nilai, sikap, dan keterampilan dalam pembelajaran IPS SD

2.1  Nilai dan Sikap serta Keterampilan Intelektual/Kemampuan Analisis, Personal dan Sosial dalam Kurikulum IPS SD 2006 Kelas 3 dan 4

  1. A.    Nilai dan Sikap dalam Kurikulum IPS SD 2006 Kelas 3 dan 4

Nilai berbeda dengan sikap. Nilai bersifat umum, mempengaruhi perilaku seseorang terhadap jumlah objek dan terhadap orang. Nilai (values) itu tidak berkenaan dengan sesuatu yang khusus. Inilah yang membedakan nilai dan sikap. Sikap biasanya berkenaan dengan yang khusus. Suatu nilai merupakan ukuran untuk menentukan apakah itu baik atau buruk, nilai juga menilik kelakuan seseorang. Orang mendapatkan niai dan orang lain dalam lingkungannya.

Nilai yang dianut seseorang tercermin dari sikapnya. Nilai bersifat utuh, merupakan sistem di mana semua jenis nilai terpadu saling mempengaruhi. Dengan kuat sebagai satu kesatuan yang utuh.

Nilai juga bersifat abstrak. Oleh karena itu, yang dapat dikaji hanya indikator-indikatornya saja yang meliputi cita-cita, tujuan yang dianut seseorang, aspirasi yang dinyatakan, sikap yang ditampilkan atau tampak, perasaan yang diutarakan, perbuatan yang dilakukan serta kekuatiran yang dikemukakan (Kosasih Djahiri, 1985: 18).

Dalam pendidikan kita meyakini bahwa nilai yang menyangkut ranah afektif ini perlu diajarkan kepada siswa. Agar iswa mampu menerima nilai dengan sadar, mantap, dan dengan nalar yang sehat. Diharapkan agar para siswa dalam mengembangkan kepribadiannya menuju jenjang kedewasaan memiliki kemampuan untuk memilih (dengan bebas) dan menentukan nilai yang menjadi anutannya.

Mengajarkan nilai (value) lebih memerlukan “skill” dibanding dengan mengajarkan kepercayaan (belief) dan sikap. Kita tidak bisa menentukan bagaimana nilai itu beroperasi dalam dan anak sementara ia berbuat, atau bersikap terhadap sesuatu, padahal kita beranggapan bahwa “nilai” itu tercermin dalam sikap dan perilaku seseorang. Oleh karena itu, dalam pendidikan nilai, guru tidak bisa segera mengambil kesimpulan mengenai hasil kegiatan belajar mengajar yang dilakukannya. Artinya, masih memerlukan waktu untuk menentukan apakah kegiatan belajar mengajarnya berhasil, kurang berhasil atau tidak berhasil, bagaimanakah nilai itu sendiri?

Pertama-tama, perlu diperhatikan bahwa pendidikan nilai harus ada kesesuaiannya dengan kehidupan di luar kelas. Kemudian, perlu diingat pula bahwa dalam pengajaran pendidikan nilai guru harus kreatif. Oleh karena itu, penyampaiannya tidak selalu harus mengacu kepada isi kurikulum yang tidak tertera dalam rancangan formal, misalnya dari pengalaman, dalam kehidupan sehari-hari. Nilai ang disampaikan adalah nilai yang esensial, sangat penting yang sangat berharga bagi kehidupan masyarakat. Dan tidak kalah pentingnya pula adalah pengajaran/pendidikan nilai harus bermula dari potensi anak menuju target pendidikan anak yang diharapkan. Tugas guru yang utama adalah meningkatkan tingkat kessdaran nilai pada anak, sadar bahwa ada sistem nialai yang mengatur kehidupan, sadar bahwa sistem nilai itu penting sekali bagi kehidupan manusia sehingga timbulkeinginan untuk memilikinya, bahkan merasa wajib untuk membina dan meningkatkannya, dan pada akhirnya yang bersangkutan berupaya untuk melakukannya dalam perbuatan sehari-hari.

  1. 1.      Arti sikap

Sikap memiliki pengertian yang rumit karena itu terdapat berbagai rumusan tentang sikap yang dikemukakan para ahli, disebabkan adanya latar belakang pemikiran dan konsep yang berbeda. Menurut Thursone adalah keseluruhan dari kecenderungan perasaan, pemahaman, gagasan, dan rasa takut, perasaan terancam, dan keyakinan-keyakinan tentang sesuatu hal. Menurut Rochman Natawijaya (1984: 20) sikap adalah kesiapan seseorang untuk memperlakukan sesuatu objek, di dalam kesiapan itu ada aspek kognitif, afektif, dan kecenderungan bertindak. Kesiapan sendiri merupakan penilaian positif dan negatif dengan intensitas yang berbeda-beda untuk waktu tertentu, kesiapan itu sendiri bisa berubah-ubah.

  1. 2.      Kaitan nilai dengan sikap

Nilai itu merupakan konsep tentang kelayakan yang dimiliki seseorang atau kelompok, yang mempengaruhi bagaimana seseorang atau kelompok memilih cara, tujuan, dan perbuatan yang dikehendakinya sesuai dengan anggapannya bahwa pilihannya adalah yang terbaik.nilai yang dimiliki seseorang dapat mengekspresikan mana yang lebih disukai mana yang tidak. Dapat disimpulkan bahwa nilai menyebabkan sikap. Yang selalu terjadi adalah satu sikap disebabkan oleh banyak nilai (values).

Di dalam sikap telah terkandung aspek-aspek kognitif, afektif, dan kecenderungan bertindak. Dapat disimpulkan terdapat kaitan antara nilai dengan aspek-aspek kognitif, aspek afektif, dan kecenderungan bertindak. Dari kajian para ahli dapat ditegaskan sebagai berikut:

  1. Ada hubungan timbal-balik antara nilai dengan kognitif.
  2. Ada hubungan timbal-balik antara afektif dengan kognitif.
  3. Nilai mempengaruhi kesiapan seseorang yang pada akhirnya akan menuju kepada terwujudnya perilaku yang sesuai dengan tingkat pemahaman dan penghayatan terhadap “belief” (keyakiannya).

Butir-butir nilai dan sikap yang dapat dikembangkan dari materi IPS di kelas 3 dan 4 banyak sekali, dan hal itu sesungguhnya merupakan tanggung jawab guru IPS sebagai pengembang kurikulum di kelas. Berikut beberapa contohnya:

Kelas 3

  1. 1.      Dari topik lingkungan sekitar

Subtopik: rumah

Dari lingkungan rumah/keluarga dapat digambarkan hubungan orang tua dan anak-anak, meliputi:

  1. Nilai-nilai kasih sayang, sabar, sopan-santun, patuh dan sebagainya.
  2. Sikap, misalnya sikap bertanggung jawab terhadap keluarga, sikap simpatik, berdisiplin, menaati peraturan, menyenangi keindahan, kebersihan, dan sebagainya.
    1. 2.      Kerja sama di lingkungan desa/kelurahan

Dari hubungan tatanan kehidupan masyarakat di desa terungkap hal-hal berikut ini:

  1. Nilai-nilai taat, solidaritas, rukun, damai, demokratis, rajin, dan sebagainya.
  2. Sikap, misalnya menghormati peraturan, semangat persatuan, semangat gotong royong, suka bermusyawarah, mendukung swadaya masyarakat, mendukung upaya pembangunan, semangat berwiraswasta, tolong menolong, dan sebagainya.
    1. 3.      Jenis-jenis pekerjaan

Dari penggalian jenis-jenis pekerjaan ini akan ditemukan hubungan antara timbulnya kebutuhan hidup dan kemampuan untuk memenuhi kebutuhan, misalnya sebagai berikut:

  1. Nilai-nilai hemat, rajian, tekun, kerja keras, kesederhanaan, manfaat (tidak menyebabkan sesuatu menjadi sia-sia), dan sebagainya.
  2. Sikap, misalnya efektif dan efisien, menghargai waktu, sikap bersungguh-sungguh dalam menghadapi pekerjaan, menikmati hidup, bersikap optimis, sikap tidak menyombongkan diri, menyukai keteraturan/ketertiban, dan sebagainya.

Kelas 4

  1. 1.      Pengetahuan membaca peta lingkungan setempat

Subtopik: kabupaten/kota setempat

Dari pengetahuan tentang peta, alam sekitar dan aspek budaya, misalnya dapat diungkapkan:

  1. Nilai-nilai ketakwaan (mensyukuri nikmat Tuhan), ketelitian dan akurasi (dalam menghitung ukuran skala), intelektual (dalam kajian keilmuan), manfaat (dalam pemanfaatan sumber daya alam), keindahan (pengembangan aspek budaya), dan sebagainya.
  2. Sikap, misalnya mensyukuri nikmat Tuhan, menghargai ilmu pengetahuan dan teknologi, menghargai kesenian, keindahan, dan sebagainya.
    1. 2.      Sejarah lokal

Subtopik: peninggalan sejarah di  lingkungan setempat

  1. Nilai-nilai diantaranya cermat (dalam menilai informasi), tekun dan ulet (dalam mencari informasi), jujur (dalam menyampaikan informasi), sabar, intelektual (dalam mengkaji pengetahuan sejarah), dan sebagainya.
  2. Sikap diantaranya adalah kritis-logis (dalam menilai informasi), dinamis (dalam mengahadapi perubahan), teliti dalam memilih sumber-sumber), berhati-hati (dalam mengambil kesimpulan), dan sebaginya.
  1. B.     KETERAMPILAN INTELEKTUAL/KEMAMPUAN ANALISIS, PERSONAL DAN SOSIAL DALAM KURIKULUM IPS SD TAHUN 2006 KELAS 3 DAN 4

Pencapaian aspek kemampuan dan keterampilan banyak ditentukan oleh siswa dalam aktivitas belajar secara langsung dan terprogram, aspek ini tidak mungkin tercapai hanya dengan membaca buku teks atau mendengarkan penjelasan guru semata. Pencapaian aspek kemampuan dan keterampilan ini hanya dapat dicapai dengan mengerahkan seluruh potensi yang ada pada diri siswa itu sendiri.

