Pendidikan Multikultural

2.1  Pengertian Pendidikan Multikultural

Pendidikan menurut UU RI No.  20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pasal 1 adalah  usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan  proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara.

Pendidikan menurut  Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional (2002 : 263) adalah proses pengubahan sikap dan tatalaku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan, proses, cara, perbuatan mendidik.

Pendidikan menurut Soekidjo Notoatmodjo (2003 : 16) adalah segala upaya yang direncanakan untuk mempengaruhi orang lain baik individu, kelompok, atau masyarakat sehingga mereka melakukan apa yang diharapkan oleh pelaku pendidikan

Akar kata multikulturalisme adalah kebudayaan. Secara etimologis, multikulturalisme dibentuk dari kata multi (banyak), kutur (budaya), dan isme (aliran/paham). Secara hakiki, dalam kata itu terkandung pengakuan akan martabat manusia yang hidup dalam komunitasnya dengan kebudayaannya masing-masing yang unik. (Mahfud, 2005: 75)

Anderson dan Custer (1994: 320) berpendapat bahwa, pendidikan multikultural dapat diartikan sebagai pendidikan mengenai keragaman kebudayaan. Kemudian James Banks (1993: 3) mendefinisikan pendidikan multikultural sebagai pendidikan untuk people of color. Artinya, pendidikan multikultural ingin mengeksplorasi perbedaan sebagai keniscayaan (anugerah Tuhan/ Sunatullah). Kemudian, bagaimana kita mampu menyikapi perbedaan tersebut dengan penuh toleran dan semangat egaliter.

Sejalan dengan pemikiran di atas, Muhaemin el Ma’-hady berpendapat, bahwa pendidikan multikultural dapat didefinisikan sebagai pendidikan tentang keragaman kebudayaan dalam meresponi perubahan demigrafis dan kultural lingkungan masyarakat tertentu atau bahkan dunia secara keseluruhan (global).

Hilda Hernandez (1989:10) mengartikan pendidikan multikultural sebagai perspektif yang mengakui realitas politik, social, dan ekomomi yang dialami oleh maing-masing individu dalam pertemuan manusia yang kompleks dan beragan secara kultur, dan merefleksikan pentingnya budaya, ras, seksualitas dan gender, etnisitas, agama, status social, ekonomi, dan pengecualian-pengecualian dalam proses pendidikan.

Hernandez, Hild. 1989. Multicultural Education: A Teacher Guide to Linking Context, Process, and Content. New Jersey & Ohio: Prentic Hall.

Pendidikan multikultural (Multicultural Education) merupakan respons terhadap perkembangan keragaman populasi sekolah, sebagaimana tuntutan persamaan hak bagi setiap kelompok. Dalam dimensi lain, pendidikan multikultural merupakan pengembangan kurkulum dan aktivitas pendidikan untuk memasuki berbagai pandangan, sejarah, prestasi dan perhatian terhadap orang-orang non Eropa (Hilliard, 1991-1992). Sedangkan secara luas, pendidikan multikultural itu mencakup seluruh siswa tanpa membedakan kelompok-kelompoknya seperti gender, etnic, ras, budaya, strata sosial, dan agama.

Sumber: Mahfud, Choirul. 2005. Pendidikan Multikultural. Sidoarjo: Pustaka Pelajar.

 

Berikut ini dikemukakan beberapa pengertian mutikulturalisme:

Pertama, multikulturalisme adalah konsep yang menjelaskan dua perbedaan dengan makna yang saling berkaitan. (1) multikulturalisme sebagai kondisi kemajemukan kebudayaan atau pluralisme budaya dari masyarakat. Kondisi ini diasumsikan dapat membentuk sikap toleransi. (2) multikulturalisme merupakan seperangkat kebijakan pemerintah pusat yang dirancang sedemikian rupa agar seluruh masyarakat dapat memberikan perhatian kebudayaan dari semua kelompok etnik atau suku bangsa. Hal ini beralasan karena, bagaimanapun juga, semua kelompok etnik atau suku dan bangsa telah memberi kontribusi bagi pembentukan dan pembangunan suatu bangsa.

