KULUKIS KENANGAN DI ATAS REL KERETA API

Pernahkah kamu bertemu dengan seseorang di suatu kebetulan, lalu akhirnya dia menjadi teman baikmu? Aku pernah. Sama sekali gak pernah kusangka sebelumnya bahwa aku akan berteman dengannya, sampai hari ini.

 

Waktu itu aku sedang dalam perjalanan pulang ke Sidoarjo. Sebagai seorang railfans yang baru nyemplung ke dunia persepuran Indonesia, aku sangat senang memotret kereta lewat. Yah, meskipun mencintai kereta api gak harus diartikan dengan memotret, sih.

 

Di stasiun Lawang, Penataran (kereta yang kunaiki) harus berhenti menunggu Tawang Alun tiba di stasiun yang sama. Berbekal kamera saku, aku pun turun dari kereta untuk memotret kereta api relasi Banyuwangi (BW) – Malang Kotalama (MLK) tersebut. Aku ingat sekali waktu itu lokomotifnya berada dalam posisi LH (long hood).

 

Setelah memotret, aku naik kembali ke Penataran dan berjalan ke kursiku tanpa berani menatap orang-orang di bordes. Semuanya laki-laki sih. Aku selalu begitu, menunduk apabila berhadapan dengan laki-laki.

 

Sesampai di tempat dudukku, aku mengeluarkan hape dan membuka fesbuk. Ada pesan masuk dari seseorang bernama Vicky Zulfikar. Aku udah berteman lama dengannya di fesbuk, tapi gak pernah melakukan interaksi apapun selain mengonfirmasi permintaan pertemanannya. Aku bahkan gak menghafalkan wajahnya dengan jelas, karena memang foto di fesbuknya kebanyakan foto kartun. Kalau gak salah, dia adalah temannya temanku yang menjadi masinis.

 

Kubuka pesan itu. Dia bertanya, “Kamu yang motret tawang alun, ya?”

 

Aku kaget. Bagaimana dia bisa tahu kalau aku baru saja turun dan memotret Tawang Alun? Aku pun membalas pesan itu. “Iya. Kok tahu?” begitu jawabku.

 

Ternyata dia juga sedang onlen. Dia segera membalas. Katanya, dia berdiri di bordes yang tadi kulewati. Kukatakan bahwa aku sama sekali gak melihatnya karena aku berjalan menunduk saat melewatinya.

 

Kami cukup lama berbalas pesan. Sampai akhirnya dia turun lebih dulu di stasiun Bangil, dua stasiun sebelum Tanggulangin. Dia turun bersama seorang temannya yang ternyata juga udah menjadi teman fesbukku sejak lama, tapi juga gak pernah berkomunikasi.

 

Sejak pertemuan pertama itu, kami mulai berkomunikasi. Aku dan dia saling memberikan komentar di status fesbuk maupun foto-foto yang kutandai. Demikian halnya dengan Rozi, teman yang bersamanya kala itu yang juga teman fesbukku.

 

Setelah lama mengobrol di fesbuk, Vicky meminta nomor hapeku. Obrolan kami pun berpindah via SMS. Kami membicarakan banyak hal. Mulai dari seputar kereta api hingga status hubungan. Saat itu aku masih single dan Vicky udah memiliki kekasih.

 

Aku sama sekali gak peduli dengan status hubungan kami. Bukankah pertemanan itu global dan semestinya gak dipandang dari status hubungan? Iya kan?

 

Seperti itulah aku dan Vicky. Kami menjadi semakin dekat saat Vicky memutuskan untuk menemuiku secara langsung. Saat itu aku sedang menunggu kereta untuk pulang ke Sidoarjo dan Vicky sedang menunggu jadwal dinas. Kebetulan dulu ia sempat dinas di Malang sebelum akhirnya dipindah ke Blitar.

 

Dengan mengenakan seragam biru telor asin khas masinis, ia menghampiriku dan mengajakku menjauh karena malu. Stasiun memang sedang ramai karena banyak calon penumpang yang menunggu kereta datang. Dia mengajakku melihat Malabar langsir. Dari kejauhan, Rozi datang. Ketika itu, dia sedang persiapan hendak berangkat dinas Gajayana.

 

Sejak itu, aku dan Vicky menjadi semakin akrab. Keakraban kami hanya sebatas teman. Sedekat apapun aku dengan seseorang, aku gak mungkin menyukai seseorang yang telah memiliki kekasih. Vicky sendiri juga mengaku telah menjelaskan perihal hubungan kami kepada Fika, kekasihnya. Untungnya Fika mengerti. Aku sungguh merasa sangat lega.

 

Vicky pernah heboh menjodohkanku dengan Rozi karena saat itu kami sama-sama jomblo. Umh, ralat. Aku bukan jomblo, tapi single. Namun aku menolak. Kukatakan padanya bahwa teman hanya akan menjadi teman.

