Love For A Child

“Billa, kamu tau gak nama garis putih-putih di depan itu?”, tanyaku pada gadis kecil yang baru kukenal beberapa saat yang lalu dan kini langsung lengket padaku.“Tau mbak, tau. Itu yang dibuat nyebrang kan? Namanya polisi kawin”, katanya.

Aku dan Risa, sepupuku yang juga seumuran Billa, langsung ketawa ngakak. Billa yang lihat kita ketawa juga ikutan ketawa, gak nyadar kalau kita berdua lagi ngetawain dia. Gimana ceritanya zebra cross bisa jadi polisi kawin.

Pada dasarnya aku suka banget sama anak kecil. Gak, ini gak seperti yang kalian pikirin. Sumpah rek aku gak pedopil. Tapi aku suka anak kecil karena mereka lucu. Senakal-nakalnya anak kecil, semua masih bisa diatasi dengan sedikit kesabaran ekstra.

Di rumah, aku selalu main sama tetangga-tetanggaku yang masih kecil. Aku juga suka ngemong ponakanku yang masih balita. Saat-saat seperti ini membuatku kembali merasa menjadi anak kecil yang polos dan gak tau apa-apa selain main dan main.

Masa-masa kecil adalah masa yang begitu indah. Selalu penuh dengan canda tawa dan kebahagiaan. Anak kecil gak kenal yang namanya rebutan cowok, yang mereka tau cuma rebutan permen. Anak kecil juga gak kenal yang namanya ngegosipin orang, yang mereka tau cuma gosip kapan pasar malem digelar lagi.

Kesukaanku pada anak kecil semakin membuatku mantap untuk menjadi guru SD disamping karena aku suka mengajar. Malah adik temenku lengket banget sama aku sampe-sampe mbaknya pernah bilang, ‘Dia loh adikku. Kenapa nempelnya sama kamu sih?’. Bahkan pas wisuda SMA, adiknya lebih milih duduk sama aku daripada sama mbaknya. Alhasil temen-temen pada ngira dia adikku, padahal bukan. Dia adik temenku.

Aku yang gak pernah bawa cowok ke rumah dan selalu kelihatan bergaul mulu sama anak-anak kecil bikin ibuku tiba-tiba bilang gini, ‘Kamu loh mainnya sama anak kecil mulu. Kalau gini caranya, gimana kamu mau punya pacar nduk?’

GLEK. Aku cegek.

Aku cuma menjawab kalimat ibuku dengan senyum simpul lalu kabur ngibrit.

Sore tadi, seperti biasa aku main sama anak kecil. Aku menularkan hobi narsisku dengan mengajak mereka berfoto bareng. Seru, asik, menyenangkan banget lah.

Tapi barusan, saat aku lagi makan bakso sama ibuku, aku ketemu sama seorang lelaki kecil sekitar umur tujuh tahun lagi main kembang api. Tadinya gak ada yang kelihatan beda dari anak kecil itu. Dia sama kayak anak kecil pada umumnya, suka main. Ya wajar aja dia suka main petasan api, laki-laki gitu loh. Gak lucu aja tau-tau dia main barbie.

Namun saat ibuku memberi tau aku sesuatu tentang anak kecil itu, aku langsung tertegun dan menelan ludah. Aku memperhatikan dia dengan seksama.

“Aaaa uuuu aaaa uuuu”, dia seperti ingin mengatakan sesuatu.

Dia bisu. Itu yang membuatnya berbeda.

Hatiku miris melihatnya. Saat anak kecil lain seusianya bisa main ledek-ledekan, dia cuma bisa ngomong auau gak jelas. Tuna wicara membuatnya berbeda dari yang lain.

Aku kasihan melihatnya. Sungguh.

Aku membayangkan gimana temen-temennya bakal kesulitan memahami maksudnya lalu perlahan menjauhinya, mengucilkannya. Mendadak aku berdoa semoga itu hanya pikiran burukku aja, gak bener-bener jadi kenyataan.

Masa kecil yang seharusnya bisa dihabiskan dengan indah jadi gak bisa sempurna hanya karena dia gak bisa bicara. Aku ngebayangin betapa kasihannya tuh anak karena saat dia besar dan jadi bapak nanti, dia gak bakal bisa mendongengi putranya.

Melihat anak kecil itu, aku jadi inget acara gosip di televisi. Aku jadi inget betapa hobinya orang-orang di layar kaca itu mengungkap aib orang lain. Mereka gunakan lidahnya untuk menunjukkan keburukan orang lain pada dunia.

Astaghfirullah hal adzim.

Seandainya aja anak kecil itu diberi kesempatan untuk bicara. Dia pasti cuma pengen bisa nyambung ngobrol soal main petak umpet sama temen-temennya, ngomongin kartun terbaru di televisi, bukan ngegunjingin orang.

Rasa ibaku terhadapnya membuatku turut iba terhadap orang-orang berkebutuhan khusus lainnya. Yang buta, yang tuli, yang pincang, yang…….

Ahhh….. segitu banyaknya orang-orang yang jauh lebih menderita dibanding aku. Tapi kenapa setiap ada masalah dikiiitttt aja, aku langsung mikir, ‘Kenapa semua ini terjadi padaku, ya Allah? Kenapa Kau beri hamba cobaan yang begitu besar? Kenapaaa? Hamba gak kuat lagi dengan semua ujian ini”. Selalu mengeluh seolah-olah aku adalah orang yang paling menderita sejagad raya ini. Nyatanya, ada banyak sumur yang jauh lebih dalam dari kita.

Anak kecil yang kupikir hanya bisa main doang ternyata juga bisa memberiku pelajaran. Sebuah pelajaran yang gak bisa disejajarin dengan Fisika atau Kimia.

Dari jagoan kecil yang kupandangi dari jauh itu, aku bisa menarik kesimpulan.

Bahwa apapun yang ada padamu, syukurilah. Karena itulah yang terbaik yang Tuhan anugerahkan padamu. Jangan selalu meminta lebih. Lihatlah ke bawah, masih banyak orang lain yang jauh lebih kurang dibanding kamu.

You had given the best from God for you.

fesbuk, 24 Juli 2010 jam 14:11
salam imut selalu,
suuPhieRhero🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s