Because You’re My Inspiration, FARAH QUINN ~

Kadang aku suka mikir, kenapa ya aku jadi cewek tomboy?Padahal, dimana-mana yang namanya cewek itu harusnya anggun, feminin, lemah lembut, kalem, sabar, keibuan, wes gitu itulah pokoknya. Lah aku apa? Wes kakean tingkah, cerewet, narsis, kasar, imut pisan. Hahhaha ga ding, yang terakhir itu fitnah.

Aku tuh bisa dibilang cuek banget sama penampilan. Teori yang kuanut adalah teori Geblekisme yang berbunyi : CANTIK ITU RELATIF, JELEK ITU MUTLAK. Sayangnya, aku termasuk kategori yang kedua. Jadi, kupikir kalau dasarnya aku emang jelek, mau diapain juga tetep aja jelek, udah bawaan lahir sih. Huhuhuuhuhuh.

Tapi akhir-akhir ini, entah karena aku udah terpanggil oleh kodrat atau mungkin ingin terkesan sedikit lebih dewasa setelah menginjak 17 tahun, aku mulai berubah. Ndak, yang kumaksud bukan tiba-tiba berubah cantik dan seksi kayak Luna Maya atau Farah Quinn, tapi aku mulai sedikit memperhatikan penampilanku.

Aku mulai *sok* pake bando, jepit rambut, kuncir, gitu-gitu lah. Padahal ya, ket jaman elek sampek saiki pancet elek, yang namanya Firda itu paling males sisiran apalagi make alat-alat kosmetik antah berantah namanya.

Dulu, bahkan sampai beberapa saat sebelum aku mulai benar-benar sadar bahwa aku ‘perempuan tulen’, setiap yang kulakukan seperti melawan arah angin dengan apa yang dilakukan remaja putri pada umumnya.

Saat kebanyakan cewek pada ngobrolin lipgloss atau blush on, aku malah heboh dengan dongeng-dongeng yang kureka sesuka hati. Saat sebagian besar dari mereka ngomong tentang maskara, catok rambut, smoothing atau apalah bahasa salon lainnya, aku masih tetep asyik ngebahas kepolosan Spongebob dan kegoblokan Patrick.

Tapi, belakangan ini aku mulai menunjukkan tanda-tanda ‘kesembuhan’. Entah karena terobsesi dengan Luna Maya atau terlalu ngefans dengan Farah Quinn, aku jadi punya pikiran ‘seharusnya aku seperti mereka’. Cantik, seksi, anggun. Bukan seperti ini, koplak, kopyor, sukanya ngakak pisan. Beuuhhhh…….

Iya, artis cewek yang kuidolakan adalah Luna Maya dan Farah Quinn. Kalau yang cowok sih semua juga tahu kalau cuma ada satu nama: AFGANSYAH REZA syalalala. Dari segi cantiknya sih ya jelas cantik Luna, bodi juga proporsional Luna. Tapi secara keseluruhan, aku lebih suka Farah Quinn. Hahay makanya jangan kaget kalau belakangan ini aku jadi autis, sok mirip-miripin diri sama chef yang kulitnya sewelas rolas sama aku.

Gimanaaa yaaaa…… Farah Quinn itu dibilang cantik banget sih ga juga. Masih banyak yang more beautiful dibanding dia. Yang lebih putih, lebih tinggi atau lebih-lebih yang lain. Tapi Farah Quinn itu manis, jago masak pula.

Farah Quinn itu yaaaa biarpun badannya bagus, dia ga pernah tampil sensual nggilani kayak ‘singkatan Juventus’. Dia tuh punya inner beauty yang muncul dari dalam sehingga bisa bikin semua orang mandang dia dengan tatapan terpesona, seolah waktu berhenti berputar saat dia bilang, ‘Yeahh…. This is it. Pisang bakar spesial ala Farah Quinn’.

Aku bener-bener kagum sama dia. Udah cantik, seksi, jago masak pula. Aku ngomel ke diriku sendiri. Mestinya jadi cewek itu kayak gitu, ga kayak gini blablabla. Yahhh….. Aku sangat mengidolakannya. Gila, jarang-jarang kan ada cewek cakep jago masak.

MASAK mameeeennn, masaaakkk….. Buatku, cewek itu mestinya ga sekedar diet ketat ngurusin badan biar langsing dan proporsional, heboh mencetin jerawat yang lebih mirip tombol Power Rangers atau bingung ngelurusin rambut. Menurutku, hal penting yang ga boleh dilupakan dan bahkan menjadi terpenting kedua setelah hobi dandan adalah memasak. Yah, biarpun ga jago-jago amat, paling ga yang namanya cewek tuh kudu bisa masak.

Aku sih bukannya sombong. Tapi aku emang udah kebiasaan masak tau. Masak apa coba yang aku ga bisa? Masak air bisa. Masak mie juga bisa. Masak nasi apalagi *tinggal masukin ke rice cooker doang*. Hwahahahha bercandaaaaaa……..

Dulu, aku selalu berpikir untuk menjadi ‘apa adanya aku’.

Tapi belakangan, aku mulai pengen terlihat ‘cantik’. Iya, aku pengen cantik. Pengen dilihatin dengan tatapan kagum saat aku lewat, bukan diacuhin seolah aku ga ada. Aku pengen sesaat mengalihkan dunia dengan pesona wajahku. Hhahaha sayang, yang ada malah semua rasanya pengen muntah lihat Upik Abu *makna lugas* jalan di koridor dengan super percaya diri. Yaahhh…. penonton kecewaaaaaa……

Aku mulai mikir kalau ga setiap yang ‘apa adanya’ itu yang terbaik. Ada kalanya seseorang harus berubah demi kebaikan. Toh dalam setiap perkembangannya, kita terus berubah kan seiring dengan pencarian jati diri yang kita jalani??

Dulu, baju-baju koleksiku ga lebih dari sekedar kaos oblong warna gelap dan jins belel yang suka ku mix-match sama jaket seadanya. Sekarang, deretan baju di almariku udah lumayan variatif dan lebih banyak bermotif girlie tanpa dominasi warna hitam. Yahh aku udah ga lagi antipati sama warna-warna cerah kayak pink dan teman-temannya.

Hwahahaha lucu yaaa….. Elek ae kakean polah. Bodo amat ahh dunia mau bilang apa. Yang aku tau, aku mulai merubah penampilanku. Aku sedikit lebih peduli dengan diriku. Kalau bukan aku sendiri yang peduli, siapa lagi?? Iya toh?? Tapi kalau masih kelihatan jelek, itu sih takdir namanya. Hahhahahhaha koplo……

Sepenggal lagu ndemasip terngiang di kuping kanan kiri, bersenandung sana-sini.

Tak ada manusiaaaaaa yang terlahir sempurnaaaaaa….. Jangan kau sesali segala yang telah terjadiiiiiii….. Syukuri apa yang adaaaaa….. Hidup adalah anugraaaaahhhhh…….

fesbuk, 23 Februari 2010 jam 16:56
salam imut selalu,
suuPhieRhero🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s