Hikmah Dibalik Panasnya Penataran

bagi sebagian orang, kereta ekonomi sama aja neraka. udah panas, sesak, berisik, pokoknya gak nyaman banget deh. tapi bagiku, kereta ekonomi itu menyenangkan. selain karena murah, kereta ekonomi membuat mataku terbuka akan banyak hal. di dalam kereta yang tiketnya seharga 4000 rupiah ini, banyak dijumpai orang dengan latar belakang kehidupan ekonomi, sosial, dan religius yang berbeda.

 

 

dari orang2 yang kujumpai di kereta itu aku belajar banyak hal. aku selalu mengambil hikmah dalam setiap perjalanan yang kutempuh. salah satunya perjalananku minggu petang itu.

 

 

kebijakan baru PT. KAI tentang nomor tempat duduk membuatku punya nol persen probabilitas buat dapet duduk secara resmi. jelas aja lha wong aku naiknya dari stasiun kecil. sementara yang jual tiket dengan nomor tempat duduk cuma stasiun besar.

 

 

petang itu aku berdiri di dekat kamar mandi. untung gak pas pintunya, jadi gak nyium aroma pesing. aku pasrah harus berdiri 2 jam sampai malang. toh aku juga masih muda, masih sanggup lah kalau disuruh berdiri 2 jam. namun kemudian ada seorang ibu yang menawariku duduk uyel2an berempat di kursi yang seharusnya buat 3 orang. karena kulihat kursinya masih memungkinkan untuk pantatku, aku pun bersedia dan mengucapkan terima kasih.

 

 

ibu2 itu umurnya sekitar 40-an. aku ngobrol sama ibu itu. si ibu tanya2 aku mau kemana, ngapain di malang, dan sebagainya. aku pun menjawab seadanya kalau aku kuliah dan ngekos di malang. di sela2 ngobrol itu, si ibu bilang sesuatu ke aku. perkataannya membuatku tersentuh, benar2 tersentuh.

 

 

“enak yo mbak sampean isok kuliah. cobak biyen bapakku duwe duwit kanggo nyekolahno aku. pasti saiki ora mungkin aku kerjo ngosek’i WC-ne wong, mbak”

 

 

sumpah aku langsung spicles. dari kalimat itu, aku bisa ngerti kalau si ibu adalah seorang pembantu rumah tangga. dalam hati aku bersyukur banget diberi kesempatan buat menuntut ilmu. seketika aku langsung inget abah sama umikku. mereka bilang gini,

 

 

“aku gak njaluk opo2 teko awakmu, nduk. cuma siji, seng nganut ambek wong tuwo. nek nganut ambek wong tuwo iku bakalan enak nduk. saiki awakmu tak kuliahno nang malang. adoh teko wong tuwo iku kudu sing ati2. sembarang2e dijogo. ojo lali ndungo nang Pengeran. tugasmu mek siji, kuliah sing temen. wes tugasmu iku mek sinau. gak usah mikir mbayar lah opo lah, wes gak usah ngreken. iku urusanku. nggolek duwek iku urusane wong tuwo. urusanmu mek kuliah sing nggenah cek gak sia2 aku mbandani awakmu. ojok ndelok sing ndukur, ndelok’o ndisor arang2 cek awakmu ero sing jenenge syukur. gak kabeh arek isok kuliah nduk.makane kuliah iku seng temen”

 

 

ya Allah… makasih banget atas karunia-Mu. meskipun aku gak dilahirkan di keluarga yang kaya raya, setidaknya aku dilahirkan di keluarga yang mampu membiayai hidup dan pendidikanku. setidaknya aku lebih beruntung dari ibu yang memberiku tempat duduk di kereta.

 

 

lalu di kursi yang berseberangan, seorang ibu membeli sebungkus nasi untuk 2 orang anaknya. ibu yang disebelahku berkata begini, “anak’e loro kok tuku segone mek siji yo mbak. lak sakno sijine. kok aku ngono tak tukokno karo mbak. aku kerjo njungkir walik gawe opo maneh nek gak gawe anakku mbak

 

 

aku kembali teringat ucapan abah dan umikku. mereka juga sering berkata demikian. mereka selalu menasehatiku, “wong tuwo kerjo golek duwik iku gawe sopo maneh nek gak gawe anak. kabeh wong tuwo iku kepingin nyekolahno anak’e sampek dukur. kepingin nukokno klambi anak’e sing apik2. kepingin ngene kepingin ngono kabeh gawe anak. sak sayang2e anak nang wong tuwo sek gak nyucuk ambek sayange wong tuwo nang anak. makane ojok wani2 ambek wong tuwo. gak ilok, duso, kualat”

 

 

saat aku menghubung-hubungkan ucapan ibu itu dengan nasihat orangtuaku, ada seorang ibu lagi yang muncul naik dari stasiun bangil. lalu ibu yang memberiku tempat duduk berbincang dengan ibu yang baru naik tadi. obrolan mereka mengalir lancar sampai ke stasiun lawang. karena tau diri, aku hanya mendengarkan tanpa berani masuk ke dalam pembicaraan. menurutku aku udah gak punya kapasitas lagi buat ikut campur.

 

 

dari obrolan mereka, aku bisa menyimpulkan bahwa kedua orang itu adalah seorang TKI yang bekerja di luar negeri selama berthaun2. ya Allah, hatiku semakin tersentuh. aku gak membayangkan gimana jadinya jika aku yang jadi mereka. bertahun2 gak ketemu keluarga, menahan rindu bertemu orang2 tercinta.

 

 

ya Allah, terima kasih atas anugerah yang Kau berikan padaku. sungguh salah besar selama ini aku terlalu banyak mengeluh pada-Mu. banyak orang yang harus menjalani hidup yang keras dan susah. ternyata nasibku masih jauh lebih beruntung dibanding mereka.

 

 

pada akhirnya, aku teringat akan kata2 Farah Quinn idolaku. dia bilang, “Kita tidak bisa memilih untuk dilahirkan di keluarga yang mampu. Syukurilah semua yang kita miliki dan jangan pernah menjaga jarak atau melihat rendah ke teman-teman yang kurang mampu sekarang ini, karena semua harta benda dan kekuasaan yang kita miliki juga dapat hilang dengan sekejap, selalu ingat hidup itu bagai roda yang berputar.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s