  1. 1.      Keterampilan intelektual/ kemampuan analisis

Dalam KTSP IPS SD tahun 2006, dalam keterampilan intelektual ditekankan pula tentang kemampuan analisis dari siswa didik. Keterampilan intelektual dan kemampuan analisis adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Kemampuan analisis adalah merupakan bagian dari keterampilan intelektual, di mana kemampuan analisis merupakan kemampuan/ kecakapan seseorang/siswa untuk melakukan penyelidikan terhadap suatu peristiwa dengan tujuan untuk mengetahui keadaan sebenarnya. Di lain pihak, keterampilan ini berkaitan dengan kemampuan/ kecakapanuntuk mewujudkan pengetahuan dan pengertiannya ke dalam perbuatan untuk menyelidiki suatu peristiwa/ masalah. Kemampuan dan keterampilan ini memerlukan perkembangan pemikiran yang kritis pada subjek didik. Keterampilan dan kecakapan ini antara lain:

  1. Keterampilan untuk memperoleh pengetahuan dan informasi melalui pengumpulan fakta, bacaan, mendengarkan penjelasan dari narasumber (guru-guru dan lain-lain) melalui partisipasi aktif dalam diskusi, kunjungan ke lapangan, dan sebagainya.
  2. Keterampilan berpikir, menafsirkan, menganalisis dan mengorganisasikan informasi yang dipilih dari berbagai sumber, membentuk konsep, merangkumnya kembali dan membentuk generalisasi sesuai dengan jenjang kemampuan berpikir siswa.
  3. Kemampan mengkritik informasi dan membedakan mana fakta, mana yang opini. Dengan keterampilan ini, siswa dapat berpikir kritis, dapat menunjukkan mana informasi yang faktual mana yang tidak.
  4. Keterampilan memebuat keputusan berdasarkan mereka mampu mengambil keputusan dengan profesional, tidak asal menyamaratakan saja.
  5. Keterampilan memecahkan masalah, menerapkan hasil temuan dalam sistem baru. Termasuk di dalamnya kemampuan memprediksi, memperkirakan hal-hal yang bisa/ akan terjadi di masa depan.
  6. Keterampilan menggunakan media: globe, peta, grafik, tabel, dan sebagainya sesuai dengan kemampuan berpikirnya. Keterampilan ini sangat diperlukan dalam rangka penafsiran atas fakta-faktadalam memperoleh pengetahuan tentang sesuatu.

Untuk memperoleh keterampilan intelektual/ kemampuan analisis tersebut, siswa perlu dilatih dalam berbagai kegiatan belajar-mengajar. Di sinilah pentingnya pendekatan CBSA dilakukan guru dalam strategi dan metode belajar yang dikembangkan. Guru perlu mengembangkan metode mengajar yang dapat menunjang pengembangan potensi intelektual siswa (di samping potensi lainnya).

Dengan mengembangkan belajar mengajar yang fungsional, misalnya dengan metode memecahkan masalah (problem solving) atau melalui model-model program lainnya, misal Program terpadu (muldisciplinary model) yang mengacu kepada topik-topik yang ditentukan dalam kurikulum sasaran pencapaian keterampilan itu dicapai.

  1. 2.      Keterampilan personal

Keterampilan personal sebenarnya tidak dapat dipisahkan dari keterampilan intelektual. Namun, dalam pemahamannya, ditekankan kepada keterampilan yang sifatnya mandiri.

  1. Keterampilan ini ada yang bersifat praktis disebut juga keterampilan psikomotor, seperti keterampilan berbuat. Berlatih serta mengkoordinasi indra dengan anggota badan. Keterampilan praktis ini tampak dalam hal kemampuan siswa menggambar, membuat peta, membuat model dan sebagainya.
  2. Keterampilan studi dan kebiasaan kerja

Misalnya, keterampilan menentukan lokasi kerja, mengumpulkan data, menggunakan reference material, membuat kesimpulan dan lain-lain. Dengan latihan yang benar, siswa diberi peluang untuk memiliki percakapan belajar mandiri dan bekerja mandiri.

  1. Keteramialn bekerja dalam kelompok. Keterampilan ini berkenaan dengan kemampuan seseorang di dalam kelompok, seperti menyusun rencana, memimpin diskusi, menilai pekerjaan secara bersama-sama. Keterampilan ini sangat penting dimiliki seseorang dalam mengembangkan pengalamannya. Oleh sebab itu, keterampilan ini hanya dapat diraih melalui serangkaian pengalaman dan berkembang secara bertahap.
  2. Keterampilan akademik atau keterampilan belajar (continuing learning skills). Keterampilan ini memungkinkan seseorang terampil belajar sepanjang hayat. Untuk tingkat pendidikan dasar sasarannya adalah baru dalam tahapan mengembangkan segenap potensi dirinya di kemudian hari, siswa memiliki semangat, kemampuan dan kepercayaan diri yangs sehat. Yang terpenting bahwa dalam diri siswa tertanam semangat untuk belajar terus sepanjang hayatnya.
  3. Keterampilan lainnya, antara lain:

1)      Keterampilan fisik.

2)      Keterampilan politik agar mengetahui tentang politik sesuai dengan perkembangan usia dan kemampuan berpikirnya.

3)      Keterampilan pengembangan emosional (emotional growth) sebagai saran utama dalam rangka kemampuan untuk mengendalikan diri.

  1. 3.      Keterampilan sosial

Keterampilan ini meliputi kehidupan dan kerja sama, belajar memberi dan menerima tanggung jawab, menghormati hak-hak orang lain, membina kesadaran sosial. Dengan demikian, keterampilan ini maka siswa mampu berkomunikasi dengan sesama manusia, ingkungannya di masyarakat secara baik, hail ini merupakan realisai dari penerapan IPS dalam kehidupan bermasyarakat. Latihan dan pembinaan yang tampak dalam proses belajar-mengajar antara lain mampu melaksanakan dengan baik:

  1. Berdiskusi dengan teman
  2. Bertanya kepada siapapun
  3. Menjawab pertanyaan orang lain
  4. Menjelaskan kepada orang lain
  5. Membuat laporan
  6. Memerankan sesuatu, dan seterusnya. (Belen dan Kawan-kawan, 1990:348).

Di samping dilatih kemampuannya dalam berbagai kemampuan tersebut, yang perlu dipertimbangkan guru adalah bagaimana guru mendorong siswa untuk lebih gemar membaca, mencari dan mengolah informasi sesuai dengan kemampuannya. Siswa agar memiliki kebiasaan untuk memahami latar belakang informasi, memahami struktur bahan pengajaran, mengerti peristilahan-peristilahan yang sulit/ baru, mengikuti perkembangan jaman, dan sebagainya.

Diharapkan akan tumbuh kesadaran dari mereka, tujuan mereka membaca/ mempelajari matei kajian. Bersikap kritis terhadap bahan kajian dan mampu mengevaluasi terhadapa apa yang sudah dipelajarinya, sehingga ia merasa memiliki kemampuan untuk memberikan kesimpulan dan keputusan.

2.2  Contoh keterkaitan antara Peristiwa, Fakta, Konsep, Generalisasi, Nilai, sikap dan Keterampilan Intelektual, Personal, Sosial dalam Konteks Pendidikan IPS SD Kelas 3 dan 4

Dari pembahasan kita terdahulu mengenai kaitan peristiwa, fakta, konsep dan generalisasi dapat disimpulkan bahwa peristiwa, fakta, konsep dan generalisasi digunakan untuk mengorganisasikan komponen-komponen isi bahan pengajaran yang disampaikan guru dalam kegiatan belajar mengajar di kelas. Hubungan antara peristiwa, fata, konsep, generalisasi dan bahan pengajaran tersebut bersifat timbal balik.

Di dalam bahan pengajaran guru sudah mempersiapkan isi materi yang bersifat terperinci, contoh-contoh, gambaran-gambaran yang memberi dukungan, serta aneka ragam pengalaman. Hal itulah yang memberikan makna kepada peristiwa, fakta, konsep dan generalisasi. Peristiwa, fakta, konsep dan generalisasi tidak dapat dikembangkan jika tidak dalam kaitan isi bahan pengajaran. Di pihak lain, isi bahan pengajaran akan lebih mudah dipahami bahkan akan lebih lama diingat jika isi materi pengajaran itu berfokus kepada gagasan-gagasan kunci, seperti konsep dan generalisasi.

Bagaimanakah kaitannya dengan nilai, sikap, dan keterampilan /kemampuan?

IPS baru bisa memiliki kekuatan sebagai bidang studi jika didukung oleh peristiwa, fakta, konsep dan generalisasi yang meaningful dapat dipertanggungjawabkan etika, logika, ada gunanya (pragmatically) dan disusun /diorganisasikan secara baik, terintegrasi dan values based (berlandaskan nilai-nilai). IPS juga baru bisa memiliki kekuatan jika penyajiannya (baik isi maupun penyampaiannya) mengandung unsur-unsur yang “menantang” dan membangkitkan minat dan sikap positif serta aktivitas siswa. IPS juga bisa memiliki kekuatan jika berkontribusi bagi pengembangan kemampuan dan ketrampilan siswa dalam segala aspek kehidupan, baik ketrampilan intelektual, personal maupun sosial.

Jika kita memperhatikan tuntutan pengajaran IPS, seperti dikemukakan di atas berarti bahwa upaya perbaikan penyelenggaraan IPS perlu terus dikembangkan dengan lebih sungguh-sungguh. Penyelenggaraan program pengajaran IPS harus didukung oleh fakta-fakta yang aktual dan disajikan berdasarkan konsep dan dilandasi oleh nilai-nilai yang berguna bagi kehidupan masyarakat manusia, berkontribusi bagi pembentukan sikap dan keterampilan yang mendukung pembangunan masyarakat dan bangsanya.

Seperti sudah dikemukakan di muka, kedudukan guru sebagai pengembang kurikulum sangatlah menentukan, gurulah yang mengetahui kondisi di lapangan, baik kondisi lingungan fisiknya maupun lingkungan budi dayanya. Guru juga lebih mengetahui kemampuan anak didiknya, jenjang kemampuan berpikirnya serta entry behaviour-nya. Oleh karena itu, peran guru sangat penting dalam pengorganisasian bahan pengaaran dan penyampaian bahan ajar kepada siswa. Guru harus mampu menyusun bahan pengajarannya dan menyampaikannya kepada siswa melalui kegiatan belajar mengajar yang tepat.

Berikut ini akan dikemukakan 2 buah contoh yang menggambarkan adanya keterkaitan antara peristiwa, fakta, konsep, generalisasi, nilai, sikap, dan ketrampilan intelektual / kemampuan analisis, personal, dan sosial.

Contoh 1

Topik               : Lingkungan Alam dan buatan Sekitar Rumah dan Sekolah

Subtopik          : Lingkungan Rumah ( IPS Kelas 3 Semester I ).

Standar Kompetensi :

Memahami lingkungan dan melaksanakan kerja sama di sekitar rumah dan sekolah.

Kompetensi Dasar :

Menceritakan lingkungan alam dan buatan di sekitar rumah dan sekolah

Tujuan Pembelajaran Khusus :

Setelah mempelajari topik ini siswa diharapkan dapat :

  1. Menjelaskan pengertian lingkungan alam;
  2. Menjelaskan pengertian lingkungan buatan;
  3. Menjelaskan pengertian rumah;
  4. Menyebutan benda-benda yang langsung dari alam yang ada di sekitar rumah;
  5. Menyebutkan benda-benda di lingkungan rumah buatan manusia;
  6. Menceritakan pentingnya lingkungan alam dan buatan bagi setiap orang.

