Untuk Es Krim Rasa Stroberi ~

“Mbak, kamu pernah mimpi gak?”, tanya Lisa padaku.

“Pernah dong. Emang kenapa?”, jawabku sambil mengelus rambutnya.

“Kalau mimpi serem, pernah?”, dia bertanya lagi.

Aku mikir bentar. Mimpi serem itu yang gimana yaaa? Apa mimpi dikejar pocong yang loncat-loncat karena gak bisa lari? Atau mimpi disatronin wewe gombel yang rambutnya gimbal karena gak punya sisir buat ngerapihin rambutnya?

Hmmmm……. kayaknya gak deh. Mimpiku yang paling serem dan bikin aku ngos-ngosan mampus adalah pas aku mimpi mas sama adekku nimpuk aku pake sekodi kucing dengan alasan biar aku gak phobia. Sumpah. Itu mimpi paling serem buatku. Bukannya ilang phobianya, aku malah berasa orang sekarat saat itu.

Tapi gak lucu aja kalau aku bilang, “Pernah sayaanngg. Ceritanya tuh aku dilemparin kucing gitu sama sodara-sodaraku, banyaaakk bangett. Trus mbak mau mati saking takutnya”. Gambreng. Yang ada aku malah bakalan diketawain gara-gara gak berani sama tuh binatang.

“Pernah sih. Cuma ya gitu deeehhh. Hehehe”, jawabku akhirnya.

“Aku mau dong mbak diceritain yang serem-serem”

“Tentang mimpiku?”, tanyaku sambil ngerutin jidat.

“Terserah. Yang penting serem. Hiiiyyyy”, katanya sambil masang ekspresi takut.

Tunggu deh, nih bocah kenapa doyan cerita serem sih? Bukannya aku takut, tapi heran aja gitu. Harusnya kan anak TK B tuh doyan cerita peri, barbie atau putri-putri gitu, bukannya malah cerita hantu. Haassshh…… aku harus cerita apa nih?

Ayooo Firdaaaa…….. cari cerita yang serem tapi edukatif. Anak kecil masih polos. Mereka harus dididik dengan benar dan diberi pelajaran moral sedini mungkin agar gak salah jalan pas gede nanti. Dan dongeng adalah salah satu media yang pas untuk tujuan tersebut.

Otakku mikir sedemikian keras. Dongeng apa yang harus kuceritakan? Apa kisah Sangkuriang yang jatuh cinta sama Dayang Sumbi, ibunya sendiri? Jiaahhh…… itu sih dimana seremnya coba? Atau mungkin kisah Mak Lampir yang lagi suka brondong trus ngegebet Wiro Sableng? Ngaco. Bisa-bisa ntar aku yang disalahin kalau si Lisa jadi pedopil.

Karena gak nemu cerita yang pas, akhirnya aku ngarang sendiri cerita itu.

“Di suatu malam, ada seorang gadis kecil seumuran kamu sedang bermimpi. Dia mimpi didatengi sama neneknya yang udah meninggal. Dia ketakutan sekali. Neneknya berwajah seram, sayang. Rambutnya panjang dan kusut. Banyak darah di sekujur tubuhnya. Baunya gak enak. Pakaiannya sobek-sobek. Pokoknya nyeremin banget deh neneknya itu”, ujarku dengan ekspresi meyakinkan dan berdoa semoga Lisa gak mengira bahwa si nenek mantan pengemis rasta yang mati ketabrak gerobak sampah.

“Trus neneknya ngapain, mbak?”

Ngajak main bekel. Ya gak lah.

“Neneknya nangis. Dia bilang ke cucunya kalau dia menderita di neraka. Setiap hari selalu disiksa. Karena dulunya dia suka berbohong, lidahnya disetrika trus dipotong sama malaikat. Nenek menyesal kenapa dulu gak rajin ngaji aja daripada bicara dusta”

“Siksa itu apa sih, mbak?”

“Siksa itu hukuman, sayang. Sakit, gak enak lah pokoknya”

“Oohh….. Berarti kalau suka mencuri, tangannya yang dipotong ya, mbak?”

“Iyaaaa. Kalau suka nendang orang yang gak bersalah, kakinya yang dipotong. Intinya mereka disiksa sesuai dosanya. Salah sendiri berbuat jahat”

“Aduuhhh sereeemmm. Kalau di neraka, temennya setan ya?”

“Iyaaaa. Setan sama semua orang jahat tempatnya di neraka. Kalau orang-orang yang baik, tempatnya di surga sama bidadari. Seperti akyuuuu”, ujarku sambil ngedipin mata.

Lisa menatapku tanpa ekspresi. Guyonanku garing.

“Tapi mbak, kalau yang jahat-jahat di neraka, kenapa ada malaikat disana? Padahal kan malaikat itu baik”, katanya. Cerdas juga nih anak.

“Malaikatnya jagain neraka doonngg. Biar setannya gak kabur. Hihi. Jadi gini loh sayaanngg…… di neraka ada malaikat yang namanya Malik. Nah kalau di surga malaikatnya bernama Ridwan. Keduanya punya tugas masing-masing”

“Sama kayak malaikat yang nyatet amal kita ya?”

