KERETA APIKU :*

Kereta api bagi sebagian orang hanyalah sebuah moda transportasi umum yang mampu mengangkut banyak penumpang. Salah satu jenis alat transportasi darat yang memiliki jalur sendiri yang dinamakan rel. Tapi bagi sebagian yang lain, kereta api diakui sebagai jiwa mereka. They belong to train, bisa dibilang begitu.

Bagi para pecinta kereta api, kecintaan mereka dapat diwujudkan dalam bentuk mengabadikan momen-momen khusus kereta api dalam foto atau video. Ada juga yang menghias lokomotif saat salah satu KA ulang tahun. Begitu banyak cara untuk menunjukkan kecintaan mereka terhadap kereta api.

 

Sebenarnya aku juga mencintai kereta api. Dulu, awal-awal aku menjadi railfans (RF), aku sangat suka memotret kereta api karena fotografi KA sedang marak di kalangan para pecinta KA. Setiap hendak naik atau ketika turun dari KA, aku selalu memotretnya. Kemana-mana aku selalu berbekal kamera saku agar ketika tiba-tiba bertemu KA, aku bisa langsung memotretnya.

 

Aku pernah pergi ke tempat yang jauh dari tempat tinggalku hanya untuk memotret ular besi yang sedang melintas. Bahkan, aku pernah tetap berangkat menuju jembatan lahor (karangkates) hanya untuk memotret KA, padahal saat itu hujan turun sangat deras dan aku tidak membawa mantel. Sepulang dari sana, aku langsung kedinginan dan flu.

 

Ketika itu, banyak orang yang mencibir. Mereka bilang, “Buat apa sih kayak gitu itu? Kurang kerjaan banget. Cuma kereta lewat aja sampai segitunya. Mending juga motret kita-kita.”

 

“Namanya juga suka. Aku jelasin sampai gimana juga akan tetep kelihatan gak penting di mata orang-orang yang gak suka. Lagian, bukannya setiap orang punya hal yang disuka masing-masing? Iya kan? Dan inilah kesukaanku, kereta api,” jawabku.

 

Salah satu hal yang sia-sia yaitu menasihati orang yang sedang jatuh cinta. Sia-sia menasihati aku agar gak heboh dengan kereta api karena aku udah terlanjur cinta dengannya. Aku menghafalkan nama-nama KA di Indonesia, relasinya, atau hal-hal yang berbau-bau kereta api, seperti semboyan, gapeka, wesel, bahkan mars KAI meskipun pengetahuanku minim sekali.

 

Sejak mengenal mas Dony, tunanganku sekarang, aku jadi RF yang kurang aktif. Aku sama sekali gak update tentang info KA. Aku bahkan hampir gak pernah motret KA seperti dulu. Aku yang tadinya pergi kesana kemari mencari lokasi terbaik untuk mengambil gambar KA yang sedang meliuk-liuk dengan cantiknya, kini cukup memandang saja dan naik dengan tertib. Aku tetap mencintai KA, namun dengan cara yang lebih sederhana.

 

Di suatu perjalanan, aku duduk di samping jendela. Sambil memandang keindahan lukisan Tuhan berupa hamparan sawah terasiring khas pegunungan, aku menyadari banyak hal.

 

Mencintai kereta api bukan sekedar ajang fotografi. Ini bukan melulu soal seberapa banyak foto atau video KA yang telah kita miliki. Bukan pula seberapa sering kita naik KA dari berbagai jenis. Pun demikian dengan mengoleksi barang-barang berbau kereta api atau menghafalkan lagunya. Bukan. Bukan hanya seperti itu.

 

Aku memaknai cintaku dengan cara yang lebih sederhana.

 

Aku naik KA dengan prosedur yang benar. Mengantri tiket di stasiun, menunggu peron dibuka, dan duduk sesuai dengan nomor yang tertera di tiket. Aku berusaha menjaga kebersihan KA mulai dari diriku sendiri. Saat membeli jajan di pedagang asongan, aku menyimpan bungkusnya di saku tas dan gak membuangnya di kolong tempat dudukku atau di keluar jendela. Aku memilih untuk menyimpannya lebih dulu dan baru membuangnya di tempat sampah stasiun.

