur, guru, dll). Media pembelajaran IPS berbasis riset yang dimaksud ini dibatasi pada media yang diciptakan (dikembangkan) pendidik/guru yang berwujud produk/peralatan.

Perbedaan karakteristik peserta didik tingkat pada pendidikan dasar dan menengah menuntut jenis media yang digunakan. Beberapa contoh media pembelajaran yang mudah dikembangkan dalam pembelajaran ilmu-ilmu sosial:

1. Gambar diam

Grafik, chart (kartu), peta, diagram, poster, komik, foto, lukisan, adalah contoh-contoh yang termasuk gambar diam. Media ini merupakan media yang sangat mudah dikembangkan oleh guru.

2. Rekaman suara

Misalnya rekaman percakapan Bahasa Inggris, rekaman pidato Bung Tomo ketika menggelorakan rakyat Surabaya dalam melawan Sekutu, dan sebagainya.

3. Televisi

Televisi termasuk dalam kategori media audio visual. Guru dapat menggunakan televisi pada siaran terbuka (broadcast), televisi siaran tertutup/ CCTV (Closed Circuit Television), maupun VTR (Video Tape Recorder) yang saat ini telah dikembangkan melalui VCD (Video Compact Disk).

4. Benda Asli (Real things)

Guru dapat mengumpulkan berbagai benda seperti tanaman, zat kimia, bebatuan, senjata, alat kesehatan, sebagai media pembelajaran. Guru juga dapat mengundang pelaku sejarah, hakim, jaksa, psikolog, polisi, untuk belajar dalam ruangan kelas. Benda-benda asli atau orang inilah yang disebut real things. Dalam real things guru juga dapat menggunakan simulasi sebagai media pembelajaran. Simulasi dapat berupa bentuk bermain peran (role playing) atau melihat kejadian secara langsung seperti persidangan, debat calon bupati, dan sebagainya.

5. Model

Model merupakan benda tiruan yang disajikan mirip atau menyerupai benda asli yang dapat digunakan sebagai media pembelajaran. Globe, miniatur candi, miniatur persidangan, lapisan tanah, atau benda-benda kecil yang diperbesar seperti kuman.

           

2.3 Sumber Belajar yang digunakan dalam Pembelajaran IPS di Sekolah Dasar

  1. A.    Pengertian Sumber Belajar 

Sumber belajar adalah segala sesuatu atau daya yang dapat dimanfaatkan oleh guru, baik secara terpisah maupun dalam bentuk gabungan, untuk kepentingan belajar mengajar dengan tujuan meningkatkan efektifitas dan efisiensi tujuan pembelajaran. (Association for Educational Communications and Technology/ AECT, 1977)