Kedua, di hampir sebagian besar negara, multikulturalisme merupakan konsep sosial yang diintroduksi ke dalam pemerintahan agar pemerintah dapat menjadikannya sebagai kebijakan pemerintah. Rasionalisasi masuknya multikulturalisme dalam perumusan kebijakan pemerintahan, karena hanya pemerintah yang dianggap sangat representatif ditempatkan di atas kepentingan maupun praktik budaya dari semua kelompok etnik dari suatu bangsa. Akibatnya, setiap kebijakan pemerintah diharapkan mampu mendorong lahirnya sikap apresiatif, toleransi, prinsip kesetaraan antara pelbagai kelompok etnik, termasuk kesetaraan bahasa, agama, maupun praktik budaya lainnya.

Ketiga, jika dikaitkan dengan pendidikan multikultural (multicultural education), multikulturalisme merupakan strategi pendidikan yang memanfaatka keragaman latar belakang kebudayaan dari para peserta didik sebagai salah satu kekuatan untuk membentuk sikap multikultural. Strategi ini sangat bermanfaat; sekurang-kurangnya dari sekolah sebagai lembaga pendidikan, dapat terbentuk pemahaman bersama atas konsep kebudayaan, perbedaan budaya, keseimbangan, dan demokrasi dalam artian luas.

Keempat, multikulturalisme sebagai ideologi dapat dikatakan sebagai gagasan bertukar pengetahuan dan keyakinan yang dilakukan melalui pertukaran kebudayaan atau perilaku budaya setiap hari. Artinya, daripada kita hidup dalam “tempurung” kebudayaan sendiri, maka sebaiknya kita mempelajari kebudayaan orang lain. Ini sama dengan kita belajar tentang multikultural. Melalui ideologi multikulturalisme itulah, kita semua diajak untuk menerima standar umum kebudayaan yang dapat membimbing kehidupan kita dalam sebuah masyarakat yang majemuk (Sleeter, 1990).

Sumber: Liliweri, Alo. 2005. Prasangka & Konflik Komunikasi Lintas Budaya Masyarakat Multikultur. Kupang: Lkis

2.2  Fungsi Pendidikan Multikultural

Menurut The National Council for Social Studies (Gorski, 2001) mengajukan sejumlah fungsi yang menunjukkan pentingnya keberadaan dari Pendidikan Multikultural. Fungsi tersebut adalah :

  1. Memberi konsep diri yang jelas.
  2. Membantu memahami pengalaman kelompok etnis dan budaya ditinjau dari sejarahnya.
  3. Membantu memahami bahwa konflik antara ideal dan realitas itu memang ada pada setiap masyarakat.
  4. Membantu mengembangkan pembuatan keputusan (decision making), partisipasi sosial dan ketrampilan kewarganegaraan (citizenship skills).
  5. Mengenal keberagaman dalam penggunaan bahasa.

Selain itu pendidikan multikultural memberikan tekanan bahwa sekolah pada dasarnya berfungsi mendasari perubahan masyarakat dan meniadakan penindasan dan ketidak adilan. Jalan diatas dapat dirinci menjadi 3 butir perubahan yaitu:

  1. Perubahan diri
  2. Perubahan sekolah dan persekolahan
  3. Perubahan masyarakat

Perubahan diri dimaknai sebagai perubahan yang dimulai dari diri siswa sendiri yang lebih menghargai orang lain agar bisa hidup damai dengan sekelilingnya. Kemudian diwujudkan dalam tata tutur dan tata prilakunya di lingkungan sekolah dan berlanjut hingga masyarakat. Karena sekolah merupakan agen perubahan maka diharapkan ada perubahan yang dapat terjadi di masyarakat, seiring dengan terjadinya perubahan yang terjadi di lingkungan sekolah. Ketiga perubahan tersebut sangat berkaitan agar siswa nantinya dapat tumbuh menjadi manusia yang mampu menghadapi berbagai pluralisme budaya.

