bayangan perempuan di cermin itu AKU !

di bus kota, kujumpai seorang anak kecil usia SD membagi-bagikan amplop kosong kepada penumpang. bagian depan amplop itu bertuliskan:

assalamu’alaikum bapak, ibu, mas, mbak. saya ingin membeli buku dan peralatan sekolah. tapi saya tidak punya uang. tolong bantu saya seikhlasnya.

kira-kira gitu tulisan di amplop itu yg kuinget. setelah itu, bocah tersebut mengamen dengan alat ecek-ecek dari tutup botol. setelah menyanyi, amplop itu ditariknya lagi dari para penumpang dan berharap akan ada isi di dalamnya, sekalipun recehan.

di kereta, aku juga menjumpai hal serupa. anak kecil udah ngamen, nyapu kolong-kolong kursi penumpang, semuanya cuma buat mengumpulkan pundi-pundi rupiah, sekalipun dalam jumlah yang kecil. di perempatan lingkar timur aku juga sering melihat anak-anak yang mengamen ketika lampu merah menyala.

dalam hati aku membatin, bagaimanapun mereka tetap anak-anak. kurasa setiap anak pasti ingin menghabiskan pagi dengan belajar dan bermain dengan teman-temannya di sekolah, lalu tidur siang, sorenya mungkin main sepak bola di halaman, malamnya belajar untuk esok hari. atau kalau gak, minimal mereka pasti ingin menghabiskan waktu dengan hal lain di suatu tempat dan tentunya bukan di jalanan mencari uang.

karena terhimpit masalah ekonomi, mereka yang masih kecil harus dibebani tanggung jawab untuk membantu mengumpulkan rupiah demi kelangsungan keluarganya. mungkin sekolah mereka keteteran, atau bahkan ada yang putus di tengah jalan.

aku menatap bayangan seseorang di cermin. yang kulihat adalah sesosok perempuan 18 tahun yang gak tau malu dan kurang bersyukur.

dia diberi kehidupan yang serba berkecukupan dan layak. meskipun gak berasal dari keluarga yang kaya raya, tapi segala kebutuhannya selalu terpenuhi. kedua orangtuanya menyayanginya. dia dibesarkan dan dididik dengan penuh kasih. dia disekolahkan bahkan sampai sekarang ia menginjak perguruan tinggi dengan harapan bisa menjadi orang sukses nantinya.

dia juga disenangkan hatinya oleh ayah dan ibunya. sewaktu kecil, dia selalu dibelikan boneka barbie kesukaannya. segala mainan dimilikinya. semakin lama semakin bertambahnya usia, dia juga diberi kesempatan untuk menyalurkan kegemarannya. dia diberi kebebasan untuk menentukan pilihan hidupnya, mulai dari gaya berpakaian -asalkan tetap sopan-, hingga pemilihan jurusan.

segalanya tercurah kepadanya. meskipun sekali pun orang tuanya gak pernah pilih kasih terhadapnya dan dua saudaranya. orang tuanya gak pernah menuntut apa-apa kepadanya. mereka gak pernah menyuruh anaknya untuk bekerja membantu mencari nafkah, bahkan menyuruh memikirkannya pun tidak.

hanya dua hal yang diminta orang tuanya. pertama, dia diminta untuk menjadi anak yang penurut dan bukan yang durhaka. kedua, sekolah sing bener. bagaimana pun, pendidikan itu penting. orang tuanya hanya meminta dua hal tersebut, tapi perempuan itu seolah berat sekali mewujudkannya.

dia sering mengecewakan kedua orang tuanya. sering membantah, membangkang, dan gak mau mendengarkan ketika dinasehati. kalaupun didengar, segera aja nasehat tersebut terbang disapu angin. dia sering mengulangi kesalahannya. dia sering melakukan hal yang sama yang membuat orang tuanya bersedih. dia sering -baik sengaja atau gak- menyakiti hati orang tuanya.

dia juga sering mengeluh dengan tugas kuliahnya yang semakin hari terasa semain berat. mengeluh dengan dosen-dosen di kampusnya yang menyeramkan seperti macan dan siap menerkamnya kapanpun juga. dia selalu aja gak pernah bersyukur atas apa yang diterimanya.

aku mengamati bayangan itu lekat-lekat. kuperhatikan dengan seksama bayangan siapa yang kulihat itu. kudekatkan diriku ke cermin, lalu kutempelkan tanganku pada cermin yang dingin dan bisu itu. ternyata bayangan itu juga melakukan hal yang sama. kini aku tau bayangan siapa itu.

itu bayanganku. perempuan itu aku.

glek. aku langsung membisu. sebegitu kurang bersyukur kah aku? tanyaku pada diriku sendiri. dan jawabnya iya. hanya karena dosen galak, aku terkadang takut berangkat kuliah. hanya karena dosennya gak pernah ngecek presensi, aku sering kepikiran buat titip absen (TA). hanya karena ngerasa capek bikin RPP dan segala macem, aku sering ngedumel dalam hati, ngersulo. dan masih banyak lagi lainnya.

ya Allaaaahhh…… ampuni aku. padahal banyak banget di luar sana yang pengen sekolah, pengen kuliah. sementara aku yang udah berhasil mendapatkan satu kursi untuk menuntut ilmu di tempat ini, eh malah punya pikiran buat sesekali bolos kuliah. gimana bisa orang tuaku bangga sama aku kalau kelakuanku kayak gini? gimana bisa aku nyenengin mereka kalau aku gak pernah dengerin apa kata mereka?

ya Allah, terima kasih telah Kau buka mata hati ini. terima kasih atas kesempatan yang Kau beri. terima kasih atas karunia-Mu yang gak mampu kutuliskan dengan ribuan pena. aku akan lebih bersemangat lagi dan berusaha berbenah demi kebaikanku juga. akan kuusahakan untuk selalu berbakti kepada orang tuaku. bukankah ridho-Mu ada pada ridho ayah dan ibu?

berilah aku kelancaran dalam menjalankan segalanya ya Allah. dan semoga aku termasuk hamba-Mu yang selalu bersyukur dan Kau berkahi. amin🙂

AYO SEMANGAT!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s