STASIUN KECIL

Salah satu hal yang harus dipersiapkan oleh seseorang yang sedang jatuh cinta adalah mental yang kuat. Iya, seseorang yang jatuh cinta harus siap mental yang kuat kalau seandainya suatu saat nanti dia akan beneran ‘jatuh’. Dan aku udah nyiapin hal itu sejak pertama kali aku jatuh cinta. Sayangnya, aku gak nyangka aja kalau ternyata ‘jatuh’ beneran itu sakit banget. Sesiap apapun aku sebelumnya, tetep aja rasanya ada lubang di hati ini.

 

Sama halnya kayak orang yang beli piring beling. Dia tau resikonya kalau piring itu bisa aja pecah suatu saat. Beli barang pecah belah emang kudu dijaga ekstra hati-hati karena mudah pecah. Tapi tetep aja pas piring itu pecah, ada perasaan sedih dan menyesal kenapa piring yang udah dia jaga segitu hati-hatinya bisa sampai pecah.

 

Itu masih kelas piring lho ya. Apalagi yang kualami bukan sekedar piring, melainkan hubunganku dengan mantanku. Saat pertama jadian sama dia, aku udah tau bahwa hubungan ini beresiko untuk kandas. Tapi tanyakan kepada setiap orang di seluruh dunia, pasti gak ada seorang pun yang berencana untuk putus di tengah jalan. Sama halnya denganku.

 

Sekalipun aku sadar bahwa putus adalah resiko terbesar orang pacaran, tapi rasanya ada kesedihan yang terselip di hati ini. Jelas sekali sodara-sodara! Hubungan yang kurajut tuh gak sebentar. Setengah mati aku berusaha menjaga hubunganku dengannya, menyelaraskan setiap perbedaan yang muncul, mencoba saling mengerti satu sama lain, tapi akhirnya aku harus menerima kenyataan kalau aku dan dia gak bisa lanjut lagi.

 

Parahnya, yang membuat kisahku dengannya berakhir adalah kemunculan tokoh baru dalam kisah kita. Orang yang menurutnya jauh lebih mampu mengerti dirinya dibanding aku. Hhhhff… aku menghela nafas. Ternyata lamanya waktu pacaran gak menjamin bahwa kita berdua akan bertahan sampai akhir.

 

Sedih sih emang. Sedikit menyesali nasib juga, kenapa coba kisah asmaraku harus ngenes kayak gini. Tapi hidup harus terus berlanjut bukan? Gak mungkin juga aku nekat nyebur ke lumpur lapindo cuma karena putus cinta. Well, berani jatuh cinta berarti berani patah hati. Bukannya begitu seharusnya? And I did.

 

Aku tetap melanjutkan hidupku meski tanpanya. Toh putus dari dia gak bikin hidungku alergi oksigen. Aku berusaha dewasa dan mengambil hikmah dari kejadian yang kualami. Maybe she was not the best for me.

 

Hari-hari tetap kulalui seperti biasa. Bangun, mandi, makan, kerja, pulang, tidur, bangun lagi, gitu aja terus tiap hari. Sekalipun kini aku sendiri, aku tetap mandi dua kali sehari dan makan tiga kali. Hellooo… ya iyalah. Gak ada yang berubah, kecuali status dan perhatian dari seseorang di luar keluarga. Dulu punya pacar dan ada yang ngasih perhatian, sekarang jomblo dan ngaplo. Yak sungguh perjalanan hidup yang gak terduga.

 

Sebenernya mudah bagiku untuk mencari gantinya. Aku bisa aja mencari seseorang yang baru baik dari fesbuk maupun langsung di kenyataan. Namun aku mengurungkan niatku. Beli buah aja lho kita mesti selektif, milih-milih kualitasnya, masa ya nyari pacar segitu gampangnya. Tentu aku harus lebih selektif lagi dan ekstra hati-hati.

 

Pernah ya suatu hari aku berbincang dengan salah seorang penumpang kereta api. Saat itu aku hanya memakai kaos dan jins belel, dandanan sehari-hariku. Cewek itu cantik, asyik juga diajak ngobrol. Tapi penilaianku berubah negatif saat dia berhenti ngobrol denganku cuma karena aku berkata sesuatu.

 

“Kuliah apa kerja, mas?” dia bertanya.

 

“Kerja, mbak.” jawabku dengan senyum tersungging di bibir.

 

“Oh ya? Kerja apa? Dimana?”

 

“Jadi supir, mbak. Hehehe…”

 

Cewek itu langsung diam begitu aku bilang kalau aku seorang supir. Dari situ aku bisa menilai kalau dia gak tulus kenalan sama aku. Buktinya, cuma karena aku bilang aku seorang supir dia langsung melengos dan sama sekali gak interested ngelanjutin obrolannya denganku. Parah. Ketauan banget tau gak kalau dia tuh cuma ngelihat dan menilai seseorang dari pekerjaannya doang. Padahal emang bener aku supir. Supir kereta api.

 

Banyak cewek kutemui. Banyak juga yang kenalan denganku. Namun akhirnya hatiku memilih dia. Yap, aku merasa aku telah jatuh cinta dengan cewek manis berjilbab yang dulu satu SMA denganku tersebut. Hmmm… jauh-jauh kerja di kota orang, ujung-ujungnya naksir temen sekolah dulu, satu daerah lagi.

 

Mengenalnya lebih dekat adalah suatu hal yang patut kusyukuri. Karena selain parasnya yang menawan, dia juga baik. Semakin dekat dengannya, semakin menjauhkanku dengan kenangan pahitku bersama orang-orang terdahulu. Bersamanya, aku seolah lupa akan perihnya setiap luka yang kualami karena dikhianati. Dengannya, aku begitu nyaman hingga gak ingin ada satu detik pun yang terlewatkan.

 

Seperti seorang musafir yang menemukan oase di tengah gurun gersang saat ia sangat kehausan, aku pun begitu bahagia bertemu dengannya saat aku sedang sendirian, kesepian, dan butuh cinta yang baru untuk menyembuhkan lukaku. Jujur kuakui aku menyukainya. Oleh karena itu, aku selalu menunjukkan sikap penuh perhatian dan kepedulian terhadapnya.

 

Aku menikmati masa-masa ini, masa dimana setiap bagian hidupku selalu dipenuhi segala hal tentangnya, bahkan hingga hal terkecil sekalipun. Aku bahagia memandang senyum manisnya yang muncul di langit-langit kamarku sebelum aku tidur. Aku bahagia menghayati setiap lekuk wajahnya saat kita bertatap muka. Aku pun bahagia mengiriminya pesan singkat setiap malam ketika ia akan tidur maupun pagi ketika ia bangun.

 

Begitu banyak kebahagiaan kecil yang ia ciptakan. Hal-hal sederhana yang ia lakukan bisa jadi berarti begitu besar bagiku. Dan aku menikmatinya.

 

Aku menikmati perasaan deg-degan yang kurasa setiap menunggunya onlen. Aku menikmati kegilaanku senyum-senyum sendiri saat dia membalas mention­-ku di twitter atau menulis di dinding facebook-ku. Aku juga menikmati mendengar setiap kata yang ia ucapkan dengan merdu saat aku menelponnya. Pun demikian ketika ia gak membalas SMS-ku atau menjawab telponku, aku menikmati kecemasan dan kegelisahanku padanya saat itu.

