Harga Cintamu = Seluruh Hidupku

Kuliah di luar kota maksa aku buat ngekos. Iyalah, Malang gitu loh. Kalau Surabaya sih masih bisa dijangkau sama motor, tapi kalau naik roda dua ke Malang pergi pulang tiap hari ampun-ampun deh. Bisa-bisa makin gosong pantatku, tinggal dikasih bumbu kacang deh.Abis registrasi di Sasana Budaya, aku langsung nyari kosan. Kebetulan ketemu sama anak Jombang yang satu jurusan. Sama-sama rame, sama-sama suka spombob, sama-sama satu jurusan dan sama-sama perempuan bikin kita langsung klop. Alhasil, aku ditawarin nebeng mobilnya buat ke Sawojajar. Ga cuma aku sama dia, tapi ada 2 temen yang lain.

Intinya, kita berempat udah kayak setrikaan yang hobinya mondar-mandir. Karena ospek diadain di kampus induk, kita kudu nyari kosan lagi. Beruntungnya kita satu kos.

Sewaktu dapet kos di kampus II, aku seneng. Kamar mandinya bersih, lumayan luas juga buat nyuci meski di sebelah ada londri. Kamarnya juga luas. Aku memilih di lantai bawah biar gak ribet naik turun tangga (apalagi kuliah guru mengharuskanku pakai rok). Selain itu, dapur ada di lantai satu. Jadi kalau mau masak gampang.

Selain seneng, aku jadi mikir sesuatu. Hal yang tadinya sama sekali gak nongol di otak sekarang jadi menuhin pikiran.

Ternyata HIDUP ITU BERHARGA.

Selain karena kita cuma dikasih kesempatan sekali sebelum mati, hidup juga maksa dari segi ekonomi. Dalam sebulan, aku harus bayar sekian ratus ribu buat nebeng tidur sama nebeng boker. Belum lagi duit buat beli makanan, buat bayar suplai listrik, buat ini itu banyak lah. Dan kenapa aku baru kepikiran sekarang kalau hidup segitu mahalnya?

Karena di rumah, bersama orangtua, segalanya diberikan tanpa imbalan rupiah.

Orangtua tulus ngerawat dan ngebesarin anak-anaknya, ngasih makan, nyekolahin, biayain ini itu demi kebaikan anaknya. Mereka tanpa pamrih ngedidik kita dan nanggung biaya hidup kita dari orok sampai sekarang segede ini.

Parahnya, kita bukannya berterima kasih malah sering meminta lebih. Mana kadang-kadang kita susah diatur pula. Malah ada juga yang berani mbangkang orangtuanya.

Aku jadi mikir, kalau sekali masuk WC umum kita harus bayar seribu rupiah, coba kalkulasikan dengan betapa seringnya kita boker, pasti duit jajan kita sebulan ludes cuma buat bayar masuk kamar mandi.
Andaikan orangtua perhitungan terhadap makanan yang kita makan, kita pasti bangkrut dan ngutang ke rentenir buat biaya makan doang. Iyalah, secara kita cuma anak sekolahan yang gak punya kerjaan, dapet duit dari mana lagi kalau gak ngutang? Paling banter kita ngepet duit orangtua juga.

Tapi orangtua kita bukan debt collector.

Mereka bukan orang-orang berwajah serem yang kerjaannya nagih utang. Mereka adalah orang-orang yang dengan penuh kelembutan membesarkan kita tanpa peduli berapa banyak uang yang harus dikeluarkan.

Mereka bukan rentenir yang suka ngasih bunga setinggi langit atas utang seuprit. Mereka adalah orang-orang yang tanpa pamrih menyayangi kita, mendidik kita agar kelak bisa berguna dan membanggakan mereka.

Coba aja kasih sayang, perhatian dan segala yang mereka berikan selama ini ditukar dengan uang, jadi babu sampai jelek juga belum tentu sanggup balikin. Gak cuma balikin uang, tapi juga balikin milyaran pengorbanan yang telah mereka lakukan.

Sayangnya, kita suka telat nyadar sama cinta dan kasih sayang yang tulus itu.

Kita lebih heboh mengagung-agungkan perasaan terhadap gebetan baru atau pacar yang baru beberapa waktu masuk ke hidup kita. Kita juga suka ngerasa marah sama orangtua yang minta tolong mijitin atau apalah, dan kita sering pura-pura gak denger waktu dipanggil.

Saat hening menyeretku dalam renungan, aku merasa malu sekaligus sedih.

Aku tau ibu mengandungku sekian lama di perutnya dan melahirkanku dengan taruhan nyawa. Tapi sekarang aku terlalu sombong untuk mendengarkan nasehatnya dan sering menganggap wejangan itu sebagai angin lalu.

Aku tau ibu ikhlas menyusuiku ketika aku menangis saat kecil dulu. Aku juga tau dia sama sekali gak mempermasalahkan kasur-kasur yang basah kena ompolku atau waktu tidurnya yang tersita untuk menjagaku pulas di malam-malam itu.

Aku tau bapak gak peduli harus kerja sana-sini buat nyari nafkah demi keluarga. Aku juga tau bapak sama sekali gak ngurus dengan peluh yang membasahi wajahnya bahkan terkadang jatuh menetes. Bahkan aku pun tau yang bapak pedulikan cuma kami, anak istrinya.

Tapi sekarang, sekian tahun kemudian, saat aku mulai mengerti pengorbanan dan perjuangan mereka, aku malah sering mengecewakan mereka. Sering melawan, membangkang dan merasa paling bener, paling gaul dan menganggap mereka orangtua kuper yang ketinggalan jaman. Oh Tuhaaannnn……… anak macam apa aku ini?

Sejurus kemudian aku bersyukur memiliki mereka. Gak perlu Superman yang jadi idola banyak orang karena orangtuakulah pahlawan terhebat sepanjang masa di seluruh dunia.

Aku kemudian mengerti kenapa hidup itu berharga.

Bukan karena segalanya dibeli dengan uang, tapi karena kita dikelilingi oleh orang-orang yang menyayangi dan mencintai kita tanpa pamrih.

Orang-orang yang saking mahalnya sampai gak sanggup kita beli atau ditukar dengan dollar, apalagi barter sama sekarung beras. Orang-orang yang menunjukkan bahwa tanpa mereka, tanpa cinta kasihnya, hidup jadi gak bermakna.

fesbuk, 06 Juli 2010 jam 10:59
salam imut selalu,
suuPhieRhero🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s