FAKTA: Habis Gelap Terbitlah Terang

Malam itu, sepiring kentang goreng hangat dan sebotol sambal pedaspun sama sekali tidak membangkitkan selera ngemilku.

Aku tetap tengkurap di atas ranjang, menangis tersedu-sedu dan menumpahkan air mataku pada bantal naas yang harus rela kubanjiri tangisku. Untuk beberapa saat, aku terus menangis berlinang air mata dengan rambut yang acak-acakan, mirip seperti wewe gombel habis mengiris bawang merah.

Duniaku runtuh seketika saat aku mendengar kabar itu kemudian memastikan sendiri dengan melihat langsung ke warnet. Demi ingin membuktikan bahwa namaku pasti ada dalam daftar pengumuman itu, aku rela jam sembilan malam ke warnet. Itu pun setelah aku sukses memaksa adik untuk menemaniku. Seumur-umur belum pernah aku semalam itu nongkrong di warnet dan sebagainya. Jam sembilan sudah teramat malam bagiku untuk keluar rumah.

Sepanjang perjalanan, kakiku terasa berat. Dan menjadi sangat berat ketika pulang.

Namaku tak tercantum dalam daftar calon mahasiswa itu. Aku gagal.

Waktu yang tadinya berputar dengan penuh semangat sekarang seolah terhenti untuk beberapa detik, untuk mengolok-olokku bahwa sampai detik ini aku belum menjadi calon mahasiswa. Aku masih lulusan SMA yang kelabakan mencari kuliah.

Pernahkah kamu merasa begitu rapuh saat pondasi yang kamu bangun sekuat tenaga dengan sejuta harapan ternyata sama sekali tak bisa diharapkan? Pernahkah kamu merasa begitu yakin dengan sesuatu dan merasa akan meraihnya padahal usaha yang kamu anggap maksimal ternyata sama sekali tak menyentuh mimpimu?

Aku pernah. Saat itu, sekarang juga. Dan itu sakit.

Malam itu, kedua orangtuaku memelukku, menenangkanku seraya mengelus-elus rambutku dengan penuh kasih dan kelembutan. Mereka bisiki aku dengan kalimat-kalimat penghiburan dan motivasi, bukan luapan emosi yang semakin membuatku terpuruk.

“Sudahlah, anggap saja ini bukan jalanmu. Tak perlu menangis sesenggukan, tapi bangkitlah dan buktikan bahwa kamu masih bisa bersinar”, kata Umiku.

Abahku menimpali, “Itu benar, masih banyak peluang untuk membuktikan bahwa kamu bisa. Kami sanggup membiayaimu kuliah, berapapun itu. Tapi kalau kamu sudah hilang semangat dan putus asa begini, apa gunanya? Semestinya dalam kondisi apapun kamu harus tetap percaya bahwa selalu ada jalan bagi yang mau berusaha”.

“Mungkin ini yang namanya nasib. Semaksimal apapun usahamu dan sekhusyu’ apapun doamu, kalau Tuhan belum menghendaki nasibmu disini, mau apalagi? Dari dulu ya memang begitu aturannya, manusia yang berusaha dan Tuhan yang menentukan. Sudah, tak perlu menangis seperti itu. Hadapi saja semuanya dengan senyuman, santai”.

Dari jaman nenek moyangku belum jadi pelaut, talk is easy, bicara itu gampang. Sudah berkali-kali aku mencoba daftar di PTN dan semuanya gagal, bagaimana mungkin aku bisa santai dan bersikap seolah tak terjadi apapun? Mana aku belum daftar SNMPTN pula.

Esoknya, aku langsung kelabakan mengurus SNMPTN di hari terakhir. Aku ke bank untuk membayar tes. Sialnya, susah sekali waktu daftar onlen. Alhasil sampai jam terakhir pendaftaran SNMPTN, aku belum mendapat kartu peserta.

Aku benar-benar frustasi, sunggguh.

Tapi saat aku sedang kacau, seorang teman mengabariku bahwa aku diterima di salah satu universitas negeri yang tadinya menolakku. Aku pun buru-buru ke warnet sehabis sholat maghrib untuk memastikan bahwa dia tidak berbohong.

Begitu mendapati namaku di daftar pengumuman itu, aku langsung memukul-mukul pundak adikku saking senangnya. Padahal kemarin aku mendiamkannya karena terlanjur kalut dan putus asa. Adikku juga memandangi layar monitor, memastikan bahwa diurutan nomer 6 itu benar namaku. Dan ternyata mata kami memang masih awas, belum terlalu rabun untuk benar-benar percaya bahwa aku memang diterima.

Pengumuman kali ini benar-benar resmi karena ada tertanda rektor, berbeda dengan kemarin malam yang hanya muncul 5 nama calon mahasiswa dan belum ada tertanda rektor.

UNIVERSITAS NEGERI MALANG
S1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar
6. Firdaus Su’udiah / Jl. Raya Kenongo No. 5 / SMAN 4 Sidoarjo

Aku bersyukur bukan main. Mimpiku meraih cita-cita yang tadinya kukira kandas karena aku lagi-lagi ditolak dan tak bisa daftar SNMPTN kini menjadi nyata. Aku diterima sebagai calon mahasiswa dan pintu gerbang menjadi guru seperti yang kucita-citakan sejak kecil kini terbuka. Aku girang bukan main, sungguh.

Sekarang, meski aku harus kehilangan 175.000 rupiah demi SNMPTN jalur IPC, aku tak peduli. Toh dari dulu memang selalu ada pengorbanan untuk sesuatu hal, iya kan?

Merpati putih terbang tinggi
Menghadap mentari menembus pelangi
Tak peduli sayap-sayap letih
Asal bisa meraih mimpi

fesbuk, 02 Juni 2010 jam 10:09

salam imut selalu,

suuPhieRhero🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s