penilaian (evaluasi) dalam pembelajaran IPS SD

2.1  Pengertian Penilaian

Menurut Sardiyo (2009: 3) penilaian adalah suatu proses sistematik untuk mengetahui tingkat keberhasilan dan efisiensi suatu program. Penilaian merupakan suatu proses pengumpulan, pelaporan, dan penggunaan informasi tentang hasil belajar siswa yang diperoleh melalui pengukuran untuk menganalisis atau menjelaskan unjuk kerja atau prestasi siswa dalam mengerjakan tugas-tugas yang terkait.

Hal yang sama juga dikemukakan oleh Sukardi (2008:1) bahwa evaluasi atau penilaian merupakan proses yang menentukan kondisi, di mana suatu tujuan telah dapat dicapai. Evaluasi juga merupakan proses memahami, memberi arti, mendapatkan, dan mengkomunikasikan suatu informasi bagi keperluan pengambil keputusan. Menurut Oktaviandi (2012) penilaian atau assessment adalah penerapan berbagai cara dan penggunaan beragam alat penilaian untuk memperoleh informasi tentang sejauh mana hasil belajar peserta didik atau ketercapaian kompetensi (rangkaian kemampuan) peserta didik. Penilaian menjawab pertanyaan tentang sebaik apa hasil atau prestasi belajar seorang peserta didik. Hasil penilaian dapat berupa nilai kualitatif (pernyataan naratif dalam kata-kata) dan nilai kuantitatif (berupa angka).

Penilaian hasil belajar pada dasarnya berfokus pada bagaimana guru dapat mengetahui hasil pembelajaran yang telah dilakukan. Guru harus mengetahui sejauh mana siswa telah mengerti bahan yang telah diajarkan atau sejauh mana tujuan/kompetensi dari kegiatan pembelajaran yang dikelola dapat dicapai.

Evaluasi, penilaian, dan pengukuran merupakan tiga istilah yang sering rancu untuk digunakan. Menurut Cangelosi dalam Oktaviandi (2012) dijelaskan bahwa

  1. Evaluasi pembelajaran adalah suatu proses atau kegiatan untuk menentukan nilai, kriteria-judgment atau tindakan dalam pembelajaran.
  2. Penilaian dalam pembelajaran adalah suatu usaha untuk mendapatkan berbagai informasi secara berkala, berkesinambungan, dan menyeluruh
  1. tentang proses dan hasil dari pertumbuhan dan perkembangan yang telah dicapai oleh anak didik melalui program kegiatan belajar.
  2. Pengukuran atau measurement merupakan suatu proses atau kegiatan untuk menentukan kuantitas sesuatu yang bersifat numerik. Pengukuran lebih bersifat kuantitatif, bahkan merupakan instrumen untuk melakukan penilaian. Dalam dunia pendidikan yang dimaksud pengukuran adalah proses pengumpulan data melalui pengamatan empiris.

Dari beberapa pendapat di atas dapat diambil suatu kesimpulan bahwa penilaian adalah kegiatan yang dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan untuk memperoleh, menganalisis, dan menafsirkan hasil belajar peserta didik sehingga menjadi informasi yang bermakna untuk pengambilan keputusan dalam    menentukan tingkat pencapaian kompetensi.

 

2.2  Tujuan Penilaian

Menurut Arikunto (2010:10) tujuan penilaian sebagai berikut:

  1. Penilaian berfungsi seletif

Dengan cara mengadakan penilaian guru mempunyai cara untuk mengadakan seleksi atau penilaian terhadap siswanya. Penilaian tersebut mempunyai berbagai tujuan yaitu:

  1. Untuk memilih siswa yang diterima di sekolah tertentu.
  2. Untuk memilih siswa yang dapat naik ke kelas berikutnya.
  3. Untuk memilih siswa yang seharusnya mendapatkan beasiswa.
  4. Untuk memilih siswa yang sudah berhak meninggalkan sekolah.
    1. Penilaian berfungsi diagnostik

Dengan mengadakan penilaian guru dapat melakukan diagnosis pada siswa tentang kebaikan dan kelemahannya sehingga dapat diketahui sebab-sebab kelamahan dan cara untuk mengatasinya.

  1. Penilaian bersifat sebagai penempatan

Dalam menentukan pelaksanaan pembelajaran dengan pendekatan kelompok dapat dilakukan penilaian. Penilaian digunakan untuk menentukan posisi pasti di kelompok mana seorang siswa harus di tempatkan. Sekelompok siswa yang mempunyai hasil penilaian sama akan berada dalam kelompok yang sama dalam belajar.

  1. Penilaian berfungsi sebagai pengukur keberhasilan

Fungsi keempat dari penilaian ini dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana suatu program berhasil diterapkan.

