Tuhan, bisakah selamanya seperti ini?

suatu ketika, sempat terbersit di pikiranku untuk menghentikan laju waktu. aku ingin statis berada di kondisi seperti sekarang ini. aku disayangi dan dikasihi, meski bukan oleh kekasihku. aku diperlakukan begitu istimewa oleh keluargaku. aku takut jika waktu terus berputar, ia akan merenggut satu persatu kebahagiaanku sekarang. aku takut ia akan memisahkanku dengan keluargaku.

 

 

aku takut suatu hari nanti waktu membuatku kehilangan mereka. aku gak siap untuk hal itu. ada beberapa orang udah kehilangan salah satu anggota keluarganya, dan itu membuatku bersedih. aku gak bisa ngebayangin kalau suatu saat nanti waktu membuatku merasakan hal yang sama.

 

 

aku pengen terus bangun pagi buat nanak nasi dan beres2 rumah. aku gak pengen keduluan sama umik. aku pengen pas anggota keluargaku bangun, semua udah beres. piring2 udah dicuci bersih, nasi udah mateng, rumah juga udah bersih.

 

 

aku pengen terus  bantu umik belanja dan masak buat sarapan, makan siang, dan makan malem. aku juga pengen terus punya waktu buat mbakso bareng umik, jalan2 ke mall, dianter-jemput di stasiun, curhat tentang semuanya, dan banyak hal lainnya. semuanya sama umik.

 

 

aku juga pengen bisa terus nyabuti bulu jenggot dan rambut abahku yang kian hari kian memutih. sambil nyabuti, aku pengen terus denger wejangan-wejangannya yang berguna buat kebaikanku. aku gak pengen kehilangan momen keakraban ini.

 

 

aku pun pengen terus lihat mas sama adekku perang main PS meskipun aku sama sekali gak ngerti gimana cara dan aturan mainnya. aku pengen selalu sama mereka meski tiap hari gak pernah gak ilok-ilokan. aku pengen terus sama mereka, tumbuh dan berbagi bersama.

 

 

bagiku, memiliki sebuah keluarga jauh lebih bernilai dibanding memiliki seseorang yang sekedar mengisi inbox hapeku. keluarga ialah rumah, dan rumah adalah surga. selaku rumah, keluarga tak hanya melindungiku dari terik matahari atau guyuran hujan. makna keluarga lebih dari itu.

 

 

keluarga adalah orang2 yang senantiasa menerimaku apa adanya. mereka banyak memberi tanpa banyak menuntut. mereka selalu percaya padaku bahkan ketika aku tak percaya pada diriku sendiri. mereka selalu menguatkan aku saat aku merasa benar2 rapuh. mereka selalu mendengar apa yang kukatakan ketika orang lain menutup telinganya untukku. mereka selalu melihat dan menghargai apa yang kulakukan meski orang lain memandangku sebelah mata bahkan mengalihkan pandangannya.

 

 

keluargaku tak pernah meninggalkanku. mereka senantiasa ada untukku meski aku sering mengecewakan dan membuat kesal mereka. seberapa besarpun kesalahanku, mereka selalu memaafkan dan memaklumiku. mereka orang pertama yang khawatir ketika aku sakit atau mendapatkan celaka. mereka yang pertama kali tersenyum ketika aku berprestasi atau berbahagia. dan mereka pula lah yang pertama kali terluka dan tersayat hatinya ketika aku menangis. jika aku mengeluarkan air bening dari kelopak mataku ketika bersedih, maka mereka mengeluarkan darah. hati siapa yang tak tersayat jika anggota keluarga yang dikasihinya sedang terluka.

 

 

oleh karena itu, kadang aku takut jika suatu hari nanti aku akan dipisahkan oleh waktu. aku takut kehangatan, keharmonisan, dan kebahagiaan dalam keluarga itu akan sirna. aku takut kehilangan cinta, kasih, sayang, perhatian, kepedulian, dan semua hal yang kudapatkan dari keluargaku. sungguh.

 

 

maka jika mungkin, bisakah selamanya seperti ini, Tuhan?

2 thoughts on “Tuhan, bisakah selamanya seperti ini?

  1. Terharu bacanya :’)
    Tapi kelak mungkin kamu akan merasakan rasa berat yang sama seperti saat ini jika sudah berkeluarga dan memiliki anak-anak yang kamu cintai. Berat, berharap mereka tak akan pernah menjadi dewasa, menikah, dan berpisah darimu🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s