  1. B.     Janis-jenis sumber belajar IPS
  2. Sumber belajar yang sengaja direncanakan : semua sumber yang secara khusus telah dikembangkan sebagai komponen system instruksional untuk memberikan fasilitas belajar yang terarah dan bersifat formal, serta dirancang untuk keperluan pembelajaran yang akan diselenggarakan, seperti buku teks, multi media dan lain-lain.
  3. Sumber belajar yang karena dimanfaatkan: Sumber belajar yang tidak secara khusus didesain untuk keperluan pembelajaran umum. Namun dapat ditemukan, diaplikasikan dan dimanfaatkan untuk keperluan belajar serta mempunyai keterkaitan dengan bahan belajar yang akan dipelajari siswa. Teknis pemanfaatannya disesuaikan dengan faktor-faktor : tujuan pengajaran, bahan belajar, karakteristik peserta belajar, dan kemudahan dalam menggunakan bahan belajar (AECT, 1977)
    1. Komponen sumber belajar ips
      1. Pesan, yaitu informasi yang ada dalam bahan ajar yang sudah mengandung makna, misalnya materi pelajaran yang akan disampaikan oleh guru kepada siswa.
      2. Orang, yaitu unsure-unsur yang secara langsung atau tidak langsung terlibat dalam proses pembelajaran, misalnya: guru, siswa, kepala sekolah, pustakawan, pedagang di sekitar sekolah dan lain-lain.
      3. Bahan, yaitu sesuatu yang mengandung pesan yang memerlukan alat penampil, seperti transparansi, peta, globe dan lain-lain.
      4. Peralatan, yaitu semua peralatan yang digunakan untuk menunjang proses pembelajaran, seperti OHP, computer, VCD player dsb.
      5. Teknik, yaitu semua cara, metode dan strategi yang digunakan untuk menyampaikan pesan agar dapat diterima oleh khalayak dengan efektif dan efisien.
      6. Lingkungan, yaitu tempat di mana siswa belajar, misalnya kelas, perpustakaan, laboratorium dan alam sekitarny
  1. D.    Macam-macam sumber belajar ips
    1. Materi bahan bacaan (Reading Materials):
      1. buku teks
      2. Lembar Kerja Siswa (LKS)
      3. Ensiklopedia
      4. Majalah
      5. Kliping
      6. Brosur Perjalanan
  1.  Materi bukan bacaan (non reading materials):
  1. Gambar-Gambar, Foto, Ilustrasi.
  2. Film
  3. Rekaman (recording)
  4. Globe, Peta, dan Grafik
  5. Kartun
  6. Karikatur
  7. Museum
  8. Alam
  9. Sumber Masyarakat (Community Resources)
    1.  Perpustakaan
    2. ruang belajar
    3. studio
    4. lapangan
    5. olah raga, dll.
    6. wawancara,
    7. kerja kelompok
    8. observasi
    9. simulasi,
    10. permainan, dll.
    11. taman
    12. terminal
    13. pasar
    14. toko
    15. museum
    16. pabrik, dll.
    17. E.     Faktor-faktor yang berpengaruh kepada Sumber Belajar
      1. Perkembangan teknologi. Perkembangan teknologi yang pesat dewasa ini sangat mempengaruhi sumber belajar yang digunakan. Pengaruh teknologi bukan hanya terhadap bentuk dan jenis sumber belajar, melainkan juga terhadap komponen-komponen sumber belajar.
      2.  Nilai-nilai budaya setempat
  1. Sumber belajar yang berbentuk fasilitas meliputi:
  1. Sumber belajar berupa kegiatan meliputi:
  1. Sumber belajar berupa lingkungan di masyarakat meliputi:

Sering ditemukan bahan yang diperlukan sebagai sumber belajar dipengaruhi oleh faktor budaya setempat, misalnya nilai-nilai budaya yang dipegang teguh masyarakat, terutama pada jenis sumber belajar seperti tempat bekas peninggalan upacara ritual pada masa lampau yang masih dianggap tabu oleh masyarakat setempat untuk dikujungi akan sulit dipelajari atau diteliti sebagai sumber belajar.

  1. Keadaan ekonomi pada umumnya

Sumber belajar juga dipengaruhi oleh keadaan ekonomi, baik secara mikro maupun secara makro dalam hal upaya pengadaan, jenis atau macam, dan upaya penyebarannya kepada pemakai.

  1. Keadaan pemakai

Pemakai sumber belajar jelas memegang peranan penting karena pemakailah yang memanfaatkanya sehingga sifat pemakai perlu diketahui, misalnya berapa banyak pemakai sumber belajar itu, bagaimana latar belakang dan pengalaman pemakai, bagaimana motivasi pemakai, apa tujuan pemakai memanfaatkan sumber belajar itu.

  1. Pemilihan sumber belajar 

Memilih sumber belajar harus didasarkan atas kriteria tertentu yang secara umum terdiri dari dua macam ukuran, yaitu kriteria umum dan kriteria berdasarkan tujuan yag hendak dicapai.

  1. Kriteria Umum
    1.  Ekonomis.

Dalam pengertian murah. Ekonomis tidak berarti harganya selalu harus rendah, bisa saja pengadaan sumber belajar itu cukup tinggi, tetapi pemanfaatannya dalam jangka panjang terhitung murah.