 

Membaca kembali SMS yang akan kukirim, mengecek detailnya satu persatu, takut ada sepatah katapun yang salah dan bikin dia gak mau bales lagi SMS-ku, mengirimnya dengan doa semoga provider-nya gak nyangsangin SMS-ku di genteng tetangga, bahkan mengirim kembali SMS yang sama karena takut gak terkirim, adalah kelakuan aneh namun menyenangkan. Sama seperti saat aku selalu kepikiran dan nguatirin dia, rindu saat gak ketemu, dan gak pengen waktu berakhir saat aku jalan bareng sama dia. Yah, sangat simpel dan agak sedikit aneh emang. Hal-hal yang di mata orang lain terlihat aneh, akan terlihat sangat wajar bagi seseorang yang sedang jatuh cinta.

 

“Wih, akhir-akhir ini kayaknya lagi happy nih. Udah nemu yang baru ya?” tanya Reza, salah seorang rekan kerjaku.

 

“Udah, kemaren nemu di pinggir jalan. Hahahaha…” candaku.

 

“Woohh mayak. Serius nih. Ngomong-ngomong, udah resmi jadian apa belum?”

 

“Belum, masih proses pendekatan. Doain ya!”

 

“Urusan doa sih gampang. Yang penting kalau jadi, traktir es degan ya!”

 

“Ih gak level amat deh traktiran es degan. Yang keren dikit kenapa. Tuh HSD banyak.” godaku yang langsung bikin Reza sewot.

 

“Sekalian aja sama makanannya, seporsi rel goreng.” balasnya.

 

Kita berdua ketawa bareng. Bekerja di instansi yang sama, menjabat di posisi yang sama, ditempatkan di tempat yang sama, serta sama-sama seangkatan membuatku dan Reza –juga beberapa teman yang lain- menjadi sangat akrab. Bercanda bareng, main bilyar bareng, futsal bareng, makan bareng di warung sebelah pager dipo, semuanya bareng, kecuali mandi tentunya hahaha. Asyik pokoknya kalau punya temen yang klop sama kita.

 

Disela-sela tawaku, aku terpikir akan hubunganku dengan orang yang kusuka (dalam bahasa gaulnya: gebetan). Aku udah nunjukin perasaan sayangku ke dia, dan aku yakin dia juga sadar betul akan hal itu. Aku bahkan udah akrab sama keluarganya. Keluargaku pun juga welcome dengannya. Tapi sampai detik ini, aku bahkan belum jadian sama dia.

 

Sekelebat muncul kembali memori tentang kejadian hari itu. Ketika itu, dia dengan muka serius mengatakan sesuatu kepadaku. Aku yang pada dasarnya suka guyon menanggapi perkataannya dengan canda ringan. Namun dia kembali mengulang dan menegaskan kalimatnya, sangat serius. Sama sekali gak bercanda.

 

“Aku suka kamu cuma karena keluargaku suka sama kamu, bukan karena diriku sendiri. Aku maunya kita jalani aja dulu apa adanya.” katanya waktu itu.

 

Sejenak aku merasa seperti dihantam badai dahsyat. Mendengar kalimatnya barusan gak ubahnya seperti mendengar perkataan guru kepada muridnya saat kenaikan kelas, ‘Ibu menaikkan kamu karena Ibu kasihan sama kamu, bukan karena kamu layak.’ Beberapa saat kemudian, aku merespon kalimatnya dengan joke ringan yang kulontarkan untuk menutupi perasaan canggungku terhadapnya.

 

“Hahaha iya santai aja kali, Ta. Aku juga gak maksa kamu buat pacaran sama aku kok. Nyantai, slow… yang penting kamu nyaman sama aku.”

 

Sumpah ya… rasanya aku tuh munafik banget. Lidahku bisa aja dengan mudah ngomong kayak gitu, padahal sebenernya hatiku berkata lain. Ada suara dari dasar hati kecilku yang berkata, ‘Aku maunya kamu juga suka sama aku, bukan sekedar keluargamu. Aku maunya kamu gak sekedar nyaman sama aku, tapi juga jadi pacarku, Ta.’

 

Sekeras apapun batu, jika setiap hari terkena tetesan air, maka akan berlubang juga. Aku berusaha untuk berpikir positif dan selalu optimis. Sekeras apapun hati Tata, jika setiap hari aku menyayanginya dengan penuh perhatian dan kesabaran, maka aku percaya suatu saat dia akan luluh olehku. Aku hanya perlu bersabar sedikit lebih lama lagi.

 

Entah aku mendapat kekuatan dari mana, yang pasti aku merasa ingin terus berjuang demi mendapatkan cinta Tata. Sekalipun Tata cuek terhadapku, tapi aku gak akan berhenti berusaha agar Tata memberiku kunci untuk membuka pintu hatinya, atau mungkin ia akan membukakan sendiri pintu hatinya untukku. Aku percaya bahwa Tuhan selalu bersama hamba-Nya yang sabar. Bahwa gak ada perjuangan yang gak dihargai. Bahwa gak ada pengorbanan yang gak terbalas. Bahwa gak ada doa yang gak didengar.

ooooooooooooooooooooooooooo

 

Dari sekian banyak teman fesbuk yang akhirnya akrab denganku meski belum pernah kutemui, hari ini aku ingin bercerita kepada Mira. Aku udah lumayan lama kenal sama dia tapi belum pernah ketemu barang sekali. Gak tau kenapa aku seolah percaya aja gitu sama dia, pengen cerita ke dia tentang Tata. Aku pun SMS dia.

 

to: mira kemplo

aku suka sama cewek, mir. dia kuliah di sby. tapi wajahku lho gak mirip blas sama dia. udah gitu mesti kita tuh berantem mulu, tukaran tok wes isine. kalau ada apa2, mesti aku yang ngalah.

 

from: mira kemplo

wes tala, gak usah mikir hal-hal kecil yang malah bikin kamu ragu. kamu ngerti sandal gak? btw, andita safitri yo?

 

Aku langsung kaget begitu Mira menyebut nama fesbuk Tata. Gimana mungkin dia bisa tau? Apa aku pernah cerita ke dia sebelumnya ya tentang Tata? Ah kayaknya gak deh… Seingatku baru kali ini aku curhat sama dia soal Tata. Bukan, bukan hanya soal Tata. Aku emang gak pernah curhat apapun ke Mira sebelumnya. Sekarang, sekalinya aku curhat, eh dia udah tau duluan siapa cewek yang kutaksir. Udah kayak peramal aja dia, sekalian ah ntar tanya nomor togel. Hahaha ngaco deh.

 

to: mira kemplo

iya ngerti kok filosofinya. btw kok bisa tau sih mir? sumpah aku kaget banget. menurutmu gimana?

 

from: mira kemplo

ya iyalah, mira gitu loh. aku kan canggih. gini deh, kamu percaya aja sama kuasa Allah. yang terbaik menurutmu belum tentu baik bagimu menurut Allah. jadi biarkan tangan-nya yang bertindak. percaya aja bahwa sebaik2 rencana adalah rencana-Nya. gini aja deh, kita tuh udah punya jodoh masing2. semua udah diatur. kalau emang dia jodohmu, pasti gak bakal kemana2. percaya deh, yg namanya tulang rusuk tuh gak bakal ketuker sama pemiliknya.