2.3  Prinsip dan Acuan pada Pembelajaran IPS

Dalam melaksanakan penilaian hasil belajar pada pembelajaran IPS, pendidik perlu memperhatikan prinsip-prinsip penilaian sebagai berikut:

  1. Valid/sahih

Penilaian hasil belajar oleh pendidik harus mengukur pencapaian kompetensi yang ditetapkan dalam standar isi (standar kompetensi dan  kompetensi dasar) dan standar kompetensi lulusan. Penilaian valid berarti menilai apa yang seharusnya dinilai dengan menggunakan alat yang sesuai untuk mengukur kompetensi.

  1. Objektif dan Adil

Penilaian hasil belajar peserta didik tidak menguntungkan atau merugikan peserta didik  dan tidak dipengaruhi oleh subyektivitas penilai, perbedaan latar belakang agama, sosial-ekonomi, budaya, bahasa, gender, dan hubungan emosional.

  1. Transparan/terbuka

Penilaian hasil belajar oleh pendidik bersifat terbuka artinya prosedur penilaian, kriteria penilaian  dan dasar  pengambilan keputusan terhadap hasil belajar peserta didik dapat diketahui oleh semua pihak yang berkepentingan.

  1. Terpadu

Penilaian hasil belajar oleh pendidik merupakan salah satu komponen yang tak terpisahkan dari kegiatan pembelajaran.

  1. Menyeluruh dan berkesinambungan

Penilaian hasil belajar oleh pendidik mencakup semua aspek   kompetensi dengan menggunakan berbagai teknik penilaian yang sesuai, untuk memantau perkembangan kemampuan peserta didik.

  1. Bermakna

Penilaian hasil belajar oleh pendidik hendaknya mudah dipahami, mempunyai arti, bermanfaat, dan dapat ditindaklanjuti oleh semua pihak, terutama guru, peserta didik, dan orangtua serta masyarakat

  1. Sistematis

Penilaian hasil belajar oleh pendidik dilakukan secara berencana dan bertahap dengan mengikuti langkah-langkah baku.

  1. Akuntabel

Penilaian hasil belajar oleh pendidik dapat dipertanggungjawabkan, baik dari segi teknik, prosedur, maupun hasilnya.

  1. Beracuan kriteria

Penilaian hasil belajar oleh pendidik didasarkan pada ukuran pencapaian   kompetensi yang ditetapkan.

Dalam melakukan penilaian, selain memperhatikan prinsip juga harus memperhatikan acuan yang dipakai dalam penilaian.berikut ini beberapa acuan penilaian pada pembelajaran IPS sebagai berikut:

  1. Acuan norma (norm reference)

Acuan norma merupakan acuan penilaian yang mendeskripsikan penampilan atas dasar posisi relatif seorang siswa terhadap siswa lain di  dalam kelompok kelasnya (Sukardi, 2008:22). Pada acuan norma nilai atau skor siswa dibandingkan dengan nilai atau skor siswa sekelompoknya digunakan pada pembelajaran yang bersifat kompetitif. Penilaian dengan acuan norma diterapkan pada kurikulum sebelum KBK dan KTSP.

Penilaian dengan acuan norma menurut Pusat Kurikulum dalam Amin (2011) digunakan untuk

1)      Menentukan ranking siswa dalam satu kelas.

2)      Mengelompokkan siswa dalam satu kelas berdasarkan prestasi belajar.

3)      Menentukan/ menyeleksi siswa ke dalam kelas unggul dan kelas normal.

4)      Membandingkan antar siswa.

5)      Menyeleksi siswa yang mewakili lomba antar sekolah.

6)      Menyeleksi siswa yang hendak melanjutkan ke jenjang lebih tinggi.

  1. Acuan Kriteria

Acuan kriteria adalah acuan penilaian dimana hasil penampilan siswa menunjukkan posisinya sendiri terhadap kriteria tertentu tanpa membandingkan dengan hasil penampilan siswa lain (Sukardi, 2008: 23). Pada acuan kriteria nilai atau skor yang diperoleh siswa dibandingkan dengan standar tertentu yang ditentukan sebelumnya, biasanya digunakan pada pembelajaran koperatif dan individualistik, dan nilai yang diperoleh siswa dihubungkan dengan tingkat pencapaian penguasaan siswa terhadap mata pelajaran yang bersangkutan. Penilaian menggunakan acuan kriteria digunakan pada KBK dan KTSP.

Penilaian dengan acuan kriteria Pusat Kurikulum dalam Amin (2011) digunakan untuk

1)      menentukan sejauh mana siswa telah mencapai target/kompetensi yang telah ditetapkan dalam kurikulum

2)      Memberikan remidi atau pengayaan bagi siswa-siswa tertentu

3)      memperkirakan mutu suatu sekolah berdasarkan standar mutu nasional yang tergambar dalam pencapaian daftar kompetensi yang tercantum dalam kurikulum oleh siswa.

2.4  Teknik dalam Penilaian Pembelajaran IPS

Penilaian pembelajaran baik proses maupun hasil belajar selayaknya memenuhi bersifat komprehensif mencakup seluruh potensi dan kemampuan peserta didik disamping perlu memenuhi rasa keadilan bagi peserta didik. Oleh karena itu, kemampuan guru dalam menilai selayaknya menggunakan teknik tes dan non-tes.

