DEMI BUAH HATIKU :’)

namaku Nur. usiaku lebih dari setengah abad. aku punya 3 orang anak, 1 di antaranya laki-laki. sampai setua ini, kehidupanku masih sama, tetap ada di kelas ekonomi bawah. kadang aku ingin jadi orang kaya dimana segala sesuatu kupunya, harta juga melimpah.

aku tak ingin foya2. tapi aku ingin kaya karena aku ingin membahagiakan anak-anakku. uang memang bukan segalanya, tapi segalanya butuh uang. aku hanya ibu rumah tangga biasa, sedangkan suamiku adalah wiraswasta yang kerjanya mengepak krupuk dan menyewakan terop untuk hajatan.

dengan uang yang didapat dari hasil mengemas krupuk, sudah bisa kalian bayangkan kalau itu tak cukup untuk memenuhi kebutuhan kami sehari-hari. usaha suamiku yang satu lagi yakni menyewakan terop dan kursi memang lumayan membantu perekonomian keluarga, namun tentu saja tak setiap saat orang2 menyewa. biasanya, usaha penyewaan ini hanya laris sehabis lebaran karena banyak orang yang mengkhitankan atau menikahkan anaknya.

meski hidup miskin, aku tetap bersyukur kepada-Nya. Dia menjodohkan aku dengan pria yang sangat setia dan bertanggung jawab terhadap keluarga. pekerjaannya memang tak menghasilkan banyak rupiah, tapi ia selalu tekun bekerja demi istri dan anaknya. suamiku juga termasuk orang yang taat beribadah. ia imam yang baik bagiku dan anak2ku.

ketiga anakku tumbuh dewasa. meskipun dengan susah payah, kusekolahkan mereka setinggi mungkin. aku memang hanya lulusan SD. bahkan suamiku lebih parah, SD kelas 2 saja ia tak tamat. meski kami tak berlatar belakang pendidikan yang tinggi, tapi aku dan suamiku ingin menyekolahkan anak2ku hingga sarjana. waktu berlalu, anak perempuanku yang pertama dan anak laki2ku sudah bekerja meski penghasilannya tak seberapa. sedangkan yang bungsu belum bekerja seperti saudara2nya.

suatu ketika, anakku yang paling bungsu meminta untuk bekerja selepas SMA. ia tak mau kuliah karena menyadari kondisi ekonomi keluarga. sungguh aku trenyuh melihat niatnya. tapi tanyakan pada seluruh dunia, mana ada orang tua yang tak ingin menyekolahkan anaknya sampai setinggi-tingginya, biar pinter dan biar punya masa depan yang lebih cerah. aku tak mau anak2ku nantinya akan sama miskinnya denganku. terlebih, aku tak mau anak2ku nantinya akan sama bodohnya dengan aku. aku ingin mereka semua sekolah yang tinggi dan mendapatkan pekerjaan yang layak sehingga bisa meningkatkan taraf hidup mereka, agar tak terus menerus ada di strata sudra.

“bapak bisa aja mencarikanmu kerja, nak. kamu bisa kerja di pakdemu, jadi penjaga toko. bisa juga ke pabrik sepatu tempat teman bapak kerja. tapi kalau kamu cuma modal ijazah SMA, kerjamu paling mentok ya cuma jadi kuli, nak. bapak gak mau lihat kamu susah, kerja capek2 diperintah orang, tapi gajinya gak seberapa. makanya, kamu harus tetep kuliah. gimanapun caranya!” kata suamiku kepada anakku yang bungsu kala itu.

“uang dari mana, pak? pipit gak mau ngrepotin bapak sama ibu. pipit pengen bantu bapak sama ibu. makanya izinin pipit kerja ya! pipit gak peduli mau kerja apa, mau kuli kek, apa lah, terserah. yang penting pipit digaji dan bisa bantu ekonomi keluarga. boleh ya!” rengek Pipit, anakku.

mendengar kata2nya yang tulus, aku tak kuasa menahan air mata. aku merasa sedih sekali mendengar ketulusan anakku yang rela bekerja, sementara aku berkewajiban menyekolahkannya. ibu macam apa aku ini yang tega membiarkan anak2ku turut merana hanya karena aku tak punya sekarung rupiah. akhirnya, kululuskan permintaannya untuk bekerja. aku tak rela ia bekerja, yang kuinginkan adalah ia melanjutkan pendidikannya. meskipun aku tak punya uang, tapi tetap aku bersikeras menyekolahkannya.

orang dihargai bisa karena hartanya, kecantikannya, jabatannya, kelakuannya, atau ilmunya. bahkan di Alquran disebutkan jika derajat orang yang berilmu leih tinggi dari pada yang tidak. makanya aku bersikeras menolak ia bekerja. namun mau gimana lagi, ia terus saja memaksa.

baru beberapa hari bekerja, ia bercerita kepadaku sambil menangis. ia bilang ia sudah tak sanggup lutuntagi bekerja. ia dit untuk bisa menjahit dengan cepat dan rapi, sedangkan ia sama sekali tak ahli. ia selalu dibentak dan dikasari. yah, memang begitulah nasip buruh. aku tak memarahinya, malah kubesarkan hatinya. tetap kuminta ia untuk kuliah. meskipun ragu mengingat aku tak punya cukup uang untuk membiayainya, akhirnya ia bersedia.