 

to: mira kemplo

iya sih. bener juga apa katamu mir. tapi dia tuh kayak masih sayang gitu sama mantannya. di hapenya aja masih ada foto mantannya. tapi tiap aku tanya tentang hubungan kita, dia selalu bilang ‘jalani aja dulu’. trus aku mesti gimana?

 

from: mira kemplo

kalau kubilang, dia tuh lagi mengalami masa ceribel alias masa dilema. dia tuh masih punya keinginan buat balik sama mantannya. tapi dia juga gak mau kehilangan kamu. jadi buat sementara ini kamu sabar aja dulu, kasih waktu buat dia mikir mana yang terbaik baginya. kembali ke masa lalu atau melangkah ke depan sama kamu. nah selama waktu itu, kamu tetep kasih dia perhatian kayak biasanya. nyantai tapi perhatian, slow tapi sayang. jangan buru-buru lah pokoknya, soalnya cewek biasanya kalau didesak malah makin bingung. ntar dia pasti nyadar kalau kamu sayang sama dia. tapi jangan lama-lama juga, yg ada malah kamu dipermainkan. nah kalau masa berlaku kesabaranmu udah abis, baru deh kamu tanya lagi siapa yg dia pilih. pokoknya tenang aja deh… sekarang masih DILEMA, bentar lagi bakalan LOVE IS YOU deh.

 

to: mira kemplo

onok maneh ceribal-ceribel. masih audisi ceribelnya mir. hmm.. gitu ya mir? iya bener juga sih. oke deh. koncomu iki suabaaarrr lho mir. semangat wes! harus bermental baja seperti jalanan yang kulalui setiap hari.

 

Tulang rusuk gak bakal ketuker  sama pemiliknya yah? Bener juga apa kata Mira. Kalau emang Tata adalah jodohku, dia pasti bakal balik ke aku. Kalau dia emang tulang rusukku yang hilang, pada akhirnya dia bakal kembali padaku, bukan? Oke, semangat! Mira juga bilang bersedia kok ngasih masukan kalau kapan-kapan aku minta pendapat lagi.

ooooooooooooooooooooooooooo

 

Disinilah aku, di alun-alun kota Jombang. Duduk berdua dengannya sambil makan kedelai rebus. Melihat ribuan bintang yang terhampar di langit hitam. Berada di sampingnya udah cukup membuatku bahagia, meski hanya sebagai teman.

 

Disela-sela makan kedelai, aku berniat merayunya. Berbekal gombalan yang diajarkan Mira tempo hari, aku pun melancarkan serangan. Aku berkata, “Ta, aku tuh ngerasa percuma banget tau gak sih jadi masinis.”

 

“Hah? Kok bisa gitu? Kenapa?” ujarnya kaget.

 

“Ya iya, aku ngerasa percuma aja gitu. Aku bisa jadi orang terdepan di lokomotif, narik serangkaian kereta, tapi aku gak bisa jadi orang terdepan di hati kamu dan jadi imam buat kamu. Percuma banget, Ta.”

 

“Aseeeekkk… udah pinter ngerayu sekarang ya. Hahaha…”

 

Mantap. Aku sukses merayunya. Lalu dia tertawa kecil malu-malu sambil meneruskan makan kedelainya. Tawa itu… tawa ringan yang sangat besar artinya buatku. Tawa itu yang membuatku bertahan menyukainya, meski di matanya aku hanyalah teman biasa. Aku ingin selalu melihat senyum dan tawanya, gak peduli sebagai apapun dia melihatku. Sesederhana itulah aku memaknai perasaanku padanya.

 

Aku ingin menjadi orang nomor satu dan satu-satunya di hidupnya. Sangat ingin. Tapi bukankah cinta adalah masalah perasaan? Dan merasa adalah tugasnya hati. Jadi kubiarkan hati Tata yang merasakan bagaimana perasaannya padaku. Aku sama sekali gak bisa memaksa dia mencintaiku, sama seperti aku yang gak bisa memaksa hatiku untuk berhenti mencintainya.

 

“Eh Ta, kamu punya hari spesial gak?”

 

“Ya punyalah.”

 

“Kapan coba hari spesialmu? Hayooo!”

 

“Tiap 17 Desember. Soalnya ibuku ulang tahun. Bagiku, ibu segalanya. Kalau kamu sendiri punya hari spesial gak?”

 

“Punya doooonnggg.”

 

“Kapan?”

 

“Tiap hari sejak aku ketemu kamu hari-hariku selalu terasa spesial. Bagiku, kamu segalanya.” aku berkata dengan mantap dan penuh percaya diri.

 

“Ih apaan sih, gombal melulu dari tadi.” sekali lagi dia tertawa malu-malu.

 

“Lho siapa yang gombal? Beneran kali, Ta. Gak percayaan deh nih anak. Heran deh.”

 

Sejurus kemudian tawanya terhenti. Ia juga berhenti mengunyah kedelai rebus. Lalu ia menundukkan kepalanya sedikit. Aku bingung kenapa dia tiba-tiba diam. Apa dia tersinggung sama kalimatku ya? Tapi kenapa? Bukannya selama ini dia gak pernah nganggep serius setiap perkataanku? Secara dia mengenalku sebagai seorang teman yang sangat kocak dan humoris.

 

“Fik, aku bisa minta tolong sama kamu gak? Satu hal aja.” katanya tanpa berani memandang wajahku, apalagi menatap mataku.

 

“Apa?”

 

“Tolong berhenti suka sama aku! Mending kamu cari seseorang yang jauh lebih baik dari aku, yang lebih bisa mengerti kamu, dan yang lebih pantas sama kamu dibanding aku.”

 

Dhuaaaarrr… rasanya seperti denger berita kalau gaji masinis bakal segera dinaikkan. Antara kaget, gak nyangka, dan gak percaya. Kenapa coba Tata mesti ngomong kayak gitu? Apa perasaanku ke dia itu salah? Kalau aku sayang sama dia, apa salahnya? Kalau aku suka sama dia, ngasih perhatian ke dia, peduli banget sama dia, selalu nguatirin keadaannya, pengen selalu ngelihat senyumnya, apa itu juga salah? Dimana letak salahnya?

 

‘Seandainya aja aku bisa, Ta. Pasti dari dulu aku udah berhenti suka sama kamu. But I can not. I can not stop loving you. One thing I can do for sure: loving you. Just loving you.’ batinku bersuara.

 

“Kenapa?” aku bertanya lirih.

 

“Karena aku gak suka sama kamu. Aku cuma nganggep kamu temen. Gak lebih.”

 

“Tapi aku suka sama kamu dan aku nganggep kamu lebih dari temen. Ta, aku gak maksa kamu buat suka sama aku. Jadi, tolong kamu juga jangan maksa aku buat berhenti suka sama kamu. Temen atau apapun lah kamu nganggep aku, terserah kamu. Aku cuma ingin selalu di deket kamu.”

 

“Kamuuu… serius?”

 

“Taraaaa… April mop. Udah ah, pulang yuk!”

