UNTAIAN KATA UNTUK ABAH

Sidoarjo, 12 Juli 2011

Untuk:

Abah

 

Salam sayang, Bah.

Menulis surat untukmu mungkin terkesan lucu mengingat kita tinggal dalam satu atap. Tapi ada beberapa hal yang gak bisa kusampaikan langsung padamu, Bah. Lisanku gak bisa bertutur kata secara terus terang dan blak-blakan. Maka kutulis surat ini, sebagai perantara untuk menyampaikan isi hatiku yang belum terungkapkan. Ini surat tentangmu, Bah. Jujur dari dalam hatiku.

 

Dulu sewaktu kecil, kehidupan ekonomi kita belum begitu baik. Aku masih ingat kau dan Umik selalu mengajakku ke pasar untuk membeli baju dan bukan ke departement store. Itu pun gak sering, sesekali aja kalau kau punya rejeki lebih. Kadang-kadang kau ajak aku ke kota, hanya untuk melihat-lihat barang-barang yang dijual disana. Mau membeli, pakai uang dari mana? Alhasil, kau hanya mampu membelikan aku baju di pasar tradisional yang selalu becek ketika hujan. Saat itu, aku dan masku menerima apa adanya karena memang begitulah kondisi ekonomi keluarga kita. Lagi pula aku masih terlalu kecil untuk mengenal sebuah kata ‘gengsi’. Sekarang, ketika aku ke pasar itu setelah bertahun-tahun lamanya, penjual baju itu alih profesi menjadi pedagang buah, Bah.

 

Bah, Abah ingat kan sewaktu kecil aku selalu duduk di teras belakang rumah pakde, menghadap ke barat menanti kepulanganmu dengan motor butut itu? Ketika itu aku masih TK. Aku selalu mencegat salah satu di antara kau atau Umik untuk kuberi surat dari sekolah. Begitu salah satu dari kalian datang, dengan penuh semangat aku langsung menghampiri dan memberikan sebuah kertas surat yang dilipat jadi tiga. Aku berkata, “Pak, ini ada surat dari bu guru di sekolah”.

Kau yang saat itu kupanggil dengan Bapak akan tersenyum kepadaku dan membaca surat yang kuberi. Isi surat yang kubawa bermacam-macam. Mulai dari surat pemberitahuan liburan, pengambilan rapor, atau biaya sekolah. Aku gak pernah berani membuka surat itu sebelum kau atau Umik membacanya lebih dulu. Selalu begitu.

 

Sewaktu kecil, kau dan semua orang memanggilku dengan ‘Ndut’ saking gemuknya aku. Malah beberapa saudara dan tetangga memanggilku ‘Pitetut’ –yang sampai sekarang pun gak kumengerti apa artinya-. Bentuk fisikku pas kecil emang tambun dan tembem, cocok diikutin kontes bayi sehat. Aku ingat usiaku saat TK adalah sekitar 3 tahun. Dengan potongan rambut cepak mirip anak laki-laki, aku penuh percaya diri bersekolah di TK desa sebelah bersama teman-teman yang usianya lebih tua 1-2 tahun di atasku.

Ketika masuk SD, kau gak menyekolahkanku di sekolahmu. Kau lebih memilih memasukkanku ke sekolah swasta yang berbasis agama dari pada sekolah negeri. Harapanmu saat itu adalah aku terbekali dengan pendidikan agama yang kuat namun juga sukses dalam mata pelajaran umum seperti di sekolah-sekolah negeri. Dan harapanmu gak sia-sia. Meski dari sekolah swasta, aku selalu jadi juara lomba 3M ketika SD kelas rendah. Dan ketika kelas tinggi, aku sukses jadi juara lomba bidang studi dan mewakili kecamatan ke kabupaten. Setiap tahun berbagai lomba diadakan oleh Dinas Pendidikan kecamatan, dan aku selalu didaulat untuk jadi kontingen mewakili sekolahku. Aku senang saat kau bangga dengan prestasiku.

