High School: Over, But Never End

Wisuda kemarin lebih mirip arakan ondel-ondel daripada graduation.Dari jauh sih semua pada keren-keren. Yang cowok ganteng dan dewasa dengan setelan jas dan sepatu fantofel. Trus yang cewek juga cantik dengan kebaya yang dipadukan dengan sepatu hak tinggi. Ada yang disanggul juga.

Tapi pas waktu deketan, masawoh semua pada tebel-tebelan mekap. Terutama yang cewek. Tapi yo gapopo wes, kan cuma 3 tahun sekali dan seumur hidup wisuda SMA kayak gini. Jadi ya lumrah deh kalau pengen terlihat cantik.

Dua tahun yang lalu, aku masih junior di sekolahku dan cuma jadi paduan suara. Aku cuma bisa lihatin kakak-kakak kelas sibuk jeprat-jepret mengabadikan momen terakhir di SMA. Dan dua tahun yang lalu, aku juga melihat DIA.

Dia mengenakan setelan jas licin tanpa dasi. Tubuhnya yang tinggi tegap membuat dia semakin terlihat mengagumkan dan mempesona. Saat dia berjalan melewatiku hendak ke atas panggung, waktu seolah berhenti berputar untuk beberapa detik.

Itu dulu. Sekarang semuanya berubah.

Seiring waktu, posisinya sebagai tokoh utama semakin tergeser menjadi figuran yang perannya usai dan kini harus masuk ke katalog kenangan. Aku ga mau masih terus terjerat bayangnya saat aku udah seharusnya mencari orang lain yang kubutuhkan, bukan sekedar kuinginkan. Dan kurasa orang itu bukan dia.

Wes, balik lagi ke wisuda di convention hall kemarin. Lupakan si BAJUL kampret!

Mungkin setelah wisuda, semuanya usai. Kita udah bukan lagi siswa. Kita purna siswa yang akan menjadi mahasiswa. Kita bukan lagi anak putih abu-abu yang menikmati masa-masa terindah sepanjang usia.
Kita usai, tapi tidak berakhir.

Makalah dan presentasi telah usai. Ga ada lagi ulangan atau tugas rumah. Usai sudah masa-masa kita bergelut dengan matematika fisika kimia biologi dan mata pelajaran lain yang memusingkan kita tiga tahun ini. Usai sudah masa-masa dimana kita harus berangkat pagi dan memakai seragam lengkap jika kita ga mau kena poin dan berdiri di lapangan 2 jam pelajaran.

Tapi sejuta kisah masa SMA ga akan pernah berakhir.

Canda dan tawa yang selalu mencairkan suasana ga akan berakhir hanya karena jarak memisahkan kita setelah ini. Rasa kepedulian antarsesama dan motto ‘otak IPA jiwa IPS’ yang kita junjung juga ga akan pudar hanya karena kita udah menyandang almamater baru.

Semua akan tetap sama jika kita mampu adaptasi dengan segala perubahan yang ada. Menyesuaikan diri dengan lingkungan baru namun tetap menggenggam erat persahabatan sebelumnya. Yang lama bukan berarti harus dilupakan. Bukankah emang seharusnya begitu?

fesbuk, 27 Mei 2010 jam 11:07
salam imut selalu,
suuPhieRhero🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s