Abah, I’m Proud Being Your Child :)

Selama ini, yang terlihat mendominasi dalam mendidik anak adalah ibu. Tapi, bukan berarti ayah kehilangan peran kan? Ibu mengurus rumah tangga dan ayah mencari nafkah, itu bisa jadi salah satu alasan kenapa *mungkin* sebagian besar dari kita lebih dekat dengan sosok perempuan lembut penuh kasih dari pada sosok pria kharismatik yang selalu tampak kelelahan sepulang bekerja.Di catatan ini, aku mau cerita sedikit. Bukan, bukan tentang ayah di seluruh dunia. Tapi tentang Abah, ayahku. Aku hanya ingin berbagi, syukur-syukur bisa menginspirasi.

Abahku berumur 49 tahun. Bulan empat nanti, usianya genap separuh abad. Meski begitu, dia selalu semangat. Dia ga pernah terlihat sumpek dengan hidupnya, dia selalu terlihat menikmati setiap jengkal kehidupannya. Mungkin rasa syukurnya pada Yang Kuasa bikin ubannya cuma satu dua, ga merajalela buat lelaki seumurannya.

Abah di mataku adalah orang yang disiplin dan tegas. Kalau dia bilang TIDAK, jangan pernah berharap dia akan meralatnya menjadi IYA. Kecuali, umi’ dengan susah payah sukses membujuknya demi anak-anaknya. Meski begitu, abah adalah sosok ayah yang pengertian, mengayomi, adil dan dekat dengan siapapun.

Dia juga ramah, humoris dan memasyarakat. Bukannya sombong, di tempatku, keluarga kami adalah keluarga terpandang. Rumahku emang bukan gedung mewah yang berpagar tinggi menjulang, aku juga ga punya mobil meski sanggup beli. Tapi meski hidup sederhana, keluargaku disegani masyarakat. Iya, disegani tapi dicintai, bukan karena ditakuti.

Meski bukan pejabat kecamatan dan hanya seorang guru SD biasa, hampir setiap semua orang mengenalnya. Baik dari kalangan atas sampai tingkat bawah. Dari orang penting kelas elit sampai penjual gorengan dan pedagang semangka. Aku begitu takjub saat dia disapa dengan ramah oleh orang bermobil mewah. Bukannya ndeso, tapi aku kagum aja abah bisa bikin orang tajir buka kaca mobilnya cuma buat menyapanya.

Yang bikin aku semakin kagum adalah abah ga pernah beda-bedain siapapun. Abah bilang, benar kita harus pandai memilih dan memilah teman, tapi itu bukan alasan untuk ga mau bergaul dengan orang-orang yang di bawah kita karena pada dasarnya ga ada yang namanya kasta dalam agama.

Abah ga pernah mengajakku jalan ke mall buat beliin aku sesuatu. Tapi abah selalu memberi uang kepada umi’ untuk dibelanjakan keperluanku dan saudara-saudaraku. Abah ga pernah serta merta begitu aja memberiku dan saudara-saudaraku uang atau apapun, tapi dia selalu mengumpulkan dulu seluruh keluarga dan memberi pengertian bahwa ada rejeki berlebih yang dikaruniakan Tuhan kepadanya. Dia selalu bersikap adil terhadap kami semua. Adil dalam materi maupun adil dalam berbagi kasih. Bah, we really love you so much🙂

Abah begitu menikmati hidupnya. Dia oke-oke aja harus nyuci baju atau ngulek sambel atau goreng lauk buat sarapan. Dia juga ga pernah protes apapun yang dimasakin sama umi’. Dia, meskipun mampu makan di resto mewah dan tabungannya berlimpah, dengan senang hati makan setiap masakan umi’. Mulai dari tempe penyet sampai empal goreng atau cumi kuah dan ikan bakar. Kata abah, “Apa yang di hadapan kita, itulah rejeki kita. Syukuri dan nikmati aja karena dengan rasa syukur segala yang sederhana akan terasa istimewa”.

Di sela-sela makan, dia selalu mengingatkan bahwa di luar sana banyak orang yang kelaparan atau makan dengan lauk seadanya. Bahkan dia juga bercerita bahwa dulu, dia cuma makan nasi jagung lauk krupuk, kadang dikasih kecap kalau ada. Itu juga setelah dia bantu beres-beres rumah, ngambil air di sumur, macem-macem deh. Aku yang diceritain aja ga bisa bayangin gimana ga enaknya makan cuma lauk krupuk, pake nasi jagung pula.

Lalu dengan suara berat namun menentramkan, dia berkata, “Nah, kalau abah bisa begitu menikmati makanan seadanya saat itu, kenapa kalian, yang makannya enak, ga bisa ? Yang menjadikan sesuatu nikmat bukanlah seberapa mahal harganya, tapi seberapa bersyukurnya kita atas rejeki yang telah dilimpahkan oleh Sang Pencipta”.

Abahku yang gendut itu adalah inspiratorku. Dia selalu membagi rejekinya karena menurutnya, dalam setiap anugerah yang diberikan Tuhan kepadanya, ada titipan Tuhan untuk orang lain. Dia selalu memberi hadiah kepada murid-muridnya. Entah itu nasgor depan sekolah, mie kuah, bakso atau duit ribuan. Mungkin harganya emang ga seberapa, tapi siswa jadi termotivasi untuk belajar lebih giat karena gift itu ga diberikannya begitu aja.

Abah ga pernah secara tersurat melarangku keluar malem, pergi jauh atau huru-hara sama temen-temen kelayapan ga jelas muterin mall tanpa ada tujuan. Tapi dari tatapannya, dari setiap gerak tubuhnya, aku tahu bahwa dia ga setuju aku menyia-nyiakan waktuku begitu aja. Dia sama sekali ga melarangku bergaul, tapi dia selalu berpesan bahwa melakukan hal itu yang seperlunya aja. Aku selalu takut mengecewakan hatinya dengan berbohong sekedar ingin merasakan yang namanya malam mingguan selain di rumah.

Abah……. Lelaki perkasa yang tubuhnya kian renta, namun semangatnya tetap muda. Dia selalu ramah dan tersenyum, tapi ga berarti dia menjalani hidupnya dengan mudah. Aku tahu tanggung jawabnya sebagai kepala keluarga sangat besar. Dia imam bagi kami berempat, dia sopir dalam bahtera rumah tangga sederhana ini.

Aku tahu betapa susahnya harus mendidik dan memberi teladan yang baik bagi anak-anaknya, tapi dia berusaha menjalankan kewajibannya sebagai suami bagi umi’ dan ayah bagi anak-anaknya. Seperti kata Ben Parker dalam spiderman, di dalam kekuatan yang besar terdapat tanggung jawab yang besar pula. Dan abah dengan segala kerendahan hatinya telah membuktikannya padaku.

I DO REALLY LOVE YOU DAD, always and forever.

fesbuk, 01 Februari 2010 jam 12:56
salam imut selalu,
suuPhieRhero🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s