 

Garing emang. Mana ada kejutan awal April di pertengahan bulan Mei. Tapi aku gak mau aja jadi drama King di depan Tata. Sekalipun apa yang kukatakan tadi benar, tapi aku takut mengakuinya. Takut kalau Tata malah benci sama aku.

ooooooooooooooooooooooooooo

 

Kata Mira dan kata temen-temenku yang lain, as Tata said before, mendingan aku nyari cewek yang jauh lebih baik dari Tata. Cewek yang lebih bisa ngehargai perasaanku, lebih bisa mengerti aku, dan lebih pantes jadi pasanganku.

 

Di SMS, Mira ngoceh-ngoceh. Dia bilang, “Kalau aku jadi dia, aku gak bakal bersikap kayak gitu ke kamu. Dan kalau aku jadi kamu, aku bakal berhenti suka sama dia.”

 

“Lha kenapa?”

 

“Kalau aku, suka ya suka, gak ya gak. Aku gak akan bersikap seolah-olah ngasih harapan ke orang yang suka sama aku padahal nothing. Sedangkan dia? Dia bilang kalau kamu mendingan cari yang lain aja yang lebih baik dari dia. Tapi dia masih bales SMS-mu, masih nge-tweet kamu, masih komen status fesbukmu, masih mau kamu ajakin jalan, masih mau kamu temui di rumahnya, bahkan katamu dia juga sempet cemburu ke aku gara-gara sering twitter­-an sama kamu. Iya kan? Maksudnya apa coba? Kenapa sikapnya mesti kayak gitu ke kamu sementara dia bilang kalau gak suka sama kamu? Lucu tau gak. Aku males aja sama orang yang gak konsisten gitu. Sekarang gini deh, kamu emang gak kasihan gitu sama dirimu sendiri? Diperlakuin begitu baik seolah-olah ada harapan dan peluang padahal gak?”

 

“Iya sih, Mir. Bener juga katamu. Tapi gimana yaaaa…”

 

“Ya itu sih kalau aku jadi kamu. Tapi kan tiap orang beda-beda. Kalau emang kesabaranmu gede banget buat nungguin dia ya terserah kamu. Intinya sih dengan atau bukan dengan Tata, sebagai temen aku bakal selalu ngedukung kamu. Aku cuma bisa berpendapat. Tapi semua keputusan tetep ada di tanganmu.”

 

“Iya, Mir. Soalnya aku yang menjalani. Hmm… biarin berjalan aja wes. Lihat ntar kelanjutannya kayak gimana.”

 

Selalu seperti itu. Curhat sama Mira itu ujung-ujungnya perang batin. Masalahnya, Mira selalu to the point dan realistis. Aku menyadari betul bahwa apa yang dikatakan Mira emang benar. Bahwa perasaanku seperti dipermainkan oleh Tata. Bahwa sebaiknya aku berhenti menyukai Tata. Bahwa masih banyak cewek yang jauh lebih baik dari Tata. Bahwa ini bahwa itu dan bahwa-bahwa yang lain yang sangat kumengerti dan kubenarkan.

 

But, once again, I can not stop loving her. Just loving her. My heart stuck on her.

 

Sumpah sulit banget rasanya. Antara bertahan pada keyakinan suatu saat Tata bakal luluh oleh kesabaranku dan berbalik menyukaiku, atau menyerah pada keadaan, berhenti berharap, dan mencari orang lain yang memungkinkan untuk kugapai. Dan sesulit apapun itu, aku memilih yang pertama. Bertahan pada keyakinanku. Kalau emang keyakinanku ternyata gak berujung pada kenyataan, maka biarkan Tuhan yang menyadarkanku. Biarkan Dia yang menunjukkan jalan-Nya untukku. Menunjukkanku mana yang terbaik.

ooooooooooooooooooooooooooo

 

Digantungin tuh gak enak banget rasanya. Beneran. Rasanya tuh kayak kebelet pup tapi gak keluar-keluar. Sumpah gak enak banget. Dan inilah yang kualami. Digantungin Tata.

 

Andita Safitri. Satu nama yang memenuhi seisi otakku. Yang memenuhi ruang hatiku. Satu nama yang sangat kuhafal di luar kepala. Yang mampu kueja dengan sangat benar dan lancar. Satu nama yang gak pernah luput kusebut dalam doa. Yang selalu kudoakan semoga senantiasa bahagia dengan atau tanpaku di sisinya.

 

Aku juga heran kenapa aku bisa sebegitu sabar dan kuat bertahan untuknya. Entah kenapa sejak aku putus dengan mantanku, aku cuma ingin Tata yang menggantikannya. Bukan orang lain. Bahkan sekalipun banyak cewek yang lebih segalanya dibanding Tata, aku tetap hanya inginkan dia.

 

Kadang aku juga bingung dengan sikap Tata. Dia bilang gak suka sama aku, tapi di suatu waktu dia juga bilang kangen sama aku. Sebenernya maunya Tata tuh kayak gimana sih? Kalau dia emang gak suka sama aku, bener kata Mira, harusnya dia gak bersikap kayak gini ke aku. Semakin dia kayak gini ke aku, semakin aku gak bisa berhenti suka sama dia.

 

Meski aku suka sama Tata, tapi lama-lama aku capek juga. Capek fisik capek pikiran capek hati. Klop wes. Ibarat orang nih ya… udah jatuh, ketimpa tangga, bukannya ditolongin eh malah diinjak-injak orang lewat pula. Apes. Well, lama-lama aku jadi benci sama Tata.

 

Aku benci dia yang selalu membuatku rindu. Bikin aku selalu pengen ketemu dia, ngobrol dan bercanda bareng sama dia, bahkan sekedar mengecek akun jejaring sosialnya. Aku benci dia yang menginginkan perhatianku namun mengabaikanku. Dia selalu mencariku ketika aku menghilang sebentar aja. Hanya untuk memastikan bahwa perhatianku masih untuknya, bukan memastikan keadaanku bahwa aku baik-baik aja.

 

Aku benci dia yang sukses membuatku menjadi terlihat seperti masinis gagal. Aku gak bisa menjadi imamnya, menjadi orang terdepan di hidupnya. Aku malah mengekor dirinya, mengikuti ke arah manapun ia melajukan permainannya terhadap perasaanku. Seperti sebuah gerbong yang gak pernah protes kemanapun lokomotif menariknya, aku pun gak pernah protes kemanapun Tata membawa perasaanku.

 

Dari sekian banyak kebencianku terhadapnya, yang paling kubenci dari Tata adalah kemunculannya di hidupku. Aku benci dia yang muncul di hidupku saat aku butuh cinta yang baru. Dia datang sembuhkan lukaku, membalut perihku dengan keceriaan yang menentramkan hati. Dia seolah tawarkan sejuta mimpi dan harapan bahwa bersamanya aku bisa mengukir kisah yang lebih indah. Meski nyatanya cinta untukku gak pernah dia rasa.

 

Ya Allah… apa ini artinya aku harus menyerah? Oh tidak tidak tidak… aku bukan menyerah. Kuganti pertanyaanku. Ya Allah… apa ini artinya aku harus berhenti menanam asa untuknya dan berpindah di lahan lain yang memungkinkan cintaku tumbuh subur?

 

Ahh… sangat lucu kedengarannya. Seseorang yang sedang dirundung masalah biasanya selalu bermonolog seolah-olah dia sedang berdialog dengan Tuhan. Yah emang begitulah manusia. Selalu ingat Tuhannya ketika sedang bermasalah, tapi sering lupa ketika sedang berbahagia. Oh Allah Yang Maha Pengampun, maafkan dosa-dosaku!