 

2.3  Rasional dan Tujuan Pendidikan Multikultural

Pendidikan Multikultural dapat menjadi elemen yang kuat dalam kurikulum  Indonesia untuk mengembangkan kompetensi  dan ketrampilan hidup (life skills). Masyarakat Indonesia terdiri dari masyarakat multikultur yang mencakup berbagai macam perspektif budaya yang berbeda. Jadi sangat relevanlah bagi sekolah di Indonesia untuk menerapkan Pendidikan Multikultural. Pendidikan Multikultural dapat melatih siswa untuk menghormati dan toleransi terhadap semua kebudayaan.

Pendidikan Multikultural sebagai kesadaran merupakan suatu pendekatan yang didasarkan pada keyakinan bahwa budaya merupakan salah satu kekuatan yang dapat menjelaskan perilaku manusia.  Budaya memiliki peranan yang sangat besar di  dalam menentukan arah kerjasama maupun konflik antar sesama manusia. Huntington meramalkan bahwa pertentangan manusia yang akan datang merupakan pertentangan budaya. Oleh sebab itu kita perlu meneliti kekuatan yang tersimpan di dalam budaya masing-masing kelompok manusia agar dapat dimanfaatkan bagi kebaikan bersama.  Pendidikan Multikultural dipersepsikan sebagai suatu jembatan untuk mencapai kehidupan bersama dari umat manusia di dalam era globalisasi yang penuh tantangan baru. Pertemuan antarbudaya bisa berpotensi memberi manfaat tetapi sekaligus menimbulkan salah paham. Itulah rasional yang menunjukkan arti pentingnya keberadaan Pendidikan Multikultural.

 

Tujuan Pendidikan Multikultural

Hasil yang diharapkan Pendidikan Multikultural terlihat pada definisi, justifikasi,  asumsi, dan pola-pola pembelajarannya.  Ada banyak variasi tujuan khusus dan  tujuan umum Pendidikan Multikultural yang digunakan oleh sekolah sesuai dengan  faktor kontekstual seperti visi dan misi belakang sekolah, siswa, lingkungan sekolah, dan perspektif. Tujuan Pendidikan Multikultural dapat mencakup tiga aspek belajar  (kognitif, afektif, dan tindakan) dan berhubungan baik nilai-nilai intrinsik (ends) maupun nilai instrumental (means) Pendidikan Multikultural. Tujuan Pendidikan Multikultural mencakup:

  1. Pengembangan Literasi Etnis dan Budaya

Pendidikan Multikultural adalah mempelajari tentang latar belakang sejarah, bahasa, karakteristik budaya, sumbangan, peristiwa kritis, individu yang berpengaruh, dan kondisi sosial, politik, dan ekonomi dari berbagai kelompok

  1. Perkembangan Pribadi

Dasar psikhologis Pendidikan Multikultural menekankan pada pengembangan pemahaman diri yang lebih besar, konsep diri yang positif, dan kebanggaan pada identitas pribadinya. Penekanan bidang ini merupakan bagian dari tujuan Pendidikan  Multikultural yang berkontribusi pada perkembangan pribadi siswa, yang berisi pemahaman yang lebih baik tentang diri yang pada akhirnya berkontribusi terhadapat keseluruhan prestasi intelektual, akademis, dan sosial siswa.

  1. Klarifikasi Nilai dan Sikap

Pendidikan Multikultural mengangkat nilai-nilai inti yang berasal dari prinsip martabat manusia (human dignity), keadilan, persamaan, kebebasan,  dan demokrasi.  Maksudnya adalah mengajari generasi muda untuk menghargai dan menerima pluralisme etnis, menyadarkan bahwa perbedaan budaya tidak sama dengan  kekurangan atau rendah diri, dan untuk  mengakui bahwa keragaman merupakan bagian integral dari kondisi manusia.