 

Berteman dengan Vicky membuatku belajar akan banyak hal. Mulai dari seputar kereta api, seperti apa itu sinyal muka, sinyal utama, gunanya untuk apa, dan banyak hal lain tentang kendaraan umum yang dijuluki ular besi tersebut, hingga berbagai pelajaran hidup. Aku memang tertarik dengan kereta api, bahkan aku bergabung dengan railfans (julukan untuk komunitas pecinta kereta api).

 

Banyak hal yang kulalui dengan Vicky, yang sampai saat ini masih tersimpan rapi dalam memori ingatanku. Berbagai kenangan tentang kami selalu membuatku tertawa apabila mengingatnya kembali.

 

Aku pernah janjian pulang bareng sama dia, tapi ending­-nya malah lari-lari dari warung lalapan depan stasiun Kotabaru Malang sampai peron karena hampir ketinggalan kereta gara-gara penjualnya lama banget menyajikannya.

 

Aku pernah ditinggal di warung nasi goreng depan stasiun karena dia harus segera dinas dan lucunya, dengan ekspresi takut ketinggalan kereta, dia bilang, “Eh kalau keretaku udah keburu berangkat, tolong anterin ke MLK ya!”

 

Aku pernah nggembel berdiri di bordes Penataran berdua dengannya sambil berbincang sepanjang perjalanan melewati hamparan sawah.

 

Aku pernah meledeknya karena dia punya SIM masinis tapi malah gak punya SIM C padahal aku udah punya dari jamannya aku kelas 3 SMP meskipun nembak.

 

Aku pernah diketawain olehnya sepanjang perjalanan karena hampir jatuh gara-gara dia langsung ngegas Vario punya temanku saat aku masih belum dalam posisi siap dibonceng.

 

Aku pernah makan steak bareng meski harus menunggu cukup lama dengan taruhan dia akan ketinggalan kereta lagi.

 

Aku pernah menertawakannya yang selalu saja hampir ketinggalan kereta setiap kali sedang bersamaku.

 

Aku pernah marah padanya karena memanggilku ‘Farida’ dan bukan ‘Firda’ meski hingga kini dia tetap sengaja memanggilku dengan nama ‘Farida’.

 

Aku pernah saling ledek dengannya dan mengunggulkan desa masing-masing, Kenongo dan Kolur.

 

Aku pernah apes menunggunya dari sebelum maghrib sampai selesai sholat isya’ gara-gara dia kelamaan langsir.

 

Aku pernah merasa takut dicemburui oleh Fika dan takut merusak hubungan mereka.

 

Aku pernah terlambat menepati janjiku memberinya oleh-oleh dari Jogja karena memang dia pindah tempat dinas sehingga kami jarang bertemu.

 

Aku pernah menyimpan gantungan kunci yang kujanjikan untuknya sekian lama di dompetku karena kami gak kunjung dipertemukan saat itu, yang bahkan dia sendiri lupa aku pernah berjanji padanya saking lamanya.

 

Aku pernah berbincang sedikit lebih serius tentang keluarga dengannya sambil duduk menatap rel di atas tangga besi (untuk membantu naik-turunnya penumpang).

 

Aku pernah sebal dengannya saat dia gak mau kuajak makan di warung Spesial Sambal karena mengagungkan nikmatnya nasi goreng depan stasiun.

 

Aku pernah menegurnya agar selalu ingat Fika saat ia berkata merasa perlu seseorang yang lain meski mungkin niatnya hanya bercanda.

 

Aku pernah salut dengannya saat akhirnya ia berani memutuskan untuk melamar Fika menjadi calon istrinya.

 

Aku pernah tertawa terbahak-bahak saat dia bercerita bahwa bapaknya mengatakan “Vicky masih kecil” ketika lamaran.

 

Aku pernah geleng-geleng kepala saat dia bercerita bahwa dia memblokir fesbuk Fika, tunangannya sendiri.

 

Aku pernah gak habis pikir saat dia memintaku menyembunyikan statusnya dengan Fika dan malah memintaku untuk mengenalkannya dengan teman perempuanku.

 

Aku pernah mengobrol dengannya di kereta membahas orang-orang yang di akhir 2012 masih aja ada yang mandi, mencuci, dan berak di sungai yang sama.

 

Aku pernah mengomentari kebiasaannya berfoto yang selalu membelakangi kamera.

 

Aku pernah diejek bedakku terlalu tebal saat dia melihatku hendak naik Penataran yang dia supiri dari kabin masinis.

 

Sebenarnya masih banyak yang lain. Namun hanya itu yang mampu kuingat. Sebuah kenangan bersama seorang teman yang koplak dan mengaku sangat manis dan imut. Saking manisnya sampai-sampai kalau foto selalu menghadap ke belakang. Mungkin keimutannya jauh lebih terpancar dari punggungnya daripada wajahnya.

