dialog dengan bayangan

aku bertengkar dengannya. sengit, sampai selarut ini.

 

“siapa yang mendidikmu jadi sesombong ini, hah? mentang2 kamu pandai, kamu jadi merasa punya hak untuk menganggap orang lain bodoh, begitu?” katanya.

 

“aku gak nganggep kayak gitu. itu kan emang kenyataan. mereka tuh bener2 malu-maluin banget tau gak sih. sekarang coba deh bandingin, coba lihat temen-temenku yang lain, orangtuanya tuh pada berpendidikan. ada yang sarjana, ada yang profesor, ada yang jadi dokter, jadi dosen, jadi ini jadi itu. sedangkan orangtuaku apa? cuma penjual angsle keliling dan buruh batik. sekolah aja cuma tamat SMP. gak heran mereka kelihatan yang paling bodoh dibanding orangtua temen-temenku. malu tau gak sih.”

 

“malu kenapa? mereka orangtuamu, bukan orang lain. bisa gak sih gak usah ngebanding-bandingin mereka dengan orang lain?”

 

“mana bisa? hidup emang kayak gini, selalu ada sesuatu yang dicompare dengan lainnya. lagian mereka tuh keterlaluan banget sih. masa ditanya gitu aja gak bisa jawab. jadi ketahuan deh kalau mereka bodoh. mana di depan banyak orang pula.”

 

“sumpah ya, kamu tuh menyedihkan banget. bisa-bisanya ya kamu punya pikiran sekotor itu. menurutmu, siapa yang paling berjasa atas kepandaianmu itu, hah? siapa seseorang dibalik layar yang menjadikanmu lulusan terbaik universitas ini, hah?”

 

“jelas semua guruku lah. mereka yang mengajariku membaca, menghitung, menulis, semuanya. kamu tau sendiri orangtuaku kayak gimana, gak buta huruf aja udah untung.”

 

“gurumu? hahahaha… berbakti sekali ya kamu sama gurumu, sampai2 kamu melupakan jasa orangtuamu. denger ya, kamu tuh gak bakal bisa jadi seperti kamu yang sekarang kalau bukan karena orangtuamu. ingat, orangtuamu, bukan orang lain.”

 

“gak usah sok tau deh. orangtuaku tuh gak pernah ngajarin aku. berhitung aja mereka gak becus.”

 

“sekarang aku tanya, siapa yang menyekolahkan kamu sampai setinggi ini, hah? siapa yang mati-matian banting tulang kerja keras buat ngebiayain pendidikanmu, hah? gurumu? temen-temenmu? orangtua temen-temenmu yang profesor itu? kamu bisa menjadi lulusan terbaik karena kamu disekolahkan oleh orangtuamu. coba seandainya orangtuamu yang kamu anggap bodoh itu enggan membiayaimu, apa mungkin namamu akan diumumkan saat wisuda sebagai lulusan terbaik tahun ini? kamu tuh mestinya sadar, guru emang orang yang membantumu belajar, tapi orangtuamu adalah orang yang memungkinkan kamu mengenyam pendidikan. bahkan meskipun terhimpit ekonomi, mereka tetap berjuang membiayaimu.”

 

“trus kenapa? itu kan emang tugas mereka. dimana-mana tugas orangtua emang melakukan yang terbaik untuk anaknya, kan?”

 

“lalu menurutmu, apa tugas anak, hah? menghina orangtuanya? merendahkan orangtuanya? hanya karena kamu lebih pandai dari mereka, gak berarti kamu berhak untuk durhaka kepada mereka. mestinya kamu tuh bangga punya orang tua seperti mereka. meski harus kecapekan mengelilingi kampung berjualan angsle, bapakmu tetap gigih bekerja demi kamu. ibumu juga rajin membatik meski upahnya gak seberapa. kamu pikir semua itu mereka lakukan demi siapa kalau bukan demi kamu? menyedihkan sekali punya anak sepertimu. sama sekali gak tau terima kasih.”

 

“…………..” aku terdiam.

 

“kenapa sih di dunia ini harus ada anak sepertimu? anak gak tau diuntung, gak tau terima kasih, gak bisa menghormati dan menghargai orangtuanya. apa gunanya kamu disekolahkan tinggi2 kalau cara bersikap baik kepada orangtua aja kamu gak ngerti. percuma kamu jadi lulusan terbaik kalau ilmu yang kamu peroleh ternyata gak bisa bikin kamu paham gimana cara membahagiakan orangtuamu. ngakunya orang berpendidikan, tapi cara berbakti kepada orangtua aja kamu gak tau. semuanya tuh gak ada artinya. sama aja nol.”