  1. Tes

Syarat-syarat tes yang baik antara lain harus valid (sahih) atau hanya mengukur apa yang hendak diukur dan harus andal (reliable). Keandalan dalam hal ini meliputi kecermatan atau ketepatan (precision) dan keajegan (consistency) dari hasil pengukuran yang dilakukan.

Sebelum merancang sebuah test, terlebih dahulu harus memperhatikan tujuan tes dan kisi-kisi tes. Tujuan tes dapat dipakai untuk mengetahui penguasaan peserta didik dalam pokok bahasan tertentu setelah materi diajarkan. Selain itu dapat juga digunakan untuk mengetahui kesulitan belajar siswa. Sedangkan kisi-kisi merupakan rambu-rambu ruang lingkup dan isi soal yang akan diujikan.

Sebelum membuat kisi-kisi tes terlebih dahulu harus melihat kurikulum sekolah yang digunakan. Pada makalah ini dicontohkan penyusunan tes untuk kelas 2 semester II.

  1. Kompetensi Dasar ( KD )

Mendeskripsikan kedudukan dan peran anggota keluarga.

  1. Materi pokok

Kedudukan dan peran anggota keluarga

  1. Hasil belajar
    1. Kedudukan anggota keluarga
    2. Peran anggota keluarga.
    3. Indikator
      1. Kedudukan anggota keluarga

1)      Menyebutkan kedudukan setiap anggota keluarga

2)      Membuat silsilah keluarga.

  1. Peran anggota keluarga

1)   Menjelaskan peran setiap anggota keluarga

2)   Menjelaskan kecenderungan perubahan peran keluarga

3)   Menceritakan pengalaman siswa dalam melaksanakan peranannya dalam keluarga.

Setelah indikator materi (uraian materi) dibuat, selanjutnya dibuat indikator soal kisi-kisi tes. Indikator materi peran setiap anggota keluarga misalnya peran/tugas anak. Indikator dapat dibuat seperti “siswa dapat menyebutkan paling sedikit 2 tugas anak dari rumah”. Dari indikator tes tersebut (yang mengukur aspek ingatan) dapat dibuat tes hasil belajarnya sebagi berikut:

Aspek

pemahaman

Dua tugas anak di rumah yaitu …

  1. Membantu orang tua dan belajar.
  2. Menonton TV dan rekreasi.
  3. Rekreasi dan pesta.
  4. Makan enak dan belajar.

Aspek

pemahaman

Dari pilihan tersebut jawaban yang benar adalah a. Contoh lainnya pada materi peran ayah, dapat dibuat indikator sebagai berikut:

Tugas utama ayah sebagai kepala keluarga yaitu …

  1. Membantu ibu
  2. Membimbing anak-anak
  3. Mencari nafkah
  4. Pergi e kantor

Jawaban yang tepat adalah (c)

Soal yang diuraikan sebelumnya mengenai kedudukan anggota keluarga. Selanjutnya, kedudukan anggota keluarga dapat diperinci menjadi indikator dan aspek yang diukur sebagai berikut ini:

Indikator tes Aspek yang diukur
  1. Setelah dijelaskan tugas ayah siswa dapat menyebutkan tugas ayah yang utama. Setelah menjelaskan tugas ibu yang cukup.
  2. Banyak siswa yang dapat menyimpulkan tugas utama ibu yang penting.
  3. Setelah dijelaskan tugas anak di rumah, siswa dapat membantu ibunya menyapu halaman rumah dan mengepel lantai.
Ingatan

Pemahaman

Aplikasi

Dalam menyusun tes, terdapat kaidah indikator tes dan penulisan soal yang baik sebagai berikut:

  • Membuat ciri-ciri dari tujuan yang hendak diukur
  • Membuat satu kata kerja operasional yang dapat diukur
  • Berkaitan erat dengan materi pokok soal atau pilihan jawaban harus singkat, padat, dan jelas.
  • Pokok soal jangan memberi petunjuk ke arah jawaban yang benar.
  • Pilihan jawaban harus homogen dan logis ditinjau dari segi materi.
  • Panjang rumusan pilihan jawaban harus relatif sama.
  • Pilihan jawaban jangan menggunakan pernyataan, semua pilihan jawaban salah atau semua pilihan benar.
  • Pilihan jawaban yang menggunakan angka, harus diurutkan dari kecil ke besar.
  • Setiap soal harus mempunyai satu jawaban yang benar atau paling benar.
  • Butir soal jangan bergantung pada soal-soal sebelumnya.

Ketergantungan kepada soal sebelumnya menyebabkan siswa tidak dapat menjawab soal pertama akan tidak dapat menjawab soal kedua.