 

Kalau dipikir-pikir, untuk apa mengingat semua hal yang telah kita lalui dengan seseorang? Entah itu keluarga, kekasih, maupun teman-teman. Apakah tidak terasa seperti seseorang yang akan meninggal dan ditinggalkan?

 

Memang. Hanya ada dua pilihan dalam hidup: meninggalkan lebih dulu atau ditinggalkan lebih dulu. Meski kata ‘meninggal’ gak harus selalu diartikan dengan kematian.

 

Aku ingat pernah bercerita pada Vicky tentang kerinduanku akan masa kecil, juga ketakutanku akan masa depan yang harus buru-buru kuhilangkan. Saat itu kami sedang naik Penataran bersama. Aku ke Malang, dia ke Blitar.

 

Kami duduk menghadap ke arah belakang. Aku ingat betul saat itu.

 

Aku berkata, “Seandainya mungkin, aku pengen terus kayak gini. Jadi anaknya Abah Umik, punya mas dan adek yang tinggal dalam satu rumah. Hidup bersama dalam sebuah keluarga kecil. Rasanya kayak gimana gitu, dulu main bareng sama masku sama adekku, eh bentar lagi masku bakal punya keluarga sendiri. Meskipun kadang-kadang dia menyebalkan, tapi yang namanya saudara tetep aja saudara. Keluarga tetep aja keluarga. Pasti bakal kangen banget kalau berpisah.”

 

Jujur, itu pemikiran yang sangat egois, tapi juga sangat manusiawi. Tapi gak mungkin juga kan hidup kita stuck di satu titik? Esensi dari kehidupan ini adalah hijrah (pindah). Dan kita perlu mempersiapkan diri untuk itu.

 

Sebenarnya bukan apa-apa, aku cuma takut akan kehilangan sosoknya. Sejurus kemudian aku tersadar bahwa kita gak boleh takut pada apapun kecuali pada Allah, termasuk pada masa depan. Jalani aja hidup ini, begitu kata Abah.

 

Setiap orang yang normal pasti ingin berkeluarga, membina rumah tangga idaman yang sakinah mawaddah warahmah. Menikah, memiliki anak, dan menua bersama pasangannya. Dan masku sudah mantap memutuskan untuk melewati tahap tersebut.

 

Aku ingat betul aku pernah mendiskusikan hal ini dengan Vicky. Atau mungkin bukan diskusi, hanya bercerita. Tentang aku dan ketakutanku akan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi.

 

Berbicara tentang “Apakah semua akan tetap seperti ini?” aku juga pernah membahas topik yang sama dengan Vicky ketika chatting di fesbuk.

 

Saat itu aku berkata, “Kadang aku mikir, Vik, apa selamanya semua bakal tetep sama. Tapi ternyata gak. Suatu hari, kita gak bakal bisa kayak gini lagi, Vik.”

 

“Lha kenapa?”

 

“Iyalah. Aku bakalan sibuk jadi ibu dan kamu bakalan sibuk jadi bapak. Aku bakal jadi istri, kamu jadi suaminya Fika. Gak bakal sempat wes kamu chatting gini. Kita punya keluarga masing-masing.”

 

“Iya sih…”

 

“Misalkan ada apa-apa, kita gak mungkin bisa cerita sebebas dulu. Gak mungkin juga, kan, kamu cerita tentang masalah rumah tanggamu ke aku?”

 

“Iya juga. Ah ya udahlah, gak usah terlalu dipikir.”

 

Yah, benar apa kata Vicky. Hidup itu dijalani, bukan sekedar dipikirkan hingga akhirnya menimbulkan ketakutan untuk melangkah ke depan.

 

Karena semua itu pasti berubah dan gak akan sama lagi, di suatu waktu aku memilih untuk mengenang apa saja yang telah kulewati. Aku mengingat kembali tentang detik-detik yang telah berlalu dan apa yang telah kuperbuat di masa itu.

 

Agar ke depannya, aku bisa belajar dari pengalaman.

Bisa lebih menghargai waktu.

Bisa lebih menyanyangi orang-orang di sekitarku.

Bisa lebih memaknai kehadiran keluarga, pasangan, maupun teman.

Bisa lebih rendah hati dan berjiwa besar.

Dan bisa melukis kenangan dengan sebaik-baik perbuatan.

 

Jika kemarin adalah kenangan untuk hari ini, maka hari ini adalah kenangan untuk hari esok. Terima kasih Vicky, telah memperbolehkanku melukis sebuah kenangan denganmu :)

4 thoughts on “KULUKIS KENANGAN DI ATAS REL KERETA API

  1. hmm.. mengingatkan aku pada sseorang…
    “Apa selamanya semua bakal tetep sama. Suatu hari, kita gak bakal bisa kayak gini lagi” kalimat yang sama yang dia katakan di kfc delta🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s