“bu, pak, apa gak merepotkan kalau Pipit kuliah?” tanyanya.

“pertanyaanmu tadi sama dengan ketika kamu bertanya apakah merepotkan atau tidak kami membesarkanmu. jawabannya adalah tidak, nak. semua ini sudah jadi kewajiban orang tua kepada anaknya. salah satunya adalah dengan memberi pendidikan yang layak”

“lalu untuk biaya kuliah, uangnya dari mana?”

“kamu gak perlu mikirin biaya. itu urusan ibu sama bapak. tugasmu cuma kuliah, kuliah, dan kuliah. kamu harus jaga kepercayaan bapak sama ibu. kambu harus bisa bikin kami bangga. masalah uang, biar kami yang pikirin. kamu cuma harus belajar biar pinter, biar kehidupanmu bisa enak dan gak berakhir seperti kami berdua. kamu pasti bisa jadi orang sukses, nak,” kata suamiku.

seketika itu juga tangis haru pecah membelah ruang keluarga. beberapa waktu kemudian, Pipit berkemas untuk menjadi anak kosan. kebetulan kuliahnya di Pulau Garam sana. meskipun harus menyebrang laut, tapi semuanya ikhlas dijalani demi menuntut ilmu. disana masih sepi, tak seperti disini. ah, untuk apa aku bicara begini. toh disini, sekalipun ramai dan segalanya ada, aku tetap saja tak bisa memenuhi semua kebutuhan anak2ku dan mengabulkan semua keinginan mereka.

ternyata keputusanku dan suamiku untuk menguliahkan Pipit sama sekali tak mudah. berulang kali aku harus hutang ke tetanggaku yang baik hati demi menambal kebutuhan dana kuliah anakku. dua bulan sebelum membayar SPP, pipit selalu mengabariku. dan aku akan menjawab, “iya, uangnya ada kok” dengan senyum mengembang. padahal dibalik itu semua, hatiku miris. aku bahkan sama sekali tak memegang uang. jangankan untuk biaya kuliahnya, untuk makan aja susah.

tapi ibu mana yang tak ingin melihat anaknya bahagia. aku terus saja membesarkan hatinya. aku tak ingin semangat belajarnya menurun. mati2an aku dan suamiku mengumpulkan pundi2 rupiah, bagaimanapun caranya. kami hutang sana-sini untuk melunasi biaya kuliah Pipit. aku turut membantu suamiku dengan berjualan dedak untuk pakan ayam. aku dan suamiku rela berusaha lebih keras untuk mendapat uang dan melunasi hutang. kadang aku stres memikirkan hutang yang terus saja menumpuk dan hanya sedikit yang mampu kubayar.

untungnya, tetanggaku itu baik sekali hatinya. mereka tak buru2 menagih hutangku padanya. mereka mengerti kondisi keluargaku. malah, mereka sering memberiku sesuatu seperti daster, kue, atau beberapa puluh ribu uang. dan sebagai rasa terima kasihku, kubalas kebaikan mereka dengan memberi kerupuk. sungguh, hanya itu yang kupunya. meski begitu, aku tetap pada kewajibanku untuk membayar hutang2ku. begitu hutang lunas, aku hutang lagi. lunas lai, hutang lagi. terus saja seperti itu. mau bagaimana lagi, kebutuhan bertambah banyak sedangkan penghasilan tak beranjak lebih besar.

suatu hari, aku berkunjung ke kosan Pipit. sungguh miris hatiku. aku langsung menangis seketika itu juga. bayangkan, jauh2 kuliah di pulau seberang, anakku hanya makan sayur asam dan tempe godok. itupun porsinya tak banyak. yang makin membuat hatiku miris, ia sengaja menghemat pengeluarannya agar tak memberatkanku dan ayahnya. ya Allah…. aku hanya bisa menangis melihat semua kondisi yang memprihatinkan ini.

anakku rela makan seadanya untuk menghemat uang sakunya. ia juga tak berganti sepatu sebelum sepatunya benar2 tak layak pakai. baju2 dan celananya pun tak banyak. semuanya karena ketidakmampuanku untuk membelikannya yang baru. sungguh, hati orang tua mana yang tidak miris melihat anaknya demikian. Pipit berkata bahwa ia tak apa2, ia senang meski harus hidup susah. yah, mungkin karena ia sudah terbiasa hidup susah sejak kecil. tapi tetap saja aku kasihan melihatnya.

