(CALON) AYAH BAGI ANAK-ANAKKU

Aku memang tak punya pacar. Tapi aku punya jodoh. Dialah yang akan menjadi ayah dari anak-anakku nantinya. Sayangnya, dia masih belum menemukanku. Dia masih berada di masa depan dan sedang berusaha mencari tulang rusuknya yang hilang, yakni aku. Suatu hari nanti, kita akan dipertemukan oleh-Nya di waktu yang telah Dia tentukan. Entah esok, lusa, setahun lagi, atau lima tahun lagi. Aku percaya orang itu akan datang.

 

 

Sembari menunggu kedatangannya, yang perlu kulakukan adalah mempersiapkan diriku dalam segala hal. Yang utama adalah menjadikan diriku soleha agar kelak dapat menjadi pendamping hidup yang baik baginya. Agar aku dapat menjadi istri yang baik baginya, ibu yang baik bagi anak-anaknya, dan menantu yang baik bagi orang tuanya.

 

 

Ketika aku dipertemukan dengannya nanti, aku berharap bahwa dialah satu-satunya yang akan menemaniku hingga tutup usiaku. Demikian juga sebaliknya, aku pun berharap bahwa akulah satu-satunya yang akan menjadi permaisuri hatinya hingga ajal menjemput kelak. Aku berharap bahwa dialah yang menjabat tangan Abahku, mengucap ijab qabul untuk meminangku, dan senantiasa menjaga janjinya untuk menjagaku sebagai belahan jiwanya.

 

 

Jika tiba masanya aku akan membangun sebuah rumah tangga bersamanya, aku ingin menjadi istri yang hormat dan patuh kepadanya. Apapun alasannya, laki-laki adalah imam keluarga. Dan aku sebagai makmum, dengan keikhlasan hati haruslah menurut apa kata suamiku. Bagaimanapun kondisinya, aku ingin senantiasa berada di sampingnya. Susah senang aku ingin selalu bersamanya. Aku tak ingin ada di sampingnya ketika ia tertawa dan meninggalkannya ketika ia menangis. Karena aku pun ingin dia tetap di sisiku baik ketika aku gembira maupun ketika aku terluka.

 

 

Aku ingin memiliki anak dari benihnya. Anak-anak yang kukandung di rahimku selama 9 bulan dan nantinya kulahirkan serta kubesarkan ia dengan penuh perjuangan. Bersama (calon) suamiku nanti, aku ingin mendidik buah hatiku dengan penuh cinta, kasih, sayang, serta kelembutan seperti orang tua kami mendidik kami sampai hari ini.

 

 

Sama sekali tak kuketahui siapa yang kelak akan menjadi jodohku. Aku tak tahu siapa yang akan menyandang predikat sebagai suamiku. Namun satu hal yang selalu kupanjatkan dalam setiap doaku: semoga ia adalah seorang laki-laki yang soleh, yang dapat menjadi imam yang baik bagiku dan menuntunku untuk senantiasa berada di jalan Allah.

 

 

Aku tak berdoa agar suamiku kelak adalah seorang yang kaya raya. Bagiku uang dapat dicari bersama-sama. Kekayaan bukanlah syarat mutlak dalam berumah tangga. Yang terpenting ialah ia mau berusaha dan bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan keluarga karena memang tugasnya ialah mencari nafkah dan menghidupi istri serta anaknya.

 

 

Meskipun aku sedikit berharap kelak suamiku adalah seseorang yang bagus paras wajahnya, namun aku tak menjadikan ketampanan sebagai hal pertama yang kusebut dalam doa di tiap sujudku. Menurutku, ketampanan rupa hanyalah bersifat sementara. Seseorang akan tampak sangat rupawan hanya ketika ia masih muda. Namun setampan dan secantik apapun manusia, semakin hari ia akan menua. Kulitnya pun akan keriput dimakan usia. Giginya juga akan tanggal satu persatu dan jalannya juga jadi membungkuk dan melambat.

 

 

Namun bersama seseorang yang soleh, maka aku akan merasa damai. Setiap hari aku akan sholat berjamaah dengannya, berbenah diri agar semakin baik di hadapan Sang Pencipta, mendidik buah hati dengan kesabaran dan cinta kasih, serta menjalani hidup yang luar biasa namun dengan sikap yang tetap sederhana dan apa adanya. Demikianlah harapanku bersama seorang makhluk Adam yang telah tertulis di lauhul mahfudz-ku.

 

 

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

 

 

Matahari muncul pagi hari

Tenggelam perlahan ketika senja

Dan bersembunyi saat langit pekat

Biar saja, tak usah peduli.

 

Bahkan ketika ia terus bersinar

Atau sama sekali tak muncul

Aku akan tetap disini

Menunggumu hadir di hidupku

Lalu meminangku dengan mahar

Yang telah disepakati.

 

Aku akan menjaga diriku

Hingga suatu saat nanti kamu datang

Dan mengatakan dengan penuh kesungguhan

Padaku, pada keluargaku, dan pada semua orang

Bahwa kamu bersedia menjagaku

Semampumu, hingga tutup usiamu

 

Maka percayalah…

Sama seperti kamu percaya

Bahwa sekalipun diturunkan ke dunia

Adam dan Hawa tetap selalu bersama

 

 

 

 

[ PhieRda ]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s