Fakta-fakta

  1. Daftar benda-benda / barang-barang lingkungan alam dan lingkungan buatan.
  2. Cerita tentang pengalaman siswa sebagai anggota keluarga di rumahnya;
  3. Daftar tugas sehari-hari siswa di rumah.
  4. Hak dan kewajiban anggota keluarga terhadap lingkungan alam dan buatan hasil pengamatan guru dan siswa.

Konsep Dasarnya, antara lain berikut ini.

Rumah, lingkungan alam, lingkungan buatan, lingkungan sosial, tanaman, tanah, batu, binatang, jalan, jembatan, manusia, radio, televisi, norma dan Sanksi, nilai (values), kedudukan dan peran, sosialisasi (sosiologi), pembagian kerja, dan sebagainya.

Konsep-konsep esensial lainnya adalah berikut ini.

Perkawinan, rumah tangga, tata krama, sopan-santun, penataan lingkungan, menjaga kebersihan lingkungn, dan seterusnya.

 

Generalisasi :

  1. Di sekitar rumah terdapat lingkungan alam dan lingkungan buatan;
  2. Kebersihan dan keindahan lingkungan rumah ditentukan oleh rasa tanggung jawab setiap anggota keluarga di rumah sesuai dengan perannya masing-masing;
  3. Dan seterusnya.

 

Nilai    : kebersihan, keindahan, kegunaan, kerja sama, … dan seterusnya.

 

Sikap   : menghormati peraturan, berdisiplin, mau bekerja sama, bertanggung jawab,

menyukai kebersihan dan keindahan, dan seterusnya.

Kemampuan analisis dan Ketrampilan intelektual

  1. Mampu merencanakan kegiatan / observasi / penelitian.
  2. Mampu menyaring dan menganalisis informasi melalui bacaan, diskusi dan lain-lain.
  3. Mampu berpikir, menafsirkan dan mengirganisasikan informasi dan lain-lain;
  4. Dan seterusnya.

 

Ketrampilan personal

  1. Membaca dokumen, brosur / buku dan surat kabar;
  2. Mencatat data atau keterangan dalam berbagai bentuk;
  3. Menafsirkan gambar, menggambarkan denah;
  4. Dan seterusnya.

Ketrampilan sosial :

  1. Wawancara, bertanya, berdiskusi, menjawab pertanyaan dan menjelaskan kepada orang lain;
  2. Dan seterusnya.

 

Jenis kegiatan belajar :

Perseorangan, kelompok kecil, dan klasikal

Persiapan :

  1. Sebelum kegiatan belajar mengajar dimulai, guru telah mempersiapkan langkah-langkah apa yang akan dilaksanakan dalam KBM;
  2. Menyediakan media berupa : kertas-kertas, spidol berwarna, gambar;
  3. Gambar, dan lain-lain.

 

Pendekatan Metode :

Multi metode yang mencakup ceramah yang divariasikan dengan taya jawab, ekspositorik, diskusi disertai tugas.

 

Penugasan kepada siswa :

Melalui diskusi dan membaca buku sumber siswa mencari pengertian rumah, lingkungan alam dan lingkungan buatan membuat daftar benda-benda yang langsung dari lingkungan alam dan buatan manusia melalui pengamatan dan pengalaman hidupnya, membuat peran dan tugas anggota keluarga dalam menjaga lingungan alam dan lingkungan buatan.

Rancangan pengembangan materi Pelajaran oleh Guru

  1. Guru merumuskan pokok-pokok materi sebagai bahan pengajaran dalam kegiatan belajar-mengajar merujuk kepada berbagai sumber.
  2. Di sinilah guru berperan sebagai pengembang kurikulum.

Kegiatan Operasional :

Tahap kelas :

  1. Pertemuan pertama :
    1. Penjelasan pokok-pokok pelajaran dari guru disertai cara belajarnya.
    2. Kegiatan berikutnya
    3. Guru memperagakan satu dua contoh, misalnya memperlihatkan gambar / foto rumah, lingkungan alam, lingkungan buatan tertentu disertai penjelasan singkat, ihwal topik “lingkungan alam dan lingungan buatan di sekitar rumah”.
    4. Menanyakan komentar siswa tentang gambar / foto tersebut.
    5. Membuat kesimpulan singkat tentang apa “lingkungan alam dan lingkungan buatan sekitar rumah” itu. Bisa dilanjutkan dengan pertanyaan, misalnya bagaimana perasaan kita jika tidak memiliki rumah, bagaimana bila kita hidup tanpa ada lingkungan alam dan lingkungan buatan … dan seterusnya.
    6. Guru menyampaikan ceramah singkat tentang pengertian lingkungan alam dan lingkungan buatan disertai tanya jawab, dan diskusi kelas secara singkat. Dalam kesempatan itu, guru mengungkapkan nilai-nilai dan sikap-sikap yang proporsional sebagai siswa terhadap lingkungan alam dan lingungan buatan. Mungkin guru mengemukakan pertanyaan, seperti “ Mengapa setiap orang membutuhkan lingkungan alam dan lingkungan buatan?”. Coba mintakan jawabannya dari anak-anak dan diskusikan.
    7. Ditutup dengan penugasan dan penjelasan tugas kelompok (kelompok boleh kita atur atau percayakan kepada mereka / ketua kelas).
  1. Tahap tugas (Jelaskan atau cantumkan dalam lembar tugas).
    1. Inkuiri sederhana (mengkaji isi buku serta pokok-pokok bahasan yang harus dipelajari).
    2. Inkuiri dokumen atau lingkungan.

Misalnya :

  1. Bertanya kepada orang tua tentang apa itu benda-benda yang ada dan berasal dari lingkungan alam dan lingkungan buatan. Diperiksa oleh orang tuanya.
  2. Menginventarisasikan tugas-tugas siswa di lingkungan rumah dalam menjaga lingkungannya.
  3. Bagaimana keadaan lingkungan di sekitar rumahnya yang meliputi lingkungan sosial, keadaan lingkungan alam dan keadaan lingkungan buatan. Dan seterusnya, berkaitan dengan nilai dan sikap yang diharapkan.
  4. Dan seterusnya.
  5. Ada baiknya guru memberikan cara data teknis pembuatan instrumennya, serta mengembangkan kemampuan analisis dan keterampilan intelektual, personal, dan sosialnya.
  1. Tahap kelas (jam pelajaran minggu berikutnya)
    1. Penelaahan bukti hasil kerja kelompok (caranya Anda pilih dan tentukan sendiri untuk 5 – 10 menit).
    2. Berikan ikhtisar umum berisi ringkasan tentang pelajaran minggu lalu dan pokok masalah pelajaran yang dihadapi.
    3. Menentukan pilihan kelompok yang akan didiskusikan secara klasikal, dan kelompok lainnya menanggapinya berdasarkan hasil kerja mereka. Hendaknya terkesan bahwa dalam diskusi itu semua hasil kerja ditampilkan.
    4. Merumuskan kesimpulan diskusi, dalam hal ini guru turut membimbing dan meluruskan jika ada hal yang perlu diluruskan. Kaitkan dengan konsep-konsep esensial dan generalisasi yang telah dirancang. Kembangkan lebih lanjut dengan contoh-contoh.

Catatan :

Dalam kegiatan ini Anda harus membuat persiapan matang tentang beberapa hal, antara lain berikut ini.

  1. Prinsip-prinsip pengembangan materi pelajaran, antara lain berikut ini.
  2. Pemanfaatan : bahan pelajaran bermanfaat bagi pencapaian TPK.
  3. Kesesuaian : sesuai dengan taraf  kemampuan siswa.
  4. Ketepatan : tepat waktunya menurut kurikulum dan segi lingkungan
  5. Kesesuaian dengan situasi dan kondisi : tidak bertentangan dengan kepentingan masyarakat.
  6. Kemampuan guru : guru menguasai bahan.
  7. Pertimbangan lainnya
  8. Keseimbangan : keseimbangan sumber, struktur (fakta, konsep dan generalisasi), nilai dan sikap, serta kemampuan keterampilan siswa.
  9. Fleksibilitas : tidak kaku.
  10. Leameble : kemudahan, bagi siswa dalam memahami bahan dan mencapai TPK.
  11. Waktu : tidak melampaui target waktu yang ditentukan.
  12. Kemahiran guru bertanya dan mengarahkan, dalam suasana kelas bebas, tetapi terarah. Berikan penguatan, jangan memburuk-burukkan kelompok atau hasil kerjanya.

Contoh 2

Topik : Zaman Penjajahan ( Kelas 4 Caturwulan 3 ).

Tujuan Instruksional umum

Setelah mempelajari topik ini siswa diharapkan dapat :

  1. Menerangkan kedatangan dan penjajahan bangsa asing (Portugis) di Nusantara;
  2. Menerangkan kedatangan bangsa Spanyol di Kawasan Tanah air;
  3. Menceritakan kedatangan dan penjajahan bangsa Belanda di Tanah Air kita;
  4. Menceritakan penjajahan Inggris di Tanah Air kita;
  5. Menguraikan sebab dan akibat pelaksanaan tanam pasa;
  6. Menceritakan penderitaan rakyat kita pada zaman penjajahan;
  7. Menceritakan sebab –akibat penindasan penjajah bagi Indonesia.

Fakta-fakta (sebagai bahan kajian), antara lain berikut ini.

  1. Gambar-gambar dari tokoh-tokoh bersejarah dari masa itu, gambar kapal yang pernah digunakan bangsa barat pada waktu itu, dan lain-lain.
  2. Cerita, rakyat yang masih hidup di daerah berkenaan dengan zaman itu.
  3. Catatan cerita hasil kunjungan ke tempat bersejarah, museum, dan lain-lain yang berkenaan dengan penjelajahan dan penjajahan bangsa Portugis, Spanyol, Inggris dan Belanda di Nusantara (jika ada).
  4. Gambar-gambar yang melukiskan kemiskinan rakyat pada zaman penjajahan, misalnya rumah penduduk, pakaian, keadaan fisik dan lain-lain, juga gambar yang melukiskan bagaimana bangsa barat bersikap kepada rakyat bangsa kita yang terjajah, dan kemewahan yang mereka nikmati.
  5. Folklore yang berkaitan dengan reaksi penduduk terhadap sistem penjajahan.
  6. Gambar peninggalan zaman penjajahan yang masih ada misalnya : jalan raya anyer banyuwangi, jalan kereta api, pabrik-pabrik pengolahan hasil perkebuna, dan sebagainya.

 

Konsep

Kontinuitas dan perubahan, konflik, peradaban, nilai, multi sebab, penjajahan dan sebagainya.

 

Generalisasi :

  1. Penjajahan selalu menimbulkan konflik, antara yang menjajah dengan yang terjajah.
  2. Banyak sebab yang menyebabkan timbulnya penderitaan rakyat pada zaman penjajahan.
  3. Konflik sering kali menjadi sumber terjadinya perubahan.
  4. Dan seterusnya.