 

Seraya bersandar pada ranjang tempat tidurku, aku duduk terpaku. Dinginnya lantai gak menyurutkanku untuk memandang miniatur lokomotif yang kubeli di RailShop Bandung dulu ketika aku masih diklat disana. Memandang lokomotif itu mengingatkanku akan onrolanku dengan Mira tempo hari. Yang menarik, dia menganalogikan jodoh dengan kereta api. Mentang-mentang dia railfans alias pecinta kereta api, semuanya selalu dia hubung-hubungkan dengan kereta api. Padahal aku yang masinis aja gak segitunya hahaha…

 

“Fik, gini deh… Gak ada kereta yang kebetulan lewat. Ada yang ngatur jadwalnya. Sama kayak hidup kita. Gak ada yang kebetulan di dunia ini. Semuanya udah diatur.”

 

“Terus?”

 

“Nah sekarang lokomotif deh… Tuh lokomotif bakalan dines narik kereta apa, itu kan udah diatur. Udah ada jadwalnya. Nah sama aja kayak kamu sama Tata. Kalau emang kamu tuh udah dijadwalkan oleh Allah bakalan sama Tata, ya udah pada akhirnya kalian bakal bersatu. Gampangnya nih ya… kalau emang Tata itu jodohmu, dia pasti gak bakal kemana-mana. Ujung-ujungnya pasti balik lagi ke kamu.”

 

Yes. As you always say, the rib will not change with the owner.

 

“Lha udah pinter gitu sekarang. Lagian yaaaa kenapa gak nyari yang lain aja sih? Well, menurutku kamu tuh udah gak waktunya lagi nyari pacar. Sekarang tuh waktunya nyari seseorang yang bisa jadi calon ibu buat anak-anakmu.”

 

“Weitss… mentang-mentang baru aja dilamar. Omongannya jadi berat gini. Hahaha… Tapi aslinya emang sih. Aku emang udah waktunya nyari seseorang yang gak sekedar jadi pacar, tapi juga jadi calon pendamping hidupku. Pengennya tuh seseorang yang sederhana, baik, patuh sama aku, bisa nerima aku apa adanya.”

 

“Nah bagus tuh… Sekedar saran nih ya… Kalau pengen dapet seseorang yang suka kamu apa adanya, jangan nyari pas kamu lagi pake seragam. Kamu dandan biasa aja. Biar kamu bisa tau mana yang serius pengen kenal sama kamu atau yang cuma pengen kenal sama seragam kamu. Biar kamu juga bisa bedain mana yang beneran tertarik sama kamu atau yang cuma tertarik sama pekerjaanmu.”

 

“Jelas dong, Mir. Aku tuh gak pernah kenalan sama cewek pas aku lagi dines gitu. Aku juga udah bilang ke Tata kalau dia cuma mau seragamku, ambil aja. Trus dia cuma ketawa doang. Tapi untungnya sih, kalau kulihat-lihat Tata bukan cewek yang kayak gitu.”

 

“Alhamdulillah… Syukur deh kalau gitu. Pokoknya kalau jadian, kasih kabar yaaaa!”

 

Ah Tata… Tata lagi, Tata lagi. Kenapa sekarang hidupku jadi berkisar di antara 2 huruf berulang. T – A – T – A. Mau makan inget Tata. Mau tidur inget Tata. Mau berangkat kerja inget Tata. Mau nyetir lokomotif inget Tata. Mau main futsal inget Tata. Mau apapun juga sekarang bawaannya selalu inget Tata. Cuma pas mau nabrak aja baru inget Allah. Hihi…

 

Hosh. Aku menarik nafas dalam-dalam dengan penuh semangat. Aku gak boleh lemah. Aku harus terus semangat buat ngedapetin Tata. Tiap hari aja aku bergulat dengan kereta api yang gagah, melewati jalanan baja, meniti ribuan bantalan beton. Masa ya giliran aku naksir sama seseorang, mentalku mental tempe? Apa kata dunia?

 

Gak, ini gak boleh dibiarin. Aku gak boleh lembek. Aku gak boleh sendu apalagi galau. Aku harus terus ceria dan berusaha sekuat tenaga supaya Tata mau mempercayakan hatinya utuk kujaga. Sebagai seorang masinis sejati, aku harus berani mengambil yang terberat. Semangat! Uyeeeaaahhh!

ooooooooooooooooooooooooooo

 

Berada di rumah Tata tuh nyenengin banget. Selain karena orang tuanya yang ramah, aku juga ngebayangin kalau suatu hari nanti aku bakal lamaran disini. Ngebayangin jadi menantu orang tuanya Tata tuh sumpah rada geli dikit, tapi nyenengin juga. Geli soalnya rasanya baru kemarin aja gitu masuk SD eh sekarang udah mikir ngelamar anak orang. Tapi nyenengin juga if the girl is really her, Andita Safitri.

 

Tadi aku sempet ngobrol sama orang tuanya Tata. Tapi mereka keburu ada urusan, jadi gak bisa lama-lama nemenin aku ngobrol. Jadilah aku berdua sama Tata di teras rumah. Abis di ruang tamu gerah. Sekarang emang lagi musim kemarau.

 

“Eh Ta, main tebak-tebakan yuk! Bola apa yang mirip kucing?”

 

“Bola apa ya? Bola bekel, bola kasti, bola tenes, bola… Ah gak tau ah… Apaan?”

 

“Bolaemon. Hahahahaha…”

 

“Yeeee itu sih doraemon. Dasar ya kamu tuh emang paling bisa kalau tebak-tebakan hahaha…” setengah sewot setengah ketawa Tata merespon guyonanku.

 

“Lagi-lagi… Kenapa kalau bumi muterin matahari namanya revolusi?”

 

“Ya emang udah dari sananya. Emang ada gitu alasannya? Kenapa coba?”

 

“Nyerah nih?”

 

“Iya. Abis gak tau juga alsannya kenapa. Au ah gelap.”

 

“Soalnya kalau bumi-nya muterin kampung, itu namanya jogging. Hahahaha…”

 

“Ih garing ih… hahahaha…”

 

“Biarin. Garing-garing yang penting bisa bikin kamu ketawa. Weeeekkk…” ujarku sambil menjulurkan lidahku. Dia tertawa melihatku melet-melet. Hahaha dasar…

ooooooooooooooooooooooooooo

 

Hari demi hari berlalu. Minggu demi minggu juga berlalu. Bulan pun udah berganti-ganti. Tapi status hubunganku dengan Tata tetep aja stuck gak berubah-ubah. Melas banget gak sih aku ini. Ih sumprit deh ngenes banget.

 

Aku sering banget down, rasanya kayak pengen nyerah. Tapi selalu ada kekuatan yang mendorong aku buat terus semangat. Berbulan-bulan ini hidupku muter gak berhenti-berhenti. Kayak muterin jalur kantong Surabaya-Malang-Blitar-Kertosono-Jombang-Surabaya. Down, up, down, up, down, up, down, up, gitu aja terus sampai lebaran bebek.

 

Namun entah kenapa kali ini aku benar-benar berpikir untuk berhenti. Aku benar-benar pengen nyerah. Dari balik jendela kereta eksekutif 3 KA Sancaka Pagi dari Jogjakarta tujuan Surabaya, aku merenung. Sekali lagi, memikirkan Tata.

