WANITA: DARI RAHIMNYA TERLAHIR GENERASI PENERUS BANGSA

Aku ingat sewaktu kecil aku pernah eyel-eyelan sama temenku yang laki-laki, berebut predikat ‘lebih hebat’. Aku lupa gimana detailnya dan siapa aja yang jadi tokohnya. Yang kuingat adalah dialog kala itu.

“Heh kon ojok ngenyek arek wedok yo! Arek wedok iku luwih hebat yo timbang arek lanang. Awas ae atek kon wani ngenyek maneh”, ujarku.

“Awas-awas bojomu lawas a. Halah arek wedok isok opo seehh…. Paling-paling mek isok nangis gulung2, mberok kayal2. Nek lanang lak kuat”

“Tapi nek hebatan lanang, opo’o kok onok’e IBU JARI, duduk bapak jari? Opo’o kok onok’e IBU PERTIWI, duduk bapak pertiwi? Onok IBUKOTA, tapi gak onok bapakkota. Onok HARI IBU, tapi gak onok hari bapak. Surgo yo nang ndisore telapak sikile IBU, duduk telapak’ane bapak. Iku tandane sek hebatan wedok timbang lanang”, bantahku kala itu.

Oke, dialogku jaman kecil dulu emang terkesan egois banget. Saking egosinya, aku sampai gak mau kalah dan gak mau dibilang lemah. Tapi kalau dipikir-pikir lagi, salah gak sih kata-kataku kala itu? Nyatanya emang bener kan kalau ada ibukota, ibu jari, ibu pertiwi, dan sebagainya. Semuanya menggunakan kata IBU dan bukan bapak. Seperti yang kita ketahui, ibu adalah sesosok wanita dan bukan pria.

Pernahkah kita bertanya ‘mengapa harus wanita’?

Karena wanita adalah tiang negara. Jika wanitanya rusak, maka rusak pula negara tersebut. Wanita ialah calon ibu yang akan melahirkan generasi penerus bangsa. Dari rahim wanita akan terlahir generasi masa depan yang entah akan mengokohkan atau malah merobohkan pondasi yang telah dibangun para pendahulunya.

Bagaimanapun juga, wanita sebagai calon ibu tentunya adalah orang yang paling dekat dengan anaknya. Dia yang mengandung jabang bayi di perutnya selama berbulan-bulan lamanya. Dia yang merasakan betapa setiap hari sang anak tumbuh dan berkembang dalam rahimnya. Dia yang melahirkan sang anak dengan taruhan nyawa. Dan dia juga lah yang membesarkan anak tersebut hingga sang buah hati tumbuh dewasa.

Jika seorang bapak bejat kelaukannya namun sang ibu sholeha, insya Allah sang anak akan jadi anak yang sholeh. Namun jika yang bejat kelakuannya dan buruk akhlaknya adalah sang ibu, maka bejat pula anaknya.

Dalam keluarga, anak akan mengimitasi tindakan orang-orang yang dianggapnya lebih dewasa dan ia akan menjadikannya teladan. Pada umumnya, ibu adalah sosok yang lebih banyak meluangkan waktu dengan sang anak sedangkan bapak pergi bekerja. Ibu lah yang mendidik anak tersebut, mengajarkan kepada sang anak akan banyak hal, dan membantu sang anak mencapai tingkat perkembangan yang maksimal

Ibarat buah yang jatuh gak jauh dari pohonnya, maka hubungan anak dan orang tua juga demikian. Jika buah jatuh dipengaruhi oleh gaya gravitasi bumi –dimana benda selalu menuju pusat bumi-, maka simbiosis antara anak dan orang tuanya –terlebih ibu- dipengaruhi oleh teladan dan pikiran.

Teladan yang buruk akan menimbulkan hal baru yang buruk juga jika contoh tersebut begitu saja diterima tanpa dipikirkan dan disaring terlebih dahulu. Manusia dikaruniai oleh Allah akal untuk berpikir, bukan sekedar untuk pelengkap ragawi kita.

Oleh karena itu, kita para wanita sebagai calon ibu udah seharusnya menjaga perilaku kita, senantiasa meningkatkan keimanan kita, dan juga selalu berserah diri kepada-Nya. Udah sebagaimana mestinya jika kodrat kita sebagai wanita untuk bersikap lemah lembut, penyayang, ramah, dan penuh kesabaran.

Biarkan zaman berubah sesuai masanya. Namun kita sebagai wanita –dan tentunya calon ibu- harus tetap pada kodrat kita. Kita yang nantinya akan mengandung, melahirkan, dan membesarkan generasi penerus bangsa. Jika kita gak bisa menjaga diri, bertingkah sopan, serta bertutur kata yang santun, maka mau jadi apa anak-anak kita nanti? Bukankah seseorang gak akan bisa mengajarkan apapun kecuali apa-apa yang ada pada dirinya?

Sampai sejauh ini, bukan gender yang menjadi permasalahan utama. Bukan siapa yang lebih hebat dari siapa. Bukan juga masalah surge ada di telapak kaki siapa. Melainkan seberapa hebatnya diri kita masing-masing mengontrol setiap tindak tanduk kita guna menjadi pribadi yang lebih baik –meski gak sempurna- dan menjadi teladan yang patut bagi anak cucu kita nantinya.

Semoga kita senantiasa berada dalam lindungan-Nya. Amin🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s