 

Nilai-nilai       :cermat, tekun, ulet dan objektif (dalam menilai dan mengemukakan

   informasi), ikhlas (menerima cerminan nilai religius), nilai intelektual (dalam

mengumpulkan, mengolah dan menimbulkan informasi).

Sikap-sikap     : bersikap kritis, tidak emosional, optimis (menghadapi masa depan), objektif,

   empati (terhadap penderitaan bangsa), mencintai peraturan, menghargai

pengorbanan para pejuang bangsa dan seterusnya.

 

Keterampilan intelektual / kemampuan analisis

  1. Mampu merencanakan kegiatan / observasi /penelitian.
  2. Mampu menyaring dan menganalisis informasi melalui bacaan, diskusi,dan lain-lain.
  3. Mampu berpiir, menafsirkan dan mengorganisasikan informasi dan lain-lain.
  4. Dan seterusnya.

 

Keterampilan personal :

  1. Membaca dokumen, brosur / buku sumber dan lain-lain.
  2. Mencatat data atau keterangan dalam berbagai bentuk.
  3. Membuat gambar menafsirkan gambar dan lain-lain.
  4. Dan seterusnya.

 

Keterampilan sosial :

  1. Wawancara, bertanya, berdiskusi, menjawab pertanyaan dan menjelaskan.
  2. Kepada orang lain dan seterusnya.

 

Jenis kegiatan belajar :

  1. Perseoranga, kelompok kecil dan klasikal.

 

Persiapan :

  1. Sebelum kegiatan belajar mengajar dimulai, guru telah mempersiapkan hal-hal yang berkenaan dengan kelancaran pelaksanaan pengajaran di kelas.
  2. Buku-buku sumber dan referensi relevan
  3. Beberapa gambar /foto, bagan yang relevan.
  4. Fotokopi dokumen yang sesuai dengan materi.
  5. Langkah-langkah operasional kegiatan belajar mengajar.
  6. Media lainnya, kertas-kertas, karton, spidol berwarna, dan lain-lain

 

Pendekatan Metode :

Multi-metode yang mencakup ceramah yang divariasikan dengan tanya jawab, ekspositorik, diskusi disertai tugas.

 

Penugasan kepada siswa :

( Sebelum KBM berlangsung )

  1. Merumuskan sejumlah pertanyaan yang dikaji dari sumber yang dipelajarinya atau media lainnya.
  2. Mempelajarinya buku sumber dengan cermat.
  3. Mempersiapkan diri untuk berdiskusi

Rancangan pengembangnya materi Pelajaran oleh Guru

Guru merancang dan merumuskan pokok-pokok bahan pengajaran yang diambil dari berbagai sumber dengan mempertimbangkan keterkaitan antara fakta, konsep, generalisasi, nilai, sikap, dan keterampilan (intelektual, personal, dan sosial).

Dari langkah-langkah tersebut di atas guru dapat menyusun Satuan Pelajaran yang secara operasional dapat dilaksanakan dalam kegiatan belajar mengajar di kelas.

Kegiatan Operasional

Proses Kegiatan Belajar Mengajar

  1. I.          Pertemuan pertama
    1. Pemusatan perhatian kepada penjelasan guru yang menampilkan sesuatu kasus yang ada kaitannya dengan pelajaran, misalnya dengan “Tahukah kamu, apakah masih ada bangsa yang dijajah dewasa ini?”. Guru melanjutkan pertanyaan itu dengan pernyataan, bahwa dulu berabad yang lalu bangsa kita pertama kali berkenalan dengan sistem penjajahan ini. Akan lebih menarik jika guru memulai pelajaran ini diawali dengan menyanyikan lagu perjuangan, misalnya Hallo-hallo Bandung.
    2. Pencekakan entry behaviour, reviu bahan ajar yang lampau dilakukan untuk menghubungan rentangan waktu dengan bahan yang akan diberikan. Pada tahap ini, guru memberikan ekspos gambar-gambar yang menarik perhatian siswa atau kasus yang relevan. Ada baiknya, guru kemudian menampilkan judul atau bagan bahan pengajaran baru dengan jelas!
  1. II.        Tahap Pelajaran dengan multi metode

Siswa-siswa dibagi ke dalam 6 kelompok kemudian ditentukan :

Kelompok 1. Memfokuskan kajian kepada kedatangan bangsa Portugis dan Spanyol

dan merumuskan beberapa kesimpulan.

Kelompok 2.  Memfokuskan kajiannya kepada perlawanan bangsa kita terhadap

Portugis dan menyimpulkan hal-hal yang dianggap penting.

Kelompok 3.  Memfokuskan kajian kepada kedatangan dan penjajahan bangsa

Belanda dan merumuskan hal-hal yang penting.

Kelompok 4.  Memfokuskan bahasannya pada perlawanan terhadap Belanda, tuliskan

peristiwa penting dan tokoh-tokoh penting.

Kelompok 5.  Memfokuskan kepada penjajahan Inggris dan kemukakan apa yang

penting pada zaman itu.

Kelompok 6. Pada Tanam Paksa dan penderitaan rakyat, rumuskan pengertian tanam

paksa serta akibat-akibatnya.

Setiap kelompok juga mempersiapkan pertanyaan untuk diajukan kepada kelompok lainnya dalam kegiatan diskusi berikutnya.

Setiap kelompok melakukan ekspos dan menerima pertanyaan dari kelompok-kelompok lainnya, diskusi berlangsung dengan bimbingan dan pengarahan guru.

  1. III.     Penyimpulan dan Arahan Ulang

Setelah semua substansi bahan ajar selesai, guru membuat kesimpulan semua isi dan pesan pelajaran itu. Dalam menyimpulkan itu guru memasukan muatan nilai serta sikap kita sebagai bangsa. Nilai-nilai apakah yang dapat ditampilkan yang relevan dalam kehidupan kita sekarang. Sikap yang bagaimana yang perlu kita miliki dalam menghadapi kenyataan bahwa kita sekarang ini sudah bersatu dalam suasana periehidupan bangsa yang beraneka ragam dan seterusnya.

Tidak ada salahnya guru mengajukan beberapa pertanyaan untuk lebih memantapkan isi pesan bahan pengajaran itu dalam kaitannya dengan mengembangkan pemahaman siswa tentang konsep dan generalisasi yang dikemukakan.

  1. Apakah sekarang ini kita berlangsung terus tanpa perubahan?
  2. Bolehkah kota mengubah kehidupan kita?
  3. Pada zaman penjajahan selalu timbul konflik antara bangsa kita dengan penjajah?
  4. Mengapa?
  5. Mungkinkah dalam masyarakat kita sekarang ada onflik (ketidaksesuaian)? Mengapa?
  6. Jika kamu sekarang membaca media cetak, koran, majalah, dan sebagainya, apa manfaatnya bagi kamu?

Siswa diajak agar tanggap kepada informasi. Informasi itu dari mana pun datangnya sangat berharga bagi pengembangan pengetahuan kita. Akhirnya semua isi pesan disimpulkan dan dibuatkan dengan buku sumber.

  1. IV.     Penutup dan Tindak Lanjut

Kesimpulan singkat dan harapan guru sebagai hasil uraian. Dilanjutkan dengan penguasaan Kegiatan Belajar Siswa berikutnya.

2.3  Nilai dan sikap, keterampilan intelektual/kemampuan analisis personal dan sosial dalam kurikulum IPS SD 2006 kelas 5 dan 6

  1. A.    Nilai dan Sikap dalam Kurikulum IPS SD 2006 di Kelas 5 dan 6

Nilai dan sikap sangat berhubungan. Nilai itu menyebabkan sikap, sehingga sikap itu akibat dari nilai yang dianut oleh seseorang. Dapat dikatakan bahwa nilai yang dianut seseorang tercermin dan sikapnya terhadap sesuatu.

  1. 1.      Nilai

Gross (1978:215) menjelaskan, bahwa hal yang sangat penting yang harus dipertimbangkan dalam pendidikan IPS disegala tindakan dan jenjang pendidikan adalah pendidikan nilai atau pendidikan moral. Sebagian berpendapat bahwa pendidikan nilai diberikan kepada siswa dengan tujuan agar siswa sendiri mampu mengembangkan ukuran nilainya sendiri. Sebaian lagi berpendapat bahwa pendidikan nilai harus diberikan dengan tujuan siswa dapat menyesuaikan diri dengan tatanan nilai yang hidup dan dianut dalam masyarakat. Namun pada kenyataannya, nilai senantiasa merupakan bagian dari kurikulum di sekolah. Kedua pendapat tersebut dapat dipadukan bahwa kita telah sepakat mengenai tatanan sistem nilai yang harus menjadi acuan kegiatan pendidikan IPS, pancasila, sementara dalam proses pendidikan kita mengembangkan kemampuan siswa agar dapat mengembangkan dan menemukan sendiri ukuran-ukuran nilai yang dihayati dengan sungguh-sungguh dan tentunya tidak akan menyimpang dari nilai-nilai luhur pandangan hidup bangsa kita. Para siswa diharapkan mampu memilih mana nilai positif mana nilai negatif, bahkan suatu saat nanti mereka dapat berkontribusi untuk perbaikan kehidupan masyarakat itu sendiri sesuai dengan tatanan sistem nilai budaya bangsa.

Menurut Ocha dan Jhonson (dalam Gross 1978:215) belajar nilai itu dapat dilakukan baik di dalam maupun di luar kelas. Cara yang efektif adalah dengan melalui “action learning model”, dengan menekankan pengajaran skill agar dapat berpartisipasi di dalam masyarakat. Yang penting bahwa siswa yang masih sangat remaja didorong untuk berperilaku sesuai dengan nilai yang dihayatinya. Proses belajar seperti ini berjalan sirkuter, tidak linear, artinya seseorang dapat saja menempati tahapan tertentu, tetapi di dalam lingkaran penahapan yang berulang.

Gagasan Ocha ini menunjukkan bahwa pendidikan nilai tidak harus menunggu kapan pelaksanaan pendidikan nilai dimulai. Setiap saat orang bisa melakukannya.

Kohlberg secara singkat menjelaskan tentang bagaimana tumbuhnya kesadaran sebagai berikut (Joice dan Weil, 1972:125-127):

  1. Tingkat prekonvensional. Tingkat ini terdiri atas dua tahap:

1)      Tahap 1: tahap kepatuhan bukan atas dasar hormat kepada peraturan normal yang mendasarinya, melainkan karena takut hukuman.

2)      Tahap 2: pada tahap ini penalaran anak beranggapan bahwa tindakan yang benar adalah tindakan yang memenuhi kebutuhan sendiri, yaitu “jika anda baik kepadaku maka aku juga baik kepadamu”.

  1. b.      Tingkat konvensional. Tingkat ini juga terdiri dari 2 tahap.

1)      Tahap 3: pada tahap ini penalaran anak beranggapan bahwa tingkah laku yangbaik adalah menyenangkan atau membantu orang-orang lain dan mendapat persetujuan dari mereka. Agar menjadi “anak yang manis”.