 

Oiya Bah, aku juga senang saat kau mengajakku rekreasi setahun sekali. Profesimu sebagai seorang guru membuatmu punya kesempatan berlibur saat akhir tahun ajaran bersama murid-muridmu. Mulanya hanya mas, lalu mas dan aku, lalu aku dan adik, lalu adik aja yang kau ajak, hingga akhirnya gak ada lagi yang kau ajak. Yang kutau, batasnya adalah kelas 6. Jika anak-anakmu udah masuk SMP, maka udah gak lagi kau ajak rekreasi sekolahmu.

 

Abah ingat apa yang selalu kucari saat di tempat wisata? Boneka barbie. Iya, aku selalu merengek minta kau belikan barbie. Dan betapa senangnya aku ketika kau mengabulkan permintaanku. Ketika itu harga barbie sekitar lima ribu rupiah. Aku suka sekali mengoleksi barbie. Entah ada dimana barbie-barbie itu sekarang. Gak satu pun yang tersisa.

 

Bah, sejak kecil aku selalu mengidolakan sosok Abah. Bagiku, kau teladan yang baik, sangaaatt baik. Kau selalu mampu membuat orang lain nyaman bersamamu, senang mengenalmu, namun tetap hormat padamu. Gak heran banyak muridmu yang juga mengidolakanmu sama seperti aku. Bukan karena fisikmu, namun karena kehebatanmu menciptakan suasana yang riang dan menyenangkan bagi banyak orang.

 

Aku ingat betul sewaktu les kau pernah mencubitku gara-gara aku ramai sekali. Kau cubit aku di depan puluhan muridmu. Padahal aku anakmu, aku les di rumahku sendiri pada Abahku sendiri. Tapi kau gak segan mencubitku karena memang aku bersalah. Aku ingat betul kata-katamu saat itu. Kau berkata kepadaku dan seisi penghuni ruang tamu –tempat les-, “Siapapun orangnya, kalau salah ya tetep aja salah. Bukan hanya karena Firda anakku trus kalau salah kubiarkan. Tidak.” Jujur, saat itu hatiku bergetar, Bah. Aku merasa malu banget dilihatin sama banyak orang. Aku –yang notabene anakmu- kau hukum terang-terangan. Sungguh aku kapok ramai dikala kau serius menerangkan.

 

Bah, meski kagum pada Abah, terkadang aku punya perasaan marah padamu. Aku senang memang saat kau memujiku, “Kamu itu anakku yang pinter. Meski belajar sendiri tapi kamu selalu bisa jadi juara.” Tapi aku marah aku sedih saat hal itu membuatku dituntut untuk mempertahankannya. Suatu ketika saat aku gagal menjadi juara pertama, yang ingin kudengar pertama kali adalah kata-katamu yang membesarkan hatiku. Nyatanya yang kau ucapkan adalah, “Kurang sinaune iku. Makane isok ketututan koncomu.” Sungguh, sejak itu aku merasa selalu dihantui oleh sebuah target untuk selalu menjadi juara.

Menurutmu, aku anak yang cerdas. Maka kau tumpukan harapanmu yang besar padaku. Dan ketika harapan-harapanmu gak semuanya mampu kukabulkan, aku sedih saat melihat raut muka kecewamu. Aku merasa gagal membuatmu bangga seperti saat kecil dulu.

 

Aku benar-benar down saat masuk SMA. Semua orang mengira bahwa aku akan masuk SMA favorit di daerah Jenggolo. Bahkan guru-guruku juga udah memprediksi kalau aku pasti diterima di sekolah itu mengingat ketika SMP aku selalu juara kelas. Nyatanya, aku gagal masuk SMA negeri nomor wahid di Sidoarjo dan hanya tembus PSB sekolah negeri yang letaknya di pinggiran kota.

 

Aku hancur. Aku menangis tersedu-sedu. Aku merasa gak ada artinya lagi pujian banyak orang tentang otakku yang –katanya- cerdas karena nyatanya aku gak bisa lolos sekolah bergengsi itu. Ketika itu, kulihat kau juga kecewa padaku, Bah. Beberapa bulan setelah masuk SMA, aku ikut lomba karya ilmiah remaja bersama dua orang temanku dan berhasil menjadi juara tiga se-gerbangkertasusila. Aku ingat betul kata-kata yang kau ucapkan ketika menjemputku pulang dari lomba, “Sekolah itu dimana-mana sama aja. Sekolah cuma fasilitas. Yang penting itu gimana kamu-nya. Sekarang terbukti kan, meski gak sekolah di SMA favorit, kamu tetep bisa berprestasi. Yang namanya bintang itu biar gimanapun bakal tetep nunjukin sinarnya. Bangga rek.”