  1. Non Tes

Non tes merupakan salah satu bentuk penilaian dalam mengambil keputusan terhadap hasil proses pembelajaran untuk kompetensi yang bersifat afektif atau kompetensi yang tidak dapat diukur secara kuantitatif. Apabila penilaian dengan tes selalu dapat dinyatakan dengan angka/skala maka penilaian dengan teknik non-tes, umumnya menghasilkan deskripsi secara kualitatif meskipun untuk kompetensi tertentu ada yang berupa angka/skala. Beberapa teknik non tes antara lain:

  1. Panduan Observasi

Pada jenjang Sekolah Dasar alat penilaian non tes dapat dikembangkan sendiri oleh guru kelas (teacher-made)yang bersangkutan. Demikian pula, panduan observasi dapat dikembangkan oleh guru sehingga tidak menutup kemungkinan terjadinya bias akibat subyektifitas guru. Namun inilah ciri khas dari penilaian afektif yang tidak mjungkin steril dari pengaruh subjektivitas guru. Ada beberapa petunjuk untuk mengurangi kelemahan dalam penyusunan panduan observasi (Zaenul, 1993: 67):

  1. Rencanakan terlebih dahulu apa yang akan diamati, untuk menghindari tertariknya pengamat pada hal lain yang menarik perhatiannya. Selain itu juga ditetapkan tingkah laku apa yang akan diamati, kriterianya, yaitu yang paling besar kontribusinya untuk menjelaskan hasil belajar peserta didik.
  2. Agar observasi dapat dilakukan secara cermat dan kontinyu untuk memperoleh data yang seobjektif mungkin, maka diperlukan alat perekam data observasi yang mudah dan jelas untuk dilaksanakan.
  3. Sebaiknya melibatkan orang lain selain guru sebagai pengamat dalam melakukan pengamatan, misalnya saja orang tua murid, konselor, wali murid, guru lain, teman sebaya dan sejenisnya. Dengan demikian orang tua peserta didik terlibat secara langsung dalam pembelajaran.

Contoh panduan observasi yang dapat dikembangkan sesuai kondisi kelas sebagai berikut:

 

  1. Skala Sikap

Skala sikap digunakan untuk  menilai sikap dalam pembelajaran, banyak digunakan skala sikap Likert. Dalam skala ini pernyataan afektif menunjukkan pernyataan yang secara langsung mengungkapkan perasaan terhadap suatu objek sikap. Sedangkan pernyataan psikomotor menunjukkan pernyataan pilihan tingkah laku atau maksud tingkah laku yang berkenaan. Contohnya sebagai berikut:

  1. Daftar Check-list

Daftar ceklis adalah suatu alat penilaian non tes yang digunakan secara terstruktur untuk memperoleh informasi tentang sesuatu yang diamati. Alat ini sangat bermanfaat untuk menilai hasil belajar ataupun proses pembelajaran secara lebih rinci. Penggunaannya sangat sederhana, karena hanya dengan membubuhkan tanda ceklis pada kolom yang sesuai dengan apa yang diamati. Contoh daftar ceklis yang dapat dikembangkan guru sebagai:

  1. Rating Scale

Skala bertingkat adalah alat penilaian non tes untuk menilai karakteristik tertentu sebagaimana diharapkan muncul dalam diri peserta didik.Tipe skala bertingkat di bawah ini termasuk jenis yang sederhana. Contohnya sebagai berikut:

  1. Wawancara

Pedoman wawancara disusun seperti daftar pertanyaan yang akan diajukan saat wawancara. Respondennya adalah peserta didik. Ada sedikit perbedaan antara pedoman wawancara dengan pertanyaan saat ujian lisan. Pedoman wawancara tidak menghendaki jawaban yang benar atau salah seperti dalam ujian lisan yang menentukan lulus atau tidak lulus, melainkan hanya mengungkapkan informasi tentang sikap yang digali yang dapat menggambarkan keadaan peserta didik saat itu.

  1. Portofolio

Portofolio merupakan kumpulan hasil kerja siswa yang terbaik. Portofolio sebagai salah satu penilaian dimaksudkan penilaian terhadap hasil karya siswa. Kumpulan pekerjaan siswa biasanya berupa sampel termasuk foto-foto kegiatan, komentar-komentar secara tertulis termasuk perasan, sikap terhadap topik kegiatan, dan keinginan siswa yang perlu diketahui guru yang selanjutnya dimasukkan kedalam folder. Portofolio merupakan alat yang sangat baik sebagai bahan bagi guru ketika bertemu dengan orang tua siswa. Guru dapat menjelaskan secara kronologis tentang aktivitas siuswa dan hasilnya. Jadi penilaian portofolio merupakan suatu pendekatan dalam penilaian kinerja peserta didik atau digunakan untuk menilai kinerja.