 

Dari Stasiun Tugu Jogja, KA kelas eksekutif-bisnis ini hanya berhenti di beberapa stasiun besar. Di stasiun-stasiun kecil, rangkaian kereta api ini akan berjalan langsung tanpa jeda tanpa sapa. Gak peduli stasiun-stasiun itu berperan penting dalam kelancaran perjalanannya, Sancaka tetap melaju.

 

Sedari tadi, aku melewati banyak stasiun kecil. Melewati hamparan hijaunya sawah yang membentang di kiri-kanan rel. Setelah tadi berhenti di stasiun Madiun dan melewati stasiun-stasiun kecil seperti Babadan, Caruban, Saradan, dan Wilangan, sebentar lagi aku akan melewati stasiun Bagor, sepetak sebelum stasiun Nganjuk. Mendadak terpikir olehku akan posisiku di mata Tata.

 

Apa di mata Tata aku hanya sebuah stasiun kecil yang gak layak untuk kereta eksekutif sekelas dia berhenti disini? Apa aku hanya sebuah stasiun pelengkap perjalanannya, bukan destinasi terakhir tempat ia berhenti? Meskipun aku udah melakukan yang terbaik semampuku, stasiun kecil tetaplah stasiun kecil. Ia akan selalu terlewatkan. Bahkan sekalipun ada BLB yang memaksa kereta kelas 1 berhenti di stasiun kelas 3, sejatinya kereta itu gak pernah benar-benar berhenti. Ia hanya singgah sejenak sebelum melanjutkan perjalanan menuju destinasi terakhirnya. Apa benar seperti itu arti diriku di mata Tata? Ah… aku benci memikirkan seberapa besar nilai kehadiranku untuknya.

 

Kalau emang cuma sebatas itu arti diriku di matanya, maka untuk apa aku bertahan selama ini? Kalau cuma keajaiban yang bisa membuat cintanya berhenti di hatiku, maka harus berapa lama lagi aku bersabar menunggu keajaiban itu menjadi nyata? Sementara aku sendiri bahkan gak tau benar-benar akan ada keajaiban untukku atau gak.

 

Senyumnya yang manis, tawanya yang riang, matanya yang teduh, sikapnya yang manja dan kekanak-kanakan, semuanya akan sangat kurindukan. Mau bagaimana lagi? Apa aku harus selalu bertahan untuknya sementara dia hanya mempertahankan perhatianku, bukan aku? Aku ingin berhenti terlihat bodoh. Atau lebih tepatnya berhenti bersikap bodoh.
Hal sederhana yang ia lakukan selalu kuartikan dengan penuh percaya diri bahwa itu adalah tanda bahwa ia mulai menyukaiku. Kenyataannya apa? Perasaannya padaku sama sekali gak berubah. Ia hanya menganggapku seorang figuran yang hanya berperan kecil di drama kehidupannya. Aku hanya sebagai pelengkap untuk membumbui cerita cintanya agar menjadi semakin lezat. Aku sama sekali gak pernah menjadi tokoh utama di hidupnya.

 

Ketika kita menyukai seseorang, sangat menyedihkan saat menyadari bahwa posisi kita di matanya gak lebih dari seorang figuran dan sebuah stasiun kecil. She means everything for me, but I mean nothing for her. Galau deh jadinya.

 

to: my biggest wish

i think you’re right.

 

Sebuah kalimat itu aku SMS-in ke Tata. Singkat, padat, dan sedikit gak jelas. Kalau Tata cerdas, dia pasti ngerti maksudku. Dan sayangnya Tata gak cerdas. Dia bales SMS-ku, tanya maksudku apa. Sengaja gak aku bales. Ganti dia BBM-in aku berkali-kali nanyain hal yang sama tapi tetep gak aku bales.

 

Pas dia nelpon, aku sengaja gak ngangkat telponnya. Aku gak ingin mendengar suaranya yang malah akan membuatku luluh. Aku udah bertekad bahwa beberapa saat lagi ketika kereta ini berhenti di SGU dan pintunya terbuka, aku harus mantap untuk berhenti menyukai Tata. Aku gak bisa terus-terusan mengharapkan sesuatu yang gak pasti.

 

And here we go. Surabaya Gubeng station. And the door of this train is opened…

ooooooooooooooooooooooooooo

 

Udah seminggu lebih aku sengaja gak menghubungi Tata. Aku gak ngangkat telponnya, gak bales SMS-nya, gak juga muncul di fesbuk maupun twitter. Selain karena capek, aku juga pengen ngetes Tata. Aku pengen ngerti gimana reaksinya kalau aku menghilang dari peredaran. Kalaupun dia nyari aku, aku tetep pengen tau usahanya gimana.

 

Aku ngikutin saran Mira. Katanya, menghilang dari peredaran adalah salah satu trik untuk menguji seberapa besar arti kita di mata seseorang. Seseorang yang gak punya perasaan apapun sama kita, akan cuek meskipun kita menghilang. Bahkan mungkin dia gak akan sadar kalau kita gak ada. dia gak akan peduli. Masa bodo banget lah. Tapi seseorang yang punya perasaan sama kita, apapun itu perasaannya, akan sangat merindukan kita dan mencari tau dimana keberadaan kita. Dia akan sangat mengkuatirkan keadaan kita.

 

Secara gampangnya, kalau Tata nyari aku, berarti kata Mira aku menang. Itu artinya Tata gak mau kehilangan aku, atau setidaknya gak mau kehilangan perhatianku. Hmm… agak sebel juga kalau dia cuma merasa kehilangan perhatianku, bukan aku.

 

Sebaliknya, kalau Tata gak nyari aku, artinya aku emang harus bener-bener berhenti buat suka sama dia. Berhenti, sekaligus berbelok arah. Kalau emang dia cuma peduli dengan perhatianku padanya yang sengaja kutiadakan seminggu ini, berarti aku harus berubah melewati jalan lain. Bukan jalan cintanya.

 

Beberapa hari kemarin, dia sempat menghubungiku. Namun seperti yang kukatakan sebelumnya, aku gak meresponnya. Sejak itu hingga hari ini, dia gak lagi menghubungiku. Yah… kupikir emang inilah saatnya. Inilah saatnya aku bener-bener berhenti mengharapkan Tata punya perasaan yang sama denganku.

 

Kalau cuma perhatianku yang dia rindukan, aku yakin pasti di luar sana masih banyak orang yang akan memberikan perhatian yang sama untuknya selain aku. Tapi meskipun kecil kemungkinannya, jujur aku masih berharap Tata merindukan aku seutuhnya. Aku berharap dia merindukan sosokku dalam ketiadaanku di hidupnya.

 

“Fikriiiii…” kudengar seseorang memanggil namaku.

 

Aku celingak-celinguk mencari sumber suara. Agak susah juga menemukan siapa orang yang memanggilku itu. Maklum, banyak penumpang yang turun dari kereta. Belum lagi calon penumpang yang udah gak sabar buat segera naik ke kereta. Apalagi jam-jam segini stasiun Jombang emang lagi rame-ramenya. Banyak kereta yang akan lewat dan berhenti di stasiun yang ketinggiannya +34 mdpl tersebut.

 

“Fik, Fikriiiii…” teriak seseorang itu lagi.