“Iya. Kalau yang bertugas mencatat amal, itu namanya malaikat Rokib sama Atid”

“Kalau malaikat Isro’il tugasnya ngapain mbak?”

“Dia bertugas mencabut nyawa manusia kalau ajalnya tiba”

“Ohhhh……. trus kalau di surga enak ya, mbak? Kata bu guru, kalau di surga aku bisa minta apa aja. Ada es krim, permen, banyaaakkkk”

“Iyaaaa…… nikmat surga itu gak ada tandingannya. Kamu mau apa aja, pasti dikasih. Apapun yang kamu minta, semuanya ada. Kamu mau es krim rasa coklat? Adaaa……. Rasa vanilla, duren, apel, semuanya ada. Lengkap. Pokoknya enak deh di surga”

“Kalau rasa stroberi ada kan mbak ya?”

“Pastinyaaaa…… Tapi ada syaratnya biar bisa masuk surga. Kamu harus rajin sholat, ngaji, berbakti sama orangtua. Pokoknya kamu harus jadi anak yang baik, gak boleh nakal”

“Aku ngaji kok tiap hari. Aku juga gak ngelawan sama orangtua. Pokoknya aku mau dapet es krim rasa stroberi di surga. Aku gak mau disetrika di neraka”

Kalau disetrika doang, gak perlu jauh-jauh ke neraka. Di Malaysia banyak para TKI yang diperlakukan gak beradab sama majikannya.

Aku menatap Lisa sejenak. Gadis kecil yang polos. Anak kecil emang selalu seperti itu. Mudah percaya dan menyerap akan apa yang dibaca atau didengarnya. Aku jadi inget pas jamanku awal-awal bisa baca. Aku selalu jadi pelanggan setia pedagang buku cerita lima ratusan di halaman sekolah. Buku-buku tentang siksa neraka dan nikmatnya surga.

Saat itu, buku-buku seperti itu adalah buku paling digemari oleh anak-anak kecil. Dengan membaca buku seperti itu, secara gak langsung kita terdidik untuk amar ma’ruf nahi munkar. Tapi dewasa ini, anak kecil udah gak suka lagi baca buku gituan. Kebanyakan lebih suka baca komik atau cerita tentang prajurit timah.

Kadang aku suka mikir kenapa saat kecil, kita begitu takut akan siksa neraka dan sangat mendambakan nikmatnya surga. Sedangkan sekarang, kita yang tumbuh besar dan bahkan udah teramat paham tentang keagamaan malah semakin menjauh dari-Nya?

 

 

Astaghfirullah hal adzim.

“Oh iyaaa mbak……. kalau suka minta-minta itu dosa ya?”, tanyanya kemudian.

“Bukan dosa sih. Tapi lebih baik memberi daripada menerima. Emangnya kenapa?”

“Abis mbak Viona suka minta-minta ke aku. Tadi aja dia minta fruitamin-ku. Berarti yang dilakuin mbak Viona itu gak baik ya, mbak?”

“Gini deh, dengerin mbak. Siapapun berhak meminta atau memberi. Bedanya, kalau meminta kamu gak dapet apa-apa. Tapi kalau memberi dan ikhlas, kamu dapet pahala. Kamu lebih pilih mana hayoooo gak dapet apa-apa atau dapet pahala?”

“Pahala dong, mbak. Kan kata bu guru kalau pahalanya banyak bisa masuk surga”

“Pinter. Intinya, kalau kamu mau memberi sesuatu harus ikhlas. Kalau memberi tapi gak ikhlas, ya sama aja. Gak bakal dapet pahala. Ngerti gak, sayang?”

“Ngerti, mbak”, jawabnya sambil tersenyum ke arahku. Aku membalas senyumnya.

“Sip. Trus biar bisa dapet es krim rasa stroberi, kamu harus jadi anak yang gimana?”

“Yang baik, patuh sama orangtua. Gak suka bohong, gak nakal. Rajin sholat, rajin ngaji. Bener kan, mbak?”, jawabnya. Aku mengangguk.

Jarum jam menunjukkan pukul 9.30 malam. Mama Lisa udah berdiri di seberang, jemput Lisa. Mungkin karena besoknya Minggu, jam segitu dia masih main. Tapi mamanya tersenyum sambil manggil namanya. Dia harus pulang.

Setelah Lisa pulang, aku juga pulang. Tadi abis acara IPM di masjid, aku mampir ke rumah mbahku yang terletak di belakang rumahku dan ngobrol sama Lisa. Tapi sekarang udah malem, aku pulang aja lah. Banyak juga sih budhe-budhe yang lagi ngobrol. Tapi gak enak juga kalau nimbrung, gak cocok umur.

Cerita ini mungkin gak lucu karena emang bukan komedi. Tapi aku cuma mau bilang bahwa semakin dewasa, semakin banyak hal yang ‘hilang’ dari diri kita.

fesbuk, 08 Oktober 2010 jam 19:29

salam imut selalu,

suuPhieRhero :))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s