Ternyata Begini Rasanya…

Ternyata begini rasanya…

Berdiri di depan kelas, sendirian. Menghadap puluhan pasang mata yang haus akan ilmu. Menjadi seseorang yang setiap perkataannya akan menentukan tumbuh kembang murid-muridya. Menjadi pusat perhatian.

 

Ternyata begini rasanya…

Menyapa mereka sambil tersenyum hangat. Sebuah sapaan, “Selamat pagi, anak-anak!” akan berbalas, “Selamat pagi, Bu Guru!” Seperti tak menyangka bahwa waktu berjalan secepat ini. Sekian tahun yang lalu, aku berada di posisi mereka. Duduk di kursi itu, menulis di bangku panjang yang terbuat dari kayu.

 

Ternyata begini rasanya…

Berusaha mendapatkan simpati mereka. Mencuri perhatian mereka. Melakukan upaya sedemikian rupa agar mereka belajar dengan sungguh-sungguh, sehingga tak sia-sia mereka sekolah. Tidak mudah, namun tak boleh menyerah.

 

Ternyata begini rasanya…

Menghadapi situasi kelas yang ramai. Ada yang berlarian, ada yang bergurau dengan teman. Ada yang bertengkar, ada yang menangis. Ada yang serius belajar, ada pula yang tak mau menulis. Terselip di benakku sebuah pertanyaan, “Seperti inikah guru-guruku menghadapi tingkah dan polaku dulu?”

 

Ternyata begini rasanya…

Harus mengontrol jagoan-jagoan kecil. Mencari cara agar mereka takluk denganku. Bersedia mengikuti pelajaran dan tidak mengganggu teman. Sangat susah mengatur mereka, tetapi bukan berarti tidak bisa.

 

Ternyata begini rasanya…

Berkumpul dan bergurau bersama calon pemimpin-pemimpin bangsa. Melenyapkan jarak antara guru dan murid. Melebur menjadi satu. Menjadi teman. Bermain bersama, bercanda, tertawa, dan berbagi cerita. Ada saat dimana sekat itu terasa, ada pula saat dimana aku lupa bahwa sekat itu ada.

 

Ternyata begini rasanya…

Harus menanamkan semangat dan optimisme pada mereka. Dan sekali-kali tak pernah berhenti memupuknya. Meyakinkan mereka bahwa mereka pasti bisa. Bahwa apapun yang terjadi, meskipun tampak sangat tidak mungkin, kita tetap harus berjuang sampai akhir.

 

Ternyata begini rasanya…

Dibutuhkan, dihargai. “Bu, caranya bagaimana?”, “Bu, jangan berhenti mengajari kami, ya!” atau “Ibu disini saja, jangan pulang! Terus jadi guru disini saja, mengajar kami.”

 

Ternyata begini rasanya…

Tetap harus mengajarkan hal baik, meski diri sendiri pun belum tentu baik. Sangat menusuk ketika berkata, “Jangan menyontek ya, anak-anak! Percaya pada kemampuan kalian sendiri. Harus jujur, ya!” lalu dibalas dengan, “Memangnya Ibu gak pernah nyontek? Kayak Ibu gak pernah (menyontek) aja.” Seperti berdialog dengan bayanganku sendiri.

 

Ternyata begini rasanya…

Menjadi seseorang yang dirindukan. Selalu dinantikan kedatangannya. “Bu, gantikan guru yang itu saja! Mengajarnya tidak enak, sering ditinggal. Tidak diajari apa-apa.”, “Bu, tambah setengah jam lagi, ya! Kurang lama belajarnya bersama Bu Guru!” atau “Bu, kapan mengajar lagi?”

 

Ternyata begini rasanya…

Harus benar-benar mampu menjadi teladan seutuhnya. Tak peduli perkataan, perbuatan, maupun sekedar penampilan. Semua harus ditata dan tak boleh sembarangan. Malu ketika seorang siswa bertanya, “Bu Guru kok pakai gelang?” Dan aku tak mampu menjawabnya. Hanya tersenyum lalu menyembunyikan gelang karet hitam yang terlihat seperti preman.

 

Ternyata begini rasanya…

Ketika tanganku dijabat dan dicium oleh mereka, malaikat-malaikat kecil yang lapar akan pengetahuan. Datang dan pergi tanpa pernah lupa mengucap salam. Seperti sebuah ritual, satu persatu menyalamiku sambil berkata, “Assalamualaikum, Bu Guru.”

 

Disinilah aku sekarang. Di sebuah masa ketika fisikku kian membesar, dan pola pikirku dituntut untuk menjadi dewasa. Di sebuah keadaan ketika aku tidak lagi meniru, melainkan menjadi model yang ditirukan.

 

Seolah menatap masa lalu. Berada di tengah-tengah mereka mengingatkan akan bagaimana aku dulu. Betapa nakalnya aku, susah diatur, tak bisa diam, selalu aktif bergerak, dan sebagainya. Kemudian sekelebat pikiran seperti menamparku dan membawaku dalam kenyataan masa kini, “Sekarang kamu gurunya. Mau kamu apakan murid-muridmu? Mau kamu bawa kemana mereka?”

 

Rasanya campur aduk. Antara terkenang akan masa lalu, dan dituntut harus segera menentukan opsi-opsi apa saja yang harus kuperbuat ke depannya. Membawa mereka melaju melewati jalan yang sama yang pernah kulalui. Ataukah memberikan wawasan seluas-luasnya kepada mereka, agar mereka bisa memutuskan sendiri jalan mana yang akan mereka pilih.

 

Kurasa yang terakhir lebih tepat. Karena aku tak ingin mereka berada di sampingku. Aku ingin mereka berada di atasku. Meski tak jauh, meski hanya satu titik lebih tinggi.

 

 

*terinspirasi oleh murid2 lesku dan murid2 kelas 3 SDN Sumbergeneng 1 Kecamatan Jenu, Kabupaten Tuban*

11 thoughts on “Ternyata Begini Rasanya…

  1. Km di tuban phier skrg?
    Slamat menjadi guru ya…., bu guru..
    Berat, tp itulah berat nikmat..
    Membahagiakan jika mereka turut merasakan dan menganggap kita (sbg guru) ada.. Aku jg pernah ngerasain phier gimana jadi guru les. Apalagi waktu itu aku msh SMA, msh selengek’an.. Kadang malu sama mereka, lbh malu lagi sama diri sendiri yg harus menjadikan mereka individu yg baik.

  2. Km di tuban phier skrg?
    Slamat menjadi guru ya…., bu guru..
    Berat, tp itulah berat yang nikmat..
    Membahagiakan jika mereka turut merasakan dan menganggap kita (sbg guru) ada.. Aku jg pernah ngerasain phier gimana jadi guru les. Apalagi waktu itu aku msh SMA, msh selengek’an.. Kadang malu sama mereka, lbh malu lagi sama diri sendiri yg harus menjadikan mereka individu yg baik.

    • enggak mi.. kemaren sempet seminggu di tuban, nemenin umik diklat. nah sama sodaraku, aku diajak ke sekolahnya gitu. eh ternyata disuruh ngajar juga. 2 kali aku ngajar di sekolah itu. sama murid2nyaa eh aku ga boleh pulang malahan…

      wah iya kah? dulu pas SMA aku ga tau apa2. cuma sekolah, pulang, tidur, belajar, sekolah lagi.. ckckkck

  3. “Karena aku tak ingin mereka berada di sampingku. Aku ingin mereka berada di atasku. Meski tak jauh, meski hanya satu titik lebih tinggi.”
    Kata2nya ky mama n ayahku e. hehe like it

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s