 

Bah, kadang aku sebal padamu saat kau melarangku menulis. Katamu buat apa menulis hal-hal yang fiktif, buat apa menghayal hal-hal yang gak nyata. Kau mengharamkan aku berimajinasi. Menurutmu, kehidupan terbaik adalah kehidupan nyata tanpa mimpi. Tapi aku berontak. Aku terus aja bermimpi. Aku terus menulis apa yang ingin kutulis. Namun semua imajinasiku hanya berujung pada tumpukan buku hasil karanganku yang gak pernah berani kucoba untuk terbitkan. Semuanya karena ketakutanku padamu yang gak memberiku ruang untuk merealisasikan mimpiku. Aku gak berani keluar dari koridor persetujuanmu.

 

Kadangkala memang aku sebal padamu. tapi sesungguhnya aku sangat berterima kasih terhadapmu. Kau selalu mempercayaiku bahkan di saat aku gak percaya sama diriku sendiri. Kau selalu mendidikku untuk selalu tampil pede dengan paket kelebihan dan kekuranganku. Gak kau biarkan aku tumbuh menjadi perempuan desa yang minderan dan tertutup. Dan aku sangat berterima kasih untuk didikanmu itu.

 

Kehidupan ekonomi kita semakin membaik, Bah. Kau mampu pergi haji dan membeli banyak perkakas rumah tangga serta motor. Kau juga memberi kami uang saku yang cukup untuk jajan dan menabung. Aku teringat ucapan salah seorang tetanggaku ketika aku menjahitkan baju desainanku. Dia berkata, “Enak ya Fir jadi anaknya Abah. Segalanya tercukupi. Sekarang aja kamu jahitin baju banyak banget. Tiap hari bajumu ganti-ganti. Duit jajanmu juga banyak. Rasanya kudu tak utang ae. Aku ya pengen aslinya ngasih anakku uang. Lha tapi aku dewe ae gak punya uang. Tentrem ya kamu jadi anaknya Abah.”

 

Glek. Aku langsung cegek. Saat itu juga aku langsung flashback ke masa-masa ketika Abah masih susah. Mungkin aku bisa mengerti gimana kondisi jadi orang dengan ekonomi kelas rendah. Tapi Bah, meski sekarang Abah wes mulyo, kenapa kau masih sederhana? Itu makin membuatku kagum dan bangga padamu.

 

Tentu kau ingat wejangan yang selalu kau berikan padaku sebelum makan. “Kalau jaman dulu, aku harus ngambil air dulu dari sumur, ngisi bak mandi sampai penuh, baru boleh makan. Bukannya apa-apa, tapi mbahmu selalu ngajarin anak-anaknya biar mandiri. Meski gitu, aku gak pernah protes dengan makanan yang dimasak mbahmu. Sampai sekarang, sampai punya penghasilan sendiri aku juga gak pilih-pilih makanan. Padahal kalau mau makan di restoran, aku juga bisa bayar. Masa ya kalian yang belum punya penghasilan, mangan ae anyi-anyi? Jadi orang itu yang sederhana aja, asal bahagia.”

Sewaktu disinggung sama pakde soal mobil, dengan santai kau menjawab, “Buat apa beli mobil kalau kerjanya deket. Kalau masalah beli sih sanggup-sanggup aja. Tapi segalanya kan harus dilihat manfaatnya, gak sekedar gaya-gayaan. Mending uangnya buat biayain anak-anak kuliah sampai nanti dapat kerja.” Sumpah Bah, aku makin ngefans sama Abah.

 

Aku sungguh beruntung punya teladan yang baik sepertimu, Bah. Gak jarang anak-anak seusiaku yang kurang kasih sayang orang tuanya. Mereka dicukupi secara materi, namun selalu haus akan kasih. Sedangkan aku, kau cukupi keduanya. Terima kasih, Bah.