2.5  Penilaian Aspek Kognitif pada Pembelajaran IPS

Aspek kognitif adalah sub taksonomi yang mengungkapkan tentang kegiatan mental yang berawal dari tingkatan pengetahuan sampai tingkatan yang evaluasi. Tujuan aspek kognitif berorientasi pada kemampuan berfikir yang mencakup kemampuan intelektual yang lebih sederhana, yaitu mengingat sampai  pada kemampuan memecahkan masalah yang menunutut siswa untuk menghubungkan dan menggabungkan beberapa ide, gagasan, metode atau prosedur yang dipelajari untuk memecahkan masalah tersebut (Sardiyo, 2009:12). Aspek kognitif dalam evaluasi hasil belajar mempunyai dua tingkatan sebagai berikut.

  1. Aspek kognitif tingkatan lebih rendah, meliputi hal-hal berikut ini.
  1. Pengetahuan (knowledge)
  2. Pemahaman (comprehension)
  3. Penerapan (application)
  4. Analisis (analysis)
  5. Sintesis (synthesis)
  6. Evaluasi (evaluation)
  1. Aspek kognitif tingkatan yang lebih tinggi meliputi hal-hal berikut ini.

Menurut Sardiyo (2006:34) contoh pertanyaan atau tes yang dapat mengungkap kemampuan pada aspek kognitif sebagai berikut:

  1. Pengetahuan (knowledge)

Evaluasi yang mengungkap pengetahuan merupakan pertanyaan atau tes yang mengungkap penalaran dalam kategori terendah. Evaluasi ini hanya mengungkap tentang fakta, definisi, pengertian dan sejenisnya. Jadi, siswa hanya dituntut untuk mengingkat kembali apa yang telah dipelajari. Contoh pertanyaannya sebagai berikut:

  1. Di manakah terdapat tambang timah di Indonesia?
  2. Siapakah presiden pertama Negara RI?
  3. Siapakah Gajah Mada itu?

Jawaban untuk pertanyaan di atas dapat singkat atau memerlukan keterangan atau penjelasan singkat. Kata-kata yang sering dipakai untuk evaluasi yang mengungkap pengetahuan antara lain:

  1. Apa
  2. Siapa
  3. Di mana
  4. Pemahaman (comprehension)

Evaluasi ini menuntut siswa untuk memahami atau mengerti apa yang telah dipelajari. Dengan demikian, siswa dituntut dapat menjelaskan apa yang telah dipelajari dengan kalimatnya sendiri. Dia tidak dapat sekedar dapat mengingat dan menghafal informasi yang telah diperoleh, tetapi dapat memilih dan mengorganisasikan informasi tersebut. Termasuk dapat menafsirkan gambaran, grafik, bagan, dan lain-lain dengan kata-katanya sendiri.

Kata-kata yang sering dipakai untuk evaluasi (pertanyaan) yang mengungkap pemahaman antara lain:

  1. Mengapa?
  2. Jelaskan?
  3. Uraikan
  4. Berilah alasan!
  5. Bandingkan!
  6. Penerapan (Application)

Jika pada evaluasi (pertanyaan) yang mengungkapkan pengetahuan siswa diminta mengingat menghafal dan mendefenisikan sesuatu. Selanjutnya dapat menjelaskan dan mengungkapkan informasi yang diterima maka pada penerapan siswa dapat menggunakan informasi yang diterima untuk memecahkan sesuatu masalah. Dengan menggunakan konsep, prinsip, aturan, hukum atau proses yang telah dipelajari sebelumnya, siswa diharapkan dapat menentukan jawaban yang benar terhadap pertanyaan yang diajukan.

Kata-kata yang sering digunakan untuk mengungkap penerapan (application) adalah berikut ini.

  1. Demonstrasikan!
  2. Tunjukkanlah!
  3. Klasifisikasikan!
    1. Analisis (Analysis)

Analisis merupakan jenjang pertanyaan dari kelompok pertanyaan tingkat tinggi. Pertanyaan analisis menuntut siswa untuk berpikir secara mendalam, kritis bahkan menciptakan sesuatu yang baru. Untuk menjawab pertanyaan analisis, siswa harus mampu menguraikan sebab, motif atau mampu mengadakan deduktif. Oleh karena itu, pertanyaan analisis tidak hanya mempunyai satu jawaban yang benar, melainkan berbagai alternative. Pertanyaan analisis menuntut siswa terlibat dalam proses kognitif, yaitu berikut ini.

  1. Menguraikan alasan atau sebab-sebab suatu kejadian
  2. Mempertimbangkan dan menganalisis informasi agar dapat menyimpulkan informasi yang diterima.
  3. Menganalisis kesimpulan atau generalisasi untuk menemukan bukti yang menunjang atau bahkan menyangkal kesimpulan.
    1. Sintesis (Synthesis)

Sintesis merupakan jenjang kedua dari kelompok pertanyaan tingkat tinggi. Pertanyaan yang mengungkap sintesis menuntut siswa berpikir orisinal dan kreatif. Siswa dituntut berpikir induktif. Jenis pertanyaan sintesis dapat berbentuk seperti berikut ini.

