KA Penataran Mlg-Sby (10.00), 1 Juni 2011

siang itu terik. malang yang katanya kota dingin ternyata gak jauh beda sama sidoarjo, kota kecilku. kala itu rabu, keretaku telat setengah jam dari yang dijadwalkan. gerbong yang sempit namun ditumpangi oleh buanyaaaakkkk orang makin membuat hawa menjadi panas. hal pertama yang kulakukan begitu duduk adalah mengeluarkan senjataku yang ampuh untuk mengusir gerah –> kipas sapi-ku. para penjual lalu lalang, menjajakan dagangan mereka, termasuk penjual kipas.

setelah beberapa lama, lelaki di depanku bertanya kepadaku pertanyaan yang sedari tadi ingin kutanyakan padanya untuk memecah sepi. tapi aku malu dan hanya mampu membuang pandangan ke luar jendela, sama seperti ia mulanya.

“turun mana, mbak?” dia bertanya. hening pun pecah.

“tanggulangin, mas. lha kamu?” jawabku seraya melempar senyum.

“semut. hehe” jawabnya sambil tersenyum balik.

“wah, masih jauh ya. terakhir sih”

beberapa pertanyaan mulai terlontar. percakapan pun mengalir. sesekali kami sama2 diam dan membuang pandang, atau makan jajanan yang rata-rata dijual seribuan. ternyata dia kerja di danau toba, dekat tempatku. dulunya ia SPG matahari, namun pindah jadi dealer ketika kontraknya habis.

“enak ya mas udah kerja. udah punya penghasilan sendiri. enak mana sih mas jadi SPG sama kerjaanmu sekarang?”

“enak sekarang. kalo dulu, ada target harus segini segitu. kalo sekarang, lebih nyantai kerjanya. ceperane juga lumayan, malah lebih gede dibanding gajinya. bisa jual lima motor aja aku bisa nganggur sebulan. uangnya udah cukup buat beli bensin dan makan. enak aja yang sekarang, kerjanya bisa sambil jalan2”

“dulu SMA mana? emang niat abis lulus langsung kerja?”

“SMK 6 Malang, deketnya velodrom. ya gak niat sih. dulu aku nganggur hampir setahun. lama2 kok bosen, akhirnya iseng2 ngirim lamaran. eh diterima. sempet sih pengen kuliah. tapi setelah tau rasanya kerja dan dapet gaji, udah ga ada lagi pikiran buat kuliah. wes males mikir

“ealah, ngglibet ae nang sawojajar. rejekimu nang kono wes. hmm iyo seh mas. kuliah kan ujung2nya buat nyari kerja. lha kamu wes dapet kerja, wes dapet gaji. makane udah ga mikirin kuliah lagi. lha kamu ngapain ke surabaya?”

“nang ampel. ben jumat legi aku kesana. iki tadi aku mek absen tok trus tak tinggal budal”

“lha kok enak sampean kerja bondo absen tok trus nyengkre. haisshh… udah lama ziarah2 gitu? aku seee pernah ke ampel, tp ya sekali dua kali. lekku yang rajin ziarah”

“baru2 aja, sejak aku kerja di dealer. kalau dulu di matahari aku gak pake gini2an. gajiku yawes tetep. cuma sekarang kalau gak tak imbangi sama yang kayak gini, bisa2 gimana yaaa… kerjaanku itu lhoo… wes gitu itu wes”

lha intinya kan doa, mas. mohon sama Allah. di rumah kan juga bisa. ngapain mesti rajin ke kuburan sunan?

ya tapi kalo disana doanya lebih khusyu’ aja. yawes gitu itu wes. biar kerjaanku lancar

satu poin yang aku tangkap. si mas beda jalur sama aku. kalau menurutku berdoa adalah memohon kepada Allah. dimanapun bisa dan boleh. ngapain mesti ke kuburan wali? kalau untuk mendoakan silakan. tapi kalau untuk memohon agar dilancarkan pekerjaan, bukannya itu namanya mengkultuskan? sekalipun waliullah, sunan ampel dan sunan2 yang lain tetaplah manusia. semestinya kita memohon segala sesuatunya hanyalah kepada Sang Pencipta, bukan kepada sesama hamba, sekalipun hamba yang mulia.