2)      Tahap 4: tahap orientasi hukum dan ketertiban. Bertindak moral berdasarkan rasa hormat kepada pemegang otoritas (pemerintah, atasan, penguasa) serta peraturan-peraturan yang sudah pasti, dan berusaha memelihara ketertiban masyarakat.

  1. c.       Tingkat pasca-konvensional, otonomi, berprinsip. Tingkat ini juga terdiri dari 2 tahap sebagai berikut.

1)      Tahap 5: tahap orientasi kontak sosial yang berdasarkan hukum. Telah tumbuh pandangan rasional, legalistik, serta menghargai kemaslahatan untuk kepentingan umum

2)      Tahap 6: tahap orientasi etika universal. Berbuat baik karena mengikuti suara hati nurani sesuai dengan prinsip-prinsip etika yang dilihatnya. Berdasarkan pertimbangan logis, universalitas dan konsistensi.

Tahap 1 dan 2 berkenan dengan umur anak antara 4 sampai 10 tahun, sedangkan tahap 3 dan 4 menginjak usia remaja, dan tahap 5 dan 6 menjelang dewasa. Siswa kelas 5 dan 6 ada dalam posisi antara tahap 3 dan 4. Hal inilah yang perlu mendapatkan perhatian guru dalam mengembangkan pendidikan nilai disekolah.

Menurut Notonagoro (Darmodiharjo, 1979 : 55-56) nilai terbagi menjadi 3 bagian, yaitu:

  1. Nilai material, yaitu segala sesuatu yang berguna bagi unsur jasmani manusia.
  2. Nilai vital, yaitu segala sesuatu yang berguna bagi manusia untuk dapat mengadakan kegiatan.
  3. Nilai kerohanian, yaitu segala sesuatu yang berguna bagi rohani manusia.

Nilai kerohanian ini dapat dibedakan menjadi 4 macam, yaitu:

  1. Nilai kebenaran/kenyataan yang bersumber pada unsur akal manusia (rasio, budi, cipta)
  2. Nilai keindahan, (yang bersumber pada unsur-unsur rasa manusia, estetis. Nilai kebaikan atau nilai moral, yang bersumber pada unsur kehendak/kemauan manusia (karsa, etik).
  3. Nilai religius, yang merupakan nilai ketuhanan, kerohanian yang tertinggi dan mutlak. Nilai religius ini bersumber pada keyakinan manusia.

Manusia mengadakan penilaian terhadap sesuatu menggunakan budi nuraninya dibantu oleh indranya, akalnya, perasaannya, kehendaknya, dan keyakinannya.. kemampuan ini tidak sama pada setiap manusia, sehingga diperlukan diskusi untuk mencari titik-titik persamaannya. Kemampuan ini dapat dikaitkan dengan mater pelajaran IPS.

Ada beberapa teori tentang pembentukan sikap yang perlu diketahui guru. pertama dikenal dengan nama Theoretic of learning. Teori ini berkenaan dengan proses conditioning, dimana terdapat pertalian antara stimulus (S) dengan respons (R). Teori ini dirintis oleh Thorndike, Skinner, dan Crowder. Menurut teori ini proses belajar sangat penting dalam pembentukan sikap. Secara sederhana proses terbentuknya sikap adalah sebagai berikut:

  1. Mula-mula diperoleh belief (kepercayaan) tentang objek, artinya diperoleh hubungan antara objek dengan atribut-atribut lainnya.
  2. Berkenaan dengan atribut tumbuhlah response evaluatif mengenai objek.
  3. Melalui conditioning, response evaluative ini dikaitkan dengan objek.
  4. Response evaluative ini berakumulasi maka jika kemudian objek itu muncul lagi tumbuhlah sikap terhadap objek secara menyeluruh. Untuk memperkokoh sikap yang positif besar sekali peranan reinforcement.

Kedua, disebut Modeling Theoretic. Teori ini dikembangkan oleh bandura. Sikap tumbuh dengan cara dipelajari langsung dengan mengamati kegiatan perilaku orang yang dijadikan model atau contoh.

Ketiga, disebut Balance of Theoretic (teori keseimbangan), dikembangkan oleh Heider. Menurut teori ini perolehan informasi yang mampu memperluas wawasan dan mendukung persoalan pada proporsi yang tepat sangat penting dalam rangka mencapai keseimbangan. Keseimbangan ala heider ini sering digambarkan sebagai segitiga keseimbangan. Ada 3 elemen yang menempati 3 sudut segitiga itu, yaitu p (menggambarkan a focal person), o (yang menggambarkan another person), dan x (yang menggambarkan event).

Konsep Heider tentang teori keseimbangan pada dasarnya berkenaan dengan sikap atau tidak suka dari seseorang terhadap objek berupa orang, sesuatu hal atau peristiwa. Keseimbangan baru terjadi bila terdapat dua hubungan negatif atau 3 hubungan positif. Selain itu menunjukkan ketidakseimbangan itu diperlukan informasi yang tepat sehingga dapat membentuk sikap seseorang.

Dan ketiga teori tersebut dapat disimpulkan bahwa sikap dapat dibentuk dengan 2 cara utama sebagai berikut:

  1. Melalui proses belajar (mendapatkan informasi yang benar)
  2. Melalui keteladanan dari orang-orang yang dijadikan contoh.

Cara mengevaluasi nilai:

Memberikan pertanyaan yang harus dijawab siswa, contohnya pendapat siswa tentang “persahabatan”.

Pertanyaannya:

  1. Apakah arti persahabatan itu bagi kamu?
  2. Jika kamu mendapat sahabat, apakah itu pilihan kamu atau diperoleh secara kebetulan?
  3. Bagaimana caranya kamu menunjukkan sikap persahabatan?
  4. Apakah penting mempertahankan persahabatan itu?
  5. Apakah persahabatan ada batasnya? Apa alasannya?

Mengevaluasi nilai itu juga bisa menggunakan teknik menilai diri, misalnya dengan perisai kepribadian. Cara ini sangat bersifat pribadi. Karena itu, apabila akan digunakan di kelas dan dijadikan bahan dialog tentang nilai antara guru dan siswa sebaiknya tanpa nama. Siswa mengisi beberapa pertanyaan tentang nilai yang berkenaan dengan nilai-nilai yang menjadi pilihan siswa, kekurangan diri sendiri, kebaikan yang dimilikinya, kebiasaannya, dan lain-lain.

Perisai kepribadian ini dikumpulkan guru, kemudian dikocok dan setelah guru membuat beberapa catatan, kemudian dikembalikan kepada siswa secara acak. Kemudian, diadakan diskusi tentang nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Contoh perisai kepribadian:

(1)

Tuliskan menurut kamu nilai-nilai yang kamu ingin miliki

KEIKHLASAN MENJALANKAN PERATURAN

(2)

Tuliskan hal yang sangat mengikat anda sehingga tidak mungkin anda melanggarnya

MERUBAH KEWARGANEGARAAN

(3)

Tuliskan kebiasaan yang selalu anda lakukan

TAAT KEPADA PEMIMPIN

(4)

Tuliskan kebiasaan yang anda lakukan jika tugas sudah dilaksanakan

MENGERJAKAN SESUATU YANG BERMANFAAT

(5)

Tuliskan kebaikan yang anda miliki yang patut ditiru oleh orang lain

SETIA KEPADA NEGARA DAN BANGSA

(6)

Tuliskan keburukan yang anda miliki yang tidak patut ditiru oleh orang lain

SOK DISIPLIN, SOK PAMER, EMOSIONAL

Masih banyak contoh lainnya tentang cara mengevaluasi nilai. Silahkan anda mencoba sendiri cara mana yang anda anggap paling anda kuasai dan cocok. Sekarang kita lanjutkan evaluasi sikap, biasanya digunakan skala sikap. Juga skala sikap ada beberapa macam, seperti skala likert, skala thorstone, ada skala Guttman. Disamping itu, ada yang disebut sematic different tiap dari osgood. Yang kita gunakan disini skala sikap likert bentuk disederhanakan sebagai berikut.

pertanyaan SS S TB TS STS
1.

2.

3.

4.

5.

Mestinya orang-orang luar jawa dilarang pindah kepulau jawa karena penduduknya sudah padat

Setiap persoalan kependudukan harus dipecahkan dengan tindakan tegas dari pemerintah.

Setiap pendapat dari siapapun tentu ada kebenarannya.

Kepentingan umum berkaitan erat dengan kepentingan saya sendiri.

Saya setuju kalau setiap siswa yang tidak mampu dibebaskan dari kewajiban membayar SPP.

Demikianlah, antara lain contoh pembuatan skala-sikap. Tiap pernyataan positif diberi skor 1,2,3,4, dan 5 untuk jawaban STS (sangat tidak setuju), TS (tidak setuju), TB (tidak berpendapat), S (setuju), SS (sangat setuju). Skor maksimal diperoleh dengan menjumlahkan perolehan skor setiap pernyataan.

Skala skat IN boleh juga disederhanakan lagi menjadi 3 alternatif jawaban, misalnya S, TB, dan TS saja. Perlu diperhatikan bahwa hasil evaluasi nilai dan sikap ini tidak dijadikan angka hasil belajar siswa. Tetapi besar pengaruhnya bagi pencapaian kualitas belajar siswa. Dengan pendidikan nilai dan sikap siswa berlatih bagaimana sebaiknya mereka memilih nilai dan menentukan nilai mana yang baik bagi dirinya dalam hidup bermasyarakat. Dengan berlatih menentukan sikap mereka juga bisa mengembangkan sikap dan kecenderungan perilakunya. Memang tidak mungkin ada sikap yang sama pada setiap siswa terhadap suatu objek yang dihadapinya, tetapi dalam keadaan normal biasanya penentuan sikap itu oleh siswa dalam lembar jawabannya menyebar secara merata.

Mari kita ungkapkan nilai dan sikap yang terdapat pada mata pelajaran IPS berdasarka kurikulum 2006.

Kelas 5

Topik 1 keragaman penampakan alam dan buatan serta pembagian wilayah waktu di Indonesia.

Nilai yang dapat kita petik dari bahan pengajaran ini, antara lain berikut ini.

  1. Nilai material:

Siswa merasa telah dapat menikmati hasil-hasil pembangunan yang sedang dan terus digalakkan, antara lain karena dukungan suber daya alam tanah air kita yang melimpah.

  1. Nilai vital:

Siswa diharapkan memiliki sifat seperti berikut ini:

1)      Cermat (dalam meneliti informasi yang diterimanya)

2)      Tekun (dalam mempelajarinya)

3)      Aktiv (dalam mengumpulkan informasi dan dalam kegiatan belajar pada umumnya)

4)      dst

  1. nilai kerohanian:

siswa memiliki rasa seperti berikut ini,

1)      sukur kepada tuhan yang maha esa atas rahmat dan karunianya yang telah memberikan kepada kita tanah air yang subur dan indah.