  1. Praktis dan sederhana. Artinya tidak memerlukan pelayanan serta pengadaan sampingan yang sulit dan langka, atau tidak memerlukan pelayanan yang menggunakan keterampilan khusus yang rumit.
  2. Mudah diperoleh. Dalam arti sumber belajar itu dekat, tidak perlu diadakan atau dibeli di toko atau pabrik.
  3. Bersifat fleksibel. Artinya bisa dimanfaatkan untuk pelbagai tujuan instruksional dan tidak dipengaruhi oleh faktor luar, misalnya kemajuan teknologi, nilai budaya, dan keinginan berbagai pemakai sumber belajar itu sendiri.
  4. Komponen-komponennya sesuai dengan tujuan, merupakan kriteria yang penting. Sering terjadi sumber belajar mempunyai tujuan yang sesuai, pesan yang dibawa juga cocok, tetrapi keadaan fisik tidak terjangkau karena di luar kemampuan disebabkan oleh biaya yang tinggi dan banyak memakan waktu.
  1. Fungsi Sumber Belajar
    1. Tujuan Sumber belajar guna memotivasi, terutama berguna untuk siswa yang lebih rendah tingkatannya, dimaksudkan untuk memotivasi mereka terhadap mata pelajaran yang diberikan. Misalnya dengan darmawisata, gambar-gambar yang menarik, cerita yang baik, dll, yang tujuannya untuk membangkitkan minat, mendorong partisipasi, merangsang pertanyaan-pertanyaan, memperjelas masalah, dll.
    2. Sumber belajar untuk tujuan pengajaran, yaitu untuk mendukung kegiatan belajar-mengajar. Kriteria ini paling umum dipakai dengan maksud untuk memperluas bahan pelajaran, melengkapi pelbagai kekurangan bahan, sebagai kerangka mengajar yang sistematis.
    3. Sumber belajar untuk penelitian, merupakan bentuk yang dapat diobservasi, dianalisis, diatat secara teliti, dan sebagainya. Jenis sumber belajar ini diperoleh seara langsung dari masyarakat atau lingkungan. Sumber belajar yang dirancang dan membantunya melalui rekaman audio maupun video.
    4. Sumber belajar untuk memecahkan masalah. Beberapa ciri yang harus diperhatikan yaitu:
  • Sebelum mulai perlu diketahui: Apakah masalah yang dihadapi sudah cukup jelas sehingga bisa diperoleh sumber belajar yang tepat? Apakah sumber belajar bisa disediakan? Di mana bisa diperolehnya?
  • Mempertimbangkan bukti-bukti: Apakah sumber belajar masih aktual? Bagaimana jenisnya? Adakah sumber lain yang dapat dipakai?
  • Membuat kesimpulan: Benarkah kesimpulan yang diambil atas dasar sumber belajar itu? Sumber belajar untuk presentasi. Ini hampir sama dengan yang dipergunakan dalam kegiatan instruksional. Di sini lebih ditekankan sumber sebagai alat, metode, atau strategi penyampaian pesan. Fungsi sumber belajar ini bukan sebagai penyampai pesan atau informasi ataupun data, melainkan sebagai strategi, teknik, atau metode.

 

 

 

  1. Contoh sumber belajar IPS

 

Pokok bahasan: lingkungan sekitar

Tujuan pembelajaran

  1. Menceritakan lingkungan alam dan buatan di sekitar rumah dan sekolah.
  2. Membuat denah dan peta lingkungan rumah dan sekolah.
  3. Melakukan kerjasama di lingkungan rumah dan sekolah.