semua orang tua di dunia ini pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya. para orang tua pasti ingin anaknya berkehidupan yang lebih baik darinya, punya masa depan yang lebih cerah. kadangkala orang tua yang berfrofesi jadi dokter, ingin anaknya jadi dokter juga. kalau ia profesor, ingin anaknya jadi profesor juga. demikian juga jadi insinyur, guru, atau pengusaha. tapi aku yang cuma ibu rumah tangga, sama sekali tak ingin anakku berakhir jadi ibu rumah tangga. meski perempuan, aku ingin ia punya penghasilan.

setelah bertahun2, akhirnya selesai juga kuliahnya. anakku pun sudah bekerja dan memiliki gaji sendiri. ia sudah bisa membeli baju lebaran atau sepatu baru. untuk jajan, ia sudah tak minta lagi padaku. hatiku tentram ketika anak2ku sudah berpenghasilan sendiri. setidaknya mereka mampu mencukupi kebutuhannya sendiri kala aku tak bisa memenuhinya.

ternyata hidup memang penuh cobaan. setelah aku bisa sedikit bernafas lega karena hutang2ku lunas dan anak2ku sudah bekerja, aku diserang penyakit dan harus operasi. dulu, aku sempat operasi payudara karena mengidap kanker. operasi itu membuat payudaraku tinggal sebelah karena yang satunya harus dihilangkan dalam rangka mengangkat kanker tersebut sampai akarnya. aku sempat malu sebagai wanita karena hanya mempunyai satu buah dada. tapi aku sangat bersyukur karena suamiku menerimaku apa adanya. bahkan ia tetap setia bersamaku.

sudah sembuh dari kanker, kini kelenjar gondokku membesar. jika tak segera ditangani, maka akan makin membesar dan berbahaya. lagi2 aku harus operasi. jujur, aku trauma. aku sudah pernah merasakan operasi, dimana bagian2 tubuh dibelah dan dikeluarkan penyakitnya. mungkin ketika dioperasi, aku dibius dan tak ingat apa2. tapi aku masih ingat dengan betul bagaimana suasana ruang operasi lengkap dengan peralatan2 dokter yang menyeramkan, siap untuk dihujamkan ke tubuhku. makanya ketika kali ini aku harus operasi untuk yang kedua kali, aku sedikit trauma.

di saat seperti ini, anak2ku menguatkan aku. mereka mengatakan bahwa aku pasti bisa melewati semuanya. sementara suamiku mencari pinjaman sana-sini untuk biayaku operasi, aku sibuk membayangkan bagaimana keadaanku pasca operasi. apakah aku pulang dengan selamat, ataukah malah ambulans akan mengantarkan jenazahku. sungguh, berbagai pikiran buruk kembali menghantuiku. tapi sebagai orang yang beriman, aku hanya pasrah kepada Tuhanku. kuserahkan semua padanya.

setelah operasi, alhamdulillah aku masih bernafas. aku masih hidup. namun aku tak boleh terlalu banyak bergerak dan melakukan sesuatu. tubuhku masih lemah. bahkan beberapa selang masing menghiasi tubuhku. aku pun kesulitan untuk membersihkan badan seperti biasanya. bagian leherku tak boleh terkena air, begitu kata dokter.

tanpa kuminta dan kuperintah, anak2 perempuanku membantuku mandi. mereka menyeka bagian2 tubuhku dengan air, membersihkannya, dan membuatku segar kembali meski bagian leher tak boleh terkena air. mereka juga tak jijik ketika membantuku buang air kecil dan membersihkan bekas kencingku. padahal tak sekali dua kali, namun berkali2 -yang mungkin disebabkan efek obat-. sementara itu, anak laki2ku tetap menjagaku meski tak turut membantuku mandi.

dalam keadaan sakit, aku tetap menjalankan kewajibanku untuk sholat. Tuhanku tak pernah melupakan aku, maka aku pun tak boleh melupakan-Nya. Ia tak pernah meninggalkan aku, maka aku pun tak boleh meninggalkan-Nya. aku tetaplah manusia biasa, hamba yang lemah tanpa pertolongan-Nya. maka aku selalu bersujud memohon kepada-Nya. meski terkadang aku harus sholat sambil berbaring, hatiku selalu bersujud kepada-Nya.

ya Allah….. terima kasih telah Kau berikan aku kesembuhan. terima kasih pula telah Kau anugerahkan kepadaku keluarga yang sangat peduli padaku. meskipun hidup dalam materi yang kurang, namun aku bahagia memiliki suami yang setia dan anak2 yang berbakti pada orang tua. aku memang tak punya harta melimpah. tapi aku punya keluarga yang merawatku dengan sabar ketika aku sakit. aku memiliki suami dan anak2 yang begitu pengertian dan besar perhatiannya. dan semua ini karena kuasa-Mu ya Allah.

kebahagiaan orang tua memang melihat anaknya sukses dan hidup damai sejahtera. namun sesungguhnya kebahagiaan terbesar setiap orang tua ialah memiliki anak2 yang sholeh dan sholeha, yang senantiasa berbakti kepadanya🙂

sidoarjo, 18 juli 2011

2:24 PM

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s