  1. Pertanyaan yang menuntut siswa membuat presiksi atau peramalan atau perkiraan.
  2. Pertanyaan yang menuntut siswa mengungkapkan ide dan menghasilkan pemikiran yang orisinal.
  3. Pertanyaan yang menuntut siswa untuk memecahkan masalah.
    1. Penilaian (evaluation)

Evaluasi yang mengungkap penilaian menuntut siswa untuk melakukan kegiatan berpikir yang paling tinggi. Dia dapat melakukan itu apabila pengetahuan, pemahaman, aplikasi, analisis dan sisntesis dapat dikuasai dengan baik. Pertanyaan yang mengungkap evaluasi menuntut adanya standar atau kriteria yang jelas. Kemungkinan jawaban yang diberikan siswa berbeda-beda. Hal itu tidak menjadi masalah, asal sudah ada kriteria yang jelas. Adanya perbedaan itu justru memperluas segi penalaran siswa sehingga mereka mempunyai cakrawala yang luas.

Pertanyaan yang mengungkap evaluasi dapat dikategorikan sebagai berikut:

  1. Pertanyaan yang meminta siswa memberikan pendapat
  2. Pertanyaan yang memberikan penilaian terhadap suatu ide
  3. Pertanyaan yang meminta siswa untuk memecahkan masalah
  4. Pertanyaan yang meminta siswa menetapkan karya terbaik

2.6  Penilaian Aspek Nilai dan Sikap pada Pembelajaran IPS

Nilai dan sikap moral terjadi apabila ada interaksi sosial antara seseorang dengan orang lain, dengan kelompok atau antarkelompok. Untuk dapat terjadi interaksi sosial, harus ada kontak sosial dan komunikasi. Kontak sosial dapat berlangsung dalam tiga bentuk sebagai berikut

  1. Antara Orang Per Orang

Contohnya seorang siswa mempelajari kebiasaan-kebiasaan dalam keluarga, kebiasaan-kebiasaan guru-gurunya dalam mengajar, dan kebiasaan teman-temannya. Jika siswa mempelajari kebiasaan-kebiasaan dalam keluarga dia akan mengetahui nilai-nilai baik dan tidak baik. Dia akan akan mengetahui bahwa ibunya sangat ramah dan suka menolong. Dia akan mengetahui bahwa ayahnya dermawan dan berwibawa. Jadi dia akan memiliki nilai dan sikap sosial tertentu. Mungkin dia akan meniru sikap ayahnya atau ibunya. Hal itu terjadi akibat adanya kontak sosial dan komuikasi antara dia (siswa) dengan orang tuanya.

Demikian juga, apabila dia melakukan kontak dengan guru-gurunya. Dia akan dapat menilai A guru galak, tetapi murah dalam memberi nilai. Guru B ramah dalam mengajar dan sangat jelas dan menyenangkan. Guru C dalam mengajar sangat cepat dan tidak jelas, dan lain-lain. Dengan demikian, dia akan dapat membedakan siapa guru yang baik dan kurang baik. Dia akan mempunyai nilai dan sikap sosial tertentu. Hal itu terjadi akibat adanya kontak sosial dan komunikasi antara dia ( siswa tersebut) dengan guru-gurunya.

  1. Antara Orang Per Orang dengan Kelompok Masyarakat

Contohnya seseorang yang tinggal dalam kelompok masyarakat desa, dia akan mengetahui bahwa tindakannya disenangai atau tidak oleh masyarakat desa tersebut. Untuk dapat disenangi oleh masyarakat desa tersebut dia harus dapat menyesuaikan dengan norma-norma yang berlaku didesa tersebut. Jika tidak dia akan terasing atau dijauhi oleh masyarajt desa tersebut. Jadi timbul nilai dan sikap sosial tertentu akibat adanya kontak sosial dan komunikasi dengan masyarakat desa

  1. Antara Kelompok dengan Kelompok

Contohnya siswa-siswa suatu sekolah mengadakan kunjungan kesekolah lain. Antara kedua sekolah tersebut tentu akan menjadi kerja sama yang saling menguntungkan atau justru sebaliknya karena terjadi perbedaan morma antara kedua sekolah sehingga terjadi perselisihan. Hal ini berarti, terjadi nilai dan sikap sosial yang berbeda. Akibat kontak sosial dam komunikasi yang tidak serasi.

Dalam proses pembelajaran kontak sosial yang sering terjadi adalah antara orang per orang dan antara orang per orang dengan kelompok.Kedua kontak sosial itu menjadi penting mengingat siswa dan guru merupakan subjek pendidikan yang tidak dapat dipisahkan.

Contoh penilaian pada aspek afektif dapat dilihat pada pembelajaran kelas 3 semester I materi kedudukan dan peran anggota keluarga. dalam penilaiannya menggunakan daftar pertanyaan yang berfungsi untuk mengungkapkan nilai sosial. Dalam penyusunannya terlebih dahulu membuat kisi-kisi soal. Berikut ini mengenai contoh penilaian afektif yang mengungkapkan nilai sosial yaitu:

  1. Kompetensi Dasar ( KD )

Mendeskripsikan kedudukan dan peran anggota keluarga.

