SEMANGAT DARI ‘AMBON’

Namanya Fajar. Hanya itu yang kutahu. Entah bagaimana nama panjangnya.

 

Dari belasan murid lesku, dia bukan yang terpandai. Malah bisa dibilang dia yang paling lambat menangkap apa yang kuajarkan. Dia juga bukan yang tertampan. Oleh teman-temannya, dia biasa dipanggil ‘Ambon’ karena kulitnya yang hitam. Malah ada juga yang mengejeknya dengan ‘Untu’ karena giginya besar-besar seperti kelinci.

 

Meski nilai ulangannya selalu di bawah teman-temannya, tapi aku menaruh simpati yang besar padanya. Lebih besar dibanding murid-muridku yang lain, bahkan dibanding muridku yang bintang kelas. Bisa dibilang, Fajar adalah murid favoritku.

 

Bertemu tiga kali dalam seminggu dan hanya satu setengah jam setiap pertemuannya, memang tidak membuatku mengenal Fajar seratus persen. Aku tidak bisa seutuhnya memahami ia, sebagaimana aku tak bisa pula memahami yang lain seutuhnya. Meski begitu, aku bahagia sekaligus bangga memiliki murid sepertinya.

 

Kukatakan begitu tak berarti aku tidak bahagia dan tidak bangga dengan muridku yang lain. Aku bahagia dan bangga mengenal mereka, sungguh. Sangat menyenangkan dapat menjadi bagian dari pertumbuhan pengetahuan mereka. Namun ada hal yang kusuka dari Fajar, yang tidak dimiliki oleh murid lain.

 

Bukan isi otaknya. Bukan pula kondisi fisiknya. Melainkan semangatnya yang tinggi.

 

Iya, semangat. Sesuatu yang menurutku mutlak diperlukan dalam belajar. Entah motivasi intrinsik atau ekstrinsik yang dimilikinya, semangat itu terlihat sangat jelas dalam dirinya. Sebuah rasa optimis akan segala sesuatu yang ia kerjakan. Termasuk optimis untuk secercah harapan akan masa depan.

 

Fajar, yang selalu jadi bahan ledekan teman-temannya, selalu datang ke rumahku lebih awal dibanding teman-temannya. Sekalipun ia tak pernah membolos. Ia hanya pernah sekali tidak masuk les karena sakit.

 

Meski ritme belajarnya lebih lambat dibanding teman-temannya, tapi ia selalu menyimak penjelasanku dengan penuh perhatian. Tak peduli teman-temannya bercanda, ia selalu fokus pada apa yang kusampaikan. Sesekali ia menguap, tetapi tetap menyimak.

 

Pernah suatu ketika, aku bertanya kepada semua muridku apa ada yang belum dimengerti. Semua diam. Tidak menjawab, tidak pula bertanya. Fajar lalu mengangkat tangan dan menanyakan hal yang mudah. Teman-temannya lantas menertawakannya.

 

“Ah, gitu aja ditanyain. Kocik goblike seh awakmu iku!” ledek temannya.

 

Ya, memang waktu itu ia menanyakan hal yang mudah. Sebuah pertanyaan yang rasanya tidak perlu untuk ditanyakan mengingat aku sudah menjelaskan sedemikian jelasnya. Sesaat aku berpikir, “Masa begitu aja gak bisa, sih. Kan tadi udah kujelasin.” Sejurus kemudian, buru-buru kutepis pikiran burukku itu.

 

Seorang guru tidak boleh menganggap remeh muridnya. Murid bukanlah robot buatan pabrik yang memiliki bentuk, kapasitas dan fungsi yang sama. Mereka adalah individu-individu berbeda yang memiliki kemampuan dan bakat yang berbeda pula. Jadi, sangat tidak bijaksana apabila seorang guru menyamaratakan tingkat kemampuan setiap muridnya.

 

“Biarin. Namanya juga gak ngerti. Kan mendingan tanya daripada diem aja. Wek!

 

Aku tersenyum mendengar ia berkata demikian. Lalu kukatakan pada semuanya agar seperti Fajar. “Nah, semuanya, tirulah Fajar. Jangan pernah malu untuk bertanya. Namanya juga belajar. Yang namanya belajar itu dari gak tau jadi tau. Dari gak ngerti jadi ngerti. Dari gak paham jadi paham. Dan dari gak bisa jadi bisa. Jadi, kalau ada yang gak dimengerti, jangan pernah takut untuk bertanya, ya!”

 

Semua serempak berkata, “Iyaaaaaaaaaaaaa!!!” Aku pun menjawab pertanyaan Fajar dengan sabar dan kalem. Kali ini dengan penekanan di bagian yang ia masih bingung.

 

Semangatnya yang tinggi juga dibuktikan melalui sikapnya yang tidak pernah mengeluh. Ketika tidak bisa mengerjakan soal atau melipat kertas (terkadang aku mengajari mereka origami di akhir les), Fajar lebih suka mengatakan, “Mbak, gimana caranya, sih?” daripada “Aduh, mbak! Aku gak bisa. Susah.”

 

Aku ingat saat itu ada salah satu muridku yang sebenarnya pandai, tapi kurang bersemangat dalam belajar. Ia selalu menyerah lebih dulu tanpa sempat mencoba. Saat itu kukatakan bahwa aku akan mengadakan kuis dengan hadiah origami. Murid tersebut langsung melengos dan tidak punya keyakinan sama sekali ia akan mendapatkan origami tersebut.

 

Aku memasang raut muka kecewa. Lalu, tiba-tiba Fajar menegur temannya tersebut. Ia berkata, “Kamu tuh payah, ah. Masa belum apa-apa udah nyerah. Soal aja belum dibacain masa kamu udah bilang gak bisa. Gak boleh putus asa, tau.”

 

Deg. Aku tersentak mendengarnya. Jujur, aku semakin menaruh simpati padanya. Bagiku, kepandaian sama artinya dengan nol jika tidak dibarengi dengan semangat belajar yang tinggi. Tapi dengan semangat belajar yang tinggi, meskipun seseorang tidak begitu pandai, ia akan mampu meniti puncak walau perlahan.

 

Disini, aku bukan hanya mengajar, melainkan juga belajar. Dari sosok Fajar, aku belajar tentang pentingnya sebuah semangat untuk maju dan menjadi lebih baik. Dan dari semua muridku, aku belajar agar tidak egois dengan memaksa mereka mengerti apa yang kuajarkan. Kini aku sadar bahwa aku bisa saja memaksa mereka untuk diam dan hanya memusatkan perhatiannya padaku. Namun aku takkan pernah bisa memaksa mereka untuk mengerti apa yang kuajarkan pada mereka.

2 thoughts on “SEMANGAT DARI ‘AMBON’

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s