karena ngantuk, aku menyudahi pembicaraan dan tidur. ketika bangun karena kegerahan, aku tiba di stasiun wonokerto. di sebelahku, tau2 ada sentinel muda yang di nametag-nya tertera A. Budi siapaaa gitu, lupa. sebut saja Budi. banyak ibu2 yang bertanya sampai dimana. entah sekedar ingin tau, sebal karena berhenti lama, atau sekedar ingin berbincang dengan sang sentinel muda. kuperhatikan, Budi termasuk ramah kepada setiap penumpangnya dan bertanggung jawab terhadap pekerjaannya.

“kres ta mas? kok lama berhentinya”, tanyaku.

“iya mungkin, mbak. tunggu aja. paling ntar lagi berangkat. mbaknya turun mana? tadi naik dari mana?”, tanyanya sopan sambil tersenyum manis.

“tanggulangin, naik dari malang”, jawabku. lalu ia bertanya pada mas2 dealer dan ibu2 di sebelahnya.

“loalah kok beda2 tujuannya. mbak’e dari malang ke tanggulangin, mas’e dari kota lama ke semut, ibuk’e ke sidoarjo. tak kira mbak’e sama mas’e pasangan. ternyata bukan, naik sama turunnya aja beda.”

“pasangan kereta. hehe”, kata si ibuk2 nyahut lalu merem sambil sesekali ketawa denger obrolanku.

“mbaknya di malang kuliah?”

aku mengangguk. dia pun bertanya kuliah dimana, ambil apa, tinggal sama siapa, dan sebagainya. aku pun menjawab seadanya. ketika aku balik bertanya, ternyata dia lulusan 2011. usianya 19, sedangkan aku 18. masih tuaan dia. namun aku sedikit ragu melihat tubuhnya yang tinggi dan pembawaannya yang ramah dan terkesan dewasa. lebih mirip mas2 usia 22an. mas2 dealer aja usianya 20, badannya lebih kecil dan face-nya lebih kekanakan.

“yang bener ah umurnya 19? iyooo, 19 tambah 3 tahun. masa ya lulusan 2011 udah bisa langsung kerja disini?”

“lho beneran, mbak. duh mana yoo identitasku?? kalo ada tak lihatin kamu ben kamu percaya. wong ancene Allah iku ngasih jalan dewe2 mbak ke setiap orang. yo mungkin udah jalanku mbak, baru lulus tapi langsung kerja hehe”

“yo tapi kamu jalan tol, mas. wong lulusan sek kaet wingi tapi udah bisa kerja di KA. rejekiiii”

“jalane KA aja mbak. enak, dalane dewe. hehe”, candanya. “lha kamu kenapa gak kuliah di surabaya aja mbak? jauh amat di malang. kuliah kok adoh2”

“mbalek maneh mas. setiap orang punya jalan dewe2”, ujarku menirukan ucapannya. dia, mas2 dealer, dan ibu2 yang udah merem, ketawa denger jawabanku.

“kos disana berapa mbak? mahal gak?”

200, lengkap sama air sama listrik”

“wuih, gak mahal ta mbak? ya iyalah mbak lengkap sama air sama listrik”

gak melok mbayar kok aku mas. yang bayar orang tuaku. lagian ya setara wes sama fasilitasnya”

ngeneee… ngenee iki enak’e jadi anak kuliahan. sembarang2e orang tua“, katanya. GLEK! aku sempet cegek. “coba kamu udah kerja, kamu pasti ngerasain yak apa susah’e nyari uang. makanya kalau punya uang, pasti mikir2 dulu mau buat apa yang sekiranya perlu

GLEK! lagi2 aku tertegun. opo2an sentinel siji iki. ket maeng nyegek’i aku terus penggaweane. isin2 dewe aku. rasanya kayak jadi anak yang gak tau terima kasih aja sama orang tua. udah dikuliahin, dikasih uang saku, eh malah seringnya uang itu bukannya ditabung malah dibikin seneng2 buat beli baju dsb. ya Allaaahh….