  1. Materi pokok

Kedudukan dan peran anggota keluarga

  1. Hasil belajar
    1. Kedudukan anggota keluarga
    2. Peran anggota keluarga.
    3. Indikator
      1. Kedudukan anggota keluarga

1)   Menyebutkan kedudukan setiap anggota keluarga

2)   Membuat silsilah keluarga.

  1. Peran anggota keluarga

1)   Menjelaskan peran setiap anggota keluarga

2)   Menjelaskan kecenderungan perubahan peran keluarga

3)   Menceritakan pengalaman siswa dalam melaksanakan peranannya dalam keluarga.

Dari materi tersebut dapat dibuat kisi – kisi soal yang mengungkap nilai dan sikap sosial sebagai berikut. Contohnya sebagai berikut:

  • Dengan bekerja sama dengan adiknya membersihkan halaman rumah, Doni dapat menghargai  kedua adiknya yang bekerja dengan baik.
  • Dengan bekerja sama dengan ibunya yang mengajar memasak, tuti dan adiknya dapat menghargai ibunya yang pintar memasak dan sabar.

Dari kisi-kisi tersebut dikembangkan pertanyaan sebagai berikut:

  1. Membersihkan halaman rumah dikerjakan oleh Doni, Tuti dan Adiknya. Kebersihan halaman rumah tentukan oleh………….
    1. Doni yang membersihkan halaman depan rumah.
    2. Tuti dan adinya yang membersihan halaman samping rumah.
    3. c.    Ketiga anak tersebut, masing-masing memberi sumbangan terhadap kebersihan halaman rumah.
    4. Kebersihan halaman rumah hanya ditentukan oleh Doni
    5. Belajar memasak dilakukan oleh Tuti dan adiknya, dibimbing oleh ibunya yang pandai memasak dan sabar. Keberhasilan belajar memasak ditentukan oleh………..
      1. Ibunya yang pandai memasak dan sabar.
      2. Tuti yang serius belajar memasak.
      3. Adik Tuti yang serius belajar memasak.
      4. d.    Tuti dan adiknya yang serius serta ibunya yang pandai memasak dan sabar

2.7  Penilaian Aspek Keterampilan pada Pembelajaran IPS

Keterampilan-keterampilan IPS adalah beberapa kemampuan baik fisik maupun mental di bidang Ilmu Pengetahuan Sosial. Semiawan dalam Sardiyo (2006:34) mengungkapkan terdapat keterampilan-keterampilan mendasar dalam proses berpikir dan berkarya di bidang ilmiah dapat dibagi menjadi 9 bagian yaitu:

  1. Mengobservasi

Observasi merupakan keterampilan ilmiah mendasar yang menggunakan semua indra (melihat, mendengar, meraba, dan membau). Di dalam observasi di dalamnya terdapat kegiatan menghitung, mengukur, mengklasifikasi, dan mencari hubungan ruang atau waktu.

  1. Membuat hipotesis

Hipotesis adalah suatu perkiraan yang mempunyai alasan untuk menerangkan suatu pengamatan tertentu. Hipotesis perlu diuji melalui penelitian atau eksperimen.

  1. Merencanakan penelitian

Eksperimen adalah menguji atau mengetes melalui penelitian praktis. Dalam melakukan eksperimen, guru perlu melatih siswa dalam merencanakan penelitian.

  1. Mengendalikan variabel
  2. Mengintrepetasi atau menafsirkan data
  3. Menyusun kesimpulan sementara
  4. Meramalkan
  5. Menerapkan
  6. Mengkomunikasikan.

Dalam merancang penilaian selalu dituntut mempelajari kurikulum sekolah yang berlaku. Contohnya penyusunan evaluasi pada kelas IV semester I dengan materi pokok kenampakan alam dan buatansebagai berikut ini:

  1. Kompetensi Dasar

Kemampuan memahami keragaman kenampakan alam dan buatan di Indonesia

  1. Materi Pokok

Kenampakan alam dan buatan di Indonesia

  1. Hasil Belajar dan Indikator Materi
  1. Mendeskripsikan keragaman kenampakan alam di Indonesia

1)   Menggambar peta Indonesia dengan menggunakan simbol

2)   Mendeskripsikan peta Indonesia dengan menggunakan simbol

3)   Mengidentifikasi ciri-ciri kenampakan alam wilayah Indonesia

4)   Menunjukkan pada peta persebaran flora dan fauna di berbagai wilayah Indonesia.

5)   Mengidentifikasikan ciri dan sifat cuaca/iklim dan dampaknya terhadap aktivitas masyarakat setempat.

  1. Mendeskripsikan kenampakan buatan di Indonesia

1)   Mengidentifikasi kenampakan buatan di wilayah Indonesia

2)   Menjelaskan keuntungan dan kerugian pembangunan kenampakan buatan (waduk, pelabuhan, kawasan indsutri, perkebunan) bagi masyarakat setempat.