 

Aku jadi ingat kebiasaanku memijatmu dengan menginjak-injak punggungmu. Kemarin, harusnya aku memijatmu seperti permintaanmu. Namun begitu melihatku lemas dan kecapekan, malah kau yang memijatku. Maaf menyusahkanmu.

 

Oh iyaaa, apa kau ingat ketika ulang tahunmu aku selalu memberi kado? Apa kau ingat ketika usiamu separuh abad, aku membelikanmu sebuah hem dengan ukuran super jumbo namun ternyata tetep gak muat kau pakai? Tentu kau ingat. Aku bahkan mendengar kau bacakan puisiku untukmu kepada murid-murid yang les hari itu.

 

Selalu menyenangkan saat bersamamu, Bah. Terlebih saat kau ceritakan banyak hal tentang masa kecilmu dan perjuanganmu. Dari situ, aku bisa belajar banyak hal. Baik belajar secara mandiri maupun melalui wejangan-wejanganmu. Karena kau, aku selalu semangat kuliah. Aku selalu ingat kata-katamu, “Abah sama Umik itu kerja nyari uang buat biayain kamu sama saudara-saudaramu. Sekolah yang bener, yang pinter. Tugasmu cuma sekolah, gak usah mikirin yang lain.” Sungguh, aku tertegun mengingat banyak sekali temanku yang terpaksa bekerja karena gak ada dana untuk kuliah.

 

Wejanganmu begitu banyak. Kau sampaikan itu di saat sedang kumpul dan bercanda bersama, atau kau sisipkan di tengah obrolan ketika makan. Sehingga wejangan-wejangan itu gak terkesan menggurui. Salah satu yang paling sering kau ucapkan adalah, “Sopo sing nandur, bakaln ngunduh. Nek gak tau nandur, ojok arep-arep nguwoh. Nek nandur, masio gak koen arep-arep yo bakal nguwoh. Lha tandurane iku tergantung awakmu. Apik elek’e tanduranmu iku koen sing nentokno, koen pisan sing jange bakalan manen.”

 

Selain itu, wejangan lainnya adalah, “Nek nganut karo wong tuwo iku bakalan enak. Masio wong tuwomu kuper, ndeso, gak ero opo-opo, anak iku tetep kudu hormat karo wong tuwone. Gak onok wong tuwo, gak onok awakmu. Yok yok opo apik elek e wong tuwo iku tetep ae wong tuwomu, kudu dihormati, ojo mbantah ae.

 

Bah, banyak sekali hal yang kualami selama 18 tahun ini, bersamamu. Menunggu kau pulang dari melihat murid lesmu belajar kelompok, mencabuti jenggotmu yang kian memutih, menceritakan perkembangan kuliahku, guyon ringan di tengah-tengah makan bersama, kumpul di depan televisi sambil mengomentari tayangannya, mendengar nasihat-nasihatmu serta Umik, melihatmu memberi makan ayam-ayam piaraanmu, dan masih banyak lagi. Bagaimanapun, kau adalah sosok yang kuidolakan, Bah.

 

Di mataku, kau sosok suami yang setia pada istrimu, pada Umikku. Kau gak pernah bertengkar atau cekcok seperti dalam drama. Kau selalu merundingkan semua masalah dengan kepala dingin. Kau juga figur ayah yang mendekati sempurna. Kau adil, bijaksana, penuh kasih, penuh tanggung jawab, dan sangat mencintai keluargamu.

 

Sebenarnya masih banyak hal yang ingin kutulis tentangmu, Bah. Namun rasanya gak akan ada habisnya jika harus kuuraikan sosokmu. Yang pasti, aku bersyukur Allah memberiku kesempatan memiliki orang tua sepertimu, Bah.

 

 

Jutaan maaf terurai

Jutaan terima kasih tak luput

Untukmu sang teladan

Yang selalu kuhormati

Kukagumi

Dan kujadikan panutan

Abahku tersayang :-*

 

Tertanda: anak perempuanmu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s