 

Betapa terkejutnya aku begitu melihat Tata melambaikan tangannya dengan senyum sumringah tersungging di bibirnya. Dari peron stasiun, Tata melambaikan tangan untuk siapa? Aku kah? Ah mana mungkin. Tapi ada berapa Fikri sih yang dia kenal dan yang saat ini baru turun dari kereta? Kurasa hanya aku. Oh yeeeessss… she called my name loudly.

 

Hampir dua minggu aku sengaja gak ngasih kabar. Lusa, tepat dua minggu setelah aku mengiriminya SMS terakhir sebelum menghilang dari hidupnya, rencananya akan menjadi titik balik bagiku. Kalau sampai hari itu dia sama sekali gak menemuiku, it means the game is over. I’ll stop loving her. Stop, turn around, and walk on the other way of love. Dan ternyata, hari ini dia menemuiku. Artinya, harapan itu masih ada.

 

She has a feeling to me. Meskipun aku gak tau perasaan apa yang dia punya untukku, tapi aku udah cukup bahagia dengan dia berdiri disini, di hadapanku. Lengkap dengan senyumnya yang manis dan menawan, dia berkata,

 

“Dua minggu ini kamu kemana aja? Kamu tuh kayak ditelan bumi tau gak. Tau-tau ngilang gitu aja gak ada kabar.”

 

“Kamu nyari aku?”

 

“Ya iyalah. Kalau gak, ngapain coba aku kesini.”

 

“Emang ngapain coba?”

 

“Yaaaaa… gak ngapa-ngapain sih. Tadi tuh aku cuma pengen lihat-lihat kereta aja. Trus kebetulan lihat kamu turun dari Dhoho. Ya udah deh aku sapa.”

 

“Yakin kayak gitu? Tadi bukannya bilang nyariin aku ya?”

 

“Ah udah ah… Kayaknya ngobrol sambil minum es bubur cangjo depan stasiun lebih enak deh daripada berdiri di peron gini.”

 

“Iya deehhh… Terserah kamu. Aku ngikut aja lah.”

 

Kalau tebakanku benar, Tata bakal ngomong ‘sesuatu’. Dan kalau semua itu terjadi, aku udah menyiapkan amunisi agar gak kalah dan tetap terlihat gagah. Tapi seandainya apa yang kutebak salah, maka balik lagi ke rencana semula. Aku akan berhenti, pindah haluan, dan melangkah di jalan yang lain. Life must go on.

 

“Aku tau kamu pasti sengaja nungguin aku di stasiun. Sumpah ya rasanya tuh kayak sinetron banget. Hahaha…”

 

“Ih GR. Siapa juga yang sengaja nungguin kamu. Kemarin tuh aku ke rumah kamu. Tapi kata ibumu, kamu baru pulang kerja hari ini.”

 

“Trus akhirnya kamu kesini buat nemuin aku. Ya sama aja kan?”

 

“Ah gak tau ah. Terserah kamu deh, yang penting gak ngebakar pasar.”

 

Aku diam. Sengaja diam. Aku hanya meneruskan memasukkan sendok demi sendok es bubur kacang ijo ke mulutku. Kalau aku terus ngoceh, yang ada Tata gak bakal ngomong apa-apa. Tunggu aja… Bentar lagi pasti dia bakal ngomong blak-blakan.

 

Finally,she open her mouth. She say, “I hope you’re still think that I was wrong.”

 

“Maksud kamu?”

 

“Tentang suka sama aku, tolong jangan menyerah!”

 

“Bukannya kamu yang minta aku supaya nyari cewek lain yang lebih baik dari kamu? Kamu juga kan yang minta aku nyari seseorang yang lebih bisa mengerti aku, lebih pantes sama aku dibanding kamu? Iya kan? Lupa?”

 

“Gak lupa. Tapi itu dulu. Sekarang, aku mau kamu tetep bertahan suka sama aku.”

 

Aku berhenti menyendok. Kualihkan pandanganku dari semangkuk es kacang ijo ke wajah Tata. Aku berkata, “Kenapa harus? Kamu gak bisa seenaknya memintaku untuk berhenti atau bertahan suka sama kamu. Itu namanya kamu mempermainkan perasaanku.”

 

’Cause now, I think I start loving you.

 

“Kamu ngomong apa sih, Ta? Kamu tuh gak pernah suka sama aku. Aku tau banget itu. kamu tuh cuma suka kuperhatikan, kupedulikan. Makanya kamu gak mau kehilangan perhatianku. Dulu juga kamu sempet cemburu sama Mira. Itu semua karena kamu takut perhatianku terbagi kan?”

 

“Dulu emang iya. Tapi dua minggu ini, sejak kamu bener-bener menghilang gak ada kabar, aku mulai sadar kalau aku suka sama kamu.”

 

“Cuma dua minggu, Ta? Cuma karena aku ngilang selama 2 minggu perasaan kamu jadi berubah secepet itu ke aku? Ta, selama ini aku selalu care sama kamu, selalu ada buat kamu. Tapi kamu cuek-cuek aja tuh sama aku. Nah ini…”

 

“Oh, jadi kamu gak suka kalau aku suka sama kamu?” dia menyela.

 

“Bukan. Bukan gitu maksudku, Ta. Aku ngerasa semua ini kayak mimpi gitu. Cuma masalahnya orang ngimpi kan pas lagi tidur, bukan pas lagi makan bubur. Sekarang gini deh, kamu jelasin ke aku sejujurnya tentang perasaan kamu.”
“Oke, ini emang agak malu-maluin. Tapi kalau aku gak ngomong ke kamu, aku bakal kesiksa sendiri. Tadinya sih emang iya aku gak suka sama kamu. Aku cuma suka sifatmu yang ramah, periang, dan mudah akrab dengan siapapun, termasuk dengan orang tuaku. Aku suka kamu karena orang tuaku menyukaimu, hanya sesederhana itu mulanya. Selebihnya, sama sekali gak ada perasaan apapun buat kamu.”

 

Dia melanjutkan, “Jujur, aku suka dengan caramu memperhatikanku. Aku merasa kalau aku punya seseorang yang akan memperjuangkan kebahagiaanku, yaitu kamu. Jadi aku memanfaatkan perasaan sukamu ke aku untuk membunuh kesendirianku, menemani sepiku, dan membantuku kalau aku sedang dalam kesulitan.”

 

“Lalu?”

 

“Lalu kamu menghilang. Mulanya aku hanya merasa kehilangan semua perhatianmu. Gak ada lagi SMS-SMS dari kamu yang selalu ngebangunin aku tiap pagi, ngingetin aku buat gak lupa sholat, jangan lupa makan, jaga kesehatan, dan lain-lain. Gak ada lagi guyonan-guyonan garing yang sengaja kamu katakana untuk menghiburku. Gak ada lagi gombalan-gombalan kocak yang sengaja kamu ciptakan untuk merayuku. Gak ada lagi mention-mu di twitter yang selalu nge-retweet setiap tweet-ku. Gak ada lagi perhatian darimu.

 

Selama beberapa hari, aku kangen perhatianmu padaku. Tapi hari-hari sesudahnya, aku malah kangen sosokmu. Aku kangen sosokmu yang ceria, periang, humoris, jujur, dan apa adanya. Aku kangen sosokmu yang selalu penuh semangat menjalani hidup, terlebih selalu semangat berusaha menaklukan hatiku. Aku kangen sosokmu yang penuh kesabaran menghadapi sifat manja dan kekanak-kanakanku. Aku kangen kamu. bener-bener kangen.