 

“………….” aku masih diam.

 

“saat kamu sakit, siapa yang merawatmu dengan sabar, mengganti kompres di keningmu, bahkan menunggumu sampai tertidur di sisimu? siapa, hah? orangtuamu. saat kamu masuk sekolah, siapa yang kelabakan nyari pinjeman sana-sini demi bayar seragam dan beli buku-bukumu, hah? tetanggamu? bukan. orangtuamu. saat kamu jatuh dari sepeda dan gak bisa jalan karena kakimu berdarah, siapa yang menggendong kamu pulang dan mengobati lukamu? orang tua temanmu yang dokter itu? bukan. sekali lagi, orangtuamu. begitu banyak hal mereka lakukan untukmu. semuanya mereka korbankan demi kebahagianmu, sekalipun itu kebahagiaan mereka sendiri. setelah semua hal mereka curahkan untukmu, apa seperti ini balasanmu? merasa malu menjadi anak mereka, menganggap mereka bodoh, kuno, dan ketinggalan zaman, bersikap seenaknya dan sama sekali gak hormat kepada mereka, iya? hebat sekali ya kamu!”

 

aku menelan ludah. kata-katanya ada benarnya juga. ralat, bukan ada benarnya, melainkan semua benar. setiap kata yang diucapkannya langsung menembus relung hatiku. setiap perkataannya seperti sebilah pisau yang baru aja diasah. tajam.

 

“jadi, menurutmu aku terlalu sombong?”

 

“jelas. hanya karena kamu memiliki sedikit kelebihan, kamu merasa dunia ada dalam genggamanmu. kamu pikir di dunia ini hanya kamu yang pandai? hanya kamu seorang yang menjadi lulusan terbaik? sadar dong! kamu tuh bukan apa2 dan bukan siapa2 tanpa orangtuamu. baru jadi lulusan terbaik aja sombongnya udah selangit. padahal ilmumu tuh gak ada apa-apanya dibandingkan dengan kepandaian Tuhan. kamu tuh kayak setetes air di lautan, sebuah debu di padang pasir.”

 

aku menunduk malu. aku benar2 gak percaya aku bisa sejahat ini pada orangtuaku sendiri. dia menyuruhku mendekat padanya. dia menempelkan telapak tangannya dengan telapak tanganku. kemudian dia berkata,

 

“aku tau sinar kebaikan itu masih ada di hatimu. pergilah ke kamar orangtuamu. lihatlah wajah letih mereka setelah seharian bekerja tanpa kenal lelah. meski usia mereka semakin menua, semangatnya tetap muda. semuanya demi menghidupimu, demi menciptakan kondisi ‘layak’ bagimu. di balik wajah letih mereka, ada senyum yang tersimpan untukmu. lihatlah mulut mereka. mulut itu gak pernah berhenti mendoakanmu. bahkan meski mereka sangat ingin memarahimu dan mencaci maki dirimu karena tingkahmu, mereka malah gak henti-hentinya menyebut namamu dalam doa.”

 

kuperhatikan wajah kedua orangtuaku. gak terasa air mataku pun jatuh. dalam sunyi malam ini, aku baru menyadari bahwa bukan pangeran diponegoro pahlawan yang paling berjasa dalam hidupku, melainkan mereka. kedua orangtuaku. pelan2 kuhampiri mereka. masih berteman sepi, kukecup kening mereka satu persatu. lirih kubisikkan di telinga mereka, “maaf.”

 

aku kemudian kembali ke kamarku, kembali berbincang dengannya. kukatakan padanya bahwa aku emang terlalu sombong, gak tau diri, gak tau diuntung, dan sebagainya. aku berdosa terhadap orangtuaku. gak kusangka, yang tadinya kita berdebat sengit, tiba2 dia berkata dengan lembut,

 

“sering-seringlah berdiri disini. karena melalui cermin ini, kamu dapat melihat dan berbincang denganku. aku akan selalu mengingatkan kamu ketika kamu salah, menyemangati kamu ketika kamu jatuh, mendorong kamu ketika kamu stuck di satu titik, dan turut bertepuk tangan untukmu ketika kamu melakukan hal benar dengan baik. gak usah ragu untuk datang padaku. karena aku bukanlah orang lain. aku adalah dirimu.”

2 thoughts on “dialog dengan bayangan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s