 

Aku menggunakan kamar mandi hanya saat KA berjalan. Aku gak mencoret-coret jendela maupun dinding kereta. Terakhir, aku selalu berdoa dan mengambil hikmah di setiap perjalananku. Itulah caraku mencintai kereta api.

 

Bagiku, mencintai berarti peduli. Peduli dengan kebersihan, keamanan, ketertiban, kenyamanan, dan keselamatan. Sesederhana itulah aku memaknai cintaku terhadap kereta api.

 

Gimana bisa aku mengaku mencintai kereta api kalau aku sendiri bahkan gak bisa menjaga kebersihannya? Terlebih, aku adalah seorang calon guru. Gimana bisa aku akan mengajarkan cara menjaga kebersihan kepada murid-muridku kalau aku sendiri hanya bisa mengotori? Guru adalah teladan bagi murid-muridnya. Ia gak bisa mengajarkan apapun kecuali apa-apa yang ada pada dirinya.

 

Masih tentang kereta api, para RF biasanya sibuk menghias lokomotif KA ketika sedang ulang tahun. Selama ini, yang aku tahu dan pernah lihat, mereka menghias lokomotif KA Gajayana dan Malabar. Bunga-bunga dan pita-pita dihiaskan di lokomotif yang menarik KA tersebut. Aku, RF yang kurang gaul ini, hanya melihat tanpa ikutan.

 

Suatu ketika, aku diberi tahu bahwa KA Matarmaja sedang ulang tahun. Tapi kenapa sepi? Kemana para RF yang biasanya menghias lokomotif saat salah satu KA sedang ultah? Apakah mereka lupa kalau Matarmaja ultah? Atau mungkin, sengaja melupakan?

 

Suasana stasiun Malang tampak berbeda saat ultah Matarmaja dengan ultah Gajayana atau Malabar. Kenapa begini? Apa karena berbeda kelas?

 

KA Gajayana merupakan K1, eksekutif. KA Malabar meskipun ada K3-nya, tapi rangkaiannya jadi satu dengan K2 dan K1. Jadi, KA Malabar merupakan KA dengan rangkaian lengkap. Ada kelas ekonomi, bisnis, maupun eksekutif. Sedangkan KA Matarmaja? Ia hanyalah rangkaian K3, kereta kelas ekonomi.

 

Apa hanya karena kelas ekonomi, Matarmaja gak diperlakukan sama, begitu? Apa hanya karena keretanya jelek, menghias lokomotif jadi dirasa gak perlu, begitu? Bukannya ini diskriminasi namanya? Yang lain sampai diadakan tumpengan segala, sedangkan Matarmaja dihias lokomotifnya pun gak? Bener-bener gak adil.

 

Bagiku, mencintai sesuatu itu harus sepaket. Jika kita cinta yang baik, maka cintai pula buruknya. Jika kita cinta yang eksekutif, maka cintai pula ekonominya. Bukankah railfans artinya pecinta kereta api, bukan pecinta kereta api eksekutif, iya kan? Jadi, seharusnya kereta apapun akan sama kedudukannya, bukan?

 

Aku sama sekali gak menyalahkan atau melarang para RF yang bela-belain sampai manjat tower, mendaki gunung, atau melewati semak-semak untuk bisa mendapatkan angle yang pas ketika memotret KA yang sedang melintas. Aku juga gak meragukan kecintaan para RF yang menghias lokomotif K1 dan mengabaikan K3.

 

Aku pun gak memandang remeh para RF yang mati-matian menghafalkan nomor KA dan nomor seri lokomotif. Demikian pula aku gak memandang sebelah mata para RF yang belajar tentang sejarah KA maupun semboyan atau hal-hal berbau KA lainnya.

 

Itu yang disebut hak asasi manusia. Jadi, terserah aja gimana mereka memaknai kecintaannya terhadap kereta api. Bagaimanapun cara dan wujud kecintaannya, intinya adalah kita semua peduli dengan kereta api.

 

Aku peduli. Kamu peduli. Dia peduli. Mereka peduli. Kita semua peduli.

Karena kita semua mencintai kereta api.

Karena kereta api selalu di hati.

 

 

“Love is not talking about the best we can get, but talking about the best we can do for our special one and accept what they give to us at all. A piece of good and bad things, happiness and sadness, everything.”

 

[PhieRda]

friday, october 9th, 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s