Pertanyaan

  1. Gambar (sungai) di atas menggambarkan lingkungan buatan atau lingkungan alam?
  2. Apa yang anda ketahui tentang lingkungan alam dan lingkungan buatan?
  3. Apa akibatnya jika air sungai keruh dan dipakai untuk mandi dan mencuci pakaian?
  4. Apa akibatnya jika air sungai tidak mengalir dengan lancar?
  5. Apa akibatnya jika banyak sampah yang berserakan di dalam air sungai?
  6. Amatilah lingkungan yang ada di sekitar sekolah kalian, bekerjalah secara kelompok dengan anggota 4-5 orang. Daftarkah berdasarkan pengamatan kalian, lingkungan apa saja yang kalian lihat di sekitar sekolah kalian? Lingkungan buatan apa saja yang kalian lihat di sekitar sekolah kalian?

Penugasan

Tugas kelompok di sekolah

Amatilah lingkungan yang ada di sekitar sekolah kalian, bekerjalah secara kelompok dengan anggota 4-5 orang. Daftarlah berdasarkan pengamatan kalian:

  1. Lingkungan alam apa saja yang kalian lihat di sekitar sekolah kalian?
  2. Lingkungan buatan apasaja yang kalian liahta di sekitar lingkungan sekolah?
  3. Buatlah denah bagian-bagian lingkungan yang ada di sekitar sekolah yang di dalamnya mencakup lingkungan alam dan lingkungan buatan. Berilah keterangan pada denah yang kalian buat!
  4. Bagian lingkungan yang ada di sekolah manakah yang rasakan bermasalah? Bagaimanakah cara mengatasi masalah tersebut? Lakukan bersama teman sekelasmu mengatasi masalah yang ada dilingkungan sekolah yang kalian temukan, laporkan secra tertulis!

Tugas individu di rumah

Amatilah lingkungan yang ada di sekitar rumah kalian masing-masing dan jawablah pertanyaan di bawah ini:

  1. Buatlah daftar lingkungan alam dan lingkungan buatan apa saja yang adaq disekitar rumahmu?
  2. Buatlah denah yang ada di dalam lingkungan sekitar rumahmu (terbatas lingkungan yang ada di dalam pagar rumahmu) bukan lingkungan tetangga.
  3. Bagian lingkungan manakah yang perlu dipecahkan? Bagaimana cara memecahkannya? Dan pecahkan bersama anggota keluargamu, laporkanlah!


BAB III

PENUTUP

 

3.1  Kesimpulan

Dalam menyampaikan suatu mata pelajaran tertentu kepada siswa,guru dapat merencanakan metode yang cocok bagi peserta didik agar tujuan yang telah dirumuskan sebelumnya dalam proses kegiatan pembelajaran dapat tercapai dengan efektif.

Pemilihan sumber dan media pembelajaran penting karena digunakan sebagai alat bantu penyampai pesan yang benar-benar menjadi alat bantu yang efektif dalam pencapaian tujuan pembelajaran.

Sumber belajar dapat berbentuk buku, yaitu yang berfungsi sebagai referensi, pembahasannya lengkap, penggunaannya dengan bantuan guru yang dapat memperjelas dengan illustrasi dan contoh-contoh.

3.2  Saran

Guru dituntut untuk menguasai macam macam metode, media dan sumber belajar yang paling tepat digunakan dalam proses pembelajaran, sehingga kecakapan dan pengetahuan yang diberikan oleh guru betul-betul menjadi milik siswa dan tujuan pembelajaran tercapai.

DAFTAR PUSTAKA

 

Sa’dun, Akbar. 2011. Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial. Yogyakarta: Cipta Media.

Tiya. 2010. Metode dan Media Pembelajaran Ips di Sd. Online,

(http://tiyapoenya.blogspot.com/2010/12/metode-dan-media-pembelajaran-ips-di-sd.html, diakses 11 Oktober 2012).

 

Yatmoko, S. 2011. Metode media dan sumber belajar. (online)

http://susilofy.wordpress.com/2010/11/22/metode-media-dan-sumber-pelajaran-ips-di-sekolah-dasar/ (diakses pada 11 oktober 2012)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s