“mbak, pernah ke madiun?”, tanyanya dan kujawab dengan gelengan. “oalah. tak kira pernah. aku asli sana soalnya”, tambahnya.

“aku lho kesana mau nemui siapa? gak punya siapa2 disana, gak ada yang dituju. temenku adanya di nganjuk, ngawi. madiun gak punya”

lho sekarang kan udah punya temen madiun. AKU“, katanya sambil senyum. lalu ia melanjutkan, “ntar disana beli bumbu pecel trus pulang. pecel madiun terkenal lho mbak”

“ealah. bumbu pecel aja jauh2 ke madiun. ngulek dewe po’o”

“yo gak papa mbak. kan rasanya beda. kalo di madiun itu pecelnya pedes. pasti kalau di sidoarjo pecelnya manis ya. soalnya…”

“iya, aku emang suka manis”, jawabku kemplo.

“ah, eh… ah, eh… ohh iya suka yang manis ya”

percakapan terus berlangsung. mulai dari membahas perbedaan logat dan bahasa antara kulonan dan suroboyoan, lumpur lapindo, apa yang menarik dari desaku, liburan semesterku yang lamaaaa banget, kesehariannya, dan banyak lainnya. sampai  akhirnya aku harus turun. stasiunku udah di depan mata. Budi udah berdiri dan teriak, “Tanggulll…. yang tangguuulll”. aku pun berdiri, hendak mendekat ke pintu keluar sambil menunggu keretaku berhenti. sebelumnya aku pamit kepada si ibu dan si mas2 dealer.

“kamu lho tinggi banget ya!” katanya, lupa kalau dia jauh lebih tinggi.

“yo tinggian kamu tala, mas. kamu malah koyok cagak’e listrik”, jawabku. orang2 yang berdiri di sekeliling ikut tertawa ringan.

“tapi buat ukuran cewek, kamu tinggi. oh iya, kapan balik ke malang? kapan naik kereta lagi?”

“paling ya pertengahan agustus, mas. abis liburan. aku biasanya dari malang naik kereta jam 3 hari kamis. baliknya naik kereta minggu sore jam 5 dari tanggulangin”

“wah, keretaku dong yaaa!” ujarnya antusias. “eh tapi keretaku jam 7 ding. gak berhenti di tanggulangin. berhentinya di porong”

“wih maleme. aku gak pernah naik yang malem. gendeng ae. yawes mas, aku tak turun dulu :)”

“ati2 lho mbaaaaakkk” katanya.

aku melihat adekku udah standby jemput aku. sementara itu, ketika aku berbalik punggung, kulihat si Budi berdiri di pinggir pintu menyaksikan aku yang sedang bercengkerama dengan adekku. dia tersenyum padaku di balik seragam biru dongkernya. kereta berlalu, dia pergi. aku pun pergi meninggalkan stasiun menuju kediamanku.

hari itu aku mendapat banyak pelajaran dari orang2 yang kutemui di kereta, seperti biasanya. itulah salah satu alasanku mengapa aku lebih memilih kereta dibanding bus. selain  lebih ekonomis, di kereta aku menjumpai banyak orang dengan berbagai karakter. dan banyak pelajaran yang dapat kupetik dari orang2 yang kujumpai di kereta. kali ini tentang rasa syukur, pentingnya memohon kepada Sang Pencipta, juga menghargai setiap jerih payah. makasih semuanya🙂

#jika diizinkan, semoga bertemu lagi🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s