  1. Kompetensi Multikultural

Pendidikan Multikultural dapat meredakan ketegangan ini dengan mengajarkan ketrampilan dalam komunikasi lintas budaya, hubungan antar pribadi, pengambilan perspektif, analisis kontekstual, pemahaman sudut pandang dan kerangka berpikir alternatif, dan menganalisa bagaimana kondisi budaya mempengaruhi nilai, sikap, harapan, dan perilaku. Pendidikan Multikultural dapat membantu siswa mempelajari bagaimana memahami perbedaan budaya  tanpa membuat pertimbangan nilai yang semena-mena tentang nilai intrinsiknya. Untuk mencapai tujuan ini anak dapat diber i pengalaman belajar dengan memberi berbagai kesempatan pada siswa untuk mempraktekkan kompetensi budaya dan berinteraksi dengan orang, pengalaman, dan situasi yang berbeda.

  1. Kemampuan Ketrampilan Dasar

Tujuan utama Pendidikan Multikultural adalah untuk memfasilitasi  pembelajaran untuk melatih kemampuan ketrampilan dasar dari siswa yang berbeda secara etnis. Pendidikan Multikultural  dapat memperbaiki penguasaan membaca, menulis dan ketrampilan matematika; materi pelajaran; dan ketrampilan proses  intelektual seperti pemecahan masalah,  berpikir kritis, dan pemecahan konflik dengan memberi  materi dan teknik yang lebih bermakna untuk kehidupan dan kerangka berpikir dari siswa yang berbeda secara etnis.

  1. Persamaan dan Keunggulan Pendidikan

Tujuan persamaan multikultural berkaitan erat dengan tujuan penguasaan  ketrampilan dasar, namun lebih luas  dan lebih filosofis. Untuk menentukan sumbangan komparatif terhadap kesempatan belajar, pendidik harus memahami secara keseluruhan bagaimana budaya membentuk gaya belajar, perilaku mengajar, dan keputusan pendidikan.

  1. Memperkuat Pribadi untuk Reformasi Sosial

Tujuan terakhir dari Pendidikan multikultural adalah memulai proses perubahan di sekolah yang pada akhirnya  akan meluas ke masyarakat. Tujuan ini akan melengkapi penanaman sikap, nilai, kebiasaan dan ketrampilan siswa sehingga mereka menjadi agen perubahan sosial (social change agents) yang memiliki komitmen yang tinggi dengan reformasi masyarakat untuk memberantas perbedaan (disparities) etnis dan rasial dalam  kesempatan dan kemauan untuk bertindak berdasarkan komitmen ini. Untuk melakukan  itu, mereka perlu memperbaiki pengetahuan mereka tentang isu etnis  di samping mengembangkan kemampuan pengambilan keputusan, ketrampilan tindakan sosial, kemampuan kepemimpinan, dan komitmen moral atas harkat dan  persamaan.

  1. Memiliki wawasan kebangsaan/kenegaraan yang kokoh.

Dengan mengetahui kekayaan budaya bangsa itu akan tumbuh rasa kebangsaan yang kuat. Rasa kebangsaan itu akan tumbuh dan berkembang dalam wadah negara Indonesia yang kokoh. Untuk itu Pendidikan  Multikultural perlu menambahkan  materi, program dan pembelajaran yang memperkuat rasa kebangsaan dan  kenegaraan dengan menghilangkan etnosentrisme, prasangka, diskriminasi dan stereotipe.

  1. Memiliki wawasan hidup yang lintas budaya dan lintas bangsa sebagai warga dunia.

Hal ini berarti individu dituntut memiliki wawasan sebagai warga dunia (world citizen). Namun siswa harus tetap  dikenalkan dengan  budaya lokal, harus diajak berpikir tentang apa yang ada di sekitar lokalnya. Mahasiswa diajak berpikir  secara internasional dengan mengajak mereka untuk tetap peduli dengan situasi yang  ada di sekitarnya – act locally and globally.

  1.  Hidup berdampingan secara damai.

Dengan melihat perbedaan sebagai sebuah  keniscayaan, dengan menjunjung tinggi nilai kemanusian, dengan menghargai persamaan akan tumbuh sikap toleran  terhadap kelompok lain dan pada gilirannya dapat hidup berdampingan secara damai.

About these ads

One thought on “Pendidikan Multikultural

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s