2)      menjunjung kebenaran sebagai sarat utama informasi disampaikan dalam mengembangkan ilmu pengetahuan.

3)      Menikmati keindahan alam yang diberikan tanah iar kita.

4)      Rasa bertanggung jawab atas kelestarian alam ini. (tanggapan tentang kelestarian alam).

5)      Dst

Sikap yang diungkapkan misalnya berikut ini:

  1. Sikap yang bersukur kepada tuhan yang maha esa disertai kecenderungan perilaku yang positif terhadap anugerah yang dilimpahkannya kepada kita.
  2. Tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
  3. Kritis dalam mnanggapi gejala-gejala alam.
  4. bertanggung jawab dalam melaksanakan tugas
  5. mencintai bangsa dan negaranya
  6. bangga sebagai bangsa Indonesia
  7. dan seterusnya

Topik 2. Perjuangan Para Tokoh Pejuang Pada Masa Penjajahan Belanda dan Jepang

Topik ini berkenaan dengan sejarah. Anda bisa memaklumi bahwa sejarah sangatlah padat dengan muatan nilai. Tanpa huruf kandungan nilai cerita sejarah akan terasa “keringnya”. Tentu saja kita tidak boleh mengada-ngada. Tidak melaksanakan propaganda. Subjektifitas kita dalam menyampaikan kandungan nilai tetap dalam batas-batas objectifitas yg dibenarkan kajian sejarah.

Dengan mengambil contoh kepda topik sebelumnya, kita tidak dapat mengungkapkan nilai yang terkandung daalam bahan pengajaran topik 2 ini, antara lain berikut ini.

  1. Nilai Material

Siswa merasa telah dapat menikmati kemerdekaan yang pada hakikatnya merupakan rahmat Tuhan Yang Maha Esa dan ridho-Nya terhadap perjuangan kemerdekaan bangsa kita.

  1. Nilai Vital

Siswa diharapkan memiliki sifat-sifat, seperti berikut ini

  1. Cermat dalam meneliti ulasan sejarah tentang perkembangan peruangan kemerdekaan.
  2. Objectifitas dalam menilai informasi.
  3. Kreatif, misalnya dalam mengembangkan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi
  4. Dan seterusnya.
  5. Nilai kerohanian, masalahnya berikut ini

Siswa memiliki rasa/menjunjung tinggi

  1. Syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat nikmat kemerdekaan sebagai rahmat-Nya. Ini sebagai ungkapan nilai keagamaan, nilai religius.
  2. Rasional dalam mengemukakan argumentasi, alasan, dan sebagainya. Ini merupakan nilai kebenaran yang dimiliki.
  3. Memiliki rasa simpati, terhadap pengorbanan para pejuang kemerdekaan kita. Ini merupakan cetusan keharusan, sebagai ungkapan perasaanya.
  4. Rasa bertanggung jawab atas kelangsungan hidup bangsa dan negara sesuai dengan kemampuan dan jenjang berpikirnya. Ini merupakan perwujudan karsa yang dimilikinya.
  5. Dan seterusnya.

Berikut ini kita ungkapkan sikap yang diharapkan dapat dimiliki siswa, tentu tidak mungkin menyimpang dan nilai-nilai yang kita kembangkan.

  1. Sikap yang bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat kemerdekaan tanah air dan bangsa. Sikap ini disertai konsekuensi logos, misalnya kita berikan contoh bagaimana perwujudan sikap bersyukur itu harus diwujudkan. Guru bisa menjelaskan bahwa yang dimaksud bersyukur itu, antara lain kita merasa bertanggung jawab mempertahankan karunia Tuhan ini, mempertahankan kemerdekaan dan keutuhan negara dan bangsa ini dan seterusnya. Perbuatan-perbuatan yang merusak, menimbulkan kerugian kepada bangsa kita, itu jelas menujukkan perbuatan yang tidak bersyukur.
  2. Tanggap terhadap perkembangan sejarah disertai sikap kritis dalam menilai informasi. Guru dapat memberikan penjelasan, misalnya dengan kepada informasi yang diterima. Orang jangan terlalu mudah percaya. Selidiki dulu kebenarannya. Fakta-fakta yang mendukungnya, jangan mudah percaya kepada isu-isu yang kadang-kadang irasional, bisa meresahkan masyarakat dan seterusnya.
  3. Bersikap terbuka dan toleran terhadap pendapat orang lain. Dijelaskan oleh guru bahwa jangan merasa benar sendiri. Orang lain juga memiliki kebenaran menurut pandangannya. Dalam hal ini kita harus belajar teloran, tetapi bukan berarti teloran dalam membiarkan kesalahan. Tentu guru-guru memiliki kiat-kiat tertentu untuk dapat menjelaskan hal ini kepada siswa. Tetapi anda dapat melaksanakan tugas ini dengan baik.
  4. Bangga sebagai bangsa indonesia dan mencintai bangsa dan negaranya. Sikap ini penting ditanamkan kepada siswa agar mereka memiliki rasa hormat kepada bangsanya sendiri dan menghargai prestasi yang dicapai bangsanya. Guru dapat menanamkan sikap ini kapada siswa disertai sikap tidak melecehkan kelompok bangsa atau etnik lain. Rasa bangga dan cinta kepada bangsa dan negaranya adalah sehat, dan harus dikembangkan dengan baik, asal dalam iklim dapat menghargai bangsa lain. Inilah dasar dan semangat kebangsaan bangsa. Guru bisa memberiakn contoh kongkrit, misalnya dengan perkembangan kemampuan bangsa kita dalam bidang teknologi pesawat terbang yang dikelola iptn, trasportasi laut, darat dann sebagainya. Dan seterusnya.

Kelas 6

Topik 1.  perkembangan Sistem Administrasi Wilayah Indonesia Pemerintahan

            Topik ini berkenaan dengan kedudukan dan fungsi-fungsi  yang memiliki Pemerintah Daerah Tingkat I dan Pemerintahan pusat. Jelas mengandung aspek utamanya. Tata negara, secara lebih rinci topik ini juga membahas kedudukan dan fungsi-fungsi lembaga tertinggi, dan Lembaga Tinggi Negara.

Nilai yang dapat kita-kita ungkapkan dalam proses belajar mengajar, antara lain berikut ini.

  1. Nilai Material

Siswa merasakan manfaat persatuan dan kesatuan bangsa bagi kehidupan masyarakatnya. Secara nyata pelaksanaan pemerintahan baik di pusat maupun di darah telah mampu menciptakan keadaan yang aman, hal ini merupakan syarat utama bagi terselenggaranya proses pembangunan dengan sebaik-baiknya.

  1. Nilai Vital
  2. Kedisiplinan. Disiplin yang tinggi diperlukan dalam mengelola Organisasi, bagaimanapun ukuran organisasi itu. Sekolah, RT/RW, desa, kecamatan, kabupaten, provinsi, dan negara sekalipun, itu semuanya adalah organisasi. Di dalam lingkungan kehidupan itulah harus ditanamamkan disiplin diri, bukan disiplin yang dipaksa dari luar.
  3. Semangat persatuan bangsa.
  4. Semangat ini menumbuhkan rasa kesetiakawanan, solidaritas, sebagai  bangsa, lebih populer dikatakan sebagai semangat gotong royong. Nilai ini memberikan vitalitas yang tinggi bagi upaya membina kerja sama dalam kehidupan masyarakat dan bangsa.
  5. Taat/patuh terhadap peraturan. Kepatuhan kepada peraturan yang diciptakan untuk menjamin kelangsungan hidup bersama merupakan karakteristik utama manusia sebagai makluk sosial. Kepatuhan ini memerlukan kesadaran kedua belah pihak yang dikenai kewajiban mentaati peraturan. Keduanya wajib menjunjung tinggi hukum dan tidak ada kecualinya. Di sinilah perlunya kesadaran dan kepatuhan kepada hukum dan peraturan.

Guru memberikan gambaran, misalnya berikut ini.

1)      Anak-anak, apakah kamu setuju jika ada peraturan dan ketertiban? ”tentu tidak bisa bukan? Alam negara kita yang menjunjung tinggi hukum dan peraturan, tidak ada seorang pun yang bebas melanggar hukum.

2)      Dan seterusnya.

  1. Nilai Kehormatan
  2. Nilai keagamaan, pada dasarnya sama dengan topik diatas.
  3. Mengerti dan memahami secara rasional tugas-tugas pemerintahan baik dipusat maupun didaerah, serta wewenang dan kekuasaannya.
  4. Hal ini sangat penting bagi setiap warga negara.
  5. Merasa terpanggil untuk melakukan hal-hal positif bagi bangsa dan negaranya sesuai dengan kemampuan dan usianya.
  6. Mencintai keteraturan, keserasian, keindahan dan seterusnya, sebagai wujud dukungannya kepada pemerintaha.
  7. Dan seterusnya.

Sikap yang dapat dikembangkan, misalnya berikut ini.

  1. Sikap yang bersyukur kepada Tuhan, sama dengan topik lainnya.
  2. Menghormati kekuasaan dan wewenang pemerintah yang berlaku atas dirinya, keluarganya dan masyarakatnya, bagaimana wujud dari sikap ini? Guru dapat menyesuaikan kondisi setempat.
  3. Sikap mentaati peraturan dan hukum. Baik hukum positif maupun norma yang berlaku didalam masyarakat.
  4. Dan seterusnya.

Topik 2. Penampilan Alam dan Keadaan Sosial Negara-negara Tetangga.

Topik ini sangat luas lingkup bahasanya. Mencakup aspek-aspek kajian ilmu sosial, seperti geografi, ekonomi, sejarah, politik, sosial budaya dan lain-lain.

Nilai-nilai yang dapat kita kemukakan, antara lain berikut ini.

  1. Nilai material, misalnya berikut ini.
  2. Siswa dapat menyaksikan betapa luas wilayah kerja sama ini dan dapat mengetahui manfaat dari kerjasama ini bagi negerinya, pada berbagai bidang, khususnya khususnya bidang industri dan perdagangan.
  3. Nilai vital, misalnya berikut ini.
  4. Kerjasama antara bangsa merupakan dorongan bagi peningkatan hubungan tetapi juga menumbuhkan saling pengertian. Hal ini dampaknya luas bagi peningkatan aktivitas dibidang ekonomi.
  5. Kemampuan yang memiliki bangsa kita ternyata tidak kalah dengan bangsa lain. Hal ini juga merupakan dorongan kuat untuk meningkatkan kwalitas kerjasama.
  6. Nilai kerohanian, misalnya berikut ini.
  7. Nilai keagamaan dalam bentuk doa, dan harapan agar kondisi kerja sama yang sudah baik dapat berlangsung lebih baik dimasa depan.
  8. Memahami dan mengerti kenapa kerjasama ini dibentuk serta apa tujuan khususnya bagi bangsa Indonesia. Berdasarkan informasi-informasi yang tepat, siswa dapat memprediksi kira-kira bagaimana perkembangannya dimasa depan.
  9. Tanggap terhadap berbagai  perkembangan ASEAN masa kini, yang bisa diwujudkan dengan perbuatan nyata (membuat kliping, koleksi gambar-gambar bersejarah dan seterusnya). Ini merupakan wujud keperdulian siswa terhadap materi pelajaran ini.
  10. Dan seterusnya.