 

Makan kedelai rebus berdua di alun-alun. Main tebak-tebakan di teras rumahku. Neduh bareng pas ujan. Mandangin kelap-kelip bintang dari teras rumahmu. Itu semua bener-bener bikin aku kangen sama kamu. Semua hal tentangmu yang dulu gak berarti apa-apa sekarang jadi kerasa banget artinya setelah kamu gak ada. Ternyata bener kata orang. Sesuatu baru terasa berharga ketika kita udah kehilangan.”

 

“Kalau kamu emang ngerasa kehilangan aku, kenapa kamu gak dateng ke rumahku dan bilang kalau kamu kangen sama aku?”

 

“Kemarin-kemarin aku masih ragu sama perasaanku. Aku masih gak percaya sama semua ini. Rasanya tuh lucu aja gitu aku bisa suka sama kamu, cowok yang dari dulu gak pernah kupeduliin. Sampai akhirnya aku menyadari sesuatu.”

 

“Apa?”

 

“Kalau ternyata aku gak cuma menginginkan kamu dan segenap perhatianmu. Tapi aku membutuhkanmu. Aku butuh kamu selalu di sampingku. Jadi, tolong jangan berhenti suka sama aku! Bahkan sekalipun kamu berhenti suka sama aku, tolong jangan menjauh dari kehidupanku. Aku bersedia kehilangan semua perhatianmu. Tapi jangan sosokmu.”

 

LEGA. Sangat-sangat lega. Ternyata penantianku selama ini gak sia-sia. Ternyata kesabaranku membuahkan hasil. Aku bersyukur Allah memberiku dua daun telinga sehingga aku bisa mendengarkan pengakuan Tata kalau dia juga menyukaiku.

 

“Kamu gak pernah kehilangan aku, Ta. Karena aku selalu disini, buat kamu.”

 

Tata memandangku dengan tatapan haru. Dia seolah ingin menangis. Setelah sekian lama dia merasa memperlakukanku dengan sangat gak adil, ternyata aku masih menyukainya dengan kadar yang sama. Perasaanku tetap gak berubah. Itu yang membuatnya terharu.

 

Disaksikan semangkuk es bubur kacang ijo yang cuma tinggal es batunya doang, aku nembak Tata. And guess what… My biggest wish is comes true. She said yes, everybody. She wanna be my girlfriend. No no no… not only girlfriend, but also my future mother for my children. Sumpah rasanya sangat membahagiakan. Aku gak sabar pengen cerita ke Mira.

 

Sama seperti sebuah kereta api. Ia akan tiba pada jadwal yang telah ditentukan. Dan kurasa sekaranglah jadwalku dengan Mira. Yah, kurasa saat inilah Allah menunjukkan kuasa-Nya. Ia kabulkan semua doa-doaku. Ia balas kesabaranku dengan buah yang legit.

 

Ternyata benar kata Mira. Kita harus percaya pada kuasa Allah dan biarkan tangan-Nya yang bertindak. Kita hanya perlu berusaha sekuat tenaga, berdoa, berdoa, berdoa, berdoa, berdoa, berdoa, dan selalu berdoa. Karena doa memiliki kekuatan magis yang luar biasa.

 

Percayalah, gak ada doa yang gak didengar, gak ada doa yang gak dikabulkan. Jika Allah berkata ‘ya’, maka Ia langsung mengabulkan apa yang kita mohonkan. Jika ‘tunda’, maka ia meminta kita untuk sedikit lebih bersabar. Jika ‘tunggu’, maka Ia akan memberikan yang lebih baik. Dan jika Ia berkata ‘tidak’, maka percayalah Ia akan memberi kita yang terbaik. Selalulah bersabar dan berprasangka baik pada-Nya.

 

Pada akhirnya, terima kasih ya Allah karena telah mendengarkan semua doaku. I do really love her, and now You make her mine. Dalam hati aku membatin, “Mir, tunggu tanggal mainnya. Kamu pasti bakal kaget denger semua ceritaku ini. Finally I am being her man.”

3 thoughts on “STASIUN KECIL

  1. aku pnya kisah yg mirip sama kakak .. tapi bedanya aku masih kuliah .. dan dia yg kusuka yg tramat kusayabgi kucuntai sepenuh hati dia tmanku yg sjrag skekas sama aku… aku sudah mngatakan smuq namun responnya sama seperti kakak terima saat dia ttap mgagapku seperti itu.. sudah setahun ini aku mgejar cintanya namun ttaplah sama… aku juga ingin lupakan tapi tetap ga bisa. sama seperti crita kakak… diapun kliatannya hnya btuh phtianku bukan tnya ttg kdaanku karna di juga blum bisa lupakan pacarnya yg besar kmgkinan dia tu ga sama pcarnya wlo sampe mati” dia yg bkata kpadaku .. karena tidak serta mrrta drestui oleh ibunya …karena adat jawa. namun bpaknya belum tau ttg itu.. dan tepat hari ini dia menulis sttus karena sbenarnya mgkin aku yg tlah ga sbar pgen bnar2 mlikin dia dan takut khilangan dia .. mgkin dia hari2 ini bgug… dan d.whatsapp seperti kata mutiara .. yg sttusnya “skeras apapun batu bila sering tertetes air maka akan berlubang juga”… aku merasa itu buatku karena faktanya ada dua cwok dhidupnya yg tlibat dlam hubungan asmara nya hanya aku dan pcar yg dsyang dia namun dia dalam tahap mlupakan pcarnya… lalu aku cari lwat gadged ku ini… ttg kata mutiara itu . dan ku baca semua kisah kak fikri ini dg cermat ga ada yg trlwat pahamku.. dan dg aku baca smngatku untuk bjuang mraih nya untuk kelak bhgiakanny mencintainya dan mberikan yg terbaik sgalanya untuknya tumbuh kmbali… hanya dia yg ingin aku pimpin ta ad prmpuan lain… buatku dia sgalanya untukku… ya allah, sama dg cara kakak ada kalanya aku benar2 mgluh sakit dan mrasa bgitu dekat dg tuhan ku… ya pada intinya aku akan bertahan aku akan berjuang sekuat kuat mugkin untuk mluluhkan hati dan jiwanya ga ad niat buruk aku hnya ingin bhagiakannya hanya aku seorang yg ada dhatinya… semoga kisah ssok kak fikri ending “kerasnya batu bila sering terkikis air maka akan blubang juga” terjadi pada kisahku ini… semoga kelak dia benar benar mjadi milikku seutuhnya.. ammiin yarobbal alamin ya allah .. terimakasih kisah kak fikri bgitu mberiku smngat …. I beliieve.. i can do it .. semoha inilah aeal jalanku kmbali untuk bnar bnar mlki dia.. “cns” inisialnya ..hmm aku tak akan myerah aku yakin semua ini tak luput campur tangan tuhan, smua tlah mnjadi jadwal dalam rencana indahnNya.. aku untuk dia(cns).. terima kasih kak kini smgatku kmbali tumbuh untuk terus slamanya kdepan🙂 dan insaallah aku kan temui endig yg sama sperti kakak amiin ya allah..🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s