Dari materi di atas dapat dikembangkan dengan kegiatan kelompok. Pada kegiatan kelompok tersebut, siswa diminta untuk mendiskusikan materi yang diberikan kepada guru pada setiap kelompok. Hasil diskusi dan pencapaian aspek keterampilannya sebagai berikut:

Indikator

Materi

Indikator

Tes

Keterampilan IPS yang Diungkap
Menggambar peta Siswa dapat membuat peta Indonesia Menerapkan
Ciri-ciri kenampakan alam Indonesia Setelah mengamati kenampakan alam Indonesia Membuat klasifikasi
Menunjukkan jenis flora dan fauna di Indonesia Setelah membaca peta jenis flora dan fauna di Indonesia, siswa dapat menggolongkan jenis flora dan fauna di Indonesia Membuat klasifikasi
Membedakan cuaca dan iklim Setelah membaca jumlah curah hujan dalam satu tahun, siswa dapat membuat grafik curah hujan di Indonesia. Mengomunikasikan
Dampak cuaca/iklim terhadap manusia Setelah membaca peta Indonesia siswa dapat menyimpulkan suhu rata-rata di Indonesia Interpretasi data
Menggambar peta arah angin muson di Indonesia Setelah membaca uraian angin muson di Indonesia siswa dapat menggambarkan arah angin muson di Indonesia. Mengomunikasikan
Mendeskripsikan kenampakan buatan di Indonesia Setelah membaca peta Indonesia siswa dapat membedakan kenampakan buata di Indonesia. Membuat klasifikasi
Menjelaskan keuntungan dan kerugian pembangunan kenampakan buatan bagi masyarakat. Setelah membaca dampak pembangunan kenampakan buatan, siswa dapat menyimpulkan keuntungan dan kerugian pembangunan kenampakan bagi masyarakat. Interprestasi data


BAB III

PENUTUP

3.1  Kesimpulan

Penilaian adalah kegiatan yang dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan untuk memperoleh, menganalisis, dan menafsirkan hasil belajar peserta didik sehingga menjadi informasi yang bermakna untuk pengambilan keputusan dalam menentukan tingkat pencapaian kompetensi. Penilaian berfungsi sebagai selektif, diagnostik, sebagai penempatan, dan sebagai pengukur keberhasilan.

Penilaian pembelajaran baik proses maupun hasil belajar selayaknya memenuhi bersifat komprehensif mencakup seluruh potensi dan kemampuan peserta didik disamping perlu memenuhi rasa keadilan bagi peserta didik. Oleh karena itu, kemampuan guru dalam menilai selayaknya menggunakan teknik tes dan non-tes.

Penilaian aspek kognitif merupakan sub taksonomi yang mengungkapkan tentang kegiatan mental yang berawal dari tingkatan pengetahuan sampai tingkatan yang evaluasi. Tujuan aspek kognitif berorientasi pada kemampuan berfikir yang mencakup kemampuan intelektual yang lebih sederhana, yaitu mengingat sampai  pada kemampuan memecahkan masalah yang menunutut siswa untuk menghubungkan dan menggabungkan beberapa ide, gagasan, metode atau prosedur yang dipelajari untuk memecahkan masalah tersebut.

Selain itu, terdapat juga penilaian Ilmu Pengetahuan Sosial pada aspek keterampilan, nilai, dan sikap moral. Nilai dan sikap moral terjadi apabila ada interaksi sosial antara seseorang dengan orang lain, dengan kelompok atau antarkelompok. Keterampilan-keterampilan IPS adalah beberapa kemampuan baik fisik maupun mental di bidang Ilmu Pengetahuan Sosial.

3.2  Saran

Diharapkan setelah membaca makalah ini, calon pendidik yang nantinya akan melakukan pembelajaran IPS di Sekolah Dasar memiliki kemampuan melakukan penilaian dengan baik. Calon pendidik harus menguasai teknik dan instrumen yang digunakan dalam melakukan penilaian pembelajaran IPS di Sekolah Dasar.

Daftar Rujukan

 

Amin, Saiful. 2011. Evaluasi Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (Online). (http://pakgurusaiful.blogspot.com, diakses tanggal 12 Oktober 2012).

Arikunto, Suharsimi. 2010. Dasar-dasar evaluasi pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.

Bowo, Fauzi. 2011. Jenis-Jenis Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (Online). (http://fbowo.blogspot.com, diakses tanggal 12 Oktober 2012).

Oktaviandi. 2012. Pengertian Evaluasi, Pengukuran, dan Penilaian dalam Dunia Pendidikan (Online). (http://navelmangelep.wordpress.com, diakses tanggal 12 Oktober 2012).

Sardiyo. 2009. Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial Sekolah Dasar. Jakarta: Universitas Terbuka.

Sukardi,  M. 2008. Evaluasi Pendidikan: Prinsip dan Operasionalnya. Jakarta: Bumi Aksara.

One thought on “penilaian (evaluasi) dalam pembelajaran IPS SD

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s