Sikap yang dapat kita kembangkan, misalnya berikut ini.

  1. Sikap keagamaan sesuai dengan nilai diatas.
  2. Tanggap terhadap berbagai perkembangan yang terjadi disekitarnya.
  3. Rasional dalam menerima informasi dari berbagai pihak.
  4. Jika “ingin mengetahui” persoalan-persoalan yang terjadi disekitarnya hal ini penting untuk membiasakan semangat belajar mandiri.
  5. Dan seterusnya.

Itulah sekedar contoh bagaimana kaitannya nilai dan sikap dalam kurikulum IPS SD 2006.

Contoh-contoh tadi tentunya masih sangat sederhana dan masih jauh dari sempurna, contoh tersebut hanyalah bertujuan untuk memudahkan Anda dalam menerima informasi. Selanjutnya, anda diharapkan lebih jauh mengembangkan lagi pokok-pokok pikiran, seperti tertera pada kegiatan belajar mengajar.

Tentu saja proses pendidikan nilai, terintergrasi didalam penyajian materi secara kognitif.

Selanjutnya mari kita beranjak pada materi berikut.

2. keterampilan Intelektual/kemampuan Analisis, Personal, dan Sosial dalam Kurikulum IPS SD 2006 kelas 5 dan 6

Pada modul 2 telah dikemukakan bahwa aspek keterampilan/kemampuan analisis dalam pengajaran IPS itu hanya dapat dicapai jika guru mengintergrasikan aktivitas siswa dalam kegiatan belajar mengajar. Artinya guru harus memprogram kegiatan belajar dengan menggunakan pendekatan CBSA penuh (menggunakan berbagai metode mengajar). Apakah dasar pemikirannya? Berikut ini akan dikemukakan satu pemikiran yang menunjukkan bahwa siswa memang diaktifkan dalam kegiatan belajar mengajar.

Pada umumnya anak-anak itu dinamis, ia selalu bergerak, ingin berbuat, ingin melakukan sesuatu. Keadaan seperti ini perlu penyaluran positif sehingga berkembang menjadi perbuatan yang diisi percakapan dan keterampilan. Untuk itu guru perlu mempersiapkan langkah-langkah konkrit dalam merancang proses belajar mengajar. . apa yang dilakukan anak pada waktu belajar harus merupakan aktivitas belajar, seperti anak terlibat dalam kegiatan belajar mengajar secara sepenuhnya.

Ia mengalami bagaimana kegiatan belajar itu dilakukannya. Dengan demikian, baik kegiatan fisiknya maupun psikisnya digerakkan secara simultan dan saling mendukung. Diharapkan, kegiatan belajar ini dapat meningkatkan kwalitas pencapaian kognitifnya, afektifnya serta psikomotornya (ketrampilannya).

Pengalaman berharga yang diperoleh siswa itu akan memberikan manfaat, misalnya berikut ini.

  1. Siswa dapat memperdalam pemahaman dan pengertian materi pelajaran juga mampu mengembangkan sikap dan ketrampilannya.
  2. Mendorong siswa berfikir kritis dan realistis
  3. Pengalaman menghadapkan siswa kepada keadaan yang sebenarnya.
  4. Pengalaman itu akan berakumulasi agar diperoleh pengalaman yang lebih mendalam lagi.

Dalam hal ini guru harus mengupayakan.

  1. Pengalaman itu sesuai dengan tingkat kemampuan siswa.
  2. Pengalaman itu beragam, tidak menjemukan.

Dengan pengalaman itu anak didorong untuk lebih aktif berlatih. Latihan demi latihan yang dialami oleh siswa itu pada gilirannya akan melahirkan kemampuan untuk berbuat. Demikianlah dengan pengalaman itu guru mengembangkan kemampuan keterampilan siswanya baik yang bersifat keterampilan intelektualnya, psikomotorik ataupun keterampilan sosialnya.

Tujuan mengajarkan keterampilan itu adalah agar siswa dapat mengerjakan sesuatu secara baik, disertai keahlian, dan dapat melakukannya secara berulang-ulang. Siswa siap dan mampu mengerjakannya dengan baik, kapan saja keterampilan itu diperlukan.

Adalah kewajiban guru untuk menjadikan kegiatan belajar mengajar  yang dikelolanya menjadi baik, latihan-latihan praktek siswa tidak membingungkan, melainkan harus menarik, dikerjakan secara sungguh-sungguh sehingga siswa memiliki banyak keterampilan.

Mari kita telusuri kembali macam-macam keterampilan beserta sub keterampilannya.

Seperti telah kita bahas dalam modul terdahulu bahwa keterampilan itu terdiri dari 3 bagian berikut ini.

  1. Keterampilan Intelektual/kemampuan analisis. Ketrampilan berfikir.
  2. Keterampilan personal
  3. Keterampilan sosial.
  1. a.      Keterampilan Intelektual/ kemampuan analisis. Ketrampilan berfikir.

1)      Sejumlah proses melukiskan, menyimpulkan, menganalisis informasi, konseptualisasi, generalisasi, membuat keputusan.

2)      Membuat kesimpulan: memahami dan menerangkan berdasarkan pengamatan. Mereka harus menyadari bahwa ada diantara kesimpulan yang dibuatnya benar ada yang harus dibuktikan kebenarannya.

3)      Menganalisis informasi : kemampuan untuk menganalisis secara hati-hati dan merumuskan kesimpulan. Siswa mencoba memecah-mecah dan menghubungkan secara logika. Gunakan bacaan , media visual. Mereka harus dapat membedakan mana fakta dan mana kesimpulan. Tanyakan padanya tentang kesimpulan isi bacaan mengenai suatu hal.

4)      Konseptualisasi: membuat konsep melalui proses pembentukan konsep, seperti telah dibahas dimuka, antara lain klasifikasi, asimilasi dan asosiasi.

5)      Membuat generalisasi: ketika membuat generalisasi, mereka merumuskan pernyataan yang menunjukkan konsep itu berkaitan. Jadi mereka harus mampu membuat konsep dulu, juga harus bisa mendeskripsikan , menyimpulkan, menganalisis, membedakan, dan membandingkan serta mempertentangkan sebelum mereka membuat generalisasi. Keterampilan ini sangat perlu dimiliki dalam IPS, tentu saja keterampilan ini diajarkan secara bertahap.

Pada tahap tinggi diperlukan hal berikut ini.

  1. Studi atas beberapa sampel yang berbeda, bagaimana data dari berbagai latar belakang budaya berbeda, merumuskan pernyataan yang valid.
  2. Membuat keputusan: merupakan asimilasi dari kemampuan mengaplikasikan konsep dan generalisasi.
  3. Memprediksi kosekwensi.
  1. b.      Keterampilan personal

Berkenaan dengan keterampilan yang dibutuhkan oleh tiap siswa khususnya dalam mempelajari IPS dan Prosesnya, antara lain sebagai berikut.

  1. Membaca peta untuk mengenal pembagian permukaan bumi.
  2. Membuat denah rumahnya
  3. Peta RT dan RW dan seterusnya
  4. Mengenal waktu dan kronologi

Kematangan siswa tentang waktu dan kronologi adalah bertahap. Kompleks, kumulatif dan sekuensial, yang penting siswa dapat mengembangkan kemampuannya dan menerjemahkan konsep waktu dan mengerti bagaimana waktu lampau dan masa kini berhubungan.

Siswa mengetahui batas-batas waktu, seperti detik, menit, jam, hari, minggu, bulan, tahun, dekade, abad. Waktu yang tak infinitif: waktu lampau/dahulu, waktu singkat, zaman ini sukar dimengerti siswa.

Banyak cara tentang ini, misalnya suruh diam lima menit. Mengukur waktu berapa lama perjalanan berlangsung, pohon keluarga yang membuat tangkai kelahiran kakek, bapak, garis waktu tentang kelahirannya, masuk sekolah kelas I, kelas II dan seterusnya.

  1. c.       Keterampilan sosial

Manusia adalah makhluk sosial tinggal dalam kelompok, belajar dengan kelompok (nilai, kepercayaan, perilaku) belajar dari yang lain, dalam situasi kelompok, memiliki sifat kemanusiaannya di dalam hubungan dengan yang lainnya didalam kelompok. Demikianlah, kelompok itu penting untuk kelanjutan manusia (survival), kemanusiaan dan mengajar orang bagamana menjadi manusia (memanusiakan manusia).

Kelompok adalah kumpulan individu menurut Jonshon & Jonshon, kelompok itu adalah “kumpulan perorangan dalam interaksi tatap muka, setiap orang menyadari hubungannya sendiri, menyadari sifat keanggotaannya, dan setiap orang mendapatkan kepuasan dalam partisipasi didalam aktivitas yang berlangsung”.

Ada bermacam-macam kelompok dalam aktifiras manusia. Kelompok agama, memuaskan kep[uasan sepiritual dan menjawab masalah rumit dalam hidup, mati dan keabadian, kelompok lain memuaskan kebutuhan persahabatan dan status, dalam masyarakat moderen sangat diperlukan.

  1. 1.      Kebutuhan akan pengembangan keterampilan berkelompok

Masyarakat manusia pada dasarnya adalah masyarakat demokratis. Mereka harus dapat berperan dengan sebaik-baiknya dalam masyarakat, tahu bagaimana acara menggunakan pengaruhnya dalam masyarakat.

Warga negara yang efektif adalah warga negara yang dapat menggunakan pengaruhnya dalam masalah umum, dengan meyakinkan kelompok tentang pentingnya mencapai tujuan.

IPS memiliki tanggung jawab untuk mengembangkan kemampuan ini, tugas-tugas dalam kelompok harus jelas dipahami siswa. Guru perlu terus memonitor kerja siswa dalam kelompok untuk melihat apakah mereka melaksanakan tugasnya dengan benar-benar.

Bagaimanakah semua anggota dalam kelompok berkonstribusi, tetapi yang tidak kalah pentingnya adalah bagaimana mereka berlatih melaksanakan fungsi-fungsi kepemimpian.

Oleh karena itu, guru harus meyakinkan bahwa setiap orang dalam kelompoknya memiliki kesempatan untuk berperan serta dan berlatih kepemimpinan. Dari kondisi itulah siswa diyakinkan bahwa dasar pengetahuan kelompok bukanlah kekuasaan semata, melainkan keahlihan, kemampuan dan tanggap terhadap informasi.

  1. 2.      Peningkatan keterampilan kelompok (social)

Siswa memerlukan pengembangan keterampilan kelompok untuk menjadi warga negara yang efektif simasyarakat, belajar bagaimana menjadi pemimpin yang sukses, pengikut yang efektif, bagaimana melakukan konstributif secara produktif dalam kelompok, mampu menjadi pendengar yang baik, menyatakan pikirannya sehingga dipahami masyarakat.

Kelompok efektif mampu melihat suatu perkara dari kerangka dan acuan yang berbeda.  Mampu berkomunikasi dan berkompromi. Ada diantara siswa yang memiliki kemampuan tinggi, ada yang rendah atau sedang.

Diantara siswa ada yang lebih efektif menjadi anggota dan ada yang cocok sebagai pemimpinnya.

Untuk mengembangkan keterampilan intelektual, personal dan sosial ini siswa perlu diberi tugas disesuaikan dengan topik yang ada pada kurikulum.

Barangkali ada baiknya guru membuat masukan bagi pengembangan kemampuan keterampilan ini. Keterampilan merupakan proses. Oleh karena itu, juga diamati dalam proses, bukan hanya sekali pertemuan guru memperoleh kesan bagi pengembangan keterampilan itu melalui hasil observasi, seperti berikut ini.

2.4  Contoh keterkaitan antara peristiwa, fakta, konsep generalisasi, nilai, sikap dan keterampilan intelektual/kemampuan analisis, personal, sosial, dalam konteks pendidikan IPS SD kelas 5 dan 6

Pada bagian akhir modul ini telah dikemukakan bahwa antara peristiwa, fakta, konsep, dan generalisasi itu ada keterkaitan hubungan yang tidak mungkin dipisahkan. Keempatnya terpadu di dalam struktur IPS. Oleh karena itu pengembangan pemahaman dan pengertian tentang peristiwa, fakta, konsep, dan generalisasi hanya mungkin di dalam konteks bahan pengajaran terprogram. Melalui proses belajar mengajar IPS yang demikian itu, juga dikembangkan kemampuan siswa dalam ramah kognitif, afektif, dan psikomotorik (keterampilan).

Dalam KBM secara jelas kemampuan guru sebagai pengembang kurikulum di lapangan direalisasikan dan dapat diamati secara faktual. Oleh sebab itu, mengaitkan unsur peristiwa, fakta, konsep, generalisasi, nilai,sikap dan keterampilan harus dilihat dari segi dari KBM yang dikelola guru IPS tersebut.

Selanjutnya, mari kita mencoba mengemukakan KBM yang dapat menunjukkan adanya keterkaitan antara peristiwa, fakta, konsep, generalisasi, nilai,sikap dan keterampilan siswa.

Contoh:

Topik 1:           Perjuangan para pejuang pada masa penjajahan belanda dan jepang.

KD:                             Mendeskripsikan perjuangan para pejuang pada masa penjajahan belanda dan jepang.

Indikator:        Siswa mengenal arti pergerakan nasional dan arti sumpah pemuda bagi persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia.

  1. Ranah kognitif, setelah mempelajari topik ini siswa diharapkan dapat:
    1. Menceritakan latar belakang timbulnya pergerakan nasional, serta tokoh-rokohnya.
    2. Menerangkan peristiwa sumpah pemuda.
    3. Menceritakan tokoh-tokoh yang berperan dalam sumpah pemuda.
    4. Menunjukkan  arti pergerrakan nasional dan sumpah pemuda bagi persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia.
    5. Ranah afektif
      1. Menghayati jasa para pelopor pergerakan nasional.
      2. Mengapresiasi jiwa sumpah pemuda.
      3. Ranah psikomotorik
        1. Mencoba melakukan wawancara untuk memahami makna zaman pergerakan nasional dengan tokoh-tokoh tertentu.
        2. Memahami makna sumpah pemuda melalui proses diskusi kelas.

Peristiwa sebagai bahan kajian:

Peringatan hari kebangkitan nasional atau sumpah pemuda.

Fakta-fakta sebagai bahan kajian:

  1. Gambar-gambar dari tokoh-tokoh bersejarah.
  2. Naskah sumpah pemuda.
  3. Gambar gedung-gedung bersejarah bagi pergerakan nasional.
  4. Gambar suasana kota jakarta pada zaman penjajahan.

Konsep:

  1. Nasionalisme, imprealisme, dan kolonialisme.
  2. Kaum pergerakan, persatuan bangsa, kemerdekaan, dominasi asing, patriotisme, organisasi politik, HAM, dan seterusnya.

Generalisasi:

  1. Setiap masyarakat manusia pasti mengalami perubahan.
  2. Penjajahan selalu menimbulkan konflik dan kesengsaraan.
  3. Perwujudan nasionalisme disesuaikan dengan tantangan zaman.

Nilai:

Nilai material:

Siswa merasa telah menikmati hasil kemerdekaan.

Nilai vital:

  1. Cermat, dalam meneliti ulasan sejarah.
  2. Objektif, dalam menilai informasi.
  3. Kreatif dalam memprediksi.

Nilai kerohanian:

  1. Bersyukur kepada Tuhan YME atas rahmat-Nya dan seterusnya.
  2. Rasional dalam beragumentasi.
  3. Memiliki empati terhadap pengorbanan para pahlawan.
  4. Rasa bertanggung jawab atas nikmat kemerdekaan dan seterusnya.

Sikap:

  1. Bersyukur kepada Tuhan YME disertai rasa tanggung jawab.
  2. Tanggap terhadap perkembangan zaman.
  3. Bersikap terbuka dan toleran terhadap pendapat lain.
  4. Bangga sebagai bangsa Indonesia dan mencintai bangsa dan tanah airnya dan seterusnya.

Keterampilan intelektual/kemampuan analisis:

  1. Melukiskan, menyimpulkan, menganalisis informasi, konseptualisasi, generalisasi dan membuat keputusan.
  2. Memperoleh informasi, membentuk konsep, generalisasi, mengorganisasikan informasi, mengambil keputusan, menafsirkan fakta, dan menyusun laporan.

Keterampilan personal:

  1. Membaca peta, membuat denah, membuat peta, mengenal waktu dan kronologis, menerjemahkan kosep waktu, bekerja dalam kelompok.
  2. Keterampilan praktis, belaja mandiri, memimpin dalam diskusi, mengendalikan emosi dan lain-lain.

Keterampilan sosial:

Berkonsribusi membei gagasan, menjadi pendengar yang baik, mampu menjelaskan, mampu mengadakan wawancara, mampu berperan dengan baik, mampu bertanya dengan baik, dan lain-lain.

Jenis kegiatan perseorangan, kelompok kecil dan klasikal.

Persiapan:

  1. Sebelum KBM berlangsung, guru telah mempersiapkan langkah-langkah apa yang akan dilaksanakan dalam KBM.
  2. Menyediakan media berupa kertas, spidol berwarna, gambar-gambar, dan lain-lain.

Pendekatan metode:

Multimetode yang mencangkup ceramah yang divariasikan dengan pendekatan konsep, diskusi serta tugas.

Penugasan kepada siswa:

Membuat kliping tentang uraian-uraian sekitar peringatan hari kebangkitan nasional dan sumpah pemuda.

Rancangan pengembangan materi pelajaran oleh guru:

Guru merumuskan pokok-pokok materi sebagai bahan pengajaran dalam KBM merujuk kepada berbagai sumber, guru sebagai pengembang kurikulum.

Kegiatan operasional:

Tahap kelas:

  1. I.                   Pertemuan pertama
  2. Penjelasan pokok-pokok pelajaran dari guru disertai cara belajarnya.
  3. Kegiatan berikutnya:
  4. Guru memperagakan contoh-contoh, menunjukkan gambar tokoh-tokoh, sumpah pemuda, dan lain-lain.
  5. Menanyakan komentar siswa tentang gambar/foto tersebut.
  6. Membuat kesimpulan singkat tentang “makna zaman pergerakan nasional dan sumpah pemuda”. Lanjutkan  dengan pertanyaan yang memicu pemikiran siswa.
  7. Guru menyampaikan ceramah singkat tentang “makna zaman pergerakan nasional dan sumpah pemuda”. Tanya jawab guru dan siswa merupakan pengantar ke arah kajian materi yang akan dilakukan siswa secara berkelompok. “Apakah masih ada yang kamu tanyakan?”. Jika sudah jelas mari kita mengadakan pembagian tugas.
  8. Pertemuan ditutup dengan pemberian tugas dan penjelasan tugas kelompok.
    Siswa dibagi dalam beberapa kelompok, tiap kelompok tidak lebih dari 5 orang. Misalnya, sluruh kelas dibagi 6 kelompok kemudian guru membagi tugas.
    Kelompok 1 : tentang “hari kebangkitan nasional”.
    Kelompok 2 : tentang “organisasi pergerakan nasional sampai tahun 1928”.
    Kelompok 3 : tentang “hari sumpah pemuda”.
    Kelompok 4 : tentang “organisasi-organisasi pergerakan nasional antara 1928-1942”.
    Kelompok 5 : tentang “tokoh-tokoh terkemuka dalam zaman pergerakan nasioanal”.
    Kelompok 6 : tentang “kehidupan masyarakat kita pada zaman penjajahan”.
    Sebelum bekerja, ketua kelompok diberi arahan dulu. Terutama yang berkenaan dengan sumber.

    1. II.                Tahap penugasan

Tugas siswa adalah melakukan hal-hal berikut ini:

  1. Inkuiri sederhana, mengkaji isi buku serta pokok-pokok yang akan dibahas.
  2. Inkuiri dokumen lainnya, melalui perpustakaan, koran, majalah, serta mencari informasi dari lingkungan. Dalam kesempatan ini siswa dilatih keterampilan intelektual, personal, dan sosialnya.
  3. Untuk lebih memudahkan proses kerja siswa, guru boleh memberikan cara dan teknis pembuatan instrumennya, cara mewawancarai, cara menulis laporan dan sebagainya.
    1. III.             Tahap kelas (minggu berikutnya)

Tahap ini adalah tahap diskusi kelas.

  1. Map kelompok menyerahkan hasil kerjanya, guru meneliti hasil kerja itu ±5-10 menit.
  2. Memilih hasil kerja kelompok yang akan didiskusikan.
  3. Merumuskan hasil kesimpulan diskusi.

Demikianlah, KBM diakhiri dengan menghasilkan rumusan hasil diskusi oleh siswa dengan bimbingan guru.

Lebih kurang 10 menit sebelum pelajaran berakhir guru memberikan tes formatif untuk mendapatkan masukan bagi guru mengenai hal berikut:

  1. Apakah program pengajaran tersebut dapat dilaksanakan dengan baik. Apakah tidak terlalu sulit untuk dikerjakan oleh siswa. Jika ada kesulitan, dalam hal apa kesulitan itu dialami siswa dan seterusnya.
  2. Bagaimana tingkat pencapaian hasil belajar siswa pada umumnya untuk topik ini?

Berdasarkan masukan itu, guru dapat membuat perencanaan pertemuan berikutnya.

12 thoughts on “nilai, sikap, dan keterampilan